NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sihir Kultivasi

Cahaya matahari sore menyelinap masuk melalui celah dedaunan di pekarangan. Setelah membersihkan diri dan kamarnya dari sisa-sisa cairan racun yang pekat itu, Wu Zetian berdiri di depan rumah dengan tubuh yang terasa berbeda.

Ia mengepalkan tangan perlahan dan ringan.

Tidak ada lagi rasa berat yang biasanya menekan dadanya. Napasnya mengalir lebih panjang dan lebih stabil. Bahkan detak jantungnya terasa tenang dan tidak lagi berdegup liar seperti sebelumnya.

Ia melangkah maju beberapa langkah, lalu berputar mengelilingi pekarangan kecil itu. Tidak ada rasa pusing. Tidak ada lelah yang tiba-tiba menyerang.

“Aneh…” gumamnya pelan.

Biasanya, berjalan sejauh ini saja sudah membuat keringat dingin muncul di pelipisnya. Namun kini, tubuhnya terasa bertenaga, seakan semua beban telah dilepaskan dari dalam dirinya.

Wu Zetian menoleh ke arah Kakek Zhou yang sedang berdiri tak jauh darinya.

Ia terdiam. Wajah pria tua itu terlihat… cerah.

Bukan hanya sekadar perasaannya. Kerutan-kerutan di wajah Kakek Zhou tampak lebih rileks, rona pucat yang biasa menghiasi pipinya kini tergantikan oleh warna sehat.

“Kakek,” panggil Wu Zetian sambil menyipitkan mata. “Wajahmu kelihatan lebih cerah dari biasanya."

Kakek Zhou berkedip, lalu tertawa kecil. “Ah? Benarkah?”

Ia menggerakkan bahunya, lalu menepuk-nepuk lengannya sendiri. “Entah kenapa, setelah minum air rebusan akar huangqi yang kau buatkan tadi, tubuh kakek terasa lebih ringan. Sangat ringan.”

Ia bahkan melangkah maju beberapa langkah, lalu dengan wajah penuh semangat, ia mulai berlari kecil memutari pekarangan.

“Hahaha! Lihat ini!” serunya. “Biasanya baru berlari sebentar saja napasku sudah tersengal. Tapi sekarang? Aku masih sanggup!”

Wu Zetian membelalakkan mata.

“Kakek… pelan-pelan!” serunya refleks.

Namun Kakek Zhou berhenti dengan wajah berseri-seri. “Tenang saja. Tubuhku tidak terasa sakit sama sekali.”

Wu Zetian menatap pemandangan itu dengan dada hangat.

Berhasil…

Bukan hanya racun dalam tubuhku yang keluar, tapi huangqi itu benar-benar membantu kakek.

Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri sambil tersenyum, menikmati perasaan bebas yang jarang mereka rasakan. Penyakit yang selama ini membelenggu seakan terlepas begitu saja, meski hanya sementara.

“Kita… beruntung,” ucap Wu Zetian pelan.

Kakek Zhou mengangguk. “Benar. Sangat beruntung.”

---

Tak lama kemudian, Wu Zetian mengambil sebuah cangkul dari gudang kecil di samping rumah. Gagang kayunya sudah agak usang, namun masih kokoh.

“Kek,” katanya sambil menyerahkan sekop kecil pada Kakek Zhou, “ayo kita bertani.”

“Bertani?” Kakek Zhou mengangkat alis.

“Aku ingin menggerakkan tubuh,” jawab Wu Zetian sambil tersenyum tipis. “Kalau tubuh jarang bergerak, racun yang tersisa akan sulit keluar sepenuhnya.”

Kakek Zhou tertawa kecil. “Baiklah. Kakek juga butuh olahraga.”

Mereka pun mulai bekerja.

Wu Zetian mencangkul tanah dengan ritme teratur. Tanah yang sebelumnya keras perlahan menjadi gembur, tersusun rapi membentuk beberapa petak panjang. Keringat mulai mengalir di pelipisnya, tapi tidak ada rasa lelah berlebihan, hanya rasa panas sehat yang membuat darahnya beredar lebih cepat.

Ia menaburkan bibit kangkung ke tiga petak tanah panjang.

“Kangkung ini cepat tumbuh,” jelasnya sambil bekerja. “Kita bisa panen berkali-kali.”

Lalu ia berpindah ke dua petak lain. “Yang ini sawi. Sedangkan satu petak kecil itu untuk cabai.”

Kakek Zhou memperhatikannya dengan seksama, matanya penuh ketertarikan.

Wu Zetian kemudian mengambil bibit buah-buahan. “Mangga, jambu, dan jeruk ini harus ditanam berjauhan,” katanya sambil menggali lubang lebih dalam. “Akar mereka jenis akar tunggang, dan pohonnya besar. Kalau ditanam terlalu dekat, nanti saling berebut nutrisi.”

Kakek Zhou terdiam, jelas terkesima.

Wu Zetian lalu menancapkan beberapa kayu panjang di satu sisi pekarangan. “Ini untuk anggur. Pohonnya menjalar, jadi butuh penopang agar tumbuh rapi.”

