Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Selesai
Stadion UA perlahan mulai kosong, menyisakan tumpukan sampah dan aroma kembang api yang memudar. Namun, bagi para pemenang, upacara penyerahan medali adalah momen yang paling berat.
Di atas podium tertinggi, Mitsuki berdiri dengan tenang. Di sampingnya, di podium ketiga, Todoroki menatap medali perunggunya dengan pandangan yang jauh lebih jernih daripada sebelumnya. Namun, di podium kedua, pemandangan jauh lebih kacau. Bakugo Katsuki harus dirantai pada tiang besi dan mulutnya disumpal karena ia terus mengamuk, tidak terima memenangkan posisi kedua karena Mitsuki "menahan diri" di detik terakhir.
All Might turun dari langit, mendarat dengan dentuman ringan untuk memberikan medali.
"Muda Mitsuki," ucap All Might sambil mengalungkan medali emas yang berkilau. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh telinga ninja Mitsuki. "Kau bertarung dengan luar biasa. Tapi ingat, emas ini membawa beban. Sekarang, seluruh dunia akan mencarimu."
Mitsuki menyentuh medali emasnya yang dingin. "Beban adalah sesuatu yang sudah biasa aku bawa, All Might. Tapi terima kasih... ini terasa lebih berat dari yang aku bayangkan."
Setelah upacara selesai, suasana di ruang ganti Kelas 1-A sangat kontras. Ada sorakan gembira dari Kirishima dan Kaminari, namun juga ada keheningan dari arah bangku Bakugo.
"Mitsuki! Kau benar-benar gila!" seru Kaminari sambil merangkul bahu Mitsuki. "Kau juara satu! Kau tahu tidak? Nama 'Mitsuki' sekarang jadi trending topic nomor satu di media sosial!"
"Dan kau mengalahkan Todoroki dan Bakugo berturut-turut," tambah Sero dengan wajah takjub. "Kau benar-benar monster, kawan."
Mitsuki hanya tersenyum tipis. Ia sedang memperhatikan tangannya yang tadi digunakan untuk menahan ledakan Bakugo. Kulitnya sedikit mengelupas, namun proses regenerasi seluler di bawahnya sudah mulai bekerja, mengeluarkan uap tipis yang tidak disadari orang lain.
Tiba-tiba, Bakugo berdiri. Ia menendang kursinya hingga terjatuh. Ia berjalan lurus ke arah Mitsuki, berhenti tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Suasana ruang ganti seketika senyap.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu," desis Bakugo. "Lain kali kau bertarung denganku, jika kau tidak menggunakan seluruh kekuatanmu untuk membunuhku, aku sendiri yang akan menghancurkanmu. Mengerti, Wajah Pucat?!"
Tanpa menunggu jawaban, Bakugo membanting pintu dan pergi.
"Dia hanya... sedang bersemangat, kurasa," ucap Izuku mencoba mencairkan suasana, meski ia sendiri terlihat khawatir.
Makan Malam yang "Normal"
Malam itu, Iida mengusulkan agar mereka semua pergi makan bersama di sebuah restoran dekat asrama untuk merayakan kemenangan kelas mereka. Meskipun beberapa orang tidak ikut, sebagian besar murid Kelas 1-A berkumpul di sebuah kedai ramen besar.
Mitsuki duduk di antara Izuku dan Uraraka. Di depannya ada semangkuk besar ramen miso dengan ekstra bawang putih—makanan yang menurutnya memiliki profil kimia yang menarik.
"Selamat untuk kemenanganmu, Mitsuki-kun!" Uraraka mengangkat gelas teh hijaunya.
"Terima kasih, Uraraka-san," jawab Mitsuki. Ia melihat teman-temannya yang tertawa dan bercanda. Ia merasa ada sesuatu yang bergetar di dadanya—sebuah perasaan hangat yang tidak ada dalam kode genetiknya.
"Mitsuki-kun," panggil Izuku pelan. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Maksudku, dengan semua tawaran magang yang pasti akan membanjirimu?"
"Aku belum tahu," Mitsuki menyesap tehnya. "Aku harus melihat agensi mana yang memiliki 'perpustakaan' informasi paling luas. Aku masih ingin belajar banyak tentang dunia ini."
Keesokan harinya di sekolah, Aizawa-sensei masuk dengan setumpuk dokumen. Wajahnya masih terbungkus perban, namun matanya menunjukkan kebanggaan yang tersembunyi.
"Kalian telah melakukan pekerjaan yang baik. Sekarang, hasil dari usaha kalian ada di sini," Aizawa menyalakan proyektor.
Daftar jumlah tawaran dari agensi pahlawan muncul di layar:
Mitsuki: 4.250 penawaran.
Shoto Todoroki: 4.120 penawaran.
Katsuki Bakugo: 3.556 penawaran. ...
Izuku Midoriya: 0 penawaran.
Seluruh kelas heboh melihat angka Mitsuki yang memecahkan rekor.
"Empat ribu?!" teriak Mineta. "Itu hampir semua agensi di Jepang ingin mempekerjakanmu!"
Mitsuki melihat daftar itu dengan bingung. Namanya ada di mana-mana. Namun, matanya tertuju pada satu nama agensi yang berada di bagian paling bawah daftar, ditulis dengan tinta yang berbeda, seolah baru saja ditambahkan secara manual.
Mitsuki menyipitkan mata. Hebi (Ular). Ia tahu itu bukan agensi pahlawan biasa. Itu adalah pesan dari Ayahnya.
Hujan di Taman Sekolah
Sore harinya, saat hujan gerimis mulai turun, Mitsuki berdiri sendirian di taman sekolah. Ia memegang formulir penawaran magang tersebut.
"Kau sedang bingung?"
Todoroki muncul dari balik pohon, memegang payung. Ia berjalan mendekat dan memayungi Mitsuki. "Agensi mana yang akan kau pilih? Endeavor... ayahku... dia sangat ingin kau bergabung dengannya setelah melihatmu mengalahkanku."
"Endeavor-san adalah pahlawan nomor dua yang hebat," ucap Mitsuki. "Tapi aku rasa aku tidak akan cocok dengan metodenya yang membara. Aku lebih suka... tempat yang tenang."
"Mitsuki," Todoroki menatapnya serius. "Terima kasih untuk yang di arena kemarin. Aku sudah bicara dengan ibuku. Dia... dia memaafkanku. Dan aku mulai belajar menerima sisi kiriku."
Mitsuki tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar sampai ke matanya. "Baguslah. Api itu terlihat cantik saat kau tidak menggunakannya untuk membenci."
Todoroki sedikit tersipu dan membuang muka. "Jangan bicara yang aneh-aneh. Pilih agensimu dengan bijak. Aku ingin bertarung denganmu lagi saat kita sudah lebih kuat."
Todoroki memberikan payungnya pada Mitsuki dan berjalan pergi menembus hujan, membiarkan tubuhnya sedikit basah. Mitsuki melihat payung di tangannya, lalu melihat formulir agensi "Hebi".
Ia meremas kertas formulir Hebi itu hingga hancur menjadi debu kecil.
"Maaf, Ayah," bisik Mitsuki. "Kali ini, aku akan memilih jalanku sendiri."
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen