NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Sudah Tiba

Sore hari

Sore hari

Sore itu, spektrum warna di cakrawala mulai bergeser dari biru cerah menjadi gradasi jingga yang membara, memantulkan siluet pepohonan Hutan Scotra yang kian menjauh di belakangku. Aku tiba di gerbang belakang kediaman Grozen dengan napas yang memburu, paru-paruku terasa panas menghirup udara senja yang mulai mendingin.

Meskipun aku terlihat seperti pemuda manusia berusia enam belas tahun, di balik kulit ini, esensi hellhound hitamku masih bergejolak hebat. Api neraka yang menjadi inti jiwaku berdesir liar, menuntut untuk dilepaskan, namun cincin perak menahan kekuatan di punggung tanganku bekerja dengan presisi dingin menekan setiap percikan.

Aku menyelinap masuk melalui pintu belakang, jalur yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk pelayan di aula utama. Sarung tangan hitam tanpa jariku mencengkeram gagang pintu besi yang dingin, memperlihatkan kilau redup dari simbol penahan sihir yang melingkar di jariku. Lorong itu sunyi, hanya diisi oleh suara langkah kakiku yang berirama pelan di atas lantai batu basal. Udara di dalam mansion ini terasa berbeda dari biasanya; ada tekanan atmosferik yang halus, seolah molekul udara di sini sedang memadat, mempersiapkan panggung untuk sebuah pertemuan besar.

“Huh… dia belum benar-benar menginjakkan kaki di sini,” gumamku lirih, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangan.

Aku meregangkan persendian bahuku hingga terdengar bunyi klik yang memuaskan. Kelelahan mental mulai merayap, menusuk-nusuk di balik kelopak mataku.

Langkahku otomatis melambat saat melewati sayap belakang, area yang dialokasikan khusus untuk para pelayan dan personel kepercayaan Irina. Aku berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu ek berukir sederhana. Kamar Cloudet.

“Apa dia sudah kembali?” gumamku tanpa sadar. Ada semacam resonansi emosional yang aneh antara aku dan anak itu. Meskipun aku sering bersikap acuh tak acuh.

Aku mendorong pintu itu dengan sangat perlahan, meminimalisir derit engsel. Pemandangan di dalam membuat sebuah kekehan kecil lolos dari bibirku. Cloudet, dalam wujud anak kecilnya yang terlihat seperti bocah tujuh tahun, sedang terlibat dalam "pertarungan" sengit melawan ranjangnya sendiri. Ia berusaha memanjat kasur yang tinggi, tangan kecilnya mencengkeram seprai putih dengan gemas, sementara kakinya menendang-nendang udara dengan tekad baja. Kepolosan dan kekeraskepalaannya benar-benar kontras yang menggelikan.

“Hm,”

gumamku singkat saat aku melangkah masuk ke dalam kamar yang remang-remang itu.

Cloudet menoleh dengan sangat cepat, hampir seperti gerakan predator yang terkejut. Matanya yang kuning besar langsung membulat, memantulkan sedikit cahaya senja dari jendela. Begitu ia menyadari bahwa itu adalah aku, binar di matanya berubah menjadi kegembiraan murni. Telinga hellhound hitamnya mengepak-ngepak pelan di balik rambut hitamnya yang berantakan.

“Cal—” suaranya terputus saat cengkeramannya di seprai terlepas karena ia terlalu bersemangat.

Refleksku bekerja dalam hitungan milidetik. Aku melesat maju, mengulurkan tangan dan menangkap tubuh kecilnya sebelum ia sempat mencium lantai. Dengan satu gerakan, aku mengangkatnya dan mendudukkannya di tengah ranjang yang empuk.

“Pelan-pelan,” kataku, suaraku melunak meski aku mencoba tetap terdengar datar. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat terukir di wajahku.

“Ranjang ini tidak akan lari ke mana-mana.”

Cloudet tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru merayap maju dan memeluk lenganku dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di lengan baju hitamku yang masih beraroma hutan. Tindakannya begitu posesif, seolah ia sedang memastikan bahwa aku bukan sekadar fatamorgana yang akan menguap menjadi asap hitam. Aku mendecak pelan, namun tanganku secara otomatis bergerak mengusap puncak kepalanya, merapikan rambutnya yang halus.

“Kau kelelahan karena menemani Irina seharian?” tanyanya ringan.

Cloudet mengangguk kecil, tubuhnya mulai rileks dalam dekapanku. Aku ikut duduk di tepi ranjang, menariknya lebih dekat dan menyandarkan punggungku ke kepala ranjang yang dingin. Cloudet otomatis meringkuk di sisiku, mencari kehangatan dari energi api yang masih tersisa di tubuhku.

“Apa Irina memperlakukanmu dengan baik? Dia tidak menyuruhmu melakukan hal-hal aneh, kan?” tanyaku lagi, memastikan keamanan emosionalnya.

Cloudet mengangguk sekali lagi, lalu ia mengeluarkan uap kecil—sebuah nguapan panjang yang menandakan baterai energinya sudah benar-benar habis. Aku menghela napas panjang, menatap bayangan yang mulai merayap panjang di dinding kamar seiring tenggelamnya matahari.

“Baguslah kalau begitu.”

Malam Harinya

Kegelapan malam telah sepenuhnya menyelimuti kediaman Grozen saat aku terbangun. Aku tidak tidur terlalu lama, mungkin hanya dua atau tiga jam, namun itu cukup untuk menyegarkan sistem sarafku. Aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Cahaya lampu di dalam kamar Cloudet sudah meredu, menyisakan keremangan yang hangat. Tirai jendela bergoyang pelan, membisikkan lagu tidur melalui angin malam yang masuk.

“Hmmm, sepertinya aku benar-benar ketiduran,” gumamku sambil mengusap wajah.

Aku melirik ke arah samping. Cloudet masih tertidur sangat pulas. Tubuh kecilnya meringkuk seperti janin, kepalanya terkubur di bantal, sementara telinganya yang biasanya lincah kini terkulai lemas, menandakan tidur yang sangat dalam. Napasnya teratur dan tenang. Aku memperhatikannya sejenak, merasakan sedikit kedamaian yang jarang kurasakan, sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit.

Aku melangkah turun dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati, meminimalisir getaran pada kasur. Aku tidak ingin merusak istirahatnya yang berharga. Aku menyempatkan diri menyibakkan selimut putih itu sedikit lebih tinggi untuk memastikan ia tetap hangat dari udara malam yang cukup menusuk, lalu aku keluar kamar dan menutup pintu tanpa suara sedikit pun.

Begitu aku berdiri di lorong, aku langsung menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.

Lorong mansion yang biasanya temaram dan sunyi di jam-jam seperti ini, kini tampak bermandikan cahaya. Lampu-lampu kristal di sepanjang pilar tinggi menyala penuh, memancarkan binar keemasan yang mewah. Udara di dalam rumah terasa hangat dan hidup, dipenuhi oleh sirkulasi energi yang positif.

Aku mengerjap, menyesuaikan penglihatan

kuningku dengan intensitas cahaya yang mendadak.

“Aneh. Kenapa rumah ini terasa seperti sedang merayakan sesuatu?”

Aku berjalan santai dengan tangan di saku celana, mencoba mempertahankan sikap acuh tak acuhku. Namun, pemandangan di aula utama benar-benar menghentikan langkahku.

“Wow… wow… apa yang terjadi di sini?” suaraku terlepas begitu saja karena rasa heran.

Para pelayan berlarian melewati lorong-lorong. Wajah mereka yang biasanya kaku dan profesional kini dihiasi oleh senyum lebar dan binar antusias. Langkah kaki mereka cepat namun teratur, seolah-olah mereka sedang mengejar waktu dalam sebuah kegembiraan yang meluap.

Aku menepi ke dinding agar tidak tertabrak oleh kesibukan itu. Seorang pelayan wanita muda hampir menabrakku. Ia terkejut sesaat, matanya membelalak melihatku.

“T-Tuan Calix! Maafkan saya,” ucapnya dengan napas terengah-engah sambil membungkuk cepat.

Aku mengangguk singkat, mataku menyipit tajam penuh selidik. “Ada apa dengan semua kekacauan ini? Kenapa kalian semua berlari ?” tanyaku dengan nada datar yang menuntut jawaban.

Pelayan itu tersenyum sangat lebar, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan yang sulit dibendung.

“Tuan Roland! Tuan Roland sudah tiba, Tuan Calix! Beliau baru saja melewati gerbang depan.”

Jantungku berdenyut sekali, kencang.

“Nyonya Irina sudah menunggu di aula utama bersama Tuan Hendrik untuk menyambut beliau,” lanjut pelayan itu sebelum meminta izin untuk melanjutkan tugasnya.

Ah. Nama itu. Potongan teka-teki yang kurasakan sejak di Hutan Scotra kini terkunci rapat di tempatnya. Jadi, firasat siang tadi bukan sekadar paranoia. Aura itu memang miliknya.

Aku terdiam di tengah lorong yang sibuk, mencoba fokus pada indra perasaku. Namun, ada satu hal yang sangat janggal. Saat ini, aku sama sekali tidak bisa merasakan auranya. Tidak ada getaran sihir agung yang biasanya meluap

dari tubuh seorang Magus selevel dia. Tidak ada "gaung" energi yang mampu menggelitik api neraka di dadaku. Di radarku, dia seolah-olah tidak ada.

Aku terkekeh pelan, sebuah tawa sarkastik yang ditujukan pada diriku sendiri.

“Heh… dasar pria yang merepotkan.”

Senyum tipis yang sarat akan pengakuan terukir di wajahku. “Kau pasti sengaja, kan, Roland? Menyembunyikan seluruh kehadiranmu hingga ke titik nol, bertingkah seolah kau hanyalah manusia biasa yang menumpang lewat.”

Itu memang gaya khas Roland Grozen. Ia selalu bangga dengan kemampuannya untuk berbaur dengan kesunyian, datang tanpa keriuhan sihir yang pamer kekuatan, padahal semua makhluk astral tahu bahwa di balik ketenangan itu tersimpan daya hancur yang mampu merobek realitas.

Aku mengubah arah langkahku, kini tujuanku jelas. Aula Utama. Dengan senyum yang nyaris tak terlihat namun penuh antisipasi, aku berjalan menuju pusat keramaian. Aku ingin melihat bagaimana wajah pria perak itu setelah sekian lama.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!