NovelToon NovelToon
Dosa Yang Kucintai

Dosa Yang Kucintai

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"

Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.

Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Khawatir

Hania menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia berusaha tetap tenang meski dada terasa sesak. "Saya… tidak mengerti, Tuan," katanya pelan.

Ziyo diam sejenak, lalu menggerakkan jari-jarinya di atas sandaran kursi roda. "Nada suaramu berubah saat berbicara denganku." Ia berhenti, seperti tengah menimbang sesuatu. "Seakan kau menyembunyikan sesuatu."

Hania merasakan kakinya melemah. Ia mengerjap, berusaha mengendalikan napasnya. "Saya hanya gugup, Tuan. Ini pertama kalinya saya merawat seseorang seperti Anda."

Ziyo mendengus pelan. "Begitu, ya?" Suaranya terdengar datar, tetapi ada sesuatu di balik nada itu yang membuat bulu kuduk Hania meremang.

Sebelum Hania bisa menjawab, pintu kamar diketuk. Suara Diva terdengar dari luar. "Hania, keluar sebentar. Aku ingin bicara."

Hania menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Ziyo. Pria itu tetap diam, seolah menunggu.

Dengan hati berdebar, Hania menghela napas dan melangkah keluar, meninggalkan Ziyo sendirian di kamarnya. Namun, bahkan setelah ia pergi, Ziyo tetap tak bergerak, bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis.

"Apa yang kau sembunyikan, Hania?" gumamnya pelan.

Hania keluar dari kamar Ziyo dengan langkah hati-hati. Begitu sampai di ruang tengah, ia melihat Diva sudah duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya. Wanita itu menoleh dan tersenyum ramah, senyuman yang tampak tulus, tetapi entah kenapa membuat Hania merasa tidak nyaman.

"Hania, duduklah sebentar," ujar Diva, sambil menunjuk kursi di seberangnya.

Hania menuruti perintah itu, duduk dengan punggung tegak, berusaha terlihat profesional.

"Aku ingin memastikan kau tahu tugasmu di rumah ini," lanjut Diva, meletakkan cangkirnya di atas meja. "Ziyo memerlukan perhatian penuh. Dia tidak bisa melihat, jadi kau harus peka terhadap kebutuhannya. Jangan membuat suara yang tiba-tiba atau membiarkan barang-barang di tempat yang bisa membahayakannya."

"Baik, Nyonya. Saya mengerti," jawab Hania cepat.

Diva mengamati wajahnya sejenak, lalu tersenyum lagi. "Aku ingin kau melakukan tugasmu dengan baik. Tapi ingat, Ziyo bukan orang yang mudah percaya. Jika kau membuatnya curiga atau tidak nyaman, dia tidak akan segan-segan menyingkirkanmu."

Hania meremas tangannya di atas pangkuannya, menyadari ada peringatan terselubung dalam kata-kata itu. "Saya akan berhati-hati, Nyonya."

Diva mengangguk puas. "Bagus. Sekarang ikut aku, aku akan menunjukkan kamarmu."

Hania bangkit mengikuti Diva, menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil di rumah ini akan diawasi dengan ketat.

Setelah Diva menunjukkan kamarnya, Hania berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Kamar itu tidak besar, tapi cukup nyaman. Namun, ada satu hal yang mengusiknya, apakah Diva benar-benar setuju ia tinggal di rumah ini?

Untuk memastikan, ia menoleh ke arah Diva yang hendak beranjak. "Nyonya, apakah ini berarti saya diizinkan tinggal di sini?" tanyanya hati-hati.

Diva menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Tentu saja. Kau akan lebih mudah menjalankan tugasmu jika tinggal di dalam rumah ini."

Mendengar jawaban itu, Hania mengangguk. "Kalau begitu, saya akan pergi sebentar untuk mengambil barang-barang saya di kontrakan."

"Baik. Jangan lama-lama," ujar Diva sebelum melangkah pergi.

Tanpa membuang waktu, Hania segera keluar rumah dan menaiki angkutan umum menuju kontrakannya yang sederhana. Saat tiba di sana, ia menghela napas panjang, menatap ruangan kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Meskipun tidak mewah, tempat ini selalu terasa nyaman.

