Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Api dari elang raksasa perlahan memudar.
Scorpion King akhirnya terbakar habis dan mati, meninggalkan tanah hangus, serpihan kitin, dan aroma racun yang tersisa.
Tujuh lapis pelindung Wakasa yang sebelumnya melingkupi Fannisa dan Silka menghilang seketika, cahaya mereka memudar, meninggalkan udara panas yang mulai menenangkan.
Wakasa melangkah ke arah mereka, wajahnya tenang tapi sorot matanya penuh perhatian.
Fannisa menatapnya, napasnya masih berat.
“…Wakasa-kun… kau… hebat…” suaranya serak.
Silka menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, matanya melebar, tubuhnya gemetar.
“…K-kau… siapa?!” bisiknya, setengah terkejut, setengah kagum.
Wakasa menatapnya sebentar, lalu mengangkat tangan.
“…Sekarang kita harus pastikan kalian aman dulu,” gumamnya.
Dengan satu gerakan, Poison Immunity Wakasa menyebar ke Fannisa dan Silka, aura tipis mengelilingi tubuh mereka, membuat racun yang menempel perlahan tidak lagi berbahaya.
Fannisa menatap tangan Wakasa, masih terpana tapi lega.
“…Kau benar-benar hebat, Wakasa-kun…”
Silka menunduk, masih gemetar, matanya terus mengikuti gerakan Wakasa.
“…Aku… aku belum pernah lihat orang kayak kau… dan… tiba-tiba muncul dari udara gitu…”
Wakasa tersenyum tipis.
“…Iya. Kalian masih lemah. Gak mau ambil risiko lebih.”
Fannisa mengangguk, lega.
“…Terima kasih, Wakasa-kun… kau… menyelamatkan kami.”
Silka menelan ludah, suaranya pelan tapi jelas:
“…Aku… gak tau harus bilang apa… tapi… terima kasih…”
Wakasa menunduk sebentar, lalu memusatkan energi.
“…Sekarang… kita cek kondisi kalian.”
Dia mengangkat tangannya dan mengucapkan mantra singkat.
“…Heal.”
Seketika, luka-luka Fannisa dan Silka langsung pulih, darah yang mengering menghilang, memar lenyap, dan racun yang menempel perlahan sirna dari kulit mereka.
Fannisa menatap tubuhnya, lega.
“…Wow… rasanya… racun itu hilang… tapi…” ia menatap Wakasa.
“…tenagaku… masih habis…”
Silka mengangguk, tubuhnya masih lemas, matanya terus menatap Wakasa dengan campuran kagum dan heran.
“…I-it’s… unbelievable… tapi… ya… racunnya hilang…”
Wakasa menatap keduanya, ekspresinya tenang tapi tegas.
“…Itu normal. Heal cuma bersihkan luka dan racun, gak mengembalikan tenaga. Kalian harus istirahat nanti.”
Fannisa tersenyum pelan, matanya berbinar lega.
“…Kau… benar-benar menyelamatkan kami, Wakasa-kun…”
Silka masih terdiam, menunduk sebentar, lalu perlahan mengangguk, masih jelas terlihat kagum.
“…Aku… gak bakal lupa ini…” Gumam nya
Wakasa mengangguk singkat, menatap medan yang hancur di depan mereka.
“…Tenang saja sekarang kita aman.?”
Fannisa dan Silka hanya mengangguk, masih kelelahan tapi perasaan lega mulai mengisi dada mereka.
Fannisa menatap Wakasa, alisnya berkerut sedikit.
“…Tapi… kau tiba-tiba muncul di sini… gimana bisa sampai ke medan ini secepat itu, Wakasa-kun?”
Silka, masih gemetar tapi penasaran, menatap Wakasa lebar-lebar.
“…Iya… kau tiba-tiba aja muncul di depan kami… aku gak ngerti sama sekali…”
Wakasa tersenyum tipis, menurunkan pandangannya ke mereka berdua.
“…Ah, gampang aja… kebetulan aku sedang lewat sini, terus gak sengaja ketemu kalian,” jawabnya sambil mengangkat bahu, nada bercandanya santai.
Fannisa menatapnya, setengah tersenyum, setengah kesal.
“…Kebetulan lewat? Kau bilang gitu aja, padahal kita hampir mati di sini…”
Silka menelan ludah, matanya masih melebar kagum.
“…Aku… gak pernah lihat orang kayak kau… tiba-tiba muncul dan langsung menyelamatkan kami , tapi terimakasih…”
Wakasa menatap mereka berdua, senyum tipis tetap di wajahnya.
“…eeem , tapi syukurlah kalian baik baik aja”
Fannisa menghela napas, tersenyum lega.
“…em ini semua berkat mu, Wakasa-kun…”
Silka menunduk sebentar, lalu tersenyum malu-malu, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Wakasa mengangkat satu tangan ke udara, sedikit menunduk dengan nada bercanda.
“…Baiklah ayo kita pulang.”
Fannisa tersenyum tipis dan mengangguk
" em "
Silka tetap menatap Wakasa sebentar, masih kagum tapi sedikit mulai merasa nyaman dengan kehadirannya.
Wakasa menatap Fannisa dan Silka sebentar, lalu menunduk sedikit.
