Bastian, siswa pindahan yang mengundang sorotan publik karena ketampanannya. Ia juga lihai dalam bermain sepak bola
yang menambah nilai plus dari setiap mata yang menyaksikannya. Ia dipertemukan dengan Aleksa sang ketua OSIS yang tidak menyukai pemain bola. Namun mereka ditakdirkan untuk menjalani hari-hari bersama.
Seperti apakah kelanjutannya?
Mari, temukan dalam cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kelas
“Kenapa Ren?’’tanya Bastian penasaran. Didapatinya Deren masih gelisah dengan keadaan Aleksa. Ia terlihat menangis.
“Enggak tahu. Leks, jangan nangis lagi.’’pujuk Deren.
Aleksa mengelap air mata di pipinya. Ia berupaya untuk tidak menangis lagi. Bastian duduk di samping Aleksa.
“Kamu kenapa Leks?’’tanya Bastian memastikan.
Aleksa tak menyahut.
“Ya udah nangis aja dulu, enggak usah ditahan.’’saran Bastian bertentangan dengan Deren yang melarang Aleksa untuk menangis.
“Ren, ajak makan gih. Mungkin Leksa lapar.’’ledek Bastian sambil menahan senyum.
“Diem kamu Bas!’’ujar Aleksa kesal. Ia masih menangis. Deren masih berusaha untuk memujuk Aleksa. Ia berusaha untuk mendiamkan Aleksa.
Seketika Aleksa semakin menjadi sorotan teman-temannya. Deren masih berusaha untuk menenangkan Leksa. Ia terlihat kesal, karena di saat begini Bastian masih bercanda.
“Uii…! Udah, enggak usah pada kepo!’’sentak Bastian membubarkan pertanyaan yang ingin tahu. ‘’Macem enggak pernah nangis aja kalian.’’cetusnya lagi.
“Udahan Leksa.’’pinta Deren lagi memelas.
“Ren, udah biarin aja dulu, kamu duduk aja. Ntar ini reda sendiri.’’ucap Bastian. Deren menurut. Bastian memberikan tisu. ‘’Yuk, yuk, keluarin semua air matanya. Biar keluar semua segala beban kamu. Aku tahu nyandang jabatan sebagai ketua OSIS dan ketua kelas enggak mudah.’’ujarnya menasihati. Ia memukul perlahan pundak Aleksa menenangkan.
Aleksa semakin menangis tak karuan. Air matanya semakin tidak mau berhenti. Cukup lama Bastian menunggunya hingga akhirnya guru mereka datang barulah Aleksa dapat tenang.
“Jangan semua dipikirin.’’bisik Bastian.
‘’Diem Bas. Enggak usah sok tau.’’sentak Aleksa. Ia menarik nafas dalam. Hari ini perasaanya beneran sakit, karena kejadian di UKS pagi tadi. Ditambah lagi Bastian tidak ada mengkhawatirkannya. Malah sebaliknya, ia justru lebih memperhatikan Tere.
“Hehe. Kalau lapar makan, jangan nangis.’’ledek Bastian.
“Diem!’’sentak Aleksa. Ia mengelap air matanya yang jatuh. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Bukan fisiknya, melainkan hatinya yang menyaksikan kemersraan Bastian dengan Tere. Ia merasa tercampakkan begitu saja. “Sadar Aleksa, kamu bukan siapa-siapa’’lirihnya dalam hati seolah menguatkan hatinya.
Sepulang sekolah. Bastian menepati janjinya ia menunggu Tere di parkiran. Terlihat jelas bahwa gadis itu masih jalan tergopoh-gopoh. Bastian mendekatkan motornya ke arah kakak kelasnya itu.
“Yakin kamu mau diantar naik motor?’’tanya Bastian ragu.
“Ehm’’angguk Tere. Ia dibantu kedua sahabatnya untuk naik ke motor Bastian. Ia duduk menyamping. Tangannya langsung mendarat dengan mulus ke perut Bastian.
“Duduk ngadap depan enggak bisa nih? Aku enggak nyaman gonceng kamu kayak gini?’’tolak Bastian.
“Sanggup banget sih kamu Bas, aku masih lemas. Enggak kuat duduk ngadap depan.’’ujar Tere ngeles.
“Hm.’’
Mereka pun pamit dengan Angel dan Clara. Motor melaju dengan perlahan Bastian tidak terbiasa membonceng orang lain dengan duduk menyamping. Sepedometernya hanya berhenti di garis empat puluh. Ia benar-benar tak nyaman membawa anak gadis orang dengan posisi itu.
