Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Friends
Menjelang ujian akhir, Sena benar-benar masuk ke dalam mode belajar nonstop. Kapan pun ada waktu di luar kuliah dan tempat kerja, dia akan terus berada di dalam kamar. Terduduk di meja belajar selama berjam-jam, belajar tanpa henti, sampai akhirnya dia sadar hati telah berganti malam dan dia butuh makan serta istirahat.
Pada waktu-waktu seperti ini, Sena sebenarnya tidak suka mendapatkan distraksi, termasuk untuk mengurusi dirinya sendiri. Jika bisa, dia ingin terus berada di dalam kamar, sampai dia merasa puas dengan hasil belajarnya dan yakin semua soal ujian bisa dikerjakan tanpa kesulitan. Tapi masalahnya, karena dia masihlah manusia biasa, Sena tetap harus mengambil jeda. Untuk makan, tidur, minum, mandi, bekerja, dan pergi kuliah.
Sena dan Hana mendadak menjelma menjadi biksu selama waktu menjelang ujian, mengisolasi diri dari dunia luar dan menghabiskan waktu hanya untuk belajar. Mereka bahkan hampir tidak pernah mengobrol, kecuali saat makan dan pergi ke kampus.
Sejak awal, Sena memang bukan tipe yang aktif di media sosial. Tapi saat musim ujian tiba, semua akun miliknya nyaris mati total. Sesekali saja ia muncul, mengunggah story di close friend, membagikan kecemasan dan tekanan yang dirasakannya menjelang ujian. Dan karena hampir semua temannya berada di fase stres yang sama, kehidupan mereka di media sosial pun tampak tak jauh berbeda.
Sementara itu, di asrama, Andy mendesah frustrasi karena banyaknya pesan tak terbalas yang ditujukannya kepada Sena. Sejak pertemuan terakhir mereka enam hari lalu, dia jadi lebih sering mengirimi Sena pesan sekadar untuk mengecek kondisinya, tapi gadis itu selalu membalas telat, bahkan kadang tidak terbalas sama sekali hingga larut malam.
Andy tahu Sena sedang sibuk belajar, dan justru itu yang membuatnya khawatir. Ambisi Sena memang selalu besar untuk mendapatkan yang terbaik, tapi memaksakan diri bergadang hingga larut malam selama beberapa hari berturut-turut jelas bukan merupakan pilihan yang bijak. Hanya saja, Andy tidak dalam posisi untuk bisa menasihati Sena. Sejak lepas kontrol diri di kali terakhir, dia jadi lebih berhati-hati karena takut salah bicara.
"Nah, tidak bisa begini," ujarnya, ketika matanya masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan room chat dengan Sena. Pesan-pesan itu tidak akan kunjung dibalas jika Andy hanya menunggu, jadi dia memutuskan untuk mengambil langkah nyata. Disambarnya topi dan masker dari atas meja dekat sofa, lalu dia bergegas keluar dari asrama untuk menemui Sena secara langsung.
...****************...
Sena mengedipkan mata cepat secara berulang-ulang, berusaha melawan rasa tidak nyaman yang menggelayut di kelopak matanya. Halaman buku kembali dibalik, suaranya tenggelam ditelan bunyi bel yang menggema nyaring. Hampir bersamaan, terdengar suara langkah dari lantai bawah. Dia berusaha untuk tetap fokus pada buku pelajaran di hadapannya, tapi usahanya gagal karena suara cempreng Dong-Soo langsung membuyarkan segalanya.
"Lee Sena! Cepat turun!"
Untuk sesaat, Sena terdiam dalam keragu-raguan, sampai akhirnya dia mengedik dan memutuskan bangkit. Dia keluar kamar, berhenti di ujung tangga dan memandang ke bawah, hanya untuk mendapati Dong- Soo berdiri di sana dengan senyum tiga jari menghias wajah. Di tangannya, ada sebuah kantong belanja, sementara tangan satunya sibuk melambai-lambai kepada Sena.
