Bagiku pulang adalah kembali bersamamu, tanpa peduli harus berapa banyak kehilangan yang harus kulalui.
Gadis miskin sepertiku memang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengejar mu, ongkos menuju kediamanmu saja aku tidak punya, konon lagi skill untuk memenangkan hatimu.
But, Appa i miss you. Aku hanya ingin menemui mu dan tetap bersamamu.
Love,
-Joelin-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diwelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arah Hati
Mickey melangkah menjauh dari asrama, menuju area parkir. Setelah sekian menit mengendarai sepeda motornya Mickey tiba di rumah.
"Sepi sekali tempat ini." Gumamnya tanpa sadar, entah sejak kapan dia merasa kesepian begini. Dengan enggan Mickey melangkah masuk ke dalam rumahnya yang legang.
Sementara itu, disebrang pagar rumah Mickey sepasang mata mengawasi setiap gerak geriknya.
"Lee Eum Son, akhirnya kau kembali. Dari mana saja kamu?" Gadis itu bergumam pelan sambil tersenyum sinis.
Perempuan dengan rambut lurus sebahu, dan tinggi 165 cm, pakaiannya yang modis menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang hidup dalam gelimang harta. Belum lagi mobil yang dia kendarai, merupakan edisi terbatas. Masih dengan senyum yang sulit diartikan perempuan itu keluar dari mobil yang terparkir di seberang rumah Mickey, lalu dengan sengaja dia mengeluarkan angin yang mengisi ban mobilnya.
"Kita bertemu lagi Eum Son." bisiknya lirih. Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari tas mahalnya, dalam sekejap dia terhubung dengan nomor yang dia tuju.
"Hallo, Eum Son."
"Iya dengan siapa?" tanya Mickey.
"Aku Jee Na. Kim Jee Na."
"Ah, Sunbae. Ada apa?"
"Sudah kukatakan panggil aku Jee Na. Tidak bisakah kau akrab sedikit?"
"Maaf Sunbae, kau tetaplah seniorku." jawab Mickey lagi. "Ah, bagaimana kabarmu?"
"Hahaha, tidak begitu baik. Aku sedang terjebak diperjalanan. Dan aku cukup kecewa setelah menghubungi orang terdekatku."
"Apa maksudmu?"
"Mobilku bermasalah, ban nya kempes. sementara pekerja keluargaku berkata mereka akan tiba di sini setelah 2 jam." Jawab Jee Na dengan kebohongannya.
"Dimana kau sekarang?"
"Di daerah Choengdam Dong, nomor 9".
"Itu alamatku."
"Benarkah? aku berada tepat di depan rumah nomor 9."
"Tunggu, aku akan segera keluar."
"Terimakasih Eum Son."
"Tidak perlu sungkan." Tut tut tut, sambungan telepon sudah diputuskan dari seberang. Mickey berlari keluar rumah dan menemukan sosok yang tidak asing diluar sana.
"Sunbae.."
"Eum Son, tolong panggil aku Jee Na, dengan begitu aku akan merasa lebih baik." rajuk gadis itu.
"Baiklah... baiklah"
"Apa kamu punya ban cadangan?"
"Ada di belakang."
Mickey pun mengganti ban mobil Jee Na, dan selesai dalam hitungan 20 menit.
"Sunbae, sudah selesai."
"Harus berapa kali kumohon padamu? panggil aku Jee Na. Kau boleh menolak perasaanku, tapi jangan menolak untuk menjadi temanku." ujar Jee Na ketus.
"Maaf, maaf. Jee Na, mobil mu sudah selesai. Hati-hati di jalan." Mickey berniat kembali ke dalam pekarangan rumahnya. Namun tiba-tiba sebuah sentuhan dari tangan yang dingin di lengan Mickey cukup untuk membuat pria itu menghentikan langkah.
"Eum Son, Setelah 4 bulan tidak bertemu tidakkah kamu ingin mengundangku bertamu kerumahmu? sekedar minum teh hangat, mungkin." ujar Jee Na.
"hmmmm.." Mickey merasa ragu-ragu membawa seorang perempuan kerumahnya.