“Pelan amat jalannya Bas. Kamu nyaman kayak gini?’’goda Tere yang semakin kuat memeluk Bastian.
“Nyaman apanya! Kalau nyaman mending enggak usah jalan sekalian.’’ucapnya sambil melirik spion.
“Ya udah, gini aja. Aku juga masih takut kamu bawa kencang-kencang.’’
“Hm.’’
Setelah dua puluh menit berlalu, barulah mereka sampai di rumah Tere. Bastian memarkirkan motornya di halam Tere yang dipenuhi rumput yang terawat. Tere mengalungkan tangannya di lengan Bastian. Pelan-pelan mereka memasuki rumah megah itu.
“Kamu kenapa?’’tanya wanita paruh baya yang menyambut mereka di ruang tamu.
“Tadi enggak sengaja kena bola Bund.’’jawab Tere lemah.
Bastian membuka helmnya. Bastian meyalam ibunda Tere. Ia juga disambut hangat dengan keluarga itu. Bastian dipersilakan duduk, dengan kondisi Tere masih di sampingnya. Ia merapikan rambutnya yang sempat berantakan.
“Ehm. Kalau gitu saya pamit ya Tan.’’ucap Bastian setelah dianggapnya Tere sudah aman.
“Tunggu.’’Tere langsung dengan cepat menarik tangan Bastian. “Temenin dulu.’’
“Eng, tapi aku mau kerkom Kak.’’tolak Bastian memberi alasan.
“Istirahat dulu Nak. Kalian pasti capek. Banyak energi terkuras.’’saran mamanya.
“Ehm kebetulan saya ada yang mau dikerjain lagi Tan.’’tolak Bastian.
“Bentar aja. Minimal Tante buatin minum kamu dulu.’’
“Enggak usah repot-repot Tan.’’ucap Bastian yang sungkan. Ia memperhatikan wanita itu yang meninggalkan mereka. Dengan segera Bastian agak menjauhi Tere.
Tere menscroll handphonenya. Ia menunjukkan fotonya yang pingsan dan menunjukkan ke Bastian.
“Nih, lihat.’’sodornya kepada Bastian.’’Semua orang juga tahu siapa pelakunya.’’
“Haha.’’Bastian tertawa. “Iya semua orang juga tahu, dan orang-orang juga tahu siapa yang selfie-selfie di pinggir lapangan.”ledeknya.
“Kamu jahat Bas, sanggupnya kamu nendang bola ke arahku sekuatnya.’’keluhnya kesal.
“Lah, itu namanya enggak sengaja.’’ujar Bastian membela diri. “Lagian aku udah minta maaf.’’tegas Bastian kembali.
“Pokokny kamu harus jagain aku sampe aku sembuh.’’titah Tere.
“Besok juga udah sembuh. Nanti malam juga enakan.’’ucapnya.
“Hm, enggak pernah peka.’’keluh Tere.
“Diminum Bas.’’suruh ibu Rita kepadanya.
“Makasih tan. Maaf ngerepotin.’’Bastian langsung meneguknya sampai habis, dan tiada tersisa. “Tan, udah habis ya. Saya udah bisa pamitkan Tan?’’
“Ih, Bas, kamu haus atau apa itu. Enggak ada jaim-jaimnya dikit.’’celoteh Tere heran.
Bastian tertawa. “Jaim untuk apa? Hehe. Udah ah. Tan, Bastian pamit ya. Cepat sembuh Kak.’’ucapnya sambil berlalu.
Bastian pun langsung melajukan motornya kembali ke sekolah. Ia lihat Aleksa dengan ibu Siska sedang asyik berdiskusi di perpustakaan. Bastian tadi sempat permisi kepada Sisksa untuk mengantarkan Tere. Siska pun menyetujui, sehingga mereka duluan yang berdiskusi.
Bastian memasuki perpustakaan yang sudah hening. Tinggal Aleksa dengan Siska beserta penjaga perpus di situ. Mereka sangat serius untuk mendiskusikan tambahan dari hasil pekerjaan kelompk itu.
“Udah gimana Tere Bas?’’tanya Siska ketika mereka telah berhadapan.
“Udah lumayan Bu. Tapi tadi terakhir katanya masih pusing Bu.’’jelasnya singkat. Bastian duduk di samping Aleksa, namun Aleksa menarik menjauhi kursinya.
“Komposisi yang kalian putuskan cukup sesuai.’’puji Siska memulai pembicaraan terhadap karya mereka. ‘’Kalian memang bisa diandalin.’’pujinya lagi.
“Makasih Bu.’’ucap Bastian sambil mengamati. Dilihatnya catatan Aleksa sudah banyak mendapat masukan dari Ibu Siska.
“Berarti besok tugas kalian sudah bisa dikumpulkan ya.’’
Bastian menatap Aleksa tidak berani menjawab secara langsung perintah Siska. Aleksa pura-pura tidak tahu. Ia justru langsung menjawab. “Sisanya nanti biar Bastian aja yang nyelesaiin Bu.’’ucapnya dingin
Bastian tidak menjawab. Ia tarik catatan Aleksa. Kemudian ia cermati setiap kalimat yang digoreskan. Ia memaknainya dengan baik, agar bisa meneruskan pekerjaan mereka nantinya. Namun betapa kagetnya ia membaca dua kalimat terakhir.
Bastian laki-laki brengsek.
“Ehm. Iya. Aku udah baca semuanya Bu. Nanti biar aku aja yang nerusin.’’ucapnya sambil tersenyum tipis.
“Ya udah kalau gitu, kita pulang. Bas, kamu bisa antar Aleksa sekalian?’’
“Ehm, saya masih ada urusan lain Bu.’’tolak Bastian kesal. Kalimat itu membuat Bastian tersinggung. Ia berusaha untuk mengalah kepada Aleksa. Namun kali ini, ia tidak ingin komunikasian dulu dengan Aleksa.
“Ya udah, kamu enggak apa-apa ya Leksa pulang sendiri dulu.’’
“Enggak apa-apa Bu. Lagian saya udah dijemput sama adik saya.’’ucap Leksa. “Dia udah nunggui dari tadi Bu.
“Baiklah kalau gitu. Ibu duluan ya.’’ucap Siska.
Mereka berjalan beriringan. Bastian mempercepat langkahnya. Tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya. Aleksa semakin kesal melihat tingkah Bastian. Tubuhnya juga masih lemah gara-gara olahraga tadi pagi. Ia tak punya kekuatan lagi untuk marah kepada Bastian.
“Bang!’’sapa Reyfan ramah.
“Yuu. Udah lama Fan?’’Bastian mendekati Reyfan. ‘’Nanti malam kita ngopi ya. Sekalian kutemani kamu push rank.’’
“Wih, gitu dong. Tapi kita dua aja kan Bang?’’
“Ya iyalah, kamu juga sekalian nemani aku ngerjain tugasku.’’
“Iya, tapi aku traktir.’’
“Aman. Kita ketemu di luar ya. Jam tujuh. Oke?’’janjinya kepada Reyfan.
“Ok Bang! Dengan senang hati.’’
Bastian pamit duluan. Ia sengaja mengajak Reyfan untuk menemaninya mengerjakan tugas demi tanggung jawabnya ke Ibu Siska. Sebenarnya Bastian sudah malas dibebani pekerjaan yang terikat seperti ini. Ia berencana untuk menyelesaikan poster itu dengan segera agar tidak lagi dengan urusan tersebut.
Tepat jam 7 malam, mereka pun menepati janjinya. Bastian sudah memesan beberapa menu makanan untuk mereka. Reyfan dengan lahap memakan sajian itu tanpa basa-basi lagi.
“Ini bukannya kerjaan bareng Kak Aleksa Bang?’’tanya Reyfan di sela-sela makannya.
“Iya, kamu benar. Tapi dia nyerahin ke aku semua. Enggak tanggung jawab kali kan?’’keluhnya kesal.
“Lah baru tau kalau terkadang Aleksa ngesellin?’’timpa Reyfan tanpa membela sama sekali kakaknya.
“Hm.’’Batsian mendengus kesal. “Nanti kalau ini udah selesai. Aku titp ke kamu.’’ucap Bastian sambil menyuap makanannya.
“Kok enggak abang aja yang ngasih.’’
“Biar dia yang nyerahin langsung. Aku besok enggak datang ke sekolah.’’terang Bastian dengan serius.
“Kenapa Bang?’’
Bastian memerosotkan setengah badannya. Mempraktikkan besok apabila ditanya teman-temannya “sakit.’’ujarnya sambil tertawa cekikikan.
“Gila kamu Bang! Sakit direncanain’’celutuk Reyfan
“Ini enggak untuk diitiru. Tapi aku memang lagi capek aja. Jangan bilang kakakmu. Nanti dipikir aku ngajarin kamu yang enggak-enggak. Terus dibilang brengsek lagi.’’ceplosnya spontan.
“Haha, jadi yang dimaksud brengsek selama ini kamu Bang?’’
