Arjuna Hartono tiba-tiba mendapat ultimatum bahwa dirinya harus menikahi putri teman papanya yang baru berusia 16 tahun.
“Mana bisa aku menikah sama bocah, Pa. Lagipula Juna sudah punya Luna, wanita yang akan menjadi calon istri Juna.”
“Kalau kamu menolak, berarti kamu sudah siap menerima konsekuensinya. Semua fasilitasmu papa tarik kembali termasuk jabatan CEO di Perusahaan.”
Arjuna, pria berusia 25 tahun itu terdiam. Berpikir matang-matang apakah dia siap menjalani kondisi dari titik nol lagi kalau papa menarik semuanya. Apakah Luna yang sudah menjadi kekasihnya selama 2 tahun sudi menerimanya?
Karena rasa gengsi menerima paksaan papa yang tetap akan menikahkannya dengan atau tanpa persetujuan Arjuna, pria itu memilih melepaskan semua dan meninggalkan kemewahannya.
Dari CEO, Arjuna pun turun pangkat jadi guru matematika sebuah SMA Swasta yang cukup ternama, itupun atas bantuan koneksi temannya.
Ternyata Luna memilih meninggalkannya, membuat hati Arjuna merasa kecewa dan sakit. Belum pulih dari sakit hatinya, Arjuna dipusingkan dengan hubungan menyebalkan dengan salah satu siswi bermasalah di tempatnya mengajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Suporter Loyal
Arjuna berbaring di ranjangnya yang sedikit kurang nyaman dibandingkan dengan miliknya di rumah papa Arman.
Sudah 9 pagi, namun Arjuna enggan keluar kamar. Ia sudah membeli persediaan minuman dan makanan utuk pengganjal perutnya. Pemilik rumah kost memang menyediakan air minuman galon di setiap lantai, tanpa pilihan panas dingin, hanya menggunakan guci.
Arjuna menatap langit-langit kamarnya yang berbecak di beberapa bagian seperti bekas bocor. Dia sendiri sudah memastikan kalau kamar pilihannya aman dari bocor.
Pikirannya menerawang pada awal hidupnya kemarin. Melewati banyak hal yang membuatnya justru beberapa kali terseret pada memori lama dan sebagian kehidupan saat masih tinggal dengan keluarganya.
Wawancara, psikotes dan setelah lulus keduanya, Arjuna harus menjalankan tes kesehatan. Semua prosedur yang hanya didengarnya saat menjabat sebagai CEO. Dia sendiri melewati jalan bebas hambatan saat masuk sebagai pegawai di perusahaan milik papa Arman.
Melanglang buana dengan pikiran-pikiran yang kurang berkualitas, Arjuna yang sudah bangun sejak pukul 4 tadi karena kepanasan, akhirnya kembali memejamkan matanya. Tertidur dan terbuai dalam mimpi indahnya.
Dua jam kemudian, Arjuna terlonjak dari tidurnya dan duduk di atas ranjangnya. Peluh membasahi wajah dan sebagian kaos oblongnya.
Arjuna meraih handphone yang diletakan di atas meja belajar di samping ranjangnya. Jam 11.15. Tanpa diminta, perut Arjuna langsung berbunyi seperti alarm dan minta diisi.
Arjuna menggati bajunya yang basah. Menimbang-nimbang pakaian apa yang akan dikenakannya untuk mencari makan. Apa yang dipesankan Dono memang benar adanya. Tidak mungkin memakai pakaian branded dan parfum mahal selama menjadi anak kost. Bukannya nyaman, malah menjadi tontotan dan bahan gibah para emak-emak yang sibuk nongkrong di depan rumah.
Langkahnya akan jadi pusat perhatian, bagaikan model di atas catwalk yang sedang melenggak lenggok mencari perhatian.
Arjuna pun mulai keluar dari pagar rumah kost dengan pakaian celana jeans gelap dan kaos oblong polos berwarna terracota. Sengaja bajunya yang sedikit besar dikeluarkan. Masih ada rasa gugup menyusuri gang menuju jalan raya. Sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian yang menarik mata wanita pecinta lelaki tampan, Arjuna berjalan sedikit cepat sambil sesekali membalas sapaan para emak-emak atau aki-aki yang menyapanya, hanya dengan anggukan kepala dan senyuman.
Persis sampi di ujung gang, angkutan warna merah yang sedang menurunkan penumpang. Arjuna pun langsung naik tanpa tahu kemana tujuannya.
Sepuluh menit berlalu, angkutan itu melewati sebuah area keramain semacam pasar modern. Arjuna meminta sopir menurunkannya dan langsung membayar tarif angkotnya.
Arjuna menyerberang ke deretan ruko-ruko yang berjajar rapi. Dia sempat melirik membaca papan nama sebuah toko pakaian yang lumayan ternama di Jakarta untuk kalangan menengah.
Langkahnya masih menyusuri toko-toko yang berjejer rapi dalam satu bangunan. Arjuna pun naik ke lantai dua. Cukup modern karena sudah ada eskalator di sana.
“Calon Pak Guru !” Teriakan seseorang membuat pandangannya menoleh ke kanan kiri, depan belakang, mencari si pemilik suara.
“Selamat siang calon Pak Guru,” Cilla sudah berdiri di depannya saat posisi Arjuna sedang melihat ke belakang.
Pria itu terkejut dan mundur dua langkah. Cilla hanya terkekeh melihat reaksi Arjuna.
Arjuna memperhatikan penampilan Cilla yang memakai baju bebas berupa celana jeans selutut dengan kaos over size bergambar dengan warna lilac.
“Ngeliatnya jangan begitu dong, Pak. Tidak sopan menelisik perempuan seperti itu,” ledek Cilla. Tidak ada nada sinis di dalam ucapannya.
“Nanti kalau naksir sama saya, susah tidur loh,” matanya mengerling nakal, membuat Arjuna mendelik sebal.
“Ngapain kamu di sini ? Bolos ?” Arjuna bukan saja pasang wajah galak dan sebal, nada suaranya pun terdengar ketus.
“Dih, asal tuduh,” Cilla mencebik. “Mana ada cerita kalau seorang Cilla bolos malah keliaran kayak manusia gabut. Bolos yang buat nyantai di rumah.”
Arjuna tersenyum mengejek. cuma dipancing dengan satu perfanyaan, gadis di depannya sudah mulai menunjukan taringnya, jiwa tidak mau kalahnya.
“Bapak sendiri ngapain jalan-jalan di sini ? Lagi gabut ya ?” Gantian Cilla yang menatapnya sambil memicing dan tersenyum sinis.
“Salah makan pagi ini ?” Ejek Arjuna. “Itu mulut udah bisa panggil bapak dan bukan elo gue lagi ?”
“Kan saya sudah bilang kemarin, kalau saya sudah bilang sama Tuhan kalau saya merubah doa permohonanan. Saya meminta supaya Bapak diterima, biar saya punya lawan yang seimbang di sekolah.”
Arjuna ingin tertawa. Memangnya Tuhan bisa diatur-atur seenaknya ? Memangnya doa seperti menu di restoran yang bisa dirubah kalau pikiran berubah karena tidak sinkron dengan keinginan lidah.
“Memangnya kamu atlit tinju sampai perlu lawan yang seimbang denganmu ?” Arjuna mencebik.
Cilla tergelak saat mendengar perut Arjuna berbunyi.
“Rese nih perut. Lagi jaim di depan ini cewek, malah bunyi tanpa diminta.” omel Arjuna dalam hati.
Tanpa permisi, Cilla menarik tangan calon gurunya, membuat Arjuna langsung terkejut.
“Saya ajak ke tempat makan yang enak dan murah meriah. Dijamin aman untuk kantong Bapak.”
Arjuna berusaha melepaskan tangan Cilla yang membawanya turun kembali. Ternyata tidak mudah. Meski perawakan gadis itu tidsk terlalu tinggi dan badannya cenderung langsing, tenaganya lumayan kuat juga.
Akhirnya Arjuna hanya mengikuti langkah Cilla yang masih menggandengnya. Sampai di area parkiran motor, Cilla mengeluarkan kunci yang diambil dari tas selempangnya. Dia membuka bagasi motor dan mengeluarkan satu helm cadangan dari dalamnya.
“Bapak bisa bawa motor, kan ?” Arjuna hanya mengangguk.
Cilla berjalan ke kios penitipan helm dan mengambil miliknya dari sana, lalu menyerahkannya pada Arjuna.
“Bapak pakai helm yang ini,” tangannya masih menyodorkan helm yang baru saja diambil dari tempat penitipan, bentuknya helm umum yang biasa dipakai baik pria atau wanita.
“Nanti diragukan keperkasaannya kalau pakai yang ini,” Cilla tergelak sambil menunjuk helm dengan mode kaca setengah yang memang khusus untuk wanita.
Arjuna pun menerima helm yang disodorkan dan terihat ragu-ragu memakainya.
“Jangan khawati, Pak. Rambut saya bersih, bebas ketombe apalagi kutu. Lagipula helm itu rutin saya cuci seminggu sekali. Bapak adalah orang pertama yang saya kasih ijin memakainya selain saya sendiri.”
Cilla yang sudah memakai helmnya dengan sempurna memberi isyarat pada Arjuna untuk bergegas.
Selesai drama helm, Arjuna sudah berada di atas motor bebek matic meninggalkan pasar modern yang belum sempat dijelajahinya.
Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Tangan Cilla sendiri tidak memegang secuil pun tubuh Arjuna. Arjuna yang sudah berpikiran kalau Cilla adalah gadis yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, ternyata harus menerima kesalahan pikirannya.
Cilla hanya bicara dan memberi isyarat untuk menunjukan arah pada Arjuna, dan kurang dari sepuluh menit mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud oleh Cilla.
Gadis itu bertegur sapa dengan petugas parkir yang berjaga di sana. Terlihat akrab. Arjuna memastikan kalau Cilla sudah sering datang ke rumah makan ini atau malah pelanggan tetap.
Sampai di dalam pun, Cilla langsung menyapa para pelayan dan seorang ibu yang duduk di meja kasir.
“Bapak pilih aja, saya yang traktir hari ini. Nanti kalau diterima, harus ajak saya makan enak, karena saya adalah suporter loyal yang mendukung Bapak dengan khusyuk berdoa.” Cilla cekikikan.
“Saya belum punya uang buat traktir makan mahal, kan belum gajian,” sahut Arjuna dengan wajah datar.
Arjuna sempat merasa heran, kenapa gadis ini sangat berbeda saat di luar sekolah ?
“Kalau begitu jadikan saya yang pertama menikmati gaji pertama Bapak,” Cilla terkekeh.
“Mana bisa !” Protes Arjuna sambil melotot. “Memangnya kamu istri saya ? Pacar saja bukan, bisa-bisanya minta jadi orang pertama yang menikmati hasil keringat saya,” omelan Arjuna membuat Cilla kembali terkekeh.
“Jadi simpanan saja kalau gitu.”
Arjuna terbelalak. Gadis di depannya ini seenak jidat kalau bicara. Yang ada , Arjuna bisa dianggap pedofil karena memacari gadis di bawah umur. Lagipula kalau ujung-ujungnya terperangkap sama cinta anak SMA, sama saja kabur dari kandang singa, masuk ke mulut buaya.
Arjuna geleng-geleng kepala sementara Cilla sudah sibuk memilih menu makanan yang berjejer rapi di dalam lemari kaca. Ia berdiri di belakang gadis itu dan memperhatikan satu persatu makanan yang ada di situ.