Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Dara diculik sungguhan
SELAMAT MEMBACA!
Dara mendapatkan rencana yang menurutnya sangat seru. Ia akan membuat sebuah prank untuk suaminya, dengan dibantu oleh anak-anak Ultimate Phoenix.
Pagi ini, Dara sebenarnya sedang libur bekerja, tetapi ia mengatakan akan pergi ke tempat kerja untuk sebuah urusan kepada Dino. Namun, Dara menolak untuk diantar ke sana. Dino pun memutuskan pergi ke bengkel karena orderan sedang ramai.
Dengan pakaian santai, Dara pergi ke basecamp dijemput oleh Mahen yang sedang libur sekolah. Ia ingin pergi sendiri, tetapi dilarang oleh anggota Ultimate Phoenix. Mereka akan berkumpul untuk mendiskusikan kejutan di hari ulang tahun Dino. Dara pun sudah menyiapkan kado spesial, dia baru membeli tadi pagi.
Mahen menjemput Dara di rumah, setelah gadis itu pulang dari sebuah pusat perbelanjaan. "Udah aman, kan?" tanya Mahen, saat Dara naik ke boncengan motornya.
"Aman. Aku juga udah minta tolong pekerja di sana, buat halangi Dino pergi dari bengkel," jawab Dara. Dia mengulas senyum tipis, seolah semuanya sudah terlihat menyenangkan di benaknya. "Pasti seru."
Mahen membawa Dara membelah jalan. Angin menerpa wajah Dara yang tidak mau memakai helm dari Mahen. Gadis itu keras kepada, tidak ada satu orang pun menang bila melawannya.
Sesampainya di basecamp, kedatangan Dara sudah ditunggu anggota inti Ultimate Phoenix dan beberapa anggota lain. Mahen mengajak Dara masuk ke sana, para lelaki yang duduk di sofa itu langsung menatap kedatangan bu bos mereka. "Sini, Bos!" panggil Darwin, sambil melambaikan tangan.
Dara tersenyum canggung. Ini adalah kali pertama dia datang ke tempat ini tanpa suaminya. Apalagi, dia perempuan sendiri.
"Jadi, gimana?" tanya Darwin, dengan sangat antusias. "Masih sama kayak yang didiskusikan di grub chat kemarin, kan?" Dia terlihat begitu heboh karena ia bisa menjahili bosnya.
"Selama ini gue gabung di sini, gue gak berani buat giniin si bos," celetuk Hamid.
"Sama," sahut Derwan. "Karena ini permintaan Bu Bos, ya kita lakuin aja."
"Bener! Kapan lagi?" ucap Mahen. Sedangkan Bama mengangguk setuju. Aga hanya diam menyimak seperti biasa.
"Pokoknya kalian sembunyiin aku, tempatnya terserah. Nanti ada yang hubungi Dino kalau dia lihat aku diculik," ujar Dara.
"Gue aja yang telpon si bos," seloroh Hamid, mengacungkan tangan.
"Setuju. Soalnya Bang Hamid kebiasaan bohong, jadi kelihatan meyakinkan," ungkap Mahen. Lalu, dia mendapat pukulan di lengan kanannya dari Hamid, yang duduk di sampingnya.
"Boleh. Pokoknya kalian harus maksimal dan terlihat meyakinkan," kata Dara. Dia mengulas senyum tipis, kemudian beralih menatap Darwin. "Kamu bisa koordinasi ke anggota yang lain, biar mereka bisa bantu acting."
"Pokoknya nanti malam, kita udah bisa kasih kejutannya."
Tujuh lelaki itu menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Dara. "Gedung tua yang kelihatan dari rooftop, kayaknya mendukung," ujar Angga. "Biar gue yang cek sama Aga."
Aga yang mendengarnya, melebarkan matanya. "Kenapa gue? Males deh, Bang," katanya. "Gue mau tidur aja, ngantuk."
"Lo pasti gak bisa acting, jadi lo ikut Bang Angga, aja!" celetuk Mahen.
Aga memutar malas bola matanya. "Ayo, sekarang! Sebelum gue pingsan," katanya, kemudian berdiri dari sana.
Angga melenggang pergi, menyusul Aga yang pergi dengan cepat. Cowok cuek itu benar-benar pemalas sekali, dia bahkan tidak bisa dilawan.
"Gue mau bicarain ini sama anak-anak lainnya di luar," ujar Darwin, berdiri dari duduknya membuat Dara mendongak untuk menatapnya.