“ May be. ’’jawab Bastian spontan. “Loh jadi dia sering ngucapin kalimat itu?’’
Reyfan mengangguk menyetui. Ia masih memakan makananannya. Tak lama handphonenya berdering. Panggilan video dari kakaknya. Reyfan merejectnya, dan ia terlihat gelisah setelah itu.
“Kenapa?’’tanya Bastian yang menyadari akan hal itu.
“Kak Aleksa VC aku.’’Reyfan menarik nafas dalam. Ia menghentikan omongannya sejenak. “Nanti begitu diangkat dia langsung mengomel enggak ada hentinya.’’
“Kenapa gitu?’’
“Ini cewek overprotektif banget Bang. Melebihi mama malah. Aku kan cowok, masa enggak boleh main, atau nongkrong sama teman-temanku?’’keluhnya kesal.
“Sini biar kukasih paham kakakmu itu.’’ucap Bastian serius.
“Abang serius?’’tanya Reyfan ragu.
Bastian mengangguk. “Kamu angkat dulu. Nanti setelah itu arahain handphonenya ke aku.’’
Reyfan menurut. Setelah deringan keempat Reeyfan menganggkat panggilan video itu. Tepat yang dibilang Reyfan, Aleksa langsung mengomel tidak jelas tanpa spasi sedikitpun. Terlihat jelas bahwa Reyfan mengacungkan jari telunjuknya ke arah bibirnya mengisyaratkan Aleksa untuk diam.
“Di mana kamu? Sanggupnya kamu enggak angkat telepon dariku? Mau kamu apa?’’omel Aleksa kepadanya. “Pulang kamu Rey!’’sentaknya lagi.
“Bang, tolongin. Aku beneran malas ngomong sama nih anak.’’adu Reyfan yang langsung mengarah ke Bastian. Jelas sekali bahwa malam ini Aleksa sedang rebahan di kamarnya.
“Reyfan samaku.’’jawab Bastian singkat.
Aleksa langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia terlihat kikuk melihat Bastian yang tiba-tiba muncul. Ia kemudian mengarahkan handphone ke atap kamarnya.
“Aku pinjam Reyfan dulu malam ini. Dia aman samaku.’’sambung Bastian lagi. “Kami di sini enggak ngapa-ngapain kok. Aku lagi minta tolong sama Reyfan.’’
“Kenapa kamu bisa sama dia?’’tanya Aleksa yang berusaha untuk menetralkan degupan jantungnya.
“Mau diajarin brengsek.’’sindir Bastian sambil menahan senyum.
“Eh, gila kamu ya Bas. Jangan kamu ajarin Reyfan yang enggak-enggak. Dia masih polos.’’larang Aleksa terpancing emosi.
“Hm. Iya tahu, dan dia juga enggak pernah ngatain orang lain brengsek.’’sindir Bastian.
Aleksa menarik nafas dalam dari sebrang sana. Tak menyahuti omongan Bastian yang terakhir. Tapi yang jelas Aleksa terkejut mendengar ucapan Bastian seperti itu.
“Ya udah. Kami mau lanjut lagi. Bye.’’ucap Bastian memutuskan telepon milik Reyfan.
Reyfan tercengang menyaksikan hal itu. Baru ini dilihat kakaknya kalah argumen dengan orang lain. Ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Mengagumi Bastian yang terkesan tegas. Ia mengamati Bastian yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sudah hampir rampung ia mengerjakan desain itu.
Sesekali Bastian terlihat meregangkan otot-otot tangannya. Jari-jari itu terlihat keren saat menari di atas kertas. Ia mengagumi kelihaian Bastian.
“Ok. Fix. Selesai.’’ucapnya lega. Ia tersenyum puas. Reyfan masih menatap Bastian. “Napa kamu Rey? Kepikiran sama Aleksa?’’tanya Bastian bingung.
“Enggak Bang. Ya udah yok mabar.’’ajak Reyfan.
Setelah mengemasi barang-barang Bastian. Ia pun bermain game bersama Reyfan. Adik Aleksa itu cukup mahir bermain, bahkan ia mengetahui segalanya. Bastian mencoba menyeimbangi permainan Reyfan. Mereka menikmati malam yang panjang.
Pastinya aku seneng banget akhirnya mereka jadian
Mawar buat thorthor lah
5 cukup kali buat semangat 🤗
Congrats 🤗🤗🤗
Selamat kamu keren
Akhirnya ada juga yang ngomong
Kamu mesti liat kepingan hati Alexsa