NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:253.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Pernikahan Dadakan

Wongso tampak bingung sejenak, namun amarahnya semakin membara. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali atas situasi yang sudah ia anggap biasa. "Aku tak menyangka, Warti yang selama ini selalu diam dan tidak ikut campur urusanku, kali ini berdiri menentangku," batinnya.

Wongso pun mulai berpikir panjang, menyadari bahwa Warti bukanlah sosok yang bisa dipandang sebelah mata, mengingat suaminya seorang tentara. Meskipun suami Warti sering kali tidak berada di rumah karena tugas-tugas dinasnya, Wongso tahu betul bahwa Warti memiliki kekuatan dan pengaruh yang tak bisa dianggap enteng. "Sial! Kenapa perempuan itu harus ikut campur?" umpatnya dalam hati dengan tangan terkepal erat.

Di sisi lain, Airin berjongkok di depan Kaivan. Ia meraih tangan pria itu dan menggenggamnya dengan erat. "Kak, jika kau bersedia... malam ini juga kita menikah," ucap Airin dengan suara gemetar, namun tegas. "Dengan begitu, Wongso tak akan punya alasan lagi untuk mengganggu kita."

Kaivan terdiam sejenak, menarik napas dalam sebelum berbicara dengan suara tenang. "Airin, kita baru bertemu pagi ini. Kita bahkan hanya sebatas mengenal nama, dan aku... aku buta. Apa kau yakin ingin menikah dengan pria seperti aku?"

Airin mengangguk dengan penuh keyakinan, meskipun ia tahu pria di hadapannya tak bisa melihatnya. "Aku lebih baik menikah denganmu daripada dengan pria tua yang sudah beristri tiga. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku berjanji akan merawatmu seumur hidupku, apa pun yang terjadi. Meskipun kau tak akan pernah bisa melihat lagi, aku akan tetap di sisimu. Kita akan hidup bersama, menghadapi semuanya sampai tua," ucapnya penuh kesungguhan dan ketulusan.

Kaivan tertegun oleh kesungguhan dan ketulusan dalam suara Airin. Hening sejenak melingkupi mereka, hanya diiringi suara binatang malam di luar. Perlahan, Kaivan mengangguk, hatinya masih bimbang dan terkejut, tapi ia memutuskan untuk mengikuti instingnya. "Jika itu yang kau inginkan, Airin... aku akan menerimanya. Aku akan menikahimu."

Keputusan itu seperti bom yang meledak di tengah kerumunan. Semua orang terkejut, sementara Airin dan Kaivan saling bertukar tatapan penuh tekad meskipun Kaivan tak bisa melihat. Wongso menatap mereka dengan wajah merah padam, namun untuk pertama kalinya, ia tak bisa berkata-kata.

Keputusan mendadak itu mengubah dinamika malam itu. Wongso terlihat seperti binatang buas yang terjebak, sementara Airin, meskipun tampak rapuh, berdiri sebagai simbol keberanian di hadapan semua orang.

Bidan Warti yang sudah jengah dengan tingkah Wongso, merasa seperti mendapatkan angin segar begitu mendengar persetujuan Kaivan untuk menikahi Airin. Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri seorang pria paruh baya di antara kerumunan warga. Pria itu adalah Pak Hasan, yang sering diminta menjadi penghulu dalam pernikahan warga desa.

"Pak Hasan, ayo ikut saya. Kita nikahkan mereka sekarang juga," ujar Bu Warti penuh semangat sambil menarik lengan Pak Hasan.

Pak Hasan yang terlihat terkejut sempat tergagap. "Sekarang, Bu? Tapi—"

"Tak ada tapi-tapian! Wongso sudah terlalu lama membuat masalah di desa ini. Kalau Airin dan Ivan menikah, tak akan ada lagi omongan macam-macam tentang mereka yang tinggal serumah. Ini demi kebaikan semua pihak," potong Bu Warti dengan tegas.

Kerumunan warga yang mendengar alasan itu langsung mengangguk setuju. "Benar itu! Lebih baik mereka dinikahkan sekarang juga!" ujar salah seorang warga, diikuti anggukan dan gumaman setuju lainnya.

"Kak...." panggil Airin menatap Kaivan penuh harap. "Kakak bersedia 'kan, menikah denganku malam ini juga?"

Kaivan mengangguk kecil, menyampaikan kesungguhannya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menerima situasi yang berkembang begitu cepat dan sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya.

Wongso, yang mendengar rencana itu, menggebrak kap mobilnya dengan keras. "Ini tidak bisa diterima!" bentaknya, tetapi teriakan itu hanya disambut tatapan tajam Bu Warti dan dukungan penuh warga.