"Hei! Cepat turun, aku membawakan makanan. Kalian berdua harus istirahat, tahu," katanya, kepalanya menggeleng dramatis. Hana muncul dari belakangnya, tertawa pelan dan mengangkat tangannya sebagai sinyal permintaan maaf karena sudah membiarkan Dong-Soo masuk dan menimbulkan kebisingan.
Perlahan, Sena menuruni tangga, melepaskan ikatan rambutnya asal dan mengacak helaiannya agar tidak kusut. Setibanya dia di meja makan, di mana Dong-Soo meletakkan beberapa box makanan dengan menu berbeda, bel rumah kembali berbunyi. Sena menoleh pada Hana, dan hanya melihat gadis itu mengedik.
Akhirnya, Sena yang berjalan ke pintu. Dia mengintip dari monitor, mendapati seorang pria dengan postur familier berdiri di depan unitnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, dan dia segera membuka pintu.
"Hei," sapanya. "Ada apa?"
Andy mengangkat kantong belanja di tangannya hingga sebatas dada, dengan riang berkata, "Aku membawakan makanan untukmu!"
Kekehan ringan lolos dari bibir Sena, selagi ia mempersilakan Andy masuk. Ketika berbalik setelah menutup pintu, didapatinya Andy berhenti melangkah dan tangannya jatuh lunglai. Dia mengintip dari balik bahu Andy, menemukan Hana dan Dong-Soo ikutan membeku di depan kulkas, dengan pintu kulkas setengah terbuka.
"Ah..." Sena manggut-manggut, baru ingat kalau ada dua orang lagi di sini, dan Andy belum pernah bertemu dengan Dong-Soo. "Andy, ini Dong-Soo, teman baik kami. Dong-Soo, ini Andy."
"Yo, senang bertemu denganmu, bro!" seru Andy, menawarkan fist bump kepada Dong-Soo.
Dong-Soo ragu-ragu, tapi tetap membalas, menempelkan kepalan tangannya dengan kepalan tangan Andy. "Ya, senang bertemu dengamu, man."
"Andy..." Hana menyela perkenalan singkat dua pria itu, membuat keduanya menoleh. "Kau juga membawa makanan?"
Andy menggaruk bagian belakang telinga dan meringis. "Ya ... begitulah. Aku pikir kalian sangat sibuk, jadi aku datang untuk ... you know," ujarnya sambil terkekeh canggung.
"Ah, ternyata kita sepemikiran," Dong-Soo memotong. "Kurasa kita memang ditakdirkan untuk menjadi besties."
"Yeah, sepertinya memang begitu," balas Andy. "Tapi, kita membawa terlalu banyak makanan. Siapa yang akan habiskan sekarang?"
"Tidak perlu khawatir, Andy," Sena meyakinkan. "Kita akan memanfaatkannya dengan baik. Terima kasih sudah datang, ya."
Andy hanya mengangguk, dan mereka mulai menata meja makan. Begitu banyak hal tertumpah di sana; piring, sendok, sumpit, gelas, dan box-box makanan. Sampai tidak memungkinkan untuk memindahkan apa pun setelah mereka mulai makan. Berdasarkan kondisi itu, Dong-Soo mencari kesempatan untuk bersikeras duduk di sebelah Andy, menggunakan menu favoritnya yang terhidang di depan pria itu sebagai alasan pendukung. Andy sendiri tidak keberatan. Mereka berdua duduk bersebelahan, berseberangan dengan para gadis.
"Ini ... terlalu banyak," komentar Andy lagi. Setelah ditata di meja, makanan yang dia dan Dong-Soo bawa kelihatan jauh lebih banyak. Perutnya sudah pasti tidak akan bisa menampung terlalu banyak, entah bagaimana dengan Hana dan Dong-Soo.
"Tidak ada yang namanya terlalu banyak kalau berhubungan dengan makanan." Hana mengomel.
"Tapi, kita berempat sepertinya tidak akan bisa menghabiskannya, tahu."
"Iya juga, sih." Hana menggaruk kepalanya, lalu mereka berempat kompak tertawa.
