NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Tanpa Syarat

Ria tidak peduli lagi dengan turban yang mungkin sedikit miring atau wajahnya yang tanpa riasan. Begitu membaca pesan itu, kakinya seolah bergerak sendiri. Ia membuka pintu apartemennya dan berlari menuruni tangga menuju lobi dengan napas terengah.

Di sana, di bawah lampu lobi yang mulai meredup tertutup cahaya pagi, Arya berdiri mematung. Pria itu tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya—mengenakan setelan jas mahal namun dengan bahu yang lunglai, menggenggam sebuah kantong plastik berisi bubur hangat.

"Mas!" seru Ria.

Arya mendongak, matanya yang terlihat lelah seketika melebar. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, Ria sudah berhambur ke pelukannya. Ia menubruk dada bidang Arya, melingkarkan lengannya begitu erat seolah takut pria itu akan menguap jika ia lepaskan.

"Ria..." bisik Arya parau. Tangannya yang bebas gemetar sebelum akhirnya membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ria. "Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku."

Ria terisak di dada Arya. Segala rasa tidak percaya diri tentang rambutnya yang tak beraturan, rasa cemburunya pada Ashleen, dan amarahnya tentang rekaman itu, seketika luruh bersama air mata. Di dalam pelukan ini, ia tidak merasakan seorang Arya yang dingin, melainkan seorang pria yang hatinya sedang hancur karena kerinduan.

"Jangan pergi lagi," gumam Arya, suaranya pecah. "Aku lebih baik kehilangan seluruh perusahaan ku daripada harus melihatmu menatapku seperti orang asing."

Ria melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Arya. Ia menatap mata suaminya dalam-dalam. "Ayo masuk ke dalam, Mas. Kita tidak bisa terus begini."

Mereka berjalan naik ke apartemen kecil Ria. Ruangan itu terasa sangat sempit saat Arya memasukinya, namun ada kehangatan yang tidak pernah ada di rumah mewah mereka. Ria mendudukkan Arya di kursi kayu kecil, lalu ia duduk tepat di depannya.

Bubur ayam yang dibawa Arya diletakkan begitu saja di atas meja. Sarapan itu bisa menunggu, namun hati mereka tidak.

"Mas, aku sudah bicara dengan Ashleen pagi ini," ucap Ria perlahan.

Arya menegang. "Ria, aku bersumpah tidak ada apa-apa antara aku dan dia—"

"Aku tahu. Dia yang memberitahuku segalanya," potong Ria lembut. "Dia memberitahuku bagaimana kau menunggunya di rumah sakit, bagaimana kau menderita saat aku koma, dan bagaimana kau menolak dunia hanya untuk menungguku bangun."

Ria menarik napas panjang. "Tapi sekarang, aku tidak butuh pengakuan dari orang lain. Aku menuntut kejujuran yang murni darimu. Tanpa embel-embel saham, tanpa pengaruh Tante Soraya, dan tanpa rasa bersalah. Katakan padaku, siapa aku bagimu saat ini?"

Arya meraih kedua tangan Ria, menggenggamnya dengan jari-jari yang bergetar. Ia menatap tepat ke arah kepala Ria yang tertutup turban, lalu perlahan tangannya naik, menyentuh kain sutra itu.

"Dulu, kau adalah transaksi. Aku mengakuinya, dan aku membenci diriku karena itu," ujar Arya dengan suara rendah yang jujur. "Tapi sekarang? Kau adalah alasan aku masih ingin bangun setiap pagi. Kau bukan 'barang pajangan' yang ku beli, Ria. Kau adalah nyawa yang ku titipkan pada Tuhan, dan ketika Dia mengembalikan mu padaku, aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu merasa kurang lagi."

Arya perlahan membuka ikatan turban Ria. Ria sempat ingin menolak karena malu, namun tatapan Arya menghentikannya. Saat kain itu terlepas, memperlihatkan rambut pendek yang tak beraturan, Arya tidak menunjukkan raut jijik atau kasihan. Ia justru mengecup puncak kepala Ria dengan penuh takzim.

"Rambut ini... adalah mahkota kemenanganmu atas maut, Ria. Di mataku, kau jauh lebih cantik sekarang daripada saat pertama kali kita bertemu. Karena sekarang, ada jiwa yang tangguh di balik wajah ini."

Tangis Ria kembali pecah, namun kali ini adalah tangis kelegaan. Kejujuran itu terasa seperti air yang membasuh luka yang selama ini bernanah.

