Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tidak Pernah Aku Setujui
Nara Amelinda percaya pada satu hal sejak lama bahwa hidup itu sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah keputusan orang lain.
Itulah sebabnya ia punya prinsip hidup yang ia tulis besar-besar di kepalanya bahkan jika perlu, ditempel di dahi,
Aku tidak akan menikah hanya karena diminta.
Bukan karena usia.
Bukan karena tekanan sosial.
Apalagi karena janji orang tua yang dibuat sebelum aku bisa bicara.
Sayangnya, hidup tidak pernah membaca prinsip seseorang sebelum menjatuhkan kejutan.
Pagi itu, langit cerah. Terlalu cerah untuk hari yang akan mengubah arah hidupnya.
Nara baru saja selesai menyeduh kopi ketika melihat ibunya berdiri di depan lemari pakaian lebih lama dari biasanya. Bukan memilih baju tapi lebih seperti menunda sesuatu.
Naluri bertahan hidup Nara langsung menyala.
“Mah,” katanya santai tapi waspada,
“kalau Mama berdiri di situ lima menit lagi, aku akan mengira ada pengumuman keluarga yang sifatnya traumatis.”
Ibunya menoleh tersenyum, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata.
“Nara, duduk dulu.”
Kalimat itu adalah kalimat yang sama persis dengan kalimat yang dulu diucapkan sebelum,
Ia tahu ayahnya sakit.
Ia tahu tabungan keluarga hampir habis.
Ia tahu sepupunya menikah di usia dua puluh satu dan semua orang membandingkan.
Nara menarik kursi dan duduk, menyilangkan kaki dan tangan.
“Baik,” katanya.
“Aku duduk tapi mental aku tetap berdiri.”
Ibunya tertawa kecil, terlalu kecil.
“Nara,” kata Bu Ratna pelan,
“kamu sudah dewasa.”
Biasanya, kalimat itu terdengar seperti pujian.
Hari itu terdengar seperti peringatan.
“Aku tahu,” jawab Nara cepat.
“Makanya aku tidak mau dibahas kayak anak SMA yang telat pulang.”
Ibunya menarik napas panjang lama dan berat ditambah ada jeda.
Dan jeda itu membuat dada Nara terasa tidak nyaman.
“Kamu ingat Papa?” tanya ibunya.
Pertanyaan itu seperti menekan tombol lama.
Nara mengangguk.
“Ingat.”
“Tentang sahabat Papa… keluarga Wiratama?”
Nara mengernyit.
“Yang punya bisnis besar itu?”
Ibunya mengangguk.
Nara tertawa kecil.
“Mah, jangan bilang Mama mau pinjam modal.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Bukan.”
“Syukurlah.”
“Tapi ada janji.”
Tawa Nara berhenti.
“Janji apa?”
Bu Ratna menatap meja, lalu menatap Nara lagi.
“Janji yang dibuat Papa kamu dan Pak Wiratama dua puluh lima tahun lalu.”
Udara di ruangan berubah, Nara menegakkan punggung.
“Janji tentang apa?”
Ibunya diam sejenak, seolah memilih kata.
“Jika kelak mereka memiliki anak… dan anak-anak itu berlainan jenis… maka akan disatukan.”
Kalimat itu jatuh, tidak meledak, tidak menghancurkan.
Tapi cukup untuk membuat Nara merasa seperti lantai di bawahnya retak halus.
“Disatukan? Maksud mama apa ya? Nara loadingannya agak ngadat ma... Tolong sedikit diperjelas.” ulangnya pelan.
“Iya, disatukan dalam perjodohan pernikahan.”
Nara tertawa, bukan tawa bahagia tapi tawa refleks.
“Mah,” katanya sambil menutup wajah dengan satu tangan,
“tolong bilang ini bukan janji serius.”
“Itu serius.”
“Bukan janji bercanda?”
“Tidak.”
“Bukan janji sambil mabuk kopi?”
“Tidak.”
“Bukan janji simbolis yang tidak perlu ditepati?”
Bu Ratna menggeleng.
Nara menurunkan tangannya, wajahnya datar.
“Oke,” katanya.
“Aku butuh klarifikasi, janji itu dibuat tanpa aku, kan?”
“Iya.”
“Dan tanpa persetujuanku?”
“Iya.”
“Dan sekarang… aku yang harus bertanggung jawab? Ma , aku suka bercanda tapi juga nggak dibercandain kayak gini juga donk...”