"Makasih banyak, ya," ujar Dara.
"Siap!" Lalu, Darwin pergi dari sana.
Kemudian suasana menjadi hening karena Dara pun tidak berani terlalu terbuka di sini. Ia hanya mengedarkan pandangan sembari melihat dua pemuda yang sedang bermain game di ponsel. "Ra," panggil Derwan, Dara menoleh. "Lo udah siapin kadonya?"
Dara mengangguk. "Udah. Tadi pagi aku beli."
"Semoga kalian bisa bareng-bareng sampai tua, ya!"
"Amin. Makasih," kata Dara, sambil tersenyum tipis.
"Dino kelihatan sayang banget sama lo. Dan lo perlu tahu, Ra, kalau Dino gak pernah deket sama cewek mana pun," ungkap Derwan. "Lo cewek pertama yang dibawa ke tempat ini."
"Oh, iya?" Derwan mengangguk.
Derwan menarik kedua sudut bibirnya melihat Dara begitu terkejut. "Gue harap lo gak akan ngecewain dia, sih," kata Derwan.
"Nggak akan," jawab Dara. "Aku juga titip Dino sama kalian, ya?"
Lelaki itu mengangguk singkat. "Gue jagain, aman. Kalau perlu bantuin, bilang aja!" Dara tersenyum tipis mendengar ucapan Derwan yang terbaru sungguh-sungguh.
"Malah godain istrinya si bos lo, Buaya!" celetuk Hamid, kemudian duduk di samping Derwan.
"Ganggu aja! Gue lagi deep talk juga!" gerutu Derwan.
"Awas, Ra! Dia buaya!" tutur Hamid, kepada Dara yang hanya tersenyum melihatnya.
...🦋...
Sebelum melancarkan aksi, Dara pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Sore ini juga, rencana mereka pasti akan berjalan dengan lancar. Dara sampai di depan halaman basecamp Ultimate Phoenix dengan dijemput oleh Mahen. Gadis itu memakai dress biru muda dan rambut digerai, terdapat jepitan kupu-kupu di helaian rambut Dara.
"Gue telpon sekarang?" tanya Hamid, kepada Dara.
Dara mengangguk. "Boleh." Lalu, Hamid merogoh ponsel di sakunya dan segera menghubungi nomor Dino, yang masih berada di bengkelnya.
Tidak lama, panggilan dari Hamid diangkat oleh Dino. "Halo, Bos."
"Gawat, Bos!"
Terdengar sahutan Dino di seberang sana karena Hamid menyalakan lost speaker. "Gawat kenapa?"
"Istri lo, Bos."
Dino yang sedang memakai jaket dan meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, dia segera mengambil benda pipih itu. "Dara kenapa?"
"Gue lihat dia diculik. Gue mau kejar, tapi gak bisa." Hamid membuat nada bicara terdengar sangat panik.
"LO JANGAN BERCANDA!"
Bentakan Dino sontak membuat nyali Hamid menciut. Ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Akan tetapi, Dara menyuruh Hamid tetap berbicara untuk meyakinkan.
"Serius, No. Tapi, gue gak tahu mereka siapa."
"Pakaian mereka kehilangan banget kayak orang jahat."
"Lo sekarang di mana?" Dino berbicara sambil berjalan ke luar bengkel, kemudian menaikkan standar motornya.
"Gue tunggu lo di basecamp, aja."
"Gue ke sana sekarang." Nada bicara Dino terdengar sangat panik. Bahkan, dia memakai helm dengan sembarangan.
Tentu saja membuat Dino tersenyum puas. Langkah pertama telah selesai, Dino yakin akan semua drama yang mereka buat. "Kita ke tempatnya sekarang aja," ujar Dara.
Para lelaki itu mengangguk setuju. Mereka pun sudah memasang untuk meyakinkan Dino akan rencana yang mereka buat.
Angga yang melihat kepergian Dara dengan beberapa anggota inti, dia berbisik kepada lelaki di sampingnya. "Kalau si bos marah, kita gak dapet amukannya juga, kan?" katanya.
Lelaki itu hanya mengangkat pundak. "Gak yakin."
Dino mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah habis kesabaran, sorot matanya tajam menusuk ke segala arah. Motornya berhenti di halaman basecamp, membuat suasana di tempat itu mencengkam seketika.