Kehangatan di apartemen kecil itu mendadak berubah menjadi medan energi yang tajam. Begitu Arya menutup telepon dari Hendra, raut wajahnya yang semula lembut dan rapuh seketika mengeras. Namun, kali ini bukan kekakuan yang dingin seperti dulu—ini adalah kekuatan seorang pria yang memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi.

Arya menatap Ria, lalu menggenggam tangannya erat. "Soraya sudah mengeluarkan kartu terakhirnya, Sayang. Dia mencoba membakar rumah saat dia tahu dia tidak bisa memilikinya."

Ria membalas genggaman itu dengan mantap. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan padanya bahwa kita bukan lagi orang yang bisa dia hancurkan dengan api kecilnya."

Arya segera menghubungi tim hukum terbaiknya dan memerintahkan mereka berkumpul di kantor pusat dalam satu jam. Selama dua minggu pengasingan Ria, Arya sebenarnya tidak hanya berdiam diri meratapi nasib. Di balik kesedihannya, ia diam-diam telah mengumpulkan bukti-bukti yang selama ini disembunyikan Soraya dengan rapi.

"Aku punya segalanya, Ria," ujar Arya sambil membuka laptopnya. "Bukan hanya tentang fitnah medis yang dia layangkan padamu kemarin, tapi sesuatu yang akan membuatnya membusuk di penjara."

Arya menunjukkan data-data digital yang berhasil ditarik dari perusahaan cabang milik ayahnya. "Dia melakukan penggelapan dana selama bertahun-tahun melalui vendor palsu. Nilainya mencapai puluhan miliar. Dia pikir suaminya—ayahku—terlalu tua untuk menyadari ini, dan dia pikir aku terlalu sibuk mengurusi mu untuk memeriksanya."

Sore itu, Arya dan Ria tiba di kantor pusat Arya Group bersama-sama. Kehadiran mereka yang bergandengan tangan di lobi gedung membuat seluruh staf terkesiap. Kabar tentang perceraian dan kehancuran rumah tangga mereka yang sempat diembuskan Soraya seketika patah begitu saja.

Di ruang rapat utama, Soraya sedang duduk dengan angkuh bersama beberapa calon pembeli saham yang ia undang secara ilegal.

"Oh, lihat siapa yang datang," sindir Soraya, wajahnya masih tampak penuh kemenangan. "Arya, kau datang tepat waktu untuk melihat bagaimana aku melepaskan diri dari keluarga yang menyedihkan ini."

Arya tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat. "Kau tidak akan melepaskan diri ke mana-mana, Soraya. Kecuali ke balik jeruji besi."

Arya memberi kode pada pengacaranya untuk membagikan berkas di meja. "Satu, gugatan pencemaran nama baik dan fitnah medis terhadap istriku, Ria Kirana. Kami punya bukti rekaman CCTV saat kau bertemu dengan dokter gadungan itu untuk memalsukan dokumen."

Soraya mulai gelisah, namun ia masih mencoba tertawa. "Itu hanya masalah kecil—"

"Dua," potong Arya, suaranya menggelegar. "Laporan penggelapan dana Wiradinata & Co., perusahaan cabang ayahku. Kami sudah melacak aliran dananya ke rekening pribadimu di luar negeri. Dan tiga... penyalahgunaan wewenang serta percobaan sabotase korporasi."

Wajah Soraya berubah pucat pasi. Para calon pembeli saham yang ia bawa segera berdiri dan bergegas pergi, tidak ingin terlibat dalam kasus kriminal yang memalukan.

"Kau... kau tidak mungkin melakukan ini padaku! Aku adalah istrimu—maksudku, ibu tirimu!" teriak Soraya histeris.

"Kau bukan siapa-siapa bagiku sejak kau mencoba membunuh jiwa istriku," jawab Arya dingin.

Di sampingnya, Ria melangkah maju. Ia menatap Soraya yang kini tampak kecil dan malang. "Dulu aku takut padamu, Tante Soraya. Aku pikir kau punya segalanya. Tapi sekarang aku sadar, kau hanyalah wanita kesepian yang mencoba mencuri kebahagiaan orang lain karena kau tidak punya milikmu sendiri."

Dua petugas kepolisian yang sudah menunggu di luar pintu masuk ke dalam ruangan. Saat borgol dikunci di pergelangan tangan Soraya, wanita itu berteriak memaki, namun suaranya perlahan hilang saat ia diseret keluar dari gedung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!