"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya seorang gadis dengan hijab panjangnya pada pria yang tampak lusuh dengan jaket army lengkap dengan bau asap rokok yang mengepul di udara. Tampak baru saja pria itu menggilas puntung rokok yang masih menyala itu dengan sepatu bootnya.
"Ya!?" pria itu menatap tajam membuat gadis itu menundukkan kembali kepalanya, "Kamu nggak percaya? Aku akan berjuang, aku akan menjadi seperti yang kamu mau, puas!?" ucapnya dengan penuh penekanan.
***
Bagai sebuah tikaman saat seseorang yang sama sekali tidak sesuai dengan kriterianya mengikrarkan keinginannya untuk meminangnya meskipun jelas mereka jauh berbeda.
Tapi benarkah? Bukankah perbedaan itu yang mengukur Allah, bukan kita sebagai sesama hambanya?
Seperti itulah sebuah kisah terjalin, rasa ingin memiliki dan perasaan lebih baik dari lainnya membuat kisah ini menjadi sempurna, menjadi sebuah ikatan karena Allah,
Sebuah doa yang diam-diam ia ucapkan dalam setiap sujudnya, Elan untuk Kiandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Teng teng teng
Akhirnya suara bel masuk berbunyi menyelamatkan Rehan,
"Masuk Lan! Ayo!" Rehan pun segara berjalan meninggalkan Elan.
"Gimana Re? Gimana tubuhku?" tanya Elan tapi Rehan memilih terus berjalan dan pura-pura tidak mendengarkan teriakan Elan.
Semua siswa mulai berlari menuju ke kelasnya masing-masing.
"Yang benar saja!?" akhirnya Elan menyerah dan ia pun menyusul Rehan yang sudah berjalan lebih dulu.
Elan masih bisa berjalan sok cool seperti biasanya saat memasuki kelasnya meskipun ia baru saja kena mental atas ucapan Kiandra. Tapi memang dasar Elan yang tidak mudah untuk mundur hanya Karana sebuah perkataan saja.
"Selamat pagi Elan!" sapa anak-anak perempuan satu kelas Elan yang kebetulan menjadi pengagum kegantengan Elan.
Dan seperti biasa, Elan hanya menebar senyum coolnya.
Rehan dan Damar ternyata sudah duduk di tempatnya sambil menunggu Elan, Sepertinya Rehan sudah menceritakan semuanya pada Damar hingga semenjak Lean masuk Damar terlihat terus menahan tawa, meskipun begitu ia tetap pura-pura tidak mengetahuinya.
“Dari mana aja Lan?” tanya Damar dengan gaya sok cueknya. Elan pun segera duduk di sampingnya dan melepaskan tasnya begitu saja kemudian meletakkan di atas meja, tas itu tampak begitu ringan hingga nyaris tidak ada isinya.
"Lo nggak bawa buku lagi Lan?" tanya Damar lagi,
"Bawa!"
"Mana?" tanya Damar lagi dan Elan pun menunjuk ke arah laci meja miliknya.
"Noh lihat, bahkan semua buku pasti gue bawa. Nggak usah khawatir lah soal gue!"
"Siap Lo!" gerutu Damar, "Lo kata Rehan habis_!" belum sampai ia melanjutkan ucapannya, Elan sudah lebih dulu memotongnya.
“Habis ngejar masa depan!” ucap Elan sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangannya, ia terus tersenyum membayangkan betapa galaknya gadis itu.
“Masa depan kok di kejar, nggak akan lari juga! Masa depan itu di usahain jangan di kejar!” ucap Damar.
"Sok tahu Lo!"
"Memang mah Sampek kapan Lo ngejar cewek-cewek yang nbabn ada masa depannya, mending Lo belajar yang bener, biar jadi orang yang berguna, bokap Lo juga bakal bangga, nggak bakal Lo di kejar-kejar kayak buronan seperti kemarin." Damar sengaja menasehati sahabatnya itu panjang lebar, bagaimanapun kelakuan Elan, ia tetaplah sahabatnya.