Langkah kaki Dino yang cepat, membuatnya terlihat jelas lelaki itu sedang di ujung kemarahannya. Dia menghampiri Hamid yang berdiri di depan pintu. "Lo lihat Dara di mana?" tanya Dino.
Suara berat lelaki itu membuat Hamid menelan ludah. "Gue lihat di depan gang sana, No. Gue udah kejar, tapi gue kehilangan jejak," ucap Hamid.
Dino memejamkan matanya sejenak. Dia sungguh membuat bulu kuduk seluruh orang di sana berdiri. "Gue kasih perintah sama kalian semua." Suara Dino memberat, maniknya menatap ke arah anggota Ultimate Phoenix yang berdiri di teras basecamp. "Cari Dara! Harus ketemu hari ini juga!" katanya.
"Siap, Bos!" sahut mereka bersamaan. Lalu, para pemuda itu pergi dari sana.
Dino memijat pelipisnya, ia mengecek ponselnya yang sama sekali tidak memperlihatkan nama Dara di sana. Gadis itu menghilang sejak pagi. "Lo lihat jam berapa?" tanya Dino.
Hamid menundukkan kepala, melihat sepatunya. Dia tidak berani menatap Dino yang berisi di sampingnya. "Gue lihatnya sekitar 20 menit yang lalu, No," jawab Hamid. "Sorry, gue gak bisa kejar mereka."
Terdengar helaan napas panjang keluar dari mulut Dino. "Dia bilangnya hari ini libur kerja. Tapi, dia mau ke tempat kerjanya karena ada urusan," ujar Dino.
"Kita cek di tempat kerjanya." Dino hendak melenggang dari sana. Namun, tangannya dicekal oleh Hamid.
"Jangan, No. Kalau misal lo tanya ke mereka, mereka pasti hubungin keluarganya Dara. Terus, keluarganya Dara pasti khawatir banget," ujar Hamid.
"Lo ada benernya." Dino mengurungkan niatnya untuk pergi ke supermarket tempat istrinya bekerja.
Di belakang Dino, Angga diam-diam berkomunikasi melalui chat dengan Dara yang sudah berada di tempat persembunyian.
"Kita coba cari di sekitar sini dulu. Kalau udah 24 jam gak ketemu, kita lapor polisi," ujar Dino. Lalu, dia melenggang dari sana, naik ke motornya.
Handphone di saku Hamid bergetar, ia segera mengangkatnya. "NO! ADA TELPON DARI MAHEN. TADI GUE SURUH DIA CARI," teriak Hamid.
"Halo, gimana, Hen?" tanya Hamid.
Dino mengambil ponsel itu dari tangan Hamid. Lalu, terdengar suara dari sana. "Rencana kita gagal, Bang. Kak Dara diculik beneran. Kita gak bisa ngelawan mereka," kata Mahen.
Manik Dino melebar. "Maksud lo apa? RENCANA APA!"
Hamid mengambil ponsel miliknya, kemudian segera berbicara kepada Mahen. "Kita ke sana sekarang," ucap Hamid.
Dino mengepalkan tangannya. Dia mencengkram kerah jaket Hamid, membuat cowok itu sedikit terangkat. "APA YANG TERJADI SEBENARNYA?"
"No, jangan emosi dulu!" Angga datang menenangkan lelaki itu.
Napas Dino memburu, ia mengendurkan cengkraman, kemudian mengangkat alisnya menyuruh Hamid berbicara.
"Jadi, No, Dara minta kita bantuin dia buat kasih lo kejutan," ucap Hamid. "Dia mau, seolah dia diculik dan lo panik cariin dia."
"Tapi, ini di luar rencana kita," cecar Hamid.
"Jadi, maksud lo, Dara diculik beneran?" Rahang Dino mengeras, matanya menyorot dengan tajam.
Hamid menganggukkan kepala. Lalu, Dino membanting Hamid ke lantai hingga lelaki itu meringis merasakan sakit. Aga menghampiri Hamid, seolah menolong lelaki itu.
"HARUSNYA KALIAN BILANG GUE! NANTI GUE BISA PURA-PURA GAK TAHU."
"KALAU DARA DICULIK BENERAN KAYAK GINI, GIMANA!"
Suara berat Dino menggema di seluruh tempat itu. Ia membuat suasana menjadi sangat menyeramkan. "SIALAN LO SEMUA!" Lalu, Dino pergi dari sana dengan tersulut emosi.