Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Davis Posesif
Mama Verli dan Papa Vero menatap kepergian kedua anaknya dengan berbagai perasaan.
"Sebentar, Pa. Apa Papa tidak merasakan hal berbeda dari cara Davis memperlakukan Silva?" tahan Mama Verli memegang lengan Papa Vero.
"Berbeda gimana maksud, Mama? Sepertinya Papa lihat tidak ada yang berbeda, mereka sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Selalu dekat dan hangat," tanggap Papa Vero santai.
"Masa sih Papa tidak merasakan ada yang beda dari gelagat mereka berdua? Mama merasakan kalau Davis menyukai Silva," ungkap Mama Verli dibalut wajah yang risau.
"Mama jangan dulu berprasangka yang tidak-tidak. Papa selama ini melihat mereka biasa saja. Bukankah Davis selama ini memang selalu memanjakan Silva, dekat dan menuntun tangannya kalau mau pergi ke manapun. Tapi, kenapa sekarang Mama berpikiran seperti itu? Jangan berpikiran yang enggak-enggak, nanti Mama malah selalu berprasangka buruk sama mereka," respon Papa Vero masih datar.
"Papa ini sepertinya tidak peka. Mama bukan berprasangka buruk, Pa. Tapi mama takut kalau diantara mereka terjadi perasaan cinta, bukan lagi perasaan sayang terhadap adik. Mama beda saja melihatnya sekarang," ungkap Mama Verli sembari memangku dagunya bingung.
"Jangan khawatir, mereka tidak akan seperti itu. Mama kan tahu, dari sejak orok Silva sudah berada dalam pengasuhan kita. Davis dan Danis sudah terbiasa mengasuh dan menjaga Silva. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan dari kedekatan mereka. Papa percaya kalau Davis sangat menyayangi Silva sebagai adiknya, bukan sebagai laki-laki pada seorang perempuan," sangkal Papa Vero.
"Tapi, apabila keadaannya dibalik, misalnya Davis sesungguhnya mencintai Silva, apa yang akan Papa perbuat?" Mama Verli menatap tajam wajah Papa Vero, menuntut jawab.
Papa Vero termenung bingung memikirkan pertanyaan berandai sang istri.
"Mama jangan berandai-andai. Tidak mungkin Davis seperti itu." Papa Vero masih menyangkal kalau Davis memiliki perasaan suka terhadap Silva.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Pa. Semua bisa saja terjadi. Jadi, untuk itu kita sebagai orang tua harus bisa mencegahnya," sungut Mama Verli berapi-api.
"Kenapa kita harus mencegahnya seumpama itu terjadi pada mereka? Mereka bukan sedarah, atau sepersusuan. Bukankah mereka bisa saja menikah kalau saja mereka jatuh cinta? Kalau mereka sedarah atau sepersusuan, maka kita wajib mencegahnya bahkan kita harus memisahkannya," tegas Papa Vero. Mama Verli menggeleng, ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Papa Vero.
"Tapi, mama tidak mau mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar saudara. Mama hanya ingin Silva tetap jadi anak kita, tidak lebih," dengusnya sembari berlalu penuh emosi.
"Ya ampun, mama-mama. Jadi, masalah ini yang beberapa hari ini mengganggu pikiran mama? Kenapa harus dipermasalahkan, kalau memang mereka sama-sama jatuh cinta, tinggal kita kawinin saja." Papa Vero menyusul Mama Verli ke atas seraya senyum-senyum.
***
Siang semakin menjelang, jam di tangan sudah menuju ke angka 12.00 siang. Silva baru saja menyudahi melengkapi administrasi pendaftaran mahasiswa di UDL. Setelah itu, dia buru-buru menuju keluar ruangan. Silva bersiap untuk pulang.
Silva merogoh saku roknya, meraih Hp untuk menghubungi Davis.
"Kak Davis, aku mau keluar dari kampus, aku tunggu di halte depan kampus UDL, ya?" pesannya via WA.
Pesan itu segera ceklis dua biru, Silva segera berjalan keluar dari lingkungan kampus untuk menuju halte yang disebutnya tadi.
