Adara hamil, sialnya ia tidak tahu ia hamil anak siapa. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah dirinya terbangun dalam keadaan telanjang bulat bersama dengan empat sahabat laki laki nya yang juga tidak mengenakan pakaian apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theshittyqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPULUH
Markus berdiri memandang Aaron yang terbaring tak berdaya di ranjang nya.
Keluarga Adara dan keluarga Aaron sudah pulang ke rumah masing masing.
Markus menatap datar ke arah Aaron. “Sayang sekali kau masih hidup, seharusnya kau langsung mati saja. Kalau begini kan merepotkan. Kira kira lebih baik kau ku apakan?”
Markus menatap ke sekitar, ia berpikir apa hal yang bisa ia lakukan namun mata Markus justru menangkap sebuah kamera cctv yang bertengger di sudut langit langit kamar rawat Aaron.
Sungguh sial, ada kamera cctv disini. Jika Markus melakukan sesuatu maka akan terekam oleh cctv tersebut dan Markus bisa membahayakan dirinya sendiri.
Markus menoleh ketika pintu kamar rawat Aaron tiba tiba saja terbuka, muncul Lucas dengan tatapan bingungnya.
“Kenapa kak Markus masih disini? Kak Adara sudah siap, kita sudah bisa pulang.”
Markus menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Lucas keluar. Namun dalam hatinya Markus sudah berjanji bahwa ia akan melakukan sesuatu nanti untuk memastikan Aaron tidak akan bisa lagi menjadi penghalang antara Markus dan Adara.
***
“Kau baru kembali dari rumah sakit?” Sabrina menatap putranya itu, “Kau sudah makan malam, mau Mama siapkan makan mal—”
“Aku tidak lapar.” Markus memilih untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya, mengabaikan Juan yang duduk di ruang tamu memperhatikan Markus sejak Markus masuk ke dalam rumah.
Markus berbaring di ranjang nya, ia menatap langit langit kamarnya. Memikirkan bagaimana cara ia bisa merubah keadaan saat ini, Markus tidak suka melihat Adara menangisi Aaron yang terluka.
Dahulu saat mereka kecil hanya Markus yang Adara pedulikan, tapi sekarang semuanya berbeda. Memang sudah sepatutnya laki laki itu lenyap dari muka bumi ini sehingga Adara bisa kembali menjadi Adara yang dulu lagi, Adara yang Markus kenal.
Tapi bagaimana?
Apakah Markus perlu menyewa dokter gadungan untuk menyuntik mati Aaron? Ataukah ia menyewa seseorang untuk mencekik Aaron sampai mati atau haruskah ia menyewa seseorang untuk meracuni infus Aaron?
Banyak sekali cara yang bisa ia lakukan dan sialnya ia ingin melakukan semuanya, yang terpenting adalah laki laki itu lenyap. Maka semuanya beres.
***
Damian mengernyitkan alisnya ketika ia pagi pagi melihat Markus sudah bertamu di rumahnya, Markus bilang Markus ingin menemani Adara untuk ke rumah sakit menjenguk Aaron.
Bukannya Damian tidak bersyukur dengan kebaikan hati Markus yang mau menolong Adara dan menemani Adara di masa sulit Adara seperti ini tapi hanya saja Damian tidak bisa menutupi bahwa ia curiga terhadap anak laki laki Juan tersebut.
Dan bukannya ingin mengungkit masa lalu tapi Damian memang tidak pernah suka terhadap Markus, perasaan Damian selalu tidak enak terhadap Markus. Terlebih lagi Markus adalah anak Juan, laki laki yang dulu pernah berbuat jahat kepada Clara.
Juan itu kejam dan gila, bukan tidak mungkin anak nya akan seperti itu juga.
Bukan kah ada pepatah yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohon nya?
Itu lah yang membuat Damian takut.
“Biarkan Lucas juga ikut menemani mu Adara.” usul Damian sembari duduk di sebelah istrinya.
Lucas yang sedang sibuk mengunyah makanan nya tiba tiba saja berhenti, ia menggelengkan kepala nya tidak setuju. “Aku ada kelas hari ini Pa.”
Damian berdecak sebal, ia melirik istrinya. “Kau bisa menemani Adara juga?”
Clara menggelengkan kepalanya, “Aku akan menemani keluarga Aaron untuk melaporkan masalah ini ke polisi. Semuanya harus di urus dengan baik agar pelakunya bisa cepat di tangkap.” Clara menepuk punggung Damian berusaha membuat suaminya itu rileks sedikit. “Kau tidak perlu khawatir, Markus pasti bisa menjaga Adara. Lagi pula mereka hanya akan menjenguk Aaron di rumah sakit. Mereka tidak akan melakukan hal yang berbahaya.”
Damian menghela nafas berat, tidak akan ada yang paham dengan rasa khawatirnya.
“Baiklah, ku harap kau bisa menjaga Adara dengan baik Mark.”
Markus mengangguk sebagai jawaban, ia bangkit dari posisinya mengikuti Adara yang sudah siap untuk berangkat.
Baru saja kedua nya ingin melangkah membuka pintu, pintu tersebut sudah diketuk oleh seseorang dari luar.
“Siapa yang bertamu pagi pagi seperti ini? Apakah keluarga Aaron?”
Adara yang kebetulan lebih dekat dengan pintu memilih untuk membuka pintu tersebut dan tepat saat pintu itu terbuka, tubuh Markus menegang. Markus benar benar terkejut melihat sosok laki laki yang berdiri di depan pintu tersebut dengan senyum ramah nya.
“Ahh.. maaf mengganggu, saya kemari untuk mencari Pak Markus, tadi saya sudah ke rumah beliau dan orang rumah mengatakan bahwa beliau ada disini.”
Laki laki tersebut bicara kepada Adara, dan matanya melirik ke arah Markus yang berdiri kaku di belakang Adara.
Laki laki sialan ini. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
“Uhmm.. Mark, kau sepertinya kedatangan tamu.”
Markus tersenyum kaku, ia mengangguk pada Adara. “Haha.. maafkan aku, aku akan bicara dengannya sebentar lalu kita akan berangkat ke rumah sakit. Tunggu aku sebentar saja ya.”
Adara menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar dari rumah Adara sembari menyeret sosok laki laki tersebut. “Apa mau mu sebenarnya?!”
Tanya Markus sesaat jarak mereka sudah cukup jauh untuk Adara dan keluarganya bisa mendengar perbincangan mereka.
“Kenapa Tuan masih bertanya? Tentu saja uang, saya sudah berhasil melakukan apa yang Tuan minta. Saya sudah berhasil menggagalkan pernikahan mereka.”
Markus menggeretakkan giginya kesal, “Tapi aku tidak pernah menyuruh mu untuk menembak Aaron!”
Laki laki tersebut tertawa sinis, “Yang terpenting pernikahannya batal bukan? Aku tidak perduli dengan nyawa orang, aku hanya perduli pada uang. Berikan aku uangnya. Aku sudah berhasil melakukan tugas ku.”
***
“Tadi itu siapa kak?” tanya Lucas pada Adara, Adara menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak tahu.
Lucas menggaruk kepalanya, “Wajah nya nampak tidak asing.” gumam Lucas pelan kepada dirinya sendiri.
“Kira kira dimana aku pernah melihatnya ya.”
sukses
semangat
mksh