NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

“Katakan padaku, Damian, apakah arwah dari masa lalumu memang selalu membawa hawa sedingin ini saat mereka datang menjemput?” tanya Alisha yang suaranya menggema di Aula Museum Nasional yang megah namun terasa mencekam.

Langit-langit tinggi ruangan itu memantulkan suara langkah kakinya yang terburu-buru. Damian Sagara tidak menyahut. Matanya masih terpaku pada arah pintu darurat tempat pria bertudung itu menghilang beberapa saat lalu. Para pengawal berbaju safari hitam berdiri dengan senjata setengah terhunus, membentuk barikade manusia yang kaku di sekitar mereka.

“Dia bukan sekadar arwah, Alisha,” sahut Damian dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. “Dia adalah peringatan yang terlambat.”

Damian kembali menatap Arka yang masih berdiri tenang di samping ibunya. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda yang tadi sempat ia pungut sebelum para pengawal datang mengerubungi mereka.

“Apa itu?” tanya Alisha, matanya tertuju pada benda perak kusam di tangan Damian.

“Deklarasi perang,” jawab Damian singkat.

Ia membuka telapak tangannya. Di sana terletak sebuah koin perak kuno dengan ukiran kepala serigala yang sedang melolong. Simbol itu tampak kasar, namun memiliki detail yang sangat tajam pada bagian taringnya. Cahaya lampu museum memantul pada permukaan koin yang menghitam, memberikan kesan mistis sekaligus mengancam.

“Arka memberikan ini padamu?” Alisha mendekat, mencoba menyentuh koin itu.

“Jangan sentuh!” bentak Damian sambil menutup kepalan tangannya dengan kasar.

Alisha tersentak. Ia melihat urat-urat di leher Damian menegang. Pria itu tampak sangat pucat, seolah darahnya baru saja terkuras habis ke lantai marmer museum. Arka, yang sedari tadi diam, menatap koin di tangan ayahnya dengan tatapan yang sangat dewasa.

“Pria itu bilang koin itu milik kakek,” ujar Arka datar, mengulang bagian dari pesan yang belum sempat ia ceritakan di mobil tadi.

Damian memejamkan matanya rapat-rapat. “Ini bukan milik kakekmu, Arka. Ini adalah koin yang ditinggalkan oleh keluarga Adiwangsa di atas meja Ayahku saat mereka bersumpah untuk menghancurkan setiap jengkal tanah yang kami injak.”

“Adiwangsa?” Alisha mengulang nama itu. “Siapa mereka, Damian? Kenapa kau tampak seperti baru saja melihat malaikat maut?”

“Mereka adalah keluarga yang seharusnya sudah tidak ada lagi di peta dunia ini,” sahut Damian sambil memberi isyarat keras kepada tim keamanannya.

“Bawa mereka ke mobil sekarang juga! Gunakan protokol pengalihan. Jangan ada yang kembali ke mansion lewat jalur utama!”

Perjalanan pulang ke kediaman Sagara terasa seperti pelarian dari kejaran maut yang tak terlihat. Damian tidak berhenti menghubungi pusat komando keamanannya melalui ponsel terenkripsi. Ia memberikan perintah yang sangat ekstrem, jauh melampaui apa yang pernah Alisha lihat sebelumnya.

Alisha hanya bisa duduk terdiam di kursi belakang sambil mendekap Arka. Ia melihat Damian yang terus-menerus melirik ke arah kaca spion, tangannya tetap mengepal erat pada koin perak itu.

Sesampainya di mansion, suasana sudah berubah total menjadi medan perang yang sunyi. Pintu gerbang baja yang berat ditutup rapat dan digembok secara manual oleh penjaga berseragam lengkap dengan senapan laras panjang. Belasan pengawal tambahan dengan anjing pelacak sudah bersiaga di setiap sudut taman mawar yang gelap.

“Mulai detik ini, protokol penguncian total diaktifkan!” perintah Damian kepada kepala pelayan saat mereka memasuki lobi utama.

“Matikan semua akses luar. Aktifkan perisai digital di seluruh area. Tidak ada yang boleh keluar tanpa sidik jariku.”

“Tunggu, Damian! Apa maksudmu dengan penguncian total?” Alisha menghentikan langkahnya tepat di tengah aula yang dingin.

“Artinya kau dan Arka tidak diizinkan meninggalkan rumah ini.” Damian menjawab tanpa menatap matanya.

“Termasuk untuk pergi ke kantor desainmu. Studio itu aku tutup mulai malam ini.”

