NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Pudarnya senyum mahen

SELAMAT MEMBACA!

Bahkan, kue yang awalnya terlihat sangat menggugah selera, seketika berubah menjadi hambar. Malam setelah Dino dan Dara membuat kue untuk Mahen, Dino membuka ponsel menampakkan ruang pesannya dengan Aga. Jarang sekali anak itu menghubungi, kecuali di saat mendesak.

Imajinasi Dino untuk menjahili Mahen hingga menangis, sekarang hilang begitu saja. Padahal, rencananya dengan anak-anak Ultimate Phoenix sudah matang, tetapi keadaan malah berubah seperti ini.

Dino ingat, anak itu sering mengeluhkan kondisi keluarganya yang tidak pulang dan melewatkan dua tahun pada hari kelahirannya. Lalu, kemarin sore Mahen sangat heboh menceritakan kepada para kakaknya, bahwa kedua orang tuanya akan pulang di hari ulang tahun. Namun, kebahagiaan seperti tak memihak pada Mahen.

Dino menjadi tidak enak hati kepada istrinya. Dara sudah memasak hingga larut malam seperti ini, tetapi itu tak akan bisa menghibur Mahen. Saat sedang sibuk mengirimkan balasan kepada Aga, Dara tiba-tiba datang dan duduk di samping Dino dengan membawa sepiring berisi potongan kue. "No, kuenya mau dikasih kapan?" tanya Dara.

Dino mengiris sesendok kue di atas piring itu, kemudian menyuapi mulutnya. Dara menunggu jawaban suaminya sambil mengunyah kue coklat hasil buatannya tersebut. Lalu, Dino menghela napas berat dan mengulas senyum simpul. "Gak jadi kasih Mahen prank," ungkap Dino.

"Kenapa? Udah seru banget pasti," balas Dara.

"Kabar buruk, Ra." Dino beralih, tidak menatap wajah Dara yang sangat mengharapkan bisa melihat para anggota menggoda Mahen. Dia memandang siaran komedi di televisi, tetapi leluconnya terdengar garing. "Orang tuanya Mahen cerai, Ra," kata Dino.

Dara tersentak kaget, matanya melebar menatap Dino. Dia menelan kue yang mendadak menjadi keras. "Serius?" Dino mengangguk, menjawab pertanyaan Dara. "Bukannya ... kerja di luar negeri aja, ya?" tanya Dara.

"Iya, Ra. Tadi, gue dapet kabar dari Aga, dia lagi nemenin Mahen di basecamp. Mahen juga baru aja tahu, dia dikirimi surat sama orang tuanya. Mereka juga katanya akan pulang besok, meski udah gak sama-sama lagi," jelas Dino. "Selama ini, Mahen cuma keluhin hal itu. Orang tuanya gak pernah pulang."

"Tapi, No. Kita harus hibur Mahen," tutur Dara.

"Gue maunya gitu. Besok gue akan bicara sama yang lain," jawab Dino.

Suasana bahagia malam itu berubah drastis. Dara sudah bersemangat untuk ikut terlibat di acara memberi Mahen kejutan. Namun, semua tidak berjalan sesuai rencana. Dia sudah membuat kue spesial dengan hiasan yang cocok akan kepribadian Mahen, tetapi kini malah seakan tak menarik lagi.

...🦋...

Keadaan lelaki itu benar-benar berantakan. Dia keluar dari dalam rumahnya yang sunyi ketika mendengar ketukan pintu. Mahen merasa malu karena telah keluar dengan kondisi seperti itu. Dia hanya tersenyum tipis seperti biasa, tetapi tidak terlihat kebahagiaan di sana.

Dino mengajak anggota inti untuk datang ke rumah Mahen, memberikan kejutan kecil kepada lelaki itu. Hamid dan Bama langsung menerobos masuk, mendahului sang pemilik rumah. Aga menutup pintu, menyusul yang lainnya.

"Berantakan banget," celetuk Darwin, ketika mendapati ruang tengah rumah Mahen berserakan banyak tisu dan bungkus makanan ringan. Bahkan, bantal sofa lelaki itu tergeletak di bawah.