Bu Ratna terdiam.
“Nara…”
“Aku mau tahu satu hal saja,” potong Nara. “Kalau aku menolak, aku anak durhaka?”
Ibunya terkejut.
“Tidak!”
“Tapi Mama kecewa?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab dan jawaban itu sudah cukup.
Nara menyandarkan punggung ke kursi.
“Mah,” katanya pelan tapi tegas,
“aku tidak mau menikah karena janji orang dewasa yang dibuat saat aku belum ada dan lagi pula aku tidak tau atas dasar apa janji itu dibuat...”, Nara masih memberi pendapatnya,
"Tukang kue bikin kue aja pasti bikin untuk dijual dan mendapatkan untung."
Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kami tidak bermaksud memaksamu.”
Kalimat itu lagi.
“Mah,” Nara tersenyum pahit,
“itu kalimat pembuka paksaan paling klasik.”
Siang itu, Nara keluar rumah tanpa tujuan jelas.
Ia berjalan, naik ojek, lalu berhenti di kafe kecil tempat ia biasa menenangkan diri.
Sasa sudah duduk di sana, seperti selalu.
Begitu melihat wajah Nara, Sasa langsung tahu.
“Oke,” katanya,
“itu wajah ‘hidup baru saja menampar aku pakai realita’.”
Nara duduk, menjatuhkan tas.
“Gue dijanjiin.”
Sasa mengedip.
“Hah?”
“Gue bukan hutang, tapi gue dijanjiin ke manusia.”
Sasa mencondongkan badan.
“Ceritain, pelan-pelan cantik... Jangan tau-tau lu nyerocos tanpa start dan lu tiba-tiba langsung finish.. Mana gue tau.”
Nara menceritakan semuanya.
Tentang janji, tentang keluarga Wiratama, tentang tekanan halus yang terasa seperti tangan tak terlihat di leher.
Sasa terdiam lama.
“Nama cowoknya siapa?” tanya Sasa akhirnya.
“Arga Wiratama.”
Sasa membelalakkan mata.
“Yang itu?”
“Yang mana?”
“Yang hidupnya kayak brosur perusahaan sukses,” kata Sasa.
“Rapi, dingin dan stabil ,udah kayak kanebo kering yang udah lama nggak kena air dalam hidupnya.”
Nara menyandarkan kepala.
“Pas banget. Gue chaos, anti stabil.”
Sasa menghela napas.
“Ini gila.”
“Gila tapi nyata.”
“Lo mau gimana?”
Nara menatap langit-langit kafe.
“Gue tidak mau menyerah pada janji yang tidak pernah aku buat.”
Di tempat lain, Arga Wiratama duduk di ruang keluarga besar rumah Tante Mira.
Tidak ada kopi santai, tidak ada obrolan ringan.
Hanya tatapan serius.
“Arga,” kata ayahnya, Pak Wiratama,
“kamu sudah tahu soal janji itu.”
“Iya,” jawab Arga.
“Janji itu adalah kehormatan.”
Arga menatap lantai.
“Dan pilihan saya?”
Ayahnya diam.
“Kamu tidak diwajibkan,” kata ayahnya akhirnya.
“Tapi janji keluarga bukan hal kecil.”
Arga mengangguk.
Ia tidak marah, ia hanya merasa hidupnya yang selama ini rapi sudah mulai diserobot masa lalu.
Malamnya, Nara duduk di kamarnya menatap langit-langit.
Jadi ini ya,
pikirnya.
Aku belum menikah, tapi sudah punya calon dari masa lalu, kenapa nasib aku kayak gini? Sebuah hal yang nggak pernah aku lakuin tapi aku harus menanggungnya.
Ia tertawa sendiri, bukan karena lucu tapi karena absurd.
Ponselnya berbunyi, pesan dari ibunya.
Besok sore kita makan bersama keluarga Wiratama.
Nara membalas cepat.
Mah, aku datang sebagai manusia bebas atau calon menantu?
Balasan datang.
Sebagai Nara.
Nara menatap layar.
“Semoga,” gumamnya.
Nara sudah tidak bisa mendebat sang ibu , karena setiap dia memberi argumen sang ibu akan menampilkan ketidak berdayaan.
Di kamar lain, Arga juga menatap langit-langit.
Untuk pertama kalinya, hidup yang rapi terasa sempit.
Dan di antara dua orang yang belum saling mengenal, janji lama itu mulai bergerak pelan, berat, dan tidak bisa diabaikan.