"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Doa di Atas Awan
Menjemput Separuh Napas
Guncangan sayap pesawat tak sebanding dengan debar dada,Membelah cakrawala menuju tempat kau berada.Sebuah visa dan tiket kini menjadi jembatan,
Menuju pelukan yang selama ini hanya dalam angan.
Kairo, bersiaplah menyambut sang musafir rindu,
Yang datang membawa janji, bukan lagi sekadar sembilu.Tak sabar kulihat senyummu di bawah langit Mesir,Menghapus segala penantian yang sempat membuat getir.
Dua minggu berlalu sejak kabar kepulangan Mas Azam dan akad nikah jarak jauh yang menghebohkan asrama. Di Jawa Timur, kesibukan Gus Zidan memuncak. Bukan kesibukan mengajar di pesantren, melainkan kesibukan mengepak koper dan memastikan semua dokumen perjalanannya lengkap.
"Sudah semua, Gus?" tanya Bunda sambil membantu memasukkan beberapa botol sambal dan keripik tempe—permintaan khusus Bungah—ke dalam koper Zidan.
"Sudah, Bunda. Visa sudah keluar, tiket juga sudah di tangan. Besok pagi Zidan berangkat," jawab Zidan. Wajahnya nampak sangat cerah, seolah-olah beban ribuan tahun telah terangkat dari pundaknya.
Bunda tersenyum haru. "Bunda titip Bungah ya. Jaga dia baik-baik di sana. Jangan biarkan dia kelelahan belajar karena menunggumu datang."
Zidan mencium tangan Bunda dengan takzim. "Nggih, Bunda. Mohon doanya supaya perjalanan Zidan lancar sampai ke Kairo."
Sementara itu, di Kairo, Bungah sedang duduk di perpustakaan Al-Azhar. Di depannya bertumpuk kitab-kitab tebal, namun pikirannya melayang pada pesan singkat yang ia terima pagi tadi.
Mas Imamku: "Dek, besok pagi Mas terbang. Doakan Mas selamat sampai tujuan. Mas tidak sabar ingin melihat wajah 'ileran' kamu secara langsung, tapi kali ini dalam versi sudah mandi dan cantik."
Bungah tersenyum malu-malu sambil menutup wajahnya dengan kitab Ushul Fiqh. Teman-temannya di asrama sudah tahu bahwa "Suami Misterius" Bungah akan segera datang. Bahkan, mereka sudah menyiapkan penyambutan kecil-kecilan di ruang tamu asrama nanti.
"Bungah, ayo fokus! Katanya mau kasih ijazah Mumtaz buat Gus Zidan?" tegur Fatimah yang duduk di depannya.
"Eh, iya Fat! Maaf, aku cuma... masih merasa ini mimpi," jawab Bungah sambil kembali fokus ke baris-baris kitab.
Keesokan harinya, Zidan sudah berada di dalam pesawat. Saat burung besi itu lepas landas dari bandara Juanda, Zidan menatap ke bawah. Ia membayangkan Bungah yang sedang menengadah ke langit di belahan bumi lain.
Perjalanan belasan jam itu terasa sangat lama bagi seseorang yang sedang jatuh cinta. Zidan tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus membolak-balik hafalan Qur'annya untuk menenangkan debar jantungnya. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah wajah Bungah saat video call pertama mereka setelah sah—wajah polos tanpa cadar yang sangat ia syukuri.
Tunggu Mas, Sayang. Sebentar lagi, jarak ini hanya akan menjadi cerita dalam buku kenangan kita, batin Zidan.
Di atas ketinggian ribuan kaki, di atas awan yang berarak, Zidan memanjatkan doa paling tulus. Ia tidak hanya menjemput seorang istri, tapi ia sedang menjemput tanggung jawab surga yang baru saja ia terima. Kairo yang dulu hanya sebuah nama di peta bagi Zidan, kini telah berubah menjadi kota yang paling ia rindukan di seluruh dunia.