"Tunggu dulu, kenapa aku begini? bukankah Joelin juga perempuan?" tanya Mickey pada dirinya sendiri.
"Eum Son, disini sungguh dingin. Aku akan berterimakasih untuk kemurahan hatimu." Jee Na menerobos melewati pagar rumah Mickey.
Mickey yang terkejut dengan sikap Jee Na, namun dia memilih untuk ikut masuk kerumah.
"Apa kau punya teh?" tanya Jee Na.
"Duduklah, aku akan menyiapkan untukmu." pinta Mickey.
"Untukmu juga." jawab Jee Na. Pria itu hanya mengangguk sambil berlalu ke dapur.
Sekian menit kemudian Mickey datang dengan dua cangkir teh hangat di tangannya.
"Silahkan minum" ujarnya sambil meletakkan kedua gelas tersebut di meja.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Jee Na.
"Aku sangat baik."
"Apakah ada hal terbaru di Lab? bagaimana kabar Mark dan Si An?"
"Mereka juga baik. Sunbae, maaf Jee Na, berkunjunglah ke Lab ada seorang mahasiswa asing, dia dari Indonesia tapi bahasa inggrisnya sangat bagus." jelas Mickey sambil menyeruput teh nya yang masih panas.
"Seorang gadis?" tanya Jee Na.
"Iya." Jawab Mickey singkat.
"Kurasa dia sangat payah dalam belajar. Bukankah dia banyak ketinggalan pelajaran di kelas?" Tanya Jee Na penuh selidik.
"Tidak juga. Mungkin karena dia blasteran Jerman dan Indonesia, pola pikirnya sangat luas. Dia cukup lucu, walau kadang memang sangat merepotkan" Jawab Mickey sambil tersenyum.
Jee Na terdiam mendengar bagaimana Mickey sangat bersemangat membicarakan gadis asing itu.
"Apa jangan-jangan gadis yang kulihat pagi ini adalah dia?" tanya Jee Na dalam hati.
"Apa kau menyukainya?" tanya Jee Na.
"Minumlah teh mu." Mickey berusaha mengalihkan percakapan mereka.
"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi." batin Jee Na.
Mereka berdua menikmati teh masing-masing dalam keadaan terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Eum Son, aku ingin air panasnya secangkir lagi." Ujar Jee Na tiba-tiba. Sebuah ide cemerlang muncul dibenaknya.
"Ok." Mickey berlalu kedapur dan meninggalkan Jee Na.
Jee Na mengeledah tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, lalu memasukkannya kedalam minuman Mickey.
"Aku akan mengurangi dosisnya, aku ingin dia menikmati dan mengingat permainan ini dengan jelas." ujar Jee Na pelan sambil tersenyum licik.
Beberapa menit kemudian Mickey kembali dengan sebuah cangkir ditangannya.
"Minumlah."
"Terimakasih Eum Son. Kau juga, minumlah teh mu."
Tanpa jawaban Mickey langsung meraih tehnya meneguk habis semuanya.
"Jangan sampai dingin. Teh tidak akan seenak ini ketika dingin." batin Mickey.
"oh ya, bagaimana dengan prof.Park?" tanya Jee Na.
"Seperti biasa. Dia sangat baik, ramah, dan pekerja keras." jawab Mickey.
"Tunggu sebentar, aku lupa menghubungi keluargaku. Mereka harus tahu bahwa mobilku sudah beres." ujar Jee Na, dia hanya ingin mengulur waktu hingga obat perangsang yang dia berikan pada Mickey bereaksi.
"Silahkan." jawab Mickey.
Jee Na mengambil jarak dari Mickey.
"Hallo.. iya, mobilku sudah diperbaiki. kalian tidak perlu kemari." ucap Jee Na. sesungguhnya dia tidak menelepon siapa-siapa. Hanya sebuah acting belaka untuk melengkapi skenario yang dia persiapkan sepanjang hari ini.
Dari tempatnya berdiri, dia mengamati Mickey yang mulai gelisah. Dan tiba-tiba pria itu pergi kekamar tidurnya.
"Kamu hanya milikku." Bisik Jee Na dalam hati sambil mengikuti Mickey dengan langkah hati-hati.