Mahen duduk di sofa, sorot matanya sendu, kayaknya raga tanpa jiwa. "Gue gak punya apa-apa sekarang," ucap Mahen.

Lelaki itu bahkan tidak tidur semalaman, hanya menangis sambil mengadukan nasibnya kepada kesunyian. Matanya sembab, tubuhnya lemah lesu membuat para temannya menatap dengan iba.

Dara yang tidak bisa melihat kerusuhan, ia segera memungut sampah itu. Dino kemudian membantu istrinya, mengambil bungkus makanan tersebut dan membuangnya di tempat sampah di dapur.

Tidak peduli bagaimana acuhnya lelaki itu, Bama meletakkan kue buatan Dara di atas meja di depan Mahen, membuat cowok tersebut membulatkan mata. Lalu, Bama menancapkan lilin kecil di sana dan menyalakannya dengan korek api.

"Kita ada di sini, Hen," ujar Darwin, merangkul pundak Mahen dari samping.

Mahen hanya diam menatap lilin yang menyala, air matanya menetes tanpa terasa. "Lo masih punya kita dan kita akan selalu ada buat lo," sambung Hamid.

"Semuanya peduli sama lo," ujar Derwan, ikut duduk di samping Mahen. Kini, Mahen diapit oleh dua kembar itu. "Jangan terlalu larut!"

"Kita keluarga," kata Dino, yang baru kembali dari dapur. Lalu, dia merangkul istrinya yang berdiri di sampingnya. "Semuanya keluarga."

Bahagia, sedih, semua perasaan menjadi satu membuatnya sulit membuat ekspresi. Benar. Ia selalu bahagia bila bersama dengan rumah keduanya, Ultimate Phoenix membuatnya selalu merasa dihargai. Air mata menetes deras kerena para temannya bertepuk tangan, mengiringi lagu selamat ulang tahun.

"Selamat ulang tahun, Mahen." Mereka bersenandung bersama, bertepuk tangan sambil menatap lelaki itu, yang terus meneteskan air mata.

"Selamat ulang tahun, Mahen. Selamat ulang tahun!" Lalu, Mahen meniup lilin di depannya dengan perasaan bahagia. Namun, Aga malah memukul kecil lelaki itu.

"LAGU TIUP LILINNYA BELUM, BODOH!" tegur Aga, merasa kesal dengan temannya itu. "Buru-buru banget." Lalu, Aga kembali menyalakan lilin yang mati itu, dengan korek api di tangannya.

Hal tersebut sontak mengundang tawa para temannya, melihat pertengkaran Mahen dan Aga yang seperti biasanya. Aga menatap tajam Mahen, sedangkan Mahen hanya tersenyum tipis.

Suasana berubah drastis, meski tidak sepenuhnya menghapus kesedihan lelaki itu. Setidaknya, Mahen sekarang bisa tersenyum lebar seperti biasanya. Senyuman tengil cowok itu, ternyata menyimpan banyak luka.

Demi menghibur Mahen, agar dia melupakan setidaknya setengah kesedihannya. Ketua Ultimate Phoenix mengajak seluruh anggota Ultimate Phoenix berkumpul untuk makan besar di basecamp. Orang tua Mahen pun belum datang, yang katanya akan pulang menemui putranya.

Tidak semua orang tua mengharapkan anaknya, tetapi semua anak mengharapkan orang tuanya.

Meski malam itu penuh nyamuk yang terbang, bahkan hinggap di kulit dan menyesap darah di tubuh, hal tersebut tidak membuat para pemuda itu beranjak dari sana. Sebisa mungkin, mereka membuat lelucon hingga mengundang tawa Mahen. Sedikit bekerja keras hingga Mahen melupakan lukanya.

Makan besar dengan ditraktir ketua Ultimate Phoenix, tentu saja tidak bisa ditolak. Mereka bersenang-senang menyantap makanan di depannya, sambil sesekali bercanda tawa.