“Kau gila!” Alisha berteriak, amarahnya meledak. “Aku baru saja mulai membangun hidupku kembali! Kau tidak punya hak untuk memenjarakanku lagi dengan alasan keamanan yang kau buat-buat!”

“Aku tidak membuat-buat ancaman itu, Alisha!” Damian berbalik, matanya berkilat penuh kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

“Pria di museum tadi adalah bukti bahwa tembok Sagara sudah ditembus. Koin itu adalah janji bahwa mereka akan mengambil Arka sebagai bayaran atas apa yang terjadi dua puluh tahun lalu!”

"Lalu jelaskan padaku apa yang terjadi dua puluh tahun lalu!” tantang Alisha.

“Berhenti memperlakukanku seperti orang asing. Jika nyawaku dan nyawa anakku terancam, aku berhak tahu siapa musuh kita!”

Damian mendekat, aromanya yang biasanya maskulin kini tertutup oleh bau keringat dingin. Ia mencengkeram lengan Alisha, menunjukkan betapa hancurnya kontrol dirinya saat ini.

“Dua puluh tahun lalu, Ayahku menghancurkan seluruh garis keturunan Adiwangsa dalam satu malam untuk menguasai lahan industri mereka. Dia tidak meninggalkan saksi. Atau begitulah yang kami kira.”

Alisha terdiam, terpaku oleh kekejaman sejarah yang baru saja ia dengar. Namun rasa terkekang yang ia rasakan selama ini mulai meluap kembali menjadi kecurigaan yang tajam. Ia merasa Damian menggunakan tragedi ini sebagai alasan sempurna untuk kembali mengontrol seluruh geraknya.

“Dan sekarang kau menggunakan dosa ayahmu untuk mengurungku,” tuduh Alisha dengan suara rendah.

“Kau ingin aku tetap di sini agar kau bisa mengawasiku setiap detik. Kau ingin aku menjadi boneka yang aman di dalam lemari kacamu.”

“Aku ingin kau tetap hidup, Alisha!” seru Damian dengan suara parau.

“Kau ingin aku tetap milikmu, itu bedanya!” balas Alisha pahit. “Kau menggunakan ketakutan untuk memutus aksesku ke dunia luar. Kau takut jika aku berada di luar sana, aku akan menyadari bahwa aku tidak membutuhkan perlindungan dari pria sepertimu.”

Damian melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia tertawa pendek, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan yang nyata. Ia memanggil pengawal untuk membawa Arka ke kamarnya terlebih dahulu. Setelah Arka menghilang di balik tangga, Damian kembali menatap Alisha dengan tatapan yang sangat dingin.

“Terserah apa anggapanmu,” ujar Damian datar. “Tapi kunci tetap akan diputar malam ini. Gerbang tetap akan ditutup total. Kau bisa membenciku sepuasmu di dalam rumah ini, selama kau tetap hidup untuk melakukannya.”

Damian berjalan meninggalkan Alisha sendirian di lobi yang luas. Alisha menatap pintu utama yang kini dijaga oleh dua pria bersenjata. Ia merasa tembok-tembok mansion ini mulai bergerak mendekat untuk menghimpit nafasnya kembali. Ia merasa seperti burung yang baru saja belajar terbang, namun sayapnya dipatahkan lagi oleh badai rahasia Sagara.

Di kamarnya yang terkunci, Arka duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak tampak takut. Ia mengeluarkan sebuah koin lain dari saku rahasia di dalam tas kecilnya yang tidak sempat diperiksa para pengawal. Pria bertudung itu ternyata menyelipkan dua koin secara diam-diam. Satu yang diberikan pada ayahnya sebagai teror, dan satu lagi yang kini ia pegang.

Arka menyentuh ukiran kecil di pinggiran koin tersebut. Ada sebuah kode numerik mikroskopis yang terukir di sana. Ia tahu koin ini bukan sekadar logam antik. Ini adalah sebuah koordinat digital. Pria itu tahu Arka memiliki kemampuan untuk memecahkannya.

Di luar, hujan badai mulai turun membasahi bumi Jakarta dengan intensitas yang mengerikan. Mansion Sagara kini benar-benar menjadi sebuah benteng yang terisolasi sepenuhnya. Di balik kemewahan dan penjagaan ketatnya, rahasia masa lalu mulai merembes masuk, siap untuk menghancurkan apa pun yang mencoba menghalangi jalannya. Alisha terduduk di lantai, menyadari bahwa penjara emasnya kini telah berubah menjadi bunker peperangan.

1
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
Lianty Itha Olivia
Hay arka kau bilang si beruang kutub...pdhl itu ayahmu arka..kau ini yaa...😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!