"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Labirin di Bawah Dermaga
Ledakan besar itu menghancurkan gerbang depan gudang dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Serpihan kayu dan besi beterbangan ke segala arah di dalam ruangan yang luas tersebut. Debu tebal menyelimuti pandangan Hana Tanaka dan juga teman-temannya dalam sekejap mata.
Telinga Hana berdenging sangat kencang akibat suara ledakan yang sangat memekakkan saraf pendengarannya. Dia merasakan getaran yang sangat kuat merambat dari lantai beton menuju ke seluruh tubuhnya. Asap hitam yang sangat pekat mulai memenuhi ruangan dan juga menyulitkan pernapasan mereka berlima.
Hana terbatuk-batuk sambil mencoba mencari pegangan pada meja kerja Yuki yang sudah mulai bergeser. Dia melihat kilatan cahaya api dari arah pintu masuk yang sekarang sudah hancur total.
Daisuke Sato segera menarik sebuah tuas tersembunyi yang berada di bawah lantai kayu di sudut ruangan. Sebuah penutup besi berbentuk persegi perlahan-lahan terbuka dan memperlihatkan sebuah tangga kecil yang gelap. Tangga itu menuju ke sebuah lorong bawah tanah yang sudah sangat tua dan penuh dengan lumut.
Daisuke memerintahkan Hana dan juga yang lainnya untuk segera masuk ke dalam lorong tersebut sekarang juga. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan dia mulai melepaskan beberapa tembakan ke arah asap. Hana melihat Haruo Fujiwara melangkah masuk melalui reruntuhan pintu dengan wajah yang sangat penuh kebencian.
Haruo tidak lagi mengenakan seragam tahanan namun dia mengenakan pakaian taktis yang sangat rapi dan modern. Dia terlihat seperti seorang pemburu yang sedang mengejar mangsa yang sudah sangat terpojok di sudut ruangan.
Kaito Fujiwara segera mendorong Hana agar Hana menjadi orang pertama yang turun ke dalam lorong bawah tanah tersebut. Kaito tidak ingin melihat Hana terluka sedikit pun akibat serangan membabi buta dari pihak Haruo Fujiwara. Yuki Nakamura mengikuti Hana dengan membawa tas laptopnya yang sangat berat dengan susah payah sekali.
Akane Sato terlihat sangat gemetar namun dia tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya saat menuruni tangga besi. Ren Ishida berdiri di dekat lubang lorong untuk membantu Akane dan juga membantu Yuki agar mereka tidak jatuh. Ren sesekali menoleh ke arah Daisuke Sato yang sedang bertarung dengan sangat sengit melawan para penyerang.
Dia merasa sangat tidak tega meninggalkan Daisuke sendirian menghadapi ancaman maut dari kelompok Haruo tersebut. Namun Daisuke berteriak dengan sangat keras agar mereka tidak menoleh ke belakang dan segera pergi dari sana.
Hana Tanaka menapakkan kakinya di atas lantai semen yang sangat dingin dan juga sangat licik karena genangan air. Lorong bawah tanah ini memiliki aroma garam laut yang sangat kuat dan juga aroma besi yang berkarat. Cahaya senter dari ponsel Yuki memberikan penerangan yang sangat minim bagi langkah kaki mereka yang sangat terburu-buru.
Lorong ini sangat sempit sehingga mereka harus berjalan beriringan satu per satu dengan sangat hati-hati sekali. Hana memimpin di depan sambil meraba dinding lorong yang terasa sangat lembap dan juga penuh dengan jamur.
Suara langkah kaki mereka menciptakan gema yang sangat aneh di dalam ruangan yang tertutup rapat ini. Hana merasakan ketakutan yang sangat mendalam namun dia harus tetap kuat demi keselamatan seluruh teman-temannya.
Ren Ishida berada di barisan paling belakang sambil terus memegang sebuah batang besi yang dia temukan di atas tangga tadi. Dia merasakan denyutan sakit yang sangat hebat pada lutut kirinya setiap kali dia melangkah dengan kaki tumpuan. Namun Ren tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun karena dia tidak ingin membebani pikiran Hana dan juga Kaito saat ini.
Dia mendengarkan setiap suara yang berasal dari arah belakang lorong untuk memastikan tidak ada pengikut Haruo yang mengejar. Suara ledakan kedua terdengar dari arah gudang di atas sana dan membuat langit-langit lorong sedikit bergetar.
Tanah dan debu jatuh mengenai kepala Hana namun dia terus berjalan tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun. Mereka harus segera sampai ke ujung lorong ini sebelum seluruh bangunan gudang tua itu runtuh dan menimbun mereka hidup-hidup.