Dara juga turut serta dalam makan-makan itu, dia menjadi wanita satu-satunya di sana, canggung tentu saja. Dara sudah selesai, kemudian memutuskan untuk pergi ke rooftop, menikmati udara sejuk. Kebetulan, ia memakai baju kaos lengan pendek dan celana legging hitam. Lalu, sebuah jaket datang menutupi tubuhnya.

Dara yang sedang menatap jauh ke depan dengan kosong, segera menoleh dan mendapati Dino berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis. "Makasih ya, Ra. Udah mau ikut bantu senengin Mahen," ujar Dino.

Gadis itu tersenyum, kemudian mengangguk. Dia melihat goresan di lengan Dino. Perlahan, Dara mencoba menyentuhnya membuat Dino menoleh. "Kena apa ini, No?" tanya Dara.

"Gak apa-apa, Ra," jawab Dino, menutup lukanya itu.

Dara memutuskan untuk tidak banyak tanya. Dia memandang wajah Dino dari samping. Ukiran wajah yang terlihat indah, hidung mancung dan rahang kokohnya, Dara baru menyadari ini semua. "Berat gak, No, jadi ketua?" Entah mengapa, kini ia ingin tahu banyak soal Dino.

Dino menatap gadisnya, yang perlu mendongak untuk melihat ke arahnya. Lalu, Dino menggelengkan kepala. "Gak berat, selama gak ngejalanin ini sendiri," ucap Dino. "Lo tahu, kan, mereka selalu ada buat bantu gue?"

"Semuanya itu ringan, selagi gak ada yang mempersulit. Orang-orang di sekitar gue, selalu bantu gue. Jadi, gue bisa melalui ini semua berkat mereka. Termasuk lo, Ra," kata Dino. Tangannya bergerak mengelus rambut Dara, kemudian sentuhan itu semakin dalam hingga membuatnya menarik Dara ke dalam pelukan. "Lo support sistem terbaik gue, Ra."

Dara tersenyum tipis, merasakan hangatnya sebuah pelukan dari sang suami. Ia mencengkram kaos yang Dino kenakan, untuk menahan teriakan yang meronta dalam dirinya.

...🦋...

Sejak saat itu, Dara banyak berkomunikasi dengan anggota Ultimate Phoenix. Kedekatannya bersama Mahen, membuat hubungan mereka seperti adik dan kakak. Mahen selalu mencurahkan isi hatinya melalui Dara karena Mahen selalu menginginkan seorang wanita untuk tempat cerita. Menurut Mahen, tidak ada yang lebih mengerti dari perempuan.

Hari Selasa ini, Dara merasa hari-hari berjalan dengan sangat baik. Meski beberapa kali Dino membuatnya kesal. Dara sudah selesai bekerja, ia membuka ponselnya setelah berganti pakaian.

Dara mendapatkan pesan dari sang suami, yang mengatakan bahwa mamanya sakit. Lalu, Dara memutuskan untuk mengirimkan jawaban sebelum pergi pulang.

Mereka beradu argumen. Dino memaksa untuk menjemput istrinya itu, tetapi Dara menolak. Pasti akan merepotkan Dino karena jarak dari sana ke supermarket sangat jauh. Namun, setelah beberapa menit, Dara menang dan Dino tidak perlu menjemputnya.

Dino hanya takut istrinya akan pulang naik ojek, yang kebanyakan pasti adalah seorang pria. Akhirnya, Dara mengatakan bahwa ia pergi dengan bus di halte depan. Lalu, Dino mengizinkannya, meski sambil menangis di kamarnya.

Langit sore menemani langkah kaki Dara yang bergerak menuju halte. Tempat itu sudah terlihat tidak jauh. Lalu, Dara memutuskan untuk duduk di kursi sambil menunggu datangnya bus sekitar pukul lima.

Ketika ia mengedarkan pandangan, seorang pria berjalan mendekat. Wajah yang sangat diingat Dara.

Ambo berdiri di depan Dara, menatap sambil tersenyum tipis. "Hai, Dara," sapa Ambo. "Boleh bicara sebentar? Di sini aja, gak masalah." Dari raut wajahnya, terlihat sangat berharap mempunyai waktu berdua untuk berbicara dengan Dara.

...🦋...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!