Di halte sudah banyak beberapa mahasiswa maupun mahasiswi yang menunggu jemputannya di sana, sama seperti dirinya.
Silva berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Sementara itu, Davis yang baru saja akan keluar kantor, sangat senang mendapat pesan WA dari Silva. Kebetulan dia akan keluar, karena saat ini bertepatan dengan jam istirahat.
Davis menuju parkiran kantor, lalu segera memacu motornya dari parkiran dengan tujuan UDL. Jarak kantornya ke UDL lumayan makan waktu, untuk itu Davis segera mengirimkan pesan balasan untuk Silva.
"Tunggu, kamu jangan ke mana-mana!" peringatnya. Kemudian ia segera memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Walau demikian, Davis tetap mematuhi marka jalan dan hati-hati.
Setengah jam, akhirnya Davis sampai di depan kampus UDL. Tepat di pinggir halte, Davis melihat Silva sedang mengobrol dengan beberapa teman laki-laki dan perempuannya.
Davis menuruni motor, lalu berjalan menghampiri Silva dan meraih tangannya. "Ayo."
Silva terkejut setengah mati, saat melihat Davis sudah meraih tangannya. Teman-teman Silva menatap ke arah Davis, lalu memberi ruang untuk Davis dengan tatap heran, kesal, bahkan tidak suka. Mungkin dipikirnya Davis begitu arogan dan tidak tahu tata krama.
Silva merasa tidak enak dengan sikap Davis yang tidak biasa, lalu dengan perasaan bersalahnya, Silva meminta maaf dan berpamitan pada teman-temannya.
"Teman-teman, maaf, ya. Aku duluan. Sampai jumpa," ucap Silva seraya mengangkat kedua tangannya.
Teman-teman Silva tersenyum seraya menatap Silva sampai dia menaiki motor Davis. Tanpa mengunggu lama, motor Davis segera berlalu dari samping halte.
Davis meraih tangan Silva supaya dia berpegangan di pinggangnya. Silva ingin menolak, karena ia merasa tidak suka dengan sikap sang kakak yang dinilainya arogan.
"Pegangan, nanti jatuh," peringatnya.
"Kakak, kenapa tadi Kakak begitu arogan saat di depan teman-teman aku, biasanya juga nggak seperti ini? Kalau kayak gini, aku nggak mau lagi ikut motor Kakak. Aku lebih baik naik gojek atau angkot." Setelah Silva protes, Davis tiba-tiba menghentikan motornya dan ngerem mendadak.
"Aduh, Kakak. Ngapain harus ngerem mendadak?" Silva masih protes dengan wajah yang sangat kesal.
"Kamu mau tahu, kenapa tadi kakak bersikap arogan? Karena kamu terlalu asik ngobrol dengan teman-temanmu, sementara kakak kamu biarkan menunggu," ujarnya memberi alasan.
"Kan, aku nggak tahu Kakak sudah datang. Kenapa harus bersikap seperti itu? Aneh," balas Silva masih tidak suka.
"Lain kali, kalau kakak mau jemput, kamu tidak usah fokus dengan teman-teman kamu yang ngajak ngobrol. Lagian baru saja mau jadi mahasiswa di UDL, udah tebar-tebar pesona. Salah-salah nanti kamu ditaksir cowok dan kamu jatuh cinta," peringatnya dengan wajah kesal.
"Lagian kenapa sih kalau aku ditaksir cowok, kan lumrah, Kak? Kak Davis ini kenapa seposesif ini sama adik sendiri. Aku juga tahu diri, aku nggak akan pentingin pacaran kali," tukasnya.
"Pokoknya nggak boleh ada cowok lain yang naksir kamu. Ahhh, sudahlah. Lebih baik kamu ikut kakak. Kakak akan memberimu sebuah hadiah. Pegangan!" larangnya sembari mengajak kembali Silva untuk mengikutinya.
Silva tidak protes lagi, pikirannya kini kembali dikusutkan dengan sikap Davis yang sangat posesif. Silva merasa tidak enak lama-lama punya kakak yang posesif, bisa-bisa ia tidak bebas bergaul.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