Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Hati yang gelisah pasca bercerai
Malam itu menjadi malam perenungan bagi Alena. Tubuhnya lelah, hatinya terasa linu. Arinta sudah mengisi begitu banyak kenangan di dalam kehidupannya. Tentu ada rasa kehilangan juga bercampur rasa sakit yang mendalam karena pengkhianatan itu benar-benar terjadi dan dilakukan. Padahal dia sangat percaya dan yakin kalau pria itu tidak akan selingkuh, tapi tetap saja kepercayaan dan cinta tidak menjamin.
Ia menghela napasnya beberapa kali dengan perasaan berat. Pikirannya terbang entah kemana. Sampai detik ini jujur ia masih tak percaya kalau hubungan pernikahannya benar-benar sudah berakhir.
Diliriknya jam dinding di dalam kamar yang sudah menunjukkan waktu sudah hampir tengah malam. Semua orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing, namun Alena masih berjaga dengan begitu banyak pikiran yang berputar di dalam kepala.
Pertanyaan demi pertanyaan kini terlintas. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Alea?? Arah dan tujuan hidupnya sekarang untuk apa? Bagaimana pandangan orang tentang kegagalan pernikahannya? Dia sudah menjadi janda orang lain, apakah ia akan dihargai?
Alena membuka media sosialnya untuk sekedar mencari pengalihan pikirannya yang semakin ruwet.
Namun, tiba-tiba pandangan matanya tertuju ke sebuah pesan dari sosok bernama Aditya. Percakapan terakhir keduanya membicarakan mengenai anak yang selalu jadi korban perceraian orangtua. Dia ingat kalau pria itu mengaku menjadi salah satu anak broken home dulunya.
Hatinya sempat ragu tapi ada rasa penasaran yang membuat ia pada akhirnya menekan tombol pesan tersebut.
"Halo, assalamualaikum, apa saya boleh bertanya?"
Alena mengirimkan pesan dengan sebuah kalimat yang kaku dan formal.
Ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas layar ponsel.
Ah, mungkin dia sibuk ya. Gak mungkin langsung dibalas....
Akhirnya ia meletakkan ponselnya tersebut di atas balas sebelah ranjang tempat tidurnya.
.
.
Di sisi yang berbeda, Arinta pun sama. Pikirannya kacau, tidak bisa tidur. Tubuhnya lelah, mentalnya tersiksa. Semua rasanya seperti mimpi. Rumah yang biasa hangat dengan suara kaki kecil Alea berlari-lari juga suara riangnya yang menggema, senyum Alena dan Yani, kini sirna.
Rumahnya kini bagai sebuah cangkang kosong yang dingin. Sunyi tanpa canda dan tawa. Pada akhirnya pria itu menangis pelan. Air matanya menetes jatuh perlahan melewati pipi.
"Maafkan aku, Len..., Maafin Papih, Alea...."
Penyesalan memang selalu datang terlambat ketika rasa kehilangan dan bersalah mulai menghantui dalam sunyi.
Ia telah kehilangan keutuhan keluarganya sendiri akibat dari perbuatan yang dia sendiri lakukan.
.
.
Keesokan harinya Alena memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi. Fokus utamanya tentu saja Alea. Putri satu-satunya yang menjadi kekuatan dan semangatnya saat ini.
"Kamu jadi mau masukin Alea di TK Nusa Bandung?" Tanya sang ibu ketika mereka sedang sarapan bersama.
"Iya, hari ini Alena bakal pergi ke sekolah itu sama Putri untuk pendaftaran," jawabnya mengangguk cepat.
"Oh, baguslah kalau rencana kamu begitu. Biar Alea juga ada kegiatan, gak lama-lama di rumah dan bisa sedikit melupakan Arinta," balas sang bunda meras lega dan setuju dengan keputusan cepat yang dilakukan Alena.
"Iya, Bu. Makanya Alena mau buru-buru," ungkap Alena yang memang memiliki tujuan seperti itu.
"Kalau gitu kita berangkat habis sarapan aja Teh?" Tanya Putri yang memang masih menginap di sana.
"Boleh, sekalian ajak Alea."
.
.
Keharmonisan ruang makan di tempat Alena berbanding terbalik dengan tempat Arinta yang senyap. Ia hanya duduk sendiri di meja makan dengan sarapan mie instan seadanya karena dia tidak bersemangat untuk makan apapun bahkan untuk sekedar membeli atau memasak....
Pria itu duduk seorang diri dengan tatapan yang hampa. Melihat sekeliling rumahnya, sepi. Dia tak jadi makan, alih-alih berdiri dan memilih keluar rumah. Entahlah, mungkin ia sekedar mencari suasana.