Setelah lima menit berlalu Jee Na melangkah ke kamar Mickey.
"Eun Son-aaa" panggil Jee Na setengah berteriak.
"Keluarlah sebentar, aku ingin pulang."
Sayup-sayup dibawah guyuran shower Mickey mendengar penuturan Jee Na.
"ah, aku tidak sopan." ujar Mickey pada diri sendiri. Dia meraih handuk dan keluar dari kamar mandi sambil berjuang menahan hasratnya yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Kau akan pulang? hati-hati ya." Jawab Mickey.
"Izinkan aku meminjam kamar mandi mu." Jee Na berlari kedalam kamar mandi dan menutup pintu tanpa menguncinya. Setelah mengguyur tubuhnya di shower Jee Na menherit kencang.
Mickey yang mendengar suara Jee Na langsung berlari ke arah kamar mandi dan berniat mendobrak pintunya khawatir Jee Na mendapat masalah. Namun ternyata pintu itu tidak ditutup.
" Jee Na, kau baik-baik saja?" Mickey menanya Jee Na yang sedang terduduk dilantai dengan bajunya yang basah.
"Maaf, aku tidak sengaja menyalakan air dingin. Maaf mengejutkanmu. Aku juga terkejut sekali." Jawab Jee Na polos sambil berdiri. Pakaian berbahan transparan yang dia pakai kini basah semua dan membuat tubuhnya semakin terekspose.
Mickey yang sejak tadi berjuang melawan pengaruh obat perangsang pun semakin terbakar. Juniornya kini siap bertempur.
Mickey melangkah mendekati Jee Na.
"Keringkan tubuhmu." ujar Mickey.
"Kau harus membantuku melakukannya." bisik Jee Na ditelinga Mickey membuat pria itu semakin kehilangan akal.
Tiba-tiba kedua tangan Mickey melingkar di pinggang Jee Na. Sementara bibirnya melahap rakus bibir perempuan itu. Setelah sekian menit berciuman dikamar mandi Mickey mulai menggerakkan tangannya agresif.
"Eum Son. Hentikan!!" pinta Jee Na, melepaskan ciuman mereka. "Bukankah katamu kau tidak ingin jadi kekasihku?" tanya Jee Na lagi.
"Jee Na aku sangat menginginkannya sekarang. jadilah wanitaku." Pinta Mickey kembali ******* bibir Jee Na.
lalu malam itupun mereka habiskan dengan perasaan yang membara. Mickey yang dibawah pengaruh obat dan Jee Na yang akhirnya merasa memenangkan cintanya.
\*\*\*
Mickey membuka matanya perlahan. Lalu mengerjap berulang kali, menyesuaikan retinanya dengan cahaya mentari yang masuk ke dalam kamar.
"Selamat pagi." sebuah suara mengejutkan Mickey.
"Bukankah semalam aku mengantar Joelin pulang?" tanyanya dalam hati.
"Sayang, apa yang kau pikirkan? selamat pagi." ujar pemilik suara yang kini bermanja-manja memeluk tubuhnya yang masih berbaring di tempat tidur.
"Jee Na!!?" tanya Mickey dalam hati. Seketika semua kejadian tadi malam berputar dalam kepala Mickey. Tiba-tiba rasa sakit menghantam hatinya.
"Apa yang kulakukan?" tanya Mickey dalam hati.
"Jangan bengong, semalam hari jadian kita. aku bahagia, akhirnya kamu menerima cintaku." Jee Na masih memeluk Mickey.
"Kau menyesal menemukan bahwa kau tidur denganku? aku tidak akan mengampuni gadis itu, kau bahkan menyebut namanya saat bercinta denganku. Joelin, aku akan ingat namamu." omel Jee Na dalam hati.
Sementara Mickey masih terdiam dan tidak percaya dengan semua yang telah terjadi.
"Apakah aku memang tidak jatuh cinta pada Joelin? Mengapa aku malah pacaran denga Jee Na? Apakah arah hati ini memang kepada gadis ini?" Mickey sibuk dengan pertanyaan di hatinya.
sukes iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan lelaki letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
SEMANGAT Anna Divya Lin