Dengan lembut, ia memegang tangan mereka berdua.
“…Ayo kita pulang,” ucapnya dengan nada tenang.
Fannisa menatap tangan Wakasa, bibirnya menganga sedikit.
“…Ehh…!” bisiknya pelan, wajahnya memerah.
Silka hampir tersedak napasnya sendiri, matanya melebar, tubuhnya gemetar.
“…Ah… aku… eh… ini…!”
Wakasa tersenyum tipis, tetap memegang tangan mereka, tanpa lepas.
“…Santai aja. Aku cuma mau memastikan kalian aman sampai sampai tempat yang lebih nyaman.”
Dalam sekejap, angin lembut berhembus di sekitar mereka, dan pandangan mereka berubah.
Tanah hangus dan bekas medan pertarungan hilang dari mata mereka. Sebagai gantinya, mereka sudah berdiri di taman belakang kerajaan, rumput hijau lembut di bawah kaki, bunga-bunga bermekaran, dan udara lebih segar.
Fannisa menatap sekeliling, masih menahan rasa kagum.
“…Eh… kita… di sini sekarang…?”
Silka menunduk sebentar, masih memegang tangan Wakasa, wajahnya memerah.
“…Aku… gak ngerti… tapi… wow…”
Wakasa melepaskan tangan mereka perlahan, menatap keduanya dengan lembut.
“…Aku cuma bisa mengantar kalian sampai di sini,” gumamnya pelan.
“…Sisanya… kalian harus lanjut sendiri. Jangan lupa jaga diri, oke?”
Fannisa tersenyum tipis, sedikit lega tapi masih malu.
“…Terima kasih, Wakasa-kun… sudah bantu sampai sini…”
Silka menunduk, masih memerah, tapi menatap Wakasa sekilas.
“…Iya… terima kasih… benar-benar…”
Wakasa tersenyum sebentar, lalu menoleh, bersiap pergi.
“…Kalo begitu aku pergi dulu.”
Sebelum mata berkedip wakasa sudah menghilang dari tempatnya berdiri.
“…Eh… Wakasa-kun…?” gumamnya pelan, napasnya tercekat.
Silka menelan ludah, matanya melebar, tubuhnya masih gemetar.
“…Aku… aku… gak ngerti… dia… tiba-tiba aja hilang…”
Keduanya hanya bisa menatap kosong ke arah tempat Wakasa berdiri tadi. Udara masih terasa hangat dari kehadirannya, tapi sosoknya benar-benar lenyap.
Fannisa menghela napas, setengah tertawa pelan, setengah masih tidak percaya.
“…Dia… benar-benar… luar biasa…”
Silka menunduk sebentar, lalu menatap langit di atas taman, wajahnya masih memerah karena kagum dan sedikit heran.
“…Aku… belum pernah lihat orang kayak dia… tiba-tiba muncul, bantu, terus… hilang begitu aja…”
Keduanya berdiri sejenak dalam keheningan, masih merasakan aura Wakasa yang baru saja ada di sekitar mereka.
Hanya ada rumput hijau, bunga-bunga yang bergoyang pelan tertiup angin, dan sisa ketegangan yang perlahan menghilang.
Fannisa menatap Silka, senyum tipis muncul di wajahnya.
“…Kau lihat kan… dia benar-benar… beda dari semua yang pernah kita kenal.”
Silka mengangguk, wajahnya masih memerah, tapi mata berbinar penuh kekaguman.
“…Iya… dia… luar biasa…”
Di sisi lain, di dalam kantor petualang, sore hampir berganti malam. Cahaya jingga matahari menembus jendela, memantul di meja kayu tempat Sakura, Diana, dan Starla duduk bersama.
Diana menyilangkan tangan, wajahnya sedikit masam.
“Udah sore… tapi dia belum balik juga.”
Starla hanya mengangguk pelan. Tangannya menggenggam ujung rok, wajahnya jelas cemas meski berusaha disembunyikan.
Sakura menatap ke arah pintu, alisnya sedikit berkerut.
“…Apa dia baik-baik aja ya.”
“Entah apa dia baik-baik saja ya,”
sebuah suara santai tiba-tiba muncul dari belakang mereka, disertai senyum usil.
Ketiganya sontak menengok bersamaan.
“Wakasa!” (Diana)
“Wakasa-kun!” (Starla)
“Wakasa-kun!” (Sakura)
Diana berdiri setengah bangkit dari kursinya, wajahnya kesal tapi jelas lega.
“Dasar! Ngagetin aja!”
Starla langsung berdiri, wajahnya cerah sekaligus lega.
“Wakasa-kun… kau sudah kembali…”
Sakura menghela napas panjang, ekspresinya campur aduk antara lega dan kesal.
“Hah… Wakasa. Kau ini selalu saja bikin orang khawatir.”
Wakasa hanya tertawa kecil, menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Iyaa… maaf, maaf,” katanya sambil tertawa ringan.
“Hahaha…”
Meski mulutnya tertawa, sorot matanya hangat—jelas senang melihat mereka semua masih menunggunya.
Dan tanpa mereka sadari, ketegangan yang sejak sore mengendap perlahan menguap, digantikan rasa lega yang hangat di meja itu.