Terakhir, ia menanam bibit buah naga di beberapa titik dekat pagar.

Ia tersenyum kecil. “Dan ini… punya fungsi tambahan.”

“Apa itu?” tanya Kakek Zhou penasaran.

“Kalau ada pencuri yang nekat memanjat pagar malam-malam,” kata Wu Zetian ringan, “mereka akan berurusan dengan duri buah naga. Setidaknya bisa jadi penghalang alami.”

Kakek Zhou terdiam cukup lama sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Anak ini… benar-benar luar biasa.”

Ia menepuk bahu Wu Zetian dengan mata berbinar. “Di usia semudamu, kau sudah berpikir sejauh ini. Kakek belum pernah melihat anak seusiamu yang sepintar ini.”

Wu Zetian menggaruk pipinya sedikit malu. “Ini… hal dasar saja, Kek.”

Kakek Zhou menghela napas panjang. “Kakek benar-benar bersyukur bisa bertemu denganmu.”

Wu Zetian tersenyum tipis.

---

Tiga hari berlalu.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Kakek Zhou sudah berada di kebun kecil itu. Disana ia sedang menyiram tanaman, mengecek daun-daun muda, memastikan tidak ada hama.

Sementara itu, Wu Zetian fokus pada satu hal lain.

Tubuh dan wajahnya.

Ia berolahraga rutin setiap harinya. Berlari kecil, peregangan, latihan pernapasan. Keringat menjadi teman setianya. Sisa-sisa racun dalam tubuhnya telah keluar sepenuhnya melalui pori-porinya.

Ia juga mulai merawat wajahnya dengan apa yang alam sediakan. Tanaman lidah buaya dan mentimun.

Ia menghaluskan tanaman lidah buaya lalu mengoleskan masker alami itu ke wajahnya setiap sore. Dan mentimun ia iris lalu ia tempelkan di sekitar matanya agar bekas hitamnya memudar.

Hasilnya terlihat jelas.

Kulitnya yang dulu kusam kini tampak lebih cerah. Wajahnya lebih kenyal dan lebih hidup. Tatapan matanya pun tak lagi redup.

Ia sudah terlihat seperti manusia normal lagi, batinnya sambil tersenyum kecil di depan pantulan air.

---

Sore itu, mereka duduk bersantai di teras rumah. Beberapa cemilan ringan terhidang di antara mereka. Semua cemilan itu adalah cemilan yang dibawa oleh Ningning sebelumnya dari kota.

Wu Zetian menatap makanan itu sejenak, lalu melirik Kakek Zhou.

Inilah saatnya.

“Kek,” katanya santai, “bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Di dunia ini… apakah sihir kultivasi benar ada ?”

Kakek Zhou terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ada.”

Mata Wu Zetian berbinar. “Bisa kakek jelaskan kepadaku?”

Kakek Zhou menarik napas. “Sihir kultivasi adalah kekuatan yang berasal dari elemen. Api, air, angin, tanah, petir, dan gravitasi. Adapun sihir yang paling jarang ditemukan adalah sihir penyembuhan. Setiap orang yang memiliki darah bangsawan biasanya memiliki satu elemen sejak lahir.”

"Bagaimana dengan tingkatannya?” tanya Wu Zetian cepat.

“Ada tiga,” jawab Kakek Zhou. “Tingkat awal, menengah, dan terakhir.”

Wu Zetian menelan ludah. “Kakek… apakah kau memiliki sihir?” Kakek Zhou tersenyum pahit. “Dulu. Aku memiliki sihir api tingkat akhir.”

Wu Zetian terdiam. “Lalu apa yang terjadi Kek?”

“Kemampuanku telah diambil paksa oleh seseorang.”

Keheningan menyelimuti mereka.

"Apakah kau juga memiliki darah bangsawan?" Tanya Wu Zetian kembali.

"Sepertinya." Ucapnya tanpa ingin memberi tahun Zetian lebih jauh.

Beberapa saat kemudian, Wu Zetian bertanya pelan, “Lalu… bagaimana caranya mengetahui apakah aku punya sihir atau tidak?”

Kakek Zhou menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. “Kakek akan mengajarkanmu.”

Ia pun mulai membimbing Wu Zetian cara merasakan aliran energi, memusatkan pikiran, menyentuh inti kekuatan dalam tubuh.

Wu Zetian mencoba.

Sekali. Dua kali. Puluhan kali.

Namun… nihil.

Tidak ada apa-apa.

Ia menunduk, bahunya merosot. “Sepertinya… aku tidak punya sihir Kek.”

Kakek Zhou menepuk kepalanya pelan. “Tidak apa-apa. Kau bisa mencobanya lagi nanti. Waktumu masih panjang.”

Wu Zetian mengangguk perlahan.

"Baiklah, aku akan mencobanya lagi nanti"

_____________________

Yuhuuuu~💓

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen subscribe dan vote karya-karya Author.

See you~💖

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!