Entah bagaimana nanti, mereka mulai saja dulu. Sendok dan sumpit diangkat, mereka mulai menyantap menu satu persatu. Di sela-sela kunyahan, mereka mengobrol, kebanyakan soal keseharian masing-masing. Dong-Soo tidak melewatkan kesempatan untuk menanyakan banyak hal pada Andy, antusias memasukkan sang idol ke dalam circle pertemanan.
"Bagaimana perkuliahan kalian?" tanya Andy, pada momen di mana mereka sudah benar-benar kenyang.
Sena mengusap mulutnya dengan tisu. "Hampir mustahil untuk bertahan," keluhnya, diangguki oleh Hana.
"Untungnya, kalian punya dua pria muda keren di sisi kalian, jadi bebannya bisa sedikit tidak terasa, benar?" celetuk Dong-Soo antusias, membuat Hana menaikkan alisnya begitu tinggi. Sementara Sena, tidak mengatakan apa pun, alih-alih melirik Hana dengan tatapan menjudge.
Dong-Soo menyipitkan mata. "Oh, terima kasih atas responsnya," sindirnya. Ekspresi kecewanya hanya bertahan sebentar, langsung tergantikan lagi dengan antusiasme saat ia melanjutkan, "Anyways, ayo kita main game."
Kepala Andy mengangguk antusias atas ide itu, begitupun dengan Sena dan Hana. Hana lalu pergi ke salah satu kabinet di dapur, tempatnya menyimpan kartu dan board games. Matanya menelisik beberapa box yang tersimpan di sana, meneliti satu persatu, sampai kemudian menentukan pilihan saat bertemu dengan box Party&Co. Dia mengambilnya, menunjukkannya kepada yang lain untuk meminta pendapat.
Sena yang paling pertama bereaksi. Ia bertepuk tangan dengan heboh. "Guys vs Girls?" tanyanya, melirik Andy dan Dong-Soo bergantian.
"Oke. Kami akan mengalahkan kalian!" seru Dong-Soo bersemangat, Andy terkekeh pelan dan mengangguk.
Hana mengeluarkan board game pilihannya dari box, membentangkannya di meja yang sudah dibersihkan. Kesempatan untuk memilih bidak lebih dulu diberikan kepada para pria, lalu mereka mulai bermain.
CHAOS.
Itulah satu kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana permainan itu berlangsung kemudian. Dari Hana yang harus memeragakan tingkah laku gorila, sampai Dong-Soo yang menggambar kastil Disney terjelek sepanjang masa. Bisa dibilang, itu adalah permainan yang penuh kekacauan.
Sampai pada satu titik di mana Andy harus memberikan clue yang bisa mengarahkan Dong-Soo pada jawaban Spider-Man, tanpa menggunakan beberapa kata larangan yang sudah ditentukan oleh lawan. Hana dan Sena tidak kuasa menahan tawa melihat betapa frustrasinya Andy, sebab alih-alih mendekat ke figur Spider-Man, Dong-Soo malah menyebut nama Beyonce.
Situasinya semakin parah ketika Sena dan Hana harus mengatakan sesuatu yang pertama kali muncul di kepala mereka saat mendengar kata 'hidung', dan mereka mengatakan hal yang sama, menciptakan tawa yang meledak-ledak karena meski sama, jawaban mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'hidung'.
Sena sampai harus memegangi lengan Hana sebagai tumpuan, karena jika tidak, ia khawatir akan jatuh dari kursi saking kerasnya ia tertawa. Hana sendiri hampir tersedak dan sesak napas, hingga perlu mengambil jeda sejenak untuk berakhir tertawa lebih keras. Suara mereka tumpang-tindih, dalam harmoni yang indah untuk didengarkan. Fakta bahwa Andy dan Dong-Soo baru saling bertemu beberapa jam sebelumnya, tertutup sepenuhnya oleh bagaimana mereka terlihat cocok satu sama lain.
Sena mengulum senyum, dengan tatapan yang jatuh pada Andy. Ia senang bisa mengenalkan Andy pada lebih banyak temannya, membuat pria itu masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang dibangunnya bertahun-tahun lalu. Rasanya seperti dia baru saja memulai kembali, dengan sosok Andy yang sekali lagi ada di dalamnya.
Bersambung....