Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10. Sarapan bersama
Happy reading...🌹
Tok tok tok
ceklak
"Minggir, aku mau masuk!" Tubuh Rezi sedikit terdorong dengan gerakan tubuh Reza yang Menerobos maju paksa.
Pagi pagi sekali Reza sudah mengunjungi apartemen kakak kembarnya. Setelah beberapa kali mencari, akhirnya ditemukan juga apartemen baru Rezi
"Tumben, pagi-pagi kesini?" Ujar Rezi sambil menutup pintu dan berjalan ke arahnya.
"Heh, enak banget ya!" Sergahnya kemudian membuang muka. Rasa kesal masih mendominasi hatinya kini, dengan segera terduduk di sofa ruang tamu.
"Sore ini, jam lima kau harus datang ke kafe Dahlia dekat kampusku. Harus!!" Ucap Reza penuh penekanan.
"Kenapa harus?" Rezi melirik tapi masih dengan santainya menjawab, bibirnya beberapa kali menyeruput secangkir kopi ditangannya.
"Ya, karena ini menyangkut pernikahanmu!" Reza menoleh kembarannya itu dengan tatapan sinis.
"Gita butuh kepastian, mau lanjut atau tidak sama sekali," Lanjutnya memastikan, kemudian berdiri dan melangkah pergi.
"Oh dan satu lagi, dia tau yang datang kemarin malam itu aku bukan kau, pasti kau paham!" Reza membalikkan kemudian badannya, jarinya diarahkan tepat di dada Rezi.
Rezi hanya diam tanpa ekspresi, sungguh sulit ditebak. Ia menghela napasnya, menatap nanar kepergian adiknya. Dan kembali ke kamarnya menyambar jas dan tas kerjanya, menyusul keluar.
Sesampainya di kantor, seperti biasa Rezi melangkahkan kakinya dengan tegap
serta wajahnya yang tegas, sesekali menganggukan kepalanya sedikit kepada karyawannya yang menyapa.
Dia mengarahkan kakinya ke depan meja sekretarisnya, " Dina Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Rezi.
Dina mendongakkan kepalanya, terkaget karena bos nya sudah berada tepat didepannya. "Sebentar Pak," Dina pun Memeriksa agenda Rezi hari ini.
"Pak, jam sepuluh anda ada rapat bersama dewan direksi, dan sepertinya hanya itu schedule untuk hari ini." Lanjutnya.
"Hemm," Rezi memanggut manggutkan kepalanya dan berjalan menuju ruangannya.
.
Reza sedikit tergesa berjalan ke arah kantin, terlalu pagi untuknya keluar rumah tadi, sampai tidak sempat sarapan. Padahal hari ini Ia membawa mobil sendiri, bisa saja mampir ke restoran jika memang lapar, tapi kaki ini Reza merindukan nasi goreng mbok Jum dikantin kampus, sehingga menahan rasa laparnya untuk segera sampai di kampus.
Terlihat olehnya sosok gadis pemilik rambut ikal, sedang duduk termangu menahan dagunya dengan sebelah tangannya yang mengepal. Bibirnya yag mengerucut menandakan hatinya yang sedang kesal.
"Hai, boleh aku duduk.?" Sapa seseorang dari arah belakang dan membuyarkan lamunan kekesalan Ainun.
Tanpa menunggu persetujuan Reza menarik bangkunya yang berhadapan dengan Ainun.
"Aku kan belum kasih izin, boleh atau tidak!" protes Ainun dengan wajah yang masih saja ditekuk.
"Oke aku pindah," Reza mulai mengangkat bokongnya,
"Eehh enggak enggak!" Tanpa tersadar jemari Ainun menggenggam lengan kiri Reza.
"Kamu boleh kok duduk disini," Ucapnya kemudian.
Reza tersenyum, terduduk kemudian membiarkan tangan Ainun yang masih betah mencengkram lengannya.
Tersadar dengan kelakuannya, secepat kilat Ainun menarik tangannya, merasakan panas di area wajahnya, detak jantung yang bergemuruh tak karuan dan jari telunjuk yang mulai mengetuk ngetuk meja, tidak jelas.
Ainun menundukkan wajahnya, bersembunyi dari rasa malu yang mendera.
Reza memperhatikan Ainun dalam, menyungging senyum menatap wajah ayu didepannya yang sedang salah tingkah. Dalam hatinya pun ia merasakan getaran aneh, hatinya mengatakan sangat mengagumi sosok wanita di hadapannya. Kenapa aku baru sadar, ternyata dia secantik ini...
"Kamu sudah pesan sesuatu?" Tanya reza mencairkan suasana kikuk. Ainun menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin minum," tukasnya.
"Mau kupesankan sekalian?" Tanya Reza antusias.
"Tidak, tidak usah, aku sudah pesan ini." Ainun menunjuk teh botol didepannya.
"Kalau begitu temani aku makan, aku sangat lapar," pinta Reza, Ainun tersenyum mengangguk.
Reza beranjak menghampiri Mbok Jum, memesan dua porsi nasi goreng dan juga teh hangat. Manik Ainun terus mengawasi pergerakan Reza, merasa terpesona dengan setiap alunan dan hentakan kakinya.
Tanpa Ia sadari, Reza sudah duduk kembali dan tatapannya masih belum terputus.
"Apakah aku semempesona itu, sehingga kamu tidak bisa berkedip?" Tatapan Ainun seketika teralih, mengedip kedipkan matanya kemudian. menggelengkan kepalanya perlahan. Ia terlihat seperti pencuri yang sedang kepergok, kepergok telah memandang wajah tampan Reza.
"A-aku... t-tadi... itu..." Ainun menjadi salah tingkah.
"Hihihi.." Reza terkikik.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng yang dipesan pun mendarat di meja mereka. Ainun memandang aneh Reza, Apakah dia sangat lapar sehingga memesan dua porsi sekaligu?, gumamnya dalam hati.
"Ayo dimakan, aku ingin ditemani bukan jadi tontonan!" Ujar Reza, mendorong piring yang satu lagi ke hadapan Ainun.
"Aku sudah kenyang, Za.."
"Ya sudah aku juga sudah kenyang!" menaruh kembali sendoknya diatas piring.
"Oke, baiklah." Ainun terpaksa menuruti Kemauan Reza, Ia menyendokkan nasi goreng kemulutnya, dan mengunyahnya.
Mereka pun bergelut dengan santapan didepannya, mencuri pandang sesekali tanpa ada obrolan. Hanya ada bunyi sendok dan piring yang saling beradu.
Setengah jam berlalu, setelah menghabiskan sarapannya, Reza mengajak Ainun ke taman. Sambil berjalan, mereka mengobrol. Reza pintar membawa suasana menjadi ramai dengan kata kata recehnya, Ainun pun merasa nyaman dibuatnya.
.
Sore ini, sepulang dari kampus Gita berjalan ke arah kafe dahlia. Hanya seorang diri, Ia tidak memberi tahukan pada siapapun, termasuk sahabat sahabatnya.
Seharusnya kemarin lah pertemuan antara dirinya dengan Rezi, tapi karena kemarin Gita mendadak diajak ke rumah neneknya, ia pun mengirim pesan pada Reza supayamenggantinya dengan hari ini.
Gita berjalan dengan begitu waswas, degup jantung yang terus menambah kecepatannya membuat perutnya mendadak bergejolak.
Gita harap, dia yang pertama kali datang, sehingga masih ada waktu untuk menata hatinya yang mulai nervous.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk, membuyarkan Gita. Pesan dari nomor tak dikenal, awalnya ia ragu untuk membukanya, tapi rasa penasaran lebih dominan.
unknown number
kamu dimeja nomor berapa?
Apakah ini pesan dari Rezi? Gita mengedarkan pandangan ke seluruh kafe, tidak tampak kehadiran sosok yang seharusnya datang. Gita pun segera membalas pesan, mungkin dia masih diluar, fikirnya.
Gita
aku di meja no 10
Selang beberapa menit, terdengar hentakan tegas sepatu yang mengarah ke mejanya, Gita menaikkan pandangannya tepat ketika hentakan terakhir dua pasang mata saling menatap. Mengunci sesaat.
Gita yang langsung tersadar segera mempersilahkan pria yang berdiri di depannya untuk duduk. " Silakan duduk!"
Canggung, Gita terlihat sangat canggung, tapi tidak dengan pria ini. Dia terlihat begitu tenang. Gita bisa membedakan sorot matanya dengan pria yang dijumpainya kemarin malam. Wajah yang sama, tapi dengan sorot mata yang berbeda. Tetap tenang dan sorot mata tajam seperti mata ular yang sedang memantau mangsanya.
.
Vino berjalan memasuki mobilnya, membelikan beberapa makanan pesanan adik cerewetnya. Tangannya menjulur hendak membuka mobil, tatkala seseorang menabraknya dari belakang.
Brukkk brukkkk
Makanan yang baru debelinya pun terjatuh.
"Maaf, maaf kan saya, saya akan menggantinya" Si penabrak sibuk memunguti makanan yang terjatuh tadi, tapi penampakannya sudah absurd.
To be continue
🌹🌹🌹
Terima kasih sudah bersedia membaca kisah Ainun dan kawan kawan, Jangan lupa untuk rate bintang 5, like dan vote seikhlasnya.
Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar yaa... kritik dan saran kalian sangat membangun. Support kalian sangat aku butuhkan..!!
luv luv luv luv luv*
Olive Sparkly
❤️❤️❤️❤️❤️
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu