NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Di dalam arena, Han Feng bergerak seperti badai.

Boneka ketiga dan keempat menyerang bersamaan. Han Feng melompat vertikal setinggi dua meter, menghindari sapuan kaki mereka. Di udara, tubuh Han Feng berputar, dan kedua tangannya turun mencakar seperti elang menyambar mangsa.

SRETT! SRETT!

Kedua tangan Han Feng mendarat tepat di leher kedua boneka itu.

Dengan bunyi krek yang mengerikan, Han Feng meremukkan mekanisme leher boneka-boneka itu hingga kepala mereka terkulai lemas. Inti energi mereka padam seketika.

Boneka kelima, yang terakhir, mencoba memukul punggung Han Feng saat dia mendarat.

Han Feng tidak menoleh. Dia melakukan tendangan memutar ke belakang tanpa melihat. Tumit kakinya menghantam dada boneka kelima dengan akurasi sempurna.

DUARR!

Dada boneka itu jebol. Boneka seberat dua ratus kilogram itu terlempar mundur lima meter, menabrak dinding arena hingga retak, lalu jatuh berkeping-keping menjadi tumpukan kayu rosokan.

Hening.

Hanya suara napas Han Feng yang teratur dan detak jantung penonton yang terdengar.

Lima boneka kayu besi. Hancur total dalam waktu kurang dari sepuluh napas.

Han Feng berdiri tegak di tengah puing-puing boneka. Dia menepuk-nepuk debu kayu dari jubahnya, lalu menatap ke arah kaca pengamat di lantai dua. Tatapannya datar, tidak ada kebanggaan berlebih, seolah dia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang membosankan.

"Tetua Xu," suara Han Feng menggema di arena yang sunyi. "Apakah ujiannya sudah selesai?"

Tetua Xu tersentak dari lamunannya. Tangan tua itu gemetar sedikit saat memegang mikrofon magis. Dia telah melihat banyak jenius di Keluarga Han selama puluhan tahun, tapi dia belum pernah melihat gaya bertarung yang begitu brutal, efisien, dan dominan dari seseorang yang tidak memiliki fluktuasi Qi yang kuat.

"U-Ujian selesai," suara Tetua Xu terdengar bergetar. "Han Feng... Lulus dengan nilai sempurna. Waktu penyelesaian: 20 detik. Rekor baru untuk tingkat pemula."

Han Feng mengangguk singkat. Dia berjalan keluar dari pintu arena, meninggalkan sisa-sisa kehancuran di belakangnya.

Ketika Han Feng muncul kembali di aula utama, kerumunan murid yang tadi mengejeknya kini membelah jalan secara otomatis, seperti Laut Merah yang terbelah untuk Musa. Tidak ada lagi yang berani menatap mata Han Feng. Tatapan mereka kini dipenuhi rasa takut dan kekaguman.

Han Feng berjalan menuju meja Tetua Xu.

"Poin kontribusinya, Tetua?" tanya Han Feng.

Tetua Xu menelan ludah, lalu dengan cepat memproses lencana Han Feng. "Menghancurkan lima boneka kayu besi memberimu 250 poin. Ditambah bonus memecahkan rekor kecepatan... total 350 Poin Kontribusi."

350 poin. Itu setara dengan gaji tiga bulan pelayan senior. Cukup untuk menukar tiga botol Pil Pengumpul Qi kualitas menengah.

"Terima kasih," kata Han Feng. Dia mengambil lencananya dan segera berbalik pergi, tidak ingin berlama-lama menjadi tontonan sirkus.

Namun, Han Feng tahu, ketenangan hidupnya sudah berakhir hari ini. Berita tentang "Sampah yang Mengamuk di Aula Bela Diri" akan menyebar seperti api liar. Han Lie dan para tetua yang memusuhinya pasti tidak akan tinggal diam.

"Biar saja mereka datang," batin Han Feng sambil melangkah keluar dari Aula Bela Diri, menyipitkan mata menatap matahari siang. "Semakin banyak yang datang, semakin banyak batu asahan untuk pedangku."

Sementara itu, di sebuah paviliun mewah di sisi timur kediaman Keluarga Han.

Seorang pemuda tampan dengan jubah sutra emas sedang duduk menikmati teh sambil mendengarkan laporan dari pelayannya yang berlutut gemetar di lantai. Pemuda itu adalah Han Lie, jenius nomor satu generasi muda Keluarga Han saat ini.

"Kau bilang apa?" Han Lie meletakkan cangkir tehnya perlahan. Suaranya halus, tapi mengandung ancaman yang mematikan. "Han Feng tidak mati? Dia mematahkan tangan Zhao Si, mengalahkan Han Tong, dan baru saja menghancurkan lima Boneka Kayu Besi dalam 20 detik?"

"B-Benar, Tuan Muda!" pelayan itu menjawab dengan wajah pucat. "Banyak saksi mata di Aula Bela Diri. Mereka bilang... mereka bilang Han Feng seperti kerasukan iblis. Dia merobek kayu besi dengan tangan kosong!"

Han Lie terdiam sejenak. Jari-jarinya mengetuk meja marmer secara berirama. Sebuah senyum sinis perlahan terukir di wajahnya.

"Menarik," kata Han Lie pelan. "Tikus itu ternyata menyembunyikan taringnya selama ini. Atau mungkin dia menemukan semacam teknik terlarang yang membakar nyawanya demi kekuatan sesaat?"

Han Lie berdiri, memandang ke arah jendela.

"Bagaimanapun caranya, dia sudah menjadi ancaman. Dan di Keluarga Han, hanya boleh ada satu naga muda, yaitu aku."

Han Lie menoleh pada pelayannya.

"Sampaikan pesan pada 'Kakak' di Sekte Pedang Langit. Katakan padanya ada masalah kecil di rumah yang harus dibersihkan. Dan untuk sementara waktu... kirim Kelompok Bayangan Hitam untuk menguji 'kekuatan baru' sepupuku yang tercinta itu malam ini. Aku ingin tahu, apakah kulitnya sekeras kayu besi saat ditebas pedang sungguhan."

"Baik, Tuan Muda!"

Angin berhembus kencang di luar paviliun, membawa serta daun-daun kering yang berguguran, pertanda badai besar akan segera datang menerpa Han Feng.

Paviliun Harta Keluarga Han adalah bangunan paling megah kedua setelah Aula Pertemuan Utama. Bangunan tiga lantai ini dijaga ketat oleh Penjaga Besi—pasukan elit keluarga yang semuanya minimal berada di tahap Pembentukan Tubuh Tingkat 4. Aroma samar obat-obatan spiritual dan logam dingin tercium bahkan sebelum seseorang melintasi ambang pintunya.

Han Feng melangkah masuk dengan tenang. Pakaian Han Feng yang sederhana dan statusnya yang terkenal sebagai "sampah" membuat beberapa murid yang sedang antre menoleh dengan tatapan meremehkan. Namun, ingatan tentang kejadian di Aula Boneka Kayu pagi ini membuat mereka menahan lidah. Tidak ada yang berani melontarkan ejekan secara terbuka.

Han Feng berjalan langsung menuju loket penukaran bahan obat. Di balik meja, seorang murid senior wanita dengan wajah bosan sedang memoles kukunya.

"Poin kontribusi dan barang yang diinginkan," kata murid wanita itu tanpa mengangkat kepala.

Han Feng meletakkan lencana gioknya di atas meja. "350 poin. Saya ingin menukarnya dengan tiga batang Rumput Roh Darah dan satu botol Cairan Sumsum Harimau."

Mendengar permintaan itu, murid wanita itu akhirnya mendongak. Alisnya terangkat sebelah. "Rumput Roh Darah dan Cairan Sumsum Harimau? Itu adalah bahan untuk mandi obat pengeras tulang. Sangat menyakitkan dan biasanya hanya digunakan oleh murid yang sudah mencapai Tingkat 3. Kau yakin tubuhmu tidak akan meledak... eh?"

Kalimat wanita itu terhenti saat dia memeriksa lencana Han Feng dan melihat angka "350" yang tertera di sana. Matanya membelalak. Mendapatkan 350 poin dalam satu hari adalah prestasi yang jarang terdengar, kecuali bagi murid inti.

"Apakah poin saya cukup?" tanya Han Feng datar.

"C-Cukup. Pas sekali," jawab wanita itu, sikapnya berubah sedikit lebih hormat, atau lebih tepatnya, waspada. Dia segera berbalik ke rak obat di belakangnya, mengambil kotak kayu berisi rumput berwarna merah darah dan botol kecil berisi cairan kental kekuningan.

Han Feng mengambil barang-barang itu, memasukkannya ke dalam saku jubah, dan segera berbalik pergi. Han Feng tidak punya waktu untuk basa-basi. Matahari sudah mulai condong ke barat, dan firasat Han Feng mengatakan bahwa malam ini tidak akan berjalan damai.

Dalam perjalanan pulang ke gubuknya, Han Feng merasakan setidaknya ada tiga pasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Tatapan itu bukan tatapan penasaran, melainkan tatapan dingin penuh niat membunuh yang tersembunyi.

"Anjing-anjing Han Lie bergerak cepat," batin Han Feng. Senyum tipis yang mengerikan terukir di sudut bibirnya. "Bagus. Rumput Roh Darah ini butuh katalis tambahan agar efeknya maksimal. Dan tidak ada katalis yang lebih baik daripada darah musuh."

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!