Dengan cepat, ia mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam koper kecil. Hanya pakaian dan beberapa barang penting yang ia bawa. Setelah selesai, ia duduk di tepi kasur, membuka ponselnya, dan mengetik pesan untuk kedua orang tuanya.

Setelah memastikan pesannya terkirim, Hania menghela napas panjang. Ia lalu mengeluarkan kartu SIM dari ponselnya dan menyimpannya di dalam dompet. Setelah itu, ia berjalan ke dapur, di mana seorang wanita paruh baya sedang mencuci piring.

Wanita itu menoleh ketika merasakan kehadiran Hania. "Nona Hania, ada apa?"

Hania menyerahkan ponselnya. "Saya berikan ponsel ini pada Ibu. Saya minta maaf, Bu Wati. Saya tidak bisa lagi menggunakan jasa Ibu. Mungkin suatu saat nanti, jika saya membutuhkannya lagi, saya akan menghubungi Ibu."

Bu Wati menatap ponsel itu dengan ekspresi terkejut. "Nona... Apa ini artinya Anda benar-benar pergi?"

Hania mengangguk pelan. "Ya."

Ada kesedihan di mata wanita itu, tetapi ia tidak bisa memaksa. Dengan suara pelan, ia berkata, "Saya mengerti. Saya hanya berharap Nona baik-baik saja."

Hania tersenyum tipis. "Terima kasih untuk segalanya, Bu Wati."

Dengan hati yang sudah mantap, Hania mengambil kopernya dan melangkah pergi, meninggalkan kehidupannya yang lama demi sesuatu yang lebih besar.

***

Di dalam rumah mewah yang megah dan luas, Riri duduk di sofa empuk di ruang keluarga, memandangi ponselnya dengan alis berkerut. Pesan dari putri tunggalnya terasa aneh, meninggalkan perasaan tidak nyaman di hatinya.

Tanpa sadar, ia bergumam, "Kenapa Hania mengirim pesan seperti ini?"

Di sebelahnya, Rian yang tengah menikmati teh hangat menoleh. Melihat ekspresi istrinya yang berubah, ia bertanya, "Pesan apa?"

Riri tanpa berkata-kata menyerahkan ponselnya. Rian mengambilnya dan membaca pesan yang baru saja dikirim Hania.

"Papa, Mama, aku pergi untuk melakukan pekerjaan penting. Jangan mencariku. Aku akan kembali jika sudah saatnya."

Dahi Rian berkerut dalam. Ia menurunkan ponsel itu perlahan dan menatap istrinya. "Apa maksudnya ini? Pekerjaan penting? Kenapa dia menyuruh kita untuk tidak mencarinya?"

Riri masih memandangi layar ponselnya dengan ekspresi penuh tanya. Pikirannya berputar, mencoba mencari alasan di balik pesan aneh dari putri tunggalnya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata pelan, "Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan pacarnya?"

Rian, yang sejak tadi menatap kosong ke depan, langsung menghela napas kasar. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja dengan sedikit kasar, lalu berkata dengan nada geram, "Hania memang keras kepala. Dia rela hidup seperti orang biasa demi bisa bersama pemuda itu. Alasannya? Karena ingin pemuda itu mencintainya tanpa memandang harta. Pura-pura tinggal di rumah kontrakan sederhana hanya demi dekat dengan pemuda itu. Sungguh nekat."

Riri menghela napas pelan, lalu menoleh ke suaminya dengan tatapan penuh arti. "Bukankah keras kepalanya itu menurun darimu?"

Rian hendak membantah, tapi tak ada kata yang keluar. Ia hanya bisa menghela napas kasar lagi, jelas tidak bisa menyangkal ucapan istrinya.

Suasana di dalam ruangan menjadi hening. Hanya suara detik jam yang terdengar, mengiringi pikiran mereka yang berkelana.

Rian akhirnya memecah keheningan. Dengan suara yang lebih tenang tapi tetap tegas, ia berkata, "Aku sebenarnya tidak peduli dengan latar belakangnya. Asal Hania bahagia, itu sudah cukup bagiku. Tapi pemuda itu…"

Ia menggertakkan rahangnya sejenak, lalu melanjutkan, "Baru sekali melihatnya saja aku tidak suka. Ambisinya terlalu besar. Ambisi besar sih, nggak masalah, tapi aku merasa dia itu licik. Aku tidak mau putri kita hidup dengan orang seperti itu."

Riri menatap suaminya lekat-lekat, mencoba memahami kegelisahan di balik kata-katanya. Setelah beberapa saat, ia menghela napas pelan. "Kalau begitu, sebaiknya kau cari tahu apa yang terjadi," ucapnya, lalu mengangkat ponselnya dan menunjukkannya pada Rian. "Lihat ini. Aku sudah mencoba menghubungi Hania, tapi tak aktif. Aku chat juga cuma centang satu."

Rian menatap layar ponsel itu dengan alis berkerut, firasat buruk mulai merayapi pikirannya.

"Aku akan menyelidikinya," gumam Rian penuh tekad, suaranya cukup pelan tetapi masih terdengar oleh Riri. "Jika sampai pemuda itu menyakiti putriku..."

Riri menelan ludah dengan gugup. Nada suara suaminya terdengar dingin, dan ekspresi di wajahnya semakin mengeras. Ia tahu betapa besar rasa sayang Rian pada Hania, putri tunggal mereka, satu-satunya penerus keluarga.

"Kita harus memastikan dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan," ujar Riri, mencoba meredakan ketegangan.

Namun, tatapan Rian tetap tajam. "Aku tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi pada Hania."

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
kaylla salsabella
wuhhaaaaa ......kan ...kan udah tamat ...... terimakasih atas karya mu kak Nana 🥰🥰🥰.... tetep semangat berkarya kak 🥰🥰🥰🥰
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Akhirnya tamat juga kisah ziyo dan hania mereka menikah hidup bahagia.....
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
terima kasih semua baguslah karya kak Nana ini
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih kembali, KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
kisah ziyo dan hania dah tamat thank ya thor...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin.🤗🙏🙏
Dwi Winarni Wina: sukses ya kak dan sehat sll....
total 3 replies
Dwi Winarni Wina
Zian kakaknya anggap km adik walaupun mama diva jahat...
Tinggal bersama kakak ziyo dan hania...
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ditunggu karya berikutnya kak anna
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
karya yang sarat dengan pelajaran. Terima kasih banyak
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Erchapram
Terima kasih atas karya yang luar biasa ini.
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sinar FauzIan Rustin
tetap semangat Thor,, sehat selalu,, dan terus lah berkarya..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
abimasta
trimakasih thor sudah menyuguhkan cerita yang bagus,sukses di karya selanjutnya
abimasta: sama sama thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏
total 2 replies
kaylla salsabella
terus nasibnya Brian gimana ya kak Nana
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Masih menjalani hukumannya, Kak.
total 1 replies
kaylla salsabella
seperti nya si zion mau tamat ya kak Nana
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ziyo & hania menikah. akhirnya ya
naifa Al Adlin
bentar lg tamat y kak
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Iya, Kak.
total 1 replies
abimasta
akhirnya zigo dan hania bersatu
abimasta
biasanya kalau rilis yang baru ada yang mau end ya thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Iya, Kak.🤗
abimasta: sepertinya dosa yang kucintai ya thor
total 3 replies
Dek Sri
sepertinya seru, aku mampir thor
Dek Sri: sama2
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 2 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
aku bakal mampir pakai akun lain ya.
Dwi Winarni Wina
Bagus bryan apa yg kamu lakukan sudah bener dan menebus kesalahannya membongkar kejahatan diva....
Diva dilaporkan ke polisi...
Dwi Winarni Wina
Bryan sangat menyesal telah menyakiti dan menyia2kan hania sangat tulus mencintainya menyesal sudah terlambat Bryan....
Demi ambisimu ingin menguasai perusahaan Clara tega selingkuh dengan Clara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!