Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Flashback 2 tahun lalu
“Magenta! Kamu udah gila?!”
Sosok wanita yang baru selesai mengadakan pertemuan itu langsung berlari, membuang dokumen dan berkas-berkas pentingnya di sembarang lantai, lalu menghampiri Magenta segera. Tak peduli apa pun saat ini, nyawa pria itu lebih utama.
Dengan langkah seribu ia langsung menarik belakang baju Magenta hingga ia gagal melakukan percobaan bunuh diri. Magenta terjatuh di sebelahnya, sedangkan ia sendiri terpojok hampir menabrak tiang. Untung saja hanya sikunya yang lecet.
“Kamu bosen idup?”
Cyan membantu Magenta duduk di kursi rooftop.
Magenta yang masih syok itu hanya tertunduk lesu. Menatap ke bawah, di mana banyak orang-orang berlalu lalang. Mereka yang sepertinya tidak punya masalah sebesar dirinya saat ini.
“Tunggu sini, Genta, saya ambilin air dulu. Inget JANGAN LONCAT,” kata Cyan langsung pergi. Belum sempat Magenta menjawab, wanita itu keburu lenyap dari pandangannya.
Magenta yang masih kalut tidak bernafsu menoleh. Ia menatap kosong ke langit-langit, mengusap air mata yang menetes sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, suara napas seseorang yang terengah-engah membuat ia melirik pelan. Cyan sudah datang, lengkap dengan dua botol air mineral dingin di tangannya.
“Nih. Minum dulu,” ucap Cyan menyerahkan sebotol air ke Magenta.
Ia pun pergi, balik ke kardus panjang tempatnya biasa berbaring melepas lelah. Magenta bimbang, ia pun akhirnya duduk di kardus itu berdekatan dengan Cyan.
“Ngapain ngikutin saya dah?! Sana duduk di bangku. Saya mau tiduran di kardus ini!” Ujar Cyan jutek.
“Em, nggak papa, Bu. Tadi ‘kan Ibu yang ngajak, hehe!” celetuk Magenta tertawa sendiri. Cyan refleks menghela napas gusar.
“Hm, iya juga. BTW kamu anak training batch 1, ‘kan?” tanya Cyan memastikan.
“Iya, Bu. Nama saya Magenta, masih 23 tahun. Saya sudah tanda tangan kontrak 6 bulan di kantor ini,” jawabnya percaya diri.
“Sudah tanda tangan dan kamu tadi hampir bundir? Orang gila saya rasa,” sindir Cyan tanpa menoleh ke Magenta.
“Terserah Ibu, deh. Saya pusing.”
“Sepusing itukah sampai mau terjun bebas tadi? Kamu bosen hidup beneran?” sindir Cyan membuat Magenta melirik sinis.
“Ibu ‘kan gak tau masalah saya, jadi jangan menghakimi kayak gitu dong.”
“Ya, gimana mau tau kamu aja belum cerita.”
“Pelan-pelan aja ceritanya. Saya ada roti juga. Kamu mau?” Cyan menyerahkan sebungkus roti cokelat. Magenta menerima roti itu, lalu kembali tertunduk lesu. Cyan dengan sabar menunggu.
“Pacar saya nikah sama laki-laki lain tadi pagi,” ucap Magenta setelah mengambil napas berkali-kali. Cyan terkesiap, masalah asmara ternyata.
“Wow, serius? Jahat banget, sih. Main ninggalin gitu aja berarti?” balas Cyan syok.
“Iya. Itu pun saya taunya dari orang lain. Dia post di IG, second account. Ya, pantes aja saya gak tahu,” jawab Magenta murung. Air matanya yang kembali tumpah membuat Cyan tidak tega.
“Bener-bener gak punya hati, tapi it’s okay. Tandanya bukan jodoh. Bukan dia yang terbaik buat kamu. Masih banyak perempuan yang pantas buat kamu nantinya. Ingat, kalaupun gak ada pasangan, kamu masih punya keluarga. Mereka lebih menghargai kamu lebih dari apa pun.”
“Tapi saya sayang banget sama dia, Bu. Kami udah lama pacaran dari SD malah. Saya cuma suruh dia tunggu dulu sampai uangnya terkumpul baru nikahin dia. Eh, malah pilih cowok yang baru 2 bulan kenal,” jelas Magenta sesak.
“Jangan putus asa gitu dong. Masih banyak ikan di laut yang bisa hargai kamu. Dia sudah bahagia, ‘kan? Jadi kamu pun harus bahagia.”
Magenta terdiam. Nyatanya melakukan tidak semudah teorinya. Namun, ucapan Cyan tidak sepenuhnya salah. Hidup terus berjalan meski tidak semulus ubin masjid. Dan Magenta menyadari hal itu. Ia mulai menerima meski sulit.
“Oke, Bu, saran diterima.” Ia terisak, lendir di hidungnya bahkan naik turun. Untung saja Cyan selalu sedia tisu basah di tasnya. “Makasih.”
“Udah. Jangan jadi cowok lemah. Dia bisa lupain kamu semudah itu, ya kamu juga harus sama. Jangan mau kalah. Kalau bisa kamu upgrade diri jadi lebih glowing,” pungkas Cyan sambil mengunyah rotinya.
“Iya, Bu. By the way anyway busway, kok Ibu pinter banget ngasih taunya? Ibu juga punya pacar, ya?” tanya Magenta memberanikan diri. seketika Cyan terkekeh pelan.
“Saya jomblo dari bayi, Gen. Saya nggak niat pacaran karena mau fokus lanjutin studi S2. Saya yakin soal jodoh pasti dateng sendiri di saat yang tepat. Nggak perlu ngejar-ngejar,” balas Cyan santai.
Wanita itu bersandar di tembok, lalu menghela napas gusar. Ia teringat pengalaman teman-temannya sejak duduk di bangku SMP dulu. Mereka yang terlalu cepat mengenal cinta, ujung-ujungnya tersiksa karena perasaan sendiri. Masih labil dan belum bisa menentukan benar salah, tetapi harus bergelud dengan cinta monyet itu.
”Genta, saya kasih tahu ya, pacaran itu cuma buang waktu. Bikin pusing, kerjaan jadi nggak produktif kayak kamu nih. Nangis sendirian untuk hal yang nggak jelas.”
Cyan mengusap dahinya, ia tersenyum tipis sambil menunduk begitu menyadari Magenta masih sesenggukan di sana. Magenta tersipu malu setelah mendengar alasan Cyan menyendiri sampai detik ini.
“Baik Bu, saya mengerti.”
“Halah, nggak usah sok formal. Kalau di luar kantor, cukup panggil ‘aku-kamu’ saja. Nggak perlu formal banget. Anggap kayak teman biasa,” balas Cyan.
“Siap, Bu.”
“Janji sama diri sendiri kamu jangan mencoba bundir lagi. Nyawa kamu cuma satu, walau kamu plengernya bukan main,” tegas Cyan bersiap pergi.
“Itulah hidup, Bu. My trip my advanture!”
“MAGENTA!”
“MAAF, BU!”
Cyan kini benar-benar pamit pergi, meninggalkan Magenta sendiri di sana sambil senyum-senyum seperti orang gila. Sebuah perasaan aneh berdetak kuat di jantungnya, membuat ia salah tingkah. Nama itu selalu ia ingat, menjadi dorongan agar semakin giat.
Hingga tiba akhirnya ia berhasil melewati masa training setengah tahun itu. Magenta dipanggil secara pribadi oleh HRD dan kebetulan ada Cyan di sana.
Dengan langkah tegap percaya diri, ia berdiri menjawab panggilan itu, senyumnya merekah ketika ada Cyan di sebelahnya.
“Jadi, Magenta. Kamu sudah berhasil menjalani masa-masa pelatihan, ya. Overall semuanya bagus. Jarang sekali ada kesalahan. Kamu sangat berambisi agar bisa dikontrak permanen di perusahaan ini,” jelas HRD itu sambil memperbaiki kacamatanya dan memeriksa laporan kinerja Magenta.
Tentu saja bagus, ia menjadikan Cyan sebagai cambukan utamanya.
“Dan sekarang, bagaimana keputusan kamu? Kamu ingin berada di bawah pimpinan siapa? Pilihannya ada tiga. Bu Cyan, Bu Syarifah, dan Pak Ardan.”
Magenta menimbang. Bu Syarifah yang terlalu kaku dan agamis itu tidak cocok dengannya. Sementara Pak Ardan? Aduh, dia terlalu brutal membahas hubungan suami istri dengan karyawan lain. Magenta yang belum menikah tentu tidak ingin terbawa suasana.
“Saya ingin bersama Bu Cyan aja, Pak. Saya sudah klop dan punya chemistry rekan kerja yang baik bersama beliau,” jawab Magenta sangat mantap. Sontak saja Cyan mendongak memicing heran.
“Wow, siap. Baik, silakan tanda tangan di sini, ya.”
“Baik, Pak! Terima kasih banyak sebelumnya.”
Magenta melirik ke arah Cyan dengan senyum nakalnya. Cyan membalas senyum terpaksa, antara menerima atau sebaliknya.
“Aku selangkah lebih maju lagi, Cyan. Butuh waktu dan perjuangan sampai di titik ini.”
Saat itu dunia Magenta runtuh, dan Cyan berhasil menangkapnya.
Flashback Berakhir, Kembali Ke Apartemen Cyan
Magenta menggeleng pelan sambil memukul tengkuk sendiri buat ngehapus lamunan nostalgia barusan. Pria itu masih sambil mandangin wajah Cyan yang berjalan bersama menuju lift apartemen.
“Jadi nggak aneh kan kalau sekarang gue yang gantian nolong atasan gue yang cantik dan baik ini?” ujar Magenta dalam hati.
“Kenapa deh?” Cyan menatap heran anomali di sebelahnya.
“Enggak, kamu cantik Syan.” Magenta tersenyum kecil sambil menggengam tangan perempuan disebelahnya dengan kuat.
“Idih? Ngaco!”
Magenta yakin secara sadar dalam otak dan hati nya bahwa niat itu murni tulus semata-mata untuk membalas budi kebaikan atasan cantik itu.
Hanya membayar hutang yang dulu Cyan kasih, dari sebotol air itu, sepotong roti itu, dan potongan kecil yang dia nggak sadar ikut keluar juga dari dalem hatinya.