Pernikahan yang tak terduga itu berlangsung dengan penuh haru. Di tengah kerumunan warga yang menyaksikan, nenek Asih berdiri di samping Airin, matanya berkaca-kaca. Di usianya yang sudah senja, ia tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan haru melihat cucunya, yang selama ini selalu berjuang seorang diri, akhirnya menemukan jalan keluar dari kegelapan hidupnya. Nenek Asih menggenggam tangan Airin erat, seolah memberikan kekuatan di saat-saat penuh emosi ini.

Airin dan Kaivan berdiri berdampingan. Meski situasi ini penuh dengan ketegangan dan perubahan mendadak, hati mereka berdegup kencang. Kaivan, yang sejak lama tak terbiasa disentuh orang sembarangan, terutama oleh seorang wanita, kini merasakan sentuhan Airin yang menghangatkan hatinya. Tangannya sedikit gemetar saat ia menggenggam tangan Airin, tetapi di dalam hatinya, ia merasa terhubung dengan wanita di sampingnya lebih dari yang pernah ia bayangkan.

"Ivan," suara penghulu terdengar pelan, memecah keheningan. "Apakah kamu bersedia untuk mengambil Airin sebagai istrimu, untuk hidup bersama, dalam suka dan duka, hingga akhir hayat?"

Dengan napas yang sedikit terengah, Kaivan mengangguk, wajahnya penuh ketulusan. "Saya bersedia."

Kemudian, giliran Airin. Penghulu menoleh padanya. "Airin, apakah kamu bersedia untuk mengambil Kaivan sebagai suamimu, untuk berbagi hidup bersamanya, dalam suka dan duka, hingga akhir hayat?"

Airin mengangguk mantap, meski bibirnya tampak gemetar. "Saya bersedia."

Saat mereka mengucapkan janji suci itu, suasana menjadi begitu hening, hanya terdengar deru angin yang seolah menenangkan. Detak jantung mereka berdua berdetak lebih cepat, seakan dunia sekitar mereka menghilang, meninggalkan hanya keduanya yang terikat dalam janji tersebut.

Nenek Asih menitikkan air mata bahagia, mengusap pipi keriputnya dengan pelan. Ia tahu, meski tidak mudah, pernikahan ini memberi Airin harapan baru, serta kekuatan untuk menghadapi hidup yang penuh tantangan.

Dengan itu, pernikahan mereka sah, dan meski sederhana, momen itu begitu berarti. Mereka berdua, di tengah segala ketidakpastian, kini berjalan bersama, membangun kehidupan baru yang penuh harapan.

Bidan Warti merasa lega dan bangga melihat Airin dan Kaivan akhirnya resmi menikah. Di antara kerumunan warga yang memberikan tepuk tangan, Warti merasakan kepuasan tersendiri. Ia tahu, dengan pernikahan ini, Wongso tidak bisa lagi semena-mena terhadap Airin. Tanpa ragu, ia berjalan ke arah Airin dan Kaivan, memberikan senyuman hangat sebagai bentuk dukungan.

"Selamat Airin, Ivan atas pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai kakek nenek. Ibu berharap mata Nak Ivan segera sembuh dan bisa melihat lagi," ucap Bu Warti penuh ketulusan.

Airin tersenyum hangat. "Terima kasih, Bu. Ibu sudah banyak membantu kami."

Kaivan mengangguk. "Terima kasih."

Bu Warti tersenyum tipis. "Ini hanya bantuan kecil. Ibu tidak suka melihat orang lain ditindas di depan mata Ibu. Jika kamu tidak bertekad kuat untuk lepas dari Wongso, ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa."

Nenek Asih angkat bicara. "Meskipun begitu, kami tetap harus berterima kasih pada Bu Warti."

Bu Warti tersenyum seraya mengusap lengan nenek Asih. "Sebagai sesama manusia, sudah sepantasnya kita saling menolong."

Namun, di sisi lain, Wongso yang sebelumnya menyaksikan pernikahan itu, kini terlihat jelas kemarahannya. Ia duduk di dalam mobilnya, tubuhnya kaku dengan tangan terkepal erat. Wajahnya memerah, marah, dan kecewa. Anak buahnya yang semula menunggunya di luar juga tampak cemas, mereka tahu bahwa Wongso tidak akan mudah menerima kekalahan ini.

"Ini belum berakhir," gumam Wongso dengan suara geram, menatap tajam ke depan. "Airin dan Ivan akan menyesal. Aku akan membuat mereka merasakan akibatnya."

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!