Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Menembus Sepuluh Besar
Di atas panggung giok tempat para petinggi sekte duduk, udara terasa kaku. Tetua Utama, seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata setajam elang, mengelus janggutnya perlahan. Matanya tak lepas dari sosok Li Jian yang baru saja menuruni arena.
"Qi elemen Yin yang luar biasa murni, dipadukan dengan kekuatan fisik yang tidak masuk akal," gumam Tetua Utama, suaranya hanya bisa didengar oleh para tetua di sekitarnya. "Bahkan pedang tumpul yang ia bawa... benda itu menyerap cahaya di sekitarnya. Diaken Kuang, apakah kau yakin catatan latar belakang anak ini benar? Akar Spiritual Terkutuk?"
Diaken Kuang yang masih pucat pasi menelan ludah dengan susah payah. "B-Benar, Tetua. Selama lima tahun dia tidak bisa menyerap Qi alam sepeser pun. Ini... ini pasti kebetulan, atau dia menemukan pusaka warisan iblis di luar sekte!"
"Diam," potong Tetua Utama dingin. "Pusaka atau bukan, dunia kultivasi adalah tentang takdir dan kesempatan. Jika dia bisa mempertahankannya, itu adalah kekuatannya. Terus lanjutkan pertandingan."
Di bangku penonton, nama Li Jian yang dulunya menjadi bahan tertawaan, kini berubah menjadi bisikan penuh teror. Reputasi sebagai "Akar Terkutuk" telah hancur dalam satu ayunan pedang.
Pertandingan demi pertandingan berlanjut. Arena demi arena bersimbah darah dan keringat. Namun, setiap kali giliran Li Jian tiba, polanya selalu sama.
Lawan di Tingkat Dua atau Tiga langsung menyerah begitu melihat Li Jian melangkah naik. Mereka yang berada di Tingkat Empat mencoba melawan, namun hanya butuh satu benturan dengan pedang Gerhana untuk membuat senjata mereka patah dan tubuh mereka terlempar keluar arena. Li Jian bahkan tidak perlu melepaskan hawa dinginnya lagi; murni mengandalkan bobot pedangnya dan Qi peraknya yang membalut tubuhnya.
Hingga akhirnya, matahari mulai condong ke barat, menandakan babak penentuan untuk posisi Sepuluh Besar.
"Pertandingan Penentuan Sepuluh Besar! Li Jian melawan Lin Mufeng!"
Sorak-sorai yang sedari tadi mereda kini meledak kembali. Lin Mufeng bukanlah murid sembarangan. Ia adalah jenius nomor satu di Sekte Luar, berada di puncak Kondensasi Qi Tingkat Lima, dan digadang-gadang akan menjadi murid langsung seorang Tetua Sekte Dalam.
Lin Mufeng melompat ke atas arena, seolah tubuhnya seringan daun yang tertiup angin. Ia mengenakan jubah biru sutra, memegang sebuah pedang ramping yang memancarkan pendaran Qi elemen angin. Wajahnya tenang dan waspada, tidak meremehkan Li Jian seperti lawan-lawan sebelumnya.
"Kekuatan fisikmu mengesankan, Saudara Li," sapa Lin Mufeng sopan, menyilangkan pedangnya di depan dada. "Tapi serangan berat dan lambat tidak akan pernah bisa mengenai angin."
Li Jian perlahan menaiki arena, mencabut Gerhana dari punggungnya dan membiarkan ujung pedang tumpul itu menyentuh lantai giok. "Angin juga bisa membeku jika suhunya cukup dingin."
Di dalam pikiran Li Jian, Yueyin memberikan analisanya dengan nada datar. "Elemen angin, fokus pada kecepatan. Dia akan mencoba menguras tenagamu dengan menciptakan ilusi pergerakan. Jangan kejar dia dengan matamu. Mata fana mudah ditipu. Gunakan insting spiritualmu untuk merasakan di mana udara terbelah."
"Mulai!" teriak wasit.
Seketika, Lin Mufeng menghilang dari tempatnya berdiri. Seni Langkah Bayangan Angin. Angin puyuh kecil bermunculan di atas arena, diiringi oleh empat bayangan Lin Mufeng yang mengepung Li Jian dari segala arah. Ujung pedang tipisnya berdesir, bersiap menusuk titik-titik vital Li Jian secara serentak.
"Cepat sekali! Mata telanjang tidak bisa melihat mana tubuh aslinya!" seru seorang murid di tribun.
Zhao Tian mencibir. "Li Jian sudah tamat. Kekuatan kuli miliknya tidak berguna melawan teknik tingkat tinggi."
Di tengah kepungan empat bayangan mematikan itu, Li Jian memejamkan matanya. Hembusan angin menerpa wajah dan jubahnya. Sesuai instruksi Yueyin, ia tidak bergerak panik. Ia menyerap setiap suara dan perubahan tekanan udara di sekitarnya.
Satu bayangan hanya ilusi cahaya... yang dua hanya pantulan Qi... batin Li Jian.
Tiba-tiba, ia merasakan perubahan suhu yang sangat mikroskopis di sebelah kiri belakangnya. Angin di sana tidak berhembus alami, melainkan terbelah secara paksa oleh sebuah benda padat.
Li Jian membuka matanya yang kini memancarkan kilatan perak. Ia tidak mengayunkan pedangnya ke arah bayangan itu. Alih-alih, ia mengangkat Gerhana tinggi-tinggi dengan kedua tangannya, dan menancapkan ujung pedang tumpul itu langsung ke lantai arena dengan seluruh sisa Qi Bintang Pemakan Langit di Dantian-nya.
"Domain Es Cermin Bintang!"
BOOOM!
Bukan tebasan yang keluar, melainkan ledakan hawa dingin absolut yang menyapu arena membentuk radius sepuluh meter. Udara mendadak memutih. Kelembapan di udara membeku secara instan, menciptakan ribuan jarum es yang melayang di angkasa.
Tiga bayangan ilusi Lin Mufeng hancur seketika karena angin yang membentuknya membeku dan mati.
Di sudut kiri belakang, tubuh asli Lin Mufeng mendadak muncul. Wajahnya dipenuhi kepanikan luar biasa. Kedua kakinya, dari telapak hingga ke lutut, telah terbungkus bongkahan es biru tebal yang merekatkannya kuat-kuat ke lantai arena. Langkah anginnya yang membanggakan telah dipatahkan secara paksa.
Sebelum Lin Mufeng sempat memecahkan es tersebut dengan Qi-nya, sebuah bayangan hitam melesat ke arahnya.
Bilah hitam Gerhana yang tebal dan sedingin maut telah berhenti tepat satu inci di depan tenggorokan Lin Mufeng. Angin dingin dari ayunan pedang itu menggores leher Lin Mufeng, meneteskan setitik darah yang langsung membeku.
Napas Lin Mufeng tersengal. Ia menatap mata Li Jian yang sedingin jurang tanpa dasar, menyadari bahwa pemuda di depannya ini menahan serangannya. Jika Li Jian tidak berhenti, kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.
"Aku... kalah," ucap Lin Mufeng dengan suara serak, menurunkan pedangnya. "Terima kasih atas bimbingannya, Saudara Li."
Li Jian menarik Gerhana dan menyarungkannya kembali ke punggung. Suhu di arena perlahan kembali normal, es di kaki Lin Mufeng mulai mencair. Li Jian berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Pemenang, Li Jian! Lolos ke Sepuluh Besar!"
Suara wasit yang sedikit bergetar meresmikan status baru Li Jian. Mulai detik ini, ia bukan lagi murid luar, melainkan Murid Sekte Dalam yang diakui. Sesuai aturan sekte, tidak ada seorang pun, termasuk Zhao Tian, yang boleh membunuhnya secara terbuka tanpa alasan yang sah.
Li Jian melangkah turun dari arena. Di tengah sorak-sorai yang kini bercampur dengan rasa hormat, ia menoleh ke arah tribun elit. Zhao Tian berdiri dari kursinya, wajahnya gelap seperti badai yang akan pecah.
Li Jian menyeringai tipis, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara, memastikan Zhao Tian bisa membacanya: Aku menunggumu di Sekte Dalam.
Zhao Tian mengibaskan lengan jubahnya dengan kasar, berbalik, dan pergi meninggalkan alun-alun dengan langkah penuh amarah, diikuti adik laki-lakinya yang gemetar ketakutan.
"Babak baru telah dimulai, bocah," suara Yueyin menggema hangat di relung jiwanya. "Sekte Dalam memiliki sumber daya yang lebih baik. Bersiaplah, karena di sana, musuhmu tidak akan sebodoh ini."
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