Kaito Fujiwara berjalan tepat di belakang Hana sambil terus menggenggam tangan Hana dengan sangat erat dan juga hangat. Dia ingin memberikan rasa aman kepada gadis itu di tengah situasi yang sangat mencekam dan juga penuh ketidakpastian ini. Kaito merasa sangat terpukul karena Haruo ternyata bisa bebas dengan sangat mudah dari penjara melalui bantuan pamannya.
Dia menyadari bahwa hukum di Jepang sekarang hanya menjadi alat permainan bagi para politisi tua yang sangat korup. Sistem demokrasi perak ini benar-benar telah menghancurkan rasa keadilan bagi generasi muda seperti mereka berlima saat ini.
Kaito bersumpah di dalam hatinya bahwa dia akan menghancurkan sistem ini meskipun dia harus mengorbankan segalanya. Dia tidak akan membiarkan Haruo Fujiwara menyentuh Hana Tanaka atau teman-temannya yang lain dengan cara apa pun juga.
Yuki Nakamura terus memeriksa sinyal komunikasi melalui alat pelacak kecil yang dia pegang di tangan kirinya dengan sangat teliti. Dia menyadari bahwa paman Kaito telah memasang pemancar pengacau sinyal di sekitar area pelabuhan Tokyo secara sangat masif. Hal ini membuat mereka tidak bisa menghubungi pihak media atau pihak luar untuk meminta bantuan perlindungan keamanan darurat.
Yuki merasa sangat kesal karena teknologi yang dia kuasai sekarang terasa sangat tidak berguna melawan kekuatan negara. Dia merasa bahwa gacha kehidupan telah memberikan mereka kartu yang sangat buruk dalam permainan bertahan hidup ini.
Mereka hanyalah remaja SMA yang harus berhadapan dengan militer swasta dan juga aparat pemerintah yang sangat berpengalaman. Namun Yuki tetap berusaha mencari celah keamanan di dalam jaringan pengawas nasional yang sangat rapat tersebut.
Akane Sato mulai merasa sesak napas karena udara di dalam lorong bawah tanah ini semakin tipis dan juga semakin berdebu. Dia mencoba untuk tetap fokus dengan mengingat kembali pesan-pesan dukungan dari para pengikutnya di media sosial kemarin malam. Akane menyadari bahwa perjuangan mereka telah menjadi inspirasi bagi banyak remaja yang merasa tertindas oleh aturan kaku.
Dia ingin terus menyuarakan kebenaran mengenai korupsi beasiswa tersebut agar seluruh dunia tahu tentang kejahatan paman Kaito. Akane mengambil beberapa foto suasana di dalam lorong gelap tersebut untuk dia unggah jika mereka sudah mendapatkan sinyal internet nanti.
Dia ingin menunjukkan realitas kusam dari pelarian mereka yang sangat melelahkan dan juga sangat penuh dengan penderitaan fisik. Dia tidak ingin terlihat sebagai pahlawan tetapi dia ingin terlihat sebagai manusia biasa yang sedang menuntut haknya.
Hana Tanaka teringat pada liontin kunci pemberian Daisuke Sato yang sekarang dia simpan dengan sangat rapat di balik bajunya. Kunci itu terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan kulit dada Hana namun memberikan semangat juang yang sangat besar.
Hana merasa bahwa kunci itu adalah satu-satunya harapan mereka untuk membongkar konspirasi besar gacha kehidupan nasional ini. Dia membayangkan isi dari brankas rahasia di bank pusat Tokyo yang mungkin berisi data-data paling rahasia negara. Ayah Hana telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi rahasia ini dan sekarang tugas Hana adalah menyelesaikannya sampai akhir.
Hana merasa ada sebuah ikatan batin yang sangat kuat dengan ayahnya yang sudah lama pergi meninggalkan dunia ini. Dia tidak akan membiarkan pengorbanan ayahnya menjadi sia-sia hanya karena rasa takut pada ancaman dari Haruo Fujiwara.
Setelah berjalan selama hampir tiga puluh menit mereka akhirnya melihat sebuah cahaya kecil di ujung lorong yang gelap tersebut. Hana Tanaka mempercepat langkah kakinya menuju ke arah cahaya tersebut dengan penuh rasa harap yang sangat besar dan kuat. Mereka sampai di sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan batu besar di pinggiran laut distrik Odaiba.
Udara laut yang segar langsung masuk ke dalam paru-paru Hana saat dia membuka pintu besi yang sangat berat tersebut. Mereka keluar dari lorong bawah tanah dan mereka menemukan diri mereka berada di bawah sebuah jembatan beton yang sangat besar.
Pemandangan kota Tokyo dengan cahaya lampu neon yang sangat terang terlihat sangat indah dari kejauhan di seberang laut. Namun keindahan itu terasa sangat palsu karena di baliknya terdapat sistem penindasan yang sangat kejam terhadap para remaja.
Ren Ishida segera duduk bersandar pada tiang jembatan yang sangat besar untuk mengistirahatkan lutut kirinya yang sudah sangat bengkak. Dia meringis menahan sakit yang sangat luar biasa namun dia tetap mencoba tersenyum di depan teman-temannya yang sangat khawatir.
Kaito Fujiwara memeriksa sekitar area tersebut untuk memastikan tidak ada agen pemerintah yang menunggu mereka di tempat ini. Dia menemukan sebuah perahu motor kecil yang sudah disiapkan oleh Daisuke Sato sesuai dengan rencana pelarian mereka sebelumnya.
Perahu motor itu memiliki warna hitam kusam agar tidak mudah terlihat oleh kapal patroli kepolisian laut di malam hari. Kaito segera menyalakan mesin perahu tersebut dengan suara yang sangat halus dan juga hampir tidak terdengar sama sekali. Dia memerintahkan semua teman-temannya untuk segera naik ke atas perahu motor tersebut dengan sangat cepat.
Hana Tanaka menatap ke arah gudang yang berada di seberang teluk dan dia melihat asap hitam masih membumbung tinggi. Dia merasa sangat cemas mengenai nasib Daisuke Sato yang tetap tinggal di dalam gudang untuk menahan serangan Haruo. Hana berharap Daisuke bisa selamat dan dia bisa segera bergabung kembali dengan mereka di tempat yang jauh lebih aman.
Dia menyadari bahwa setiap orang dewasa yang membantu mereka selalu berakhir dengan nasib yang sangat tragis dan menyedihkan. Hal ini membuat Hana merasa sangat sedih karena dia merasa menjadi beban bagi orang-orang yang peduli padanya selama ini.
Namun, Kaito memegang bahu Hana dan dia mengingatkan bahwa perjuangan ini adalah pilihan bersama untuk masa depan mereka. Mereka tidak boleh tenggelam dalam kesedihan karena musuh mereka masih terus mengejar dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Perahu motor itu mulai bergerak menjauhi dermaga Odaiba menuju ke tengah teluk Tokyo yang sangat luas dan juga sangat gelap. Angin laut bertiup sangat kencang dan juga membawa percikan air laut yang sangat dingin mengenai wajah Hana Tanaka. Hana menatap ke arah air laut yang berwarna hitam pekat dan dia merasa seperti sedang berada di dunia yang asing.
Dia merasa identitasnya sebagai siswa SMA biasa sudah benar-benar hilang dan berganti menjadi seorang pelarian politik negara. Masalah gacha kehidupan ini telah menyeret mereka ke dalam pusaran konflik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Hana melihat ke arah empat sahabatnya yang duduk di sekelilingnya dengan wajah yang sangat pucat dan penuh dengan kelelahan. Mereka semua telah mengorbankan masa muda mereka demi sebuah keadilan yang sangat sulit untuk didapatkan di negara ini.
Yuki Nakamura mulai mencoba meretas sistem navigasi kapal patroli laut agar jalur pelarian mereka tidak terdeteksi oleh radar polisi. Dia bekerja dengan sangat serius di bawah cahaya bulan yang sangat redup dan juga sangat pucat di atas langit. Yuki menyadari bahwa teknologi pengawasan nasional sudah mulai mengunci area teluk Tokyo secara menyeluruh dan juga sangat ketat.
Mereka harus sangat berhati-hati agar tidak berpapasan dengan kapal besar yang memiliki sensor panas tubuh manusia yang canggih. Akane Sato terus memantau pergerakan berita di media sosial melalui tablet miliknya yang masih memiliki sisa daya baterai.
Dia melihat bahwa berita mengenai ledakan di gudang pelabuhan sudah mulai tersebar luas di berbagai situs berita daring. Pemerintah mengklaim bahwa ledakan tersebut adalah aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok remaja radikal yang sangat berbahaya.
Hana Tanaka merasa sangat marah saat membaca klaim palsu dari pihak pemerintah tersebut melalui layar tablet milik Akane. Mereka difitnah sebagai teroris padahal mereka adalah korban dari sistem pendidikan yang sangat korup dan juga sangat menindas. Hana menyadari bahwa paman Kaito sedang mencoba untuk membangun opini publik agar masyarakat mendukung tindakan represif pemerintah.
Demokrasi perak ini menggunakan media massa untuk mencuci otak warga lansia agar mereka membenci generasi muda yang kritis. Hana merasa bahwa mereka sekarang sedang berperang sendirian melawan seluruh tatanan sosial yang ada di negara Jepang.
Namun, semangat perjuangan di dalam hati Hana tidak padam sedikit pun meskipun dia merasa sangat lelah secara batin. Dia akan terus melawan melalui tulisan-tulisan jujurnya yang akan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia internasional nanti.
Kaito Fujiwara mengarahkan perahu motor tersebut menuju ke sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni di tengah teluk Tokyo. Pulau itu sering digunakan sebagai tempat peristirahatan sementara oleh para nelayan tradisional saat badai besar melanda lautan. Kaito merasa tempat itu cukup aman untuk mereka bersembunyi selama beberapa jam sebelum mereka melanjutkan perjalanan besok pagi.
Mereka harus merencanakan langkah selanjutnya untuk masuk ke dalam bank pusat Tokyo tanpa terdeteksi oleh kamera pengawas. Hana Tanaka mengeluarkan liontin kunci itu kembali dan dia menunjukkannya kepada seluruh teman-temannya di bawah cahaya bulan.
Kaito menatap kunci itu dengan penuh rasa hormat karena dia tahu betapa besarnya pengorbanan ayah Hana untuk kunci tersebut. Mereka berlima membuat sebuah lingkaran kecil di atas perahu motor tersebut sebagai simbol persatuan dan juga kekuatan.
Ren Ishida mengatakan bahwa dia akan tetap berjaga di bibir pantai pulau nanti untuk memastikan keamanan teman-temannya saat beristirahat. Dia tidak ingin kejadian di gudang tadi terulang kembali karena kelalaian sistem keamanan yang mereka buat sendiri. Ren merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan fisik teman-temannya karena dia memiliki tubuh yang paling kuat di sana.
Dia mulai mengatur ulang strategi pertahanan dengan menggunakan peralatan terbatas yang ada di dalam perahu motor tersebut. Hana Tanaka merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Ren yang selalu siap mengorbankan dirinya demi orang lain.
Persahabatan mereka telah menjadi satu-satunya harta karun yang paling berharga di tengah kehancuran sistem gacha kehidupan. Mereka bukan lagi sekadar teman satu sekolah namun mereka sudah menjadi keluarga baru yang saling menyayangi.
Malam semakin larut dan suhu udara di tengah laut terasa semakin dingin hingga menusuk ke dalam lapisan kulit paling dalam. Mereka merapatkan posisi duduk mereka untuk saling berbagi kehangatan tubuh di tengah kegelapan teluk Tokyo yang sangat luas. Hana Tanaka mencoba memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan energi bagi pertempuran besar yang akan terjadi besok hari.
Dia bermimpi tentang sebuah sekolah yang sangat adil di mana setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk sukses. Di dalam mimpi itu tidak ada lagi istilah gacha kehidupan atau istilah demokrasi perak yang sangat menyakitkan hati.
Semua orang hidup dalam harmoni dan juga hidup dalam saling menghormati satu sama lain tanpa memandang status sosial. Hana tersenyum kecil di dalam tidurnya yang sangat singkat tersebut sebelum dia terbangun karena suara ombak yang kencang.
Saat perahu motor mereka hampir sampai di pinggiran pulau kecil tersebut Yuki Nakamura tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat kencang. Dia menunjuk ke arah bawah jembatan pelangi yang berada tidak jauh dari lokasi mereka berada saat ini di laut.
Hana Tanaka melihat ada sebuah armada kapal hitam tanpa lampu yang sedang bergerak mengepung pulau tersebut dengan formasi militer. Kapal-kapal itu tidak memiliki bendera nasional namun memiliki logo perusahaan keamanan milik keluarga Fujiwara di bagian lambung kapal.
Hana merasakan jantungnya berdegup sangat kencang karena dia menyadari bahwa Haruo Fujiwara telah berhasil melacak mereka kembali. Namun yang paling mengejutkan adalah sosok yang berdiri di atas kapal pemimpin armada tersebut dengan sangat tenang sekali.
Sosok itu adalah ibu kandung Hana Tanaka yang sedang berdiri dengan tangan terikat dan juga dikawal oleh dua orang pria bersenjata. Ibu Hana terlihat sangat pucat dan juga terlihat sangat ketakutan di bawah sorotan lampu sorot kapal yang sangat terang. Haruo Fujiwara berdiri di samping ibu Hana sambil memegang sebuah megafon untuk memberikan perintah suara kepada Kaito.
Haruo meminta Kaito untuk segera menyerahkan Hana Tanaka dan juga menyerahkan kunci brankas tersebut jika ingin ibunya selamat. Hana merasakan lututnya menjadi sangat lemas dan dia hampir saja jatuh ke dalam air laut yang sangat dingin tersebut.
Dia tidak menyangka bahwa Haruo akan bertindak sekejam ini dengan menculik ibunya yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Hana Tanaka berteriak histeris memanggil ibunya namun suaranya langsung hilang tertelan oleh deru mesin kapal-kapal hitam tersebut.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