“Ini nih kalau gue ngomong sama calon profesor, kalah mulu!” ucap Elan yang berusaha untuk cuek.
Hingga seorang guru perempuan bertubuh tambun masuk ke dalam kelas berhasil membuat Elan melotot sempurna,
"Serius jam dia hari ini?" tanya Elan lagi pada Damar.
"Dia, dia," protes Damar, "Itu Bu Lina, guru fisika kita!"
“Aaaahhhh …., kenapa aku lupa kalau hari ini pelajaran fisika!” gerutu Elan sambil mengusap rambutnya kasar. Ia bahkan tidak mengerjakan tugas yang di berikan minggu lalu. Semua bukunya ada di sekolah, jika ada pr ia biasa mengandalkan kedua sahabatnya itu, tapi karena insiden kemarin ia sampai lupa minta contekan pr pada kedua sahabatnya.
"Lo belum mengerjakan pr?" tanya Damar.
"Lo pikir!?" keluh Elan terlihat kesal.
"Ya belum!?" jawab Damar.
"Ya udah lah, jangan tanya Mulu. Buruan sekarang salinin pr nya ke buku gue!"
"Ogah ah, salin sendiri kalau mau, kalau nggak mau ya udah!"
"Ayolah please, Lo kan tahu sendiri gue kalau lihat angka suka tiba-tiba ngantuk, Lo mau gue sampai tertidur di dalam kelas pas pelajaran gara-gara Lo nggak nyalinin pr gue!"
"Bisik Lo!" keluh Damar, "Mana buku Lo!?" pinta Damar dan Elan tersenyum tanpa dosa sambil menyerahkan buku miliknya.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa ibu guru, namanya bu Lina, dia sebagai guru Fisika di sekolah itu.
“Selamat pagi bu!” sahut seluruh anak-anak di kelas itu, begitu juga dengan Elan sedangkan Damar tampak begitu sibuk menyakinkan pr untuj Elan.
“Hari ini kita kedatangan murid baru di kelas kalian, kalian harus merasa beruntung karena dia adalah salah satu siswa berprestasi dengan nilai terbaik di sekolah lamanya! Silahkan masuk!”
Seorang gadis yang memakai seragam yang berbeda dengan seragam yang di kenakan oleh anak-anak lainnya, cantik.
“Wissss …, cewek itu!” senyum Elan kembali mengembang, ia melupakan kedatangan bu Lina di kelasnya, seakan beban pr yang masih belum selesai pengerjaannya tidak lagi menjadi beban,
“Kita memang di ditakdirkan berjodoh kayaknya, makanya satu kelas!” gumam Elan.
Damar mengerutkan keningnya menatap Elan, “Lo kenal sama anak baru itu?"
“Itu nanti aja! Sekarang lo duduk sama Re!” ucap Elan sambil mendorong tubuh Damar,
“kenapa? pr Lo gimana?” protes Damar sambil mengangkat tasnya.
"Itu gampang, ntar kalau udah selesai gue ambil! kata lo gue harus memperjuangkan masa depan, nih sekarang gue sedang usaha!” ucap Elan dengan senyum penuh arti.
“Gila aja lo …, dasar …!” gerutu Damar, tapi tetap saja berdiri meninggalkan bangkunya dan menuju ke samping Rehan yang masih kosong.
Gadis itu berdiri didepan kelas tepat di samping bu Lina.
“Hay teman-teman ….!” Sapa gadis itu sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
“Hay …!” sapa semua anak di kelas kecuali anak-anak geng cewek yang kebetulan melihat reaksi Elan yang tidak biasa terhadap gadis itu, mereka merasa mendapat saingan baru.
"Kayaknya bakal jadi saingan baru nih!?" ucap salah satu dari anak perempuan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...