***
Penerbangan transnasional itu terasa begitu lambat bagi Zidan. Setiap kali pramugari mengumumkan sisa waktu perjalanan, ia merasa jam tangannya sengaja berjalan melambat. Di dalam kabin pesawat yang redup, Zidan lebih banyak terdiam, jemarinya tak henti memutar butiran tasbih, sementara hatinya tak henti melangitkan doa.
Ia mengeluarkan ponselnya yang sudah dalam mode pesawat, membuka galeri foto yang hanya berisi satu video singkat: rekaman layar saat Bungah tertidur pulas di malam pertama mereka sah sebagai suami istri. Zidan tersenyum tipis. Baginya, melihat tarikan napas tenang Bungah di layar itu adalah obat lelah paling mujarab.
Di sisi lain bumi, tepatnya di Bandara Internasional Kairo, suasana begitu riuh. Bungah sudah berdiri di pintu kedatangan internasional sejak dua jam sebelum jadwal mendarat pesawat Zidan. Ia tidak sendirian; Fatimah dan beberapa teman asramanya memaksa ikut dengan alasan "ingin melihat langsung sosok Gus yang bisa menaklukkan Mentari Kairo".
Bungah mengenakan cadar sutra berwarna hitam dengan gamis berwarna abu-abu gelap yang anggun. Tangannya menggenggam erat sebuah papan kertas kecil bertuliskan nama yang ia buat dengan kaligrafi indah: "Selamat Datang, Mas Imamku".
"Bungah, tenang dong. Bolak-balik terus kayak setrikaan, aku yang pusing lihatnya," goda Fatimah sambil memakan camilan.
"Aku gugup, Fat! Ini pertama kalinya aku ketemu Mas Zidan setelah status kami berubah. Rasanya beda banget sama waktu ketemu di bandara Indonesia dulu," bisik Bungah di balik cadarnya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Tiba-tiba, papan pengumuman berubah warna. Pesawat dari Dubai yang membawa Zidan dinyatakan telah mendarat. Jantung Bungah serasa berhenti berdetak sesaat.
Satu per satu penumpang mulai keluar dari pintu kedatangan. Bungah menajamkan pandangannya. Di antara kerumunan orang asing dan koper-koper besar, ia melihat seorang pria yang sangat familiar.
Pria itu mengenakan jaket winter berwarna hitam, celana kain gelap, dan membawa tas punggung sederhana. Wajahnya nampak sedikit lelah, namun matanya yang tajam terus menyisir kerumunan, mencari sesuatu—atau seseorang.
Begitu mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Zidan langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap sosok gadis bercadar yang memegang papan namanya dengan tangan gemetar itu. Senyum Zidan merekah—senyum yang sangat lebar hingga menampakkan binar kebahagiaan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Zidan mempercepat langkahnya, mengabaikan koper yang ia tarik. Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Zidan berhenti tepat di depan Bungah.
"Assalamu’alaikum, Sayang. Mas pulang... eh, maksudnya Mas datang," ucap Zidan dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang meluap.
Bungah tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk dalam, air matanya mulai membasahi cadarnya. "Wa... wa'alaikumussalam, Mas Zidan..."
Tanpa peduli dengan keramaian bandara atau sorakan "Cieee!" dari Fatimah dan teman-temannya di belakang, Zidan perlahan mengulurkan tangannya. Bukan untuk memeluk, karena ia tahu Bungah akan sangat malu di depan umum, melainkan untuk mengusap lembut puncak kepala istrinya yang tertutup khimar.
"Terima kasih sudah menunggu. Sekarang, Mas tidak perlu lagi menatap tembok atau layar HP untuk melihatmu," bisik Zidan rendah.
Bungah mendongak, matanya yang sembab menatap wajah suaminya dengan penuh rindu. Di bawah langit Kairo yang mulai menguning oleh senja, babak baru kehidupan mereka sebagai pengantin baru yang nyata, bukan lagi virtual, resmi dimulai.