Di jalan Arinta melewati beberapa rumah makan yang ada di pinggiran jalan tempat wilayah perumahannya berada. Ia tersenyum miris melihat pemandangan itu. Bahkan suasana rumah makan di sana terlihat lebih ramai dan hangat dibanding rumahnya.
Arinta akhirnya memutuskan untuk mampir di salah satu jajaran rumah makan itu.
Dia memasuki salah satu rumah makan padang sederhana dengan konsep lesehan. Begitu masuk ia sudah disambut ramah oleh sang pelayan.
"Selamat datang Pak, silahkan masuk. Mari saya bantu memilih tempat, Bapak mau pilih tempat yang mana?" Pelayan restoran wanita itu berdiri di depan Arinta dengan senyuman lebar.
Arinta melihat ke sekeliling di mana bagian paling sudut sudah terisi oleh beberapa orang dan dia tak punya pilihan selain memilih tempat di tengah.
"Di sana saja," ucap Arinta sambil menunjuk ke bagian tengah meja.
"Baik, silahkan...." Dengan gestur sopan pelayan itu mempersilahkan Arinta untuk mengambil tempatnya.
Arinta berjalan dengan langkah sedikit malas karena ternyata orang-orang yang sedang makan di sana rata-rata satu keluarga. Ia hanya bisa pasrah duduk di sana.
"Mmm, Bapak cuma sendirian?" Tanya si pelayan restoran dengan kedua-matanya yang seolah sedang mencari-cari orang di luar pintu restoran. Mungkin ia berpikir Arinta tidak datang sendirian.
"Ya, saya hanya sendiri," jawab Arinta sedikit tersenyum miris.
"Oh, baiklah...." Wanita itu terlihat agak terkejut, namun segera menutupi keterkejutannya itu dengan senyuman. "Kalau begitu mohon ditunggu makanannya ya, Pak," ujarnya kemudian memutar tubuhnya pergi meninggalkan tempat duduk Arinta.
Arinta terdiam di sana, merasa dirinya seperti alien di tengah keramaian suasana di kiri dan kanannya. Ia menghela napas, dan berpikir seandainya dia saat ini bersama dengan Alena dan Alea, pasti bakal menyenangkan.
Berhenti Arinta, kalian sudah berpisah....
Cepat-cepat ia menepis pikirannya itu. Apa yang telah terjadi ya terjadi. Faktanya dia dan Alena sudah tak bersama dan keputusan hak asuh Alea pun ada pada ibunya. Dia harus mulai terbiasa dengan suasana ini.
Makanan-makanan itu tak lama berdatangan. Semua diletakkan di atas meja, meriah dengan berbagai macam menu khas masakan padang. Tak lupa segelas air putih hangat dan teh hangat diletakkan beserta tempat kobokan.
Beberapa orang memandangi Arinta. Mungkin aneh, melihat pria itu yang seorang diri malah memilih makan di tempat seperti ini, yang biasanya didatangi oleh keluarga atau kelompok remaja.
"Mukanya lecek banget, kaya orang frustasi." Bisik-bisik mulai terdengar dari area meja di pokoknya.
"Jangan keras-keras nanti dia dengar!"
Arinta melirik ke arah meja tersebut dan mendapati sekelompok gadis berjumlah lima orang tengah duduk di meja tersebut. Semuanya cantik dan pakaiannya modis. Mereka lebih mirip seperti mahasiswi ketimbang pekerja kantoran kalau dilihat dari gaya berpakaian yang lebih kekinian.
"Eh, dia lihat kemari!" Seorang gadis menepuk teman-temannya untuk berhenti bergunjing.
Gadis-gadis lain di sekelilingnya langsung bersikap pura-pura tak melihat Arinta.
"Eh, lu tau gak kayanya gue pernah liat muka itu cowok!" Bisik seseorang di antara mereka berlima.
"Yang bener, di mana?" Gadis yang berada dipaling pojok mengernyit dan penasaran.
Gadis di sebelahnya langsung mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tasnya.
"Nih, coba deh lu liat...." Dia memperlihatkan sesuatu kepada teman-temannya itu. "Mukanya mirip gak sih, atau cuma perasaan gue doang?" Ujarnya meminta keempat teman lainnya mengamati.
Lalu secara bersama-sama tanpa sadar kelima gadis itu mulai memperhatikan Arinta.
.
.
Bersambung....
rubah sifatmu lena jng sampai calon suamimu jg merasa tertekan oleh sifatmu