Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunawan Marah Besar
#19
Di tempat kerja Gunawan, pria itu pun tengah menyaksikan potongan-potongan video viral menyangkut toko online Anjani, wajahnya datar, tak ada yang bisa membaca arah pemikirannya.
Tangan Gunawan terkepal, kedua matanya terpejam seperti tengah menahan sesuatu yang teramat berat. Pemberitaan tentang kasus plagiat Anjani, belum juga mereda. Kini ditambah lagi dengan berita susulan yang ternyata lebih menghebohkan.
Tok!
Tok!
Tanpa perlu mempersilahkan, si pengetuk pintu pun masuk ke dalam ruangan. “Tuan, apa yang harus kami lakukan? Berita ini sudah terlanjur menyebar.” Arman melapor.
“Suruh Rafael menyiapkan laporan gugatan, tentang pencemaran nama baik,” perintah Gunawan tenang.
“Baik, Tuan.”
Setelah memberi perintah Gunawan pun berdiri, tapi dering ponsel menghentikan pergerakannya. “Iya, Pak.”
“Memalukan! Kau gunakan untuk apa semua uangmu, bila membungkam hama-hama kecil saja kau tak sanggup!” omel Pak Mentri tenang namun, mengerikan.
“Segera selesaikan! Jangan sampai kasus remeh istrimu menjadi penghalang, karena tangkapan besar sudah menanti kita.”
“Saya mengerti, Pak.”
Setelah menutup teleponnya, Gunawan melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.
Beberapa saat berlalu, mobil Gunawan tiba di pekarangan rumah.
Brak!
Pintu mobil dibanting sangat kuat menggambarkan emosi yang tengah bergolak di dalam dada Gunawan. “Anjani!” teriak Gunawan, sementara Anjani yang masih dilanda rasa panik dan bingung, merasa sedikit lega karena mendengar suara sang suami.
“Mas,” panggil Anjani, yang berjalan cepat menghampiri Gunawan. Namun, tiba di dekat pria itu, bukannya kalimat penghiburan atau semangat, pria itu justru menamparnya, seolah tak puas dengan tamparan ia pun mencekik leher istrinya sendiri.
“M-maassh—” Anjani terbata, tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia kesulitan bernapas akibat cengkraman tangan sang suami di lehernya, sementata sudut bibirnya yang sobek mulai mengeluarkan darah Segar.
“Sudah berapa kali aku mengingatkanmu, jika kamu benar-benar bodoh, setidaknya kamu harus bisa diam dan menjaga sikap. Sekarang lihat! Yang kamu lakukan hanya membuat reputasiku hancur!” Gunawan menghempaskan tubuh Anjani hingga tersungkur di lantai.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Anjani terbatuk-batuk setelah Gunawan membebaskannya.
Namun, tak lama kemudian, Gunawan berjongkok di hadapan Anjani, pria itu juga mencengkram kerah pakaian Anjani.
“Kamu sudah mencemarkan nama baik dan kehormatan yang aku junjung tinggi. Kamu suka uang, bukan? Lakukan semuanya sesukamu dengan uang pemberianku, tapi jangan sampai merusak reputasiku.”
Anjani terdiam dengan tubuh gemetar, suaminya yang dingin mendadak berubah mengerikan seperti monster bila sedang marah. Kedua mata Gunawan merah, begitu pula wajahnya, rambut yang terlihat rapi di pagi hari, kini sudah berantakan seperti baru saja di sapu badai.
“Setelah ini, jangan coba-coba lagi membuka toko recehanmu itu, setidaknya kamu sejuta kali lebih baik bila diam. Jika kamu masih berani bermain-main dengan dunia fashion itu, maka aku akan melakukan hal yang lebih mengerikan dari ini!”
Gunawan kembali menghempaskan tubuh Anjani. Wanita itu menangis sambil mengusap pipinya yang berdenyut nyeri serta lehernya yang memerah.
Ternyata perbuatan Gunawan pada Anjani disaksikan Miranda yang baru saja pulang dari kampus. Gadis itu terpaksa membolos karena telinganya sakit mendengarkan semua gosip yang berhembus di seantero kampus.
“Miranda— Mami—”
“Baguslah, setidaknya Papi sudah mewakili perasaanku. Aku tak perlu buang-buang emosi akibat ulah Mami yang memalukan itu.”
Jederr!!
Anjani melebarkan kedua matanya karena terkejut, hari ini, ucapan Gunawan dan anak mereka benar-benar melukai hati dan harga dirinya. Dan setelah berkata demikian, Miranda urung masuk ke rumah, gadis itu justru kembali pergi dengan mengendarai mobilnya.
“Giana! Ayu! Awas kalian—” geram Anjani dengan suara lirih bergetar.
•••
Huda Tex.
“Bu, saya baru mendapat laporan dari informan kita. Katanya, Tuan Gunawan hendak mengajukan gugatan pada kita.”
Ayu terkejut, tapi Giana tersenyum tipis. Seolah-olah wanita itu tengah menanti datangnya kesempatan ini.
“Kak, kenapa malah tersenyum?” Ayu bertanya-tanya, heran.
“Menurutmu apa?” Giana balas bertanya.
“Kak, jangan malah balik nanya, dong. Aku khawatir beneran, nih.”
“Siapkan diri dan mentalmu, karena mulai kini, kita akan perang terbuka dengan jaringan yang sudah sangat kuat. Yaitu menghadapi orang-orang yang bermain di belakang Anjani, hingga berhasil menjebakmu, dan banyak lagi orang-orang malang tak bersalah hingga berakhir di penjara karena ketidak adilan.”
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan