[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [09]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Ada beberapa orang yang menganggapmu istimewa tapi kau tidak menyadari keistimewaan itu....
...-Celine Celina-...
Saat ini Iris sedang berada di dalam mobil bersama papanya untuk pergi ke sekolah, setelah kejadian malam tadi, Zhein dan Iris semakin dekat apalagi mama dan papanya Iris mengenal Zhein, Zhein adalah salah satu anak pengusaha terkaya yang berkerja sama dengan perusahaan papanya Iris.
"Kapan-kapan bawa Zhein lagi ya" ucap Harendra, papanya Iris yang sedang menyetir mobil.
"Ah apaan sih pah, gak mau." ujar Iris dengan wajah kesal.
"Gak boleh gitu, kamu itu harus baik sama Zhein. Kalau gak ada papanya Zhein, mungkin kita udah di jalanan sekarang." ucap Harendra.
"Pa, yang baik itu papanya bukan anaknya, anaknya cuman punya nama dari papanya aja." ujar Iris kesal.
"Suth, kamu itu kalau di bilangin gak bisa masuk-masuk." ucap Harendra.
"Ya iyalah pa, kalau Zhein baik Iris juga pasti baik, lah ini malah nyebelin." gumam Iris yang memalingkan wajahnya ke kaca mobil.
"Hati-hati, nanti dari benci jadi cinta." ucap Harendra sambil tersenyum.
"Terserah papa." ujar Iris.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah perbincangan Iris dengan ayahnya, akhirnya Iris bisa mendinginkan telinganya dari nama Zhein yang terus saja terngiang selama di jalan.
Iris melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas untuk menemui sahabatnya itu, sahabat yang telah mengambil cinta pandangan pertama di masa SMA, sungguh miris bukan?
"Lin, Sherin mana?" tanya Iris sambil duduk di bangkunya.
"Dia lagi jaga Haiden di rumah sakit." jawab Celine.
"Mama sama Papanya Haiden gak ke rumah sakit?" tanya Iris.
"Lagi di luar negeri, ngurusin perkerjaan, katanya sih bakal pulang secepatnya tapi gak tau kapan." jawab Celine.
"Oh, gitu ya, terus keadaannya gimana? Udah sadar?" tanya Iris.
"Setelah lo sama Zhein keluar, keadaan Haiden sempet memburuk tapi setelah kurang lebih 1 jam, keadaannya kembali membaik." jawab Celine.
"Lo suka ya sama Haiden?" tanya Celine tiba-tiba.
Iris yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung diam tak berkutik, lidahnya seolah kelu untuk mengucapkan kata tidak.
Kenapa sih lidah gue gak mau di ajak kompromi? tanya Iris dalam hati.
"Ris? Gue benerkan? Lo suka sama Haiden?" tanya Celine bertubi-tubi.
Iris semakin terpojok dengan pertanyaan yang bertubi-tubi itu, dirinya seolah seperti orang kebingungan.
"Gak apa-apa, bilang aja, gue juga dulu pernah ada di posisi lo Ris." ucap Celine sambil menatap kosong kearah depan.
"Maksudnya?" tanya Iris bingung.
"Sherin pernah ngambil pacar gue dan waktu itu gue sayang banget sama dia." jawab Celine sambil tersenyum pedih. Iris hanya menatap mata Celine, tidak ada kebohongan dari pancaran matanya, seolah Celine sedang mencurahkan apa yang ada di hatinya.
"Gue gak bohong Ris, ini realita hidup. Keadaan lo sekarang sama kayak keadaan gue dulu." sambung Celine sambil mengelus tangan Iris.
"Gue tau itu pasti hal terberat, ketika di beri dua pilihan yang megharus kita untuk memilih salah satu orang yang paling kita sayang." ucap Iris sambil menghela nafasnya.
"Iya, dulu gue sempet jauhin Sherin karena masalah ini. Tapi karena gue gak tega dengan keadaan Sherin yang di bully satu sekolah, jadinya gue temenan lagi sama dia, soal masalah dia ngerebut pacar gue, itu adalah kenangan buat gue biar lebih ber hati-hati lagi." ujar Celine.
"Lo orang pertama yang gue temuin, langsung nyerahin orang itu dengan ikhlas. Meskipun sebenarnya rasa itu susah untuk dihilangin." sambung Celine.
"Iya, gue suka Haiden tapi gue juga masih bingung sama perasaan gue." ucap Iris.
"Gue tau, lo bingung karena Zhein." ujar Celine.
"Zhein? Gak, gak mungkin gue bingung karena orang yang kayak gitu." ucap Iris
"Gue juga dulu sama Ken karena benci. Dulu, gue gak suka banget sama Ken, sifatnya nyebelin banget tapi entah kenapa semakin hari gue semakin kepikiran sama dia dan ya jadi sampai sekarang." ujar Celine sambil tersenyum.
"Tapi gue gak gitu lin, kehidupan orang-orang itu berbeda-beda." ujar Iris.
"Iya beda. Sampai malem aja lo dianterin Zhein kan?" tanya Celine. Iris langsung melotot kan matanya kaget mendengar pertanyaan Celine.
Kok bisa tau? Mati gue! Gimana kalau Celine ngejodoh-jodohin gue sama Zhein?
Amit, amit semoga aja engga. ucap Iris dalam hati.
"Gue gak perlu repot buat jodohin lo Ris, karena Zhein tipikal orang yang susah banget deket sama cewek, sekalinya deket itu berarti karena hatinya yang baik." ucap Celine, Iris kembali dikagetkan dengan perkataan Celine yang bisa menebak isi hatinya.
"Kok lo tau isi hati gue? Apa jangan-jangan lo punya kemampuan lebih ya?" tanya Iris.
"Gue gak punya kelebihan apa-apa Ris, kalaupun gue punya kemampuan lebih mungkin gue udah tau perasaan lo sama Zhein." jawab Celine.
"Gue kan udah bilang, apa yang lo rasain saat ini, gue juga pernah ngerasain nya dulu." sambung Celine sambil tersenyum ke arah Iris.
Zhein nyebelin!! ucap Iris dalam hati.
Lo tau kan lin? Lo bisa baca hati gue? tanya Iris dalam hati.
Namun tidak ada jawaban dari Celine, itu artinya Celine memang tidak mempunyai kemampuan lebih.
"Tuh Zhein dateng." ucap Celine sambil melihat kebelakang Iris, dalam seketika keadaan di kelas menjadi berisik karena kedatangan Zhein yang secara tiba-tiba, banyak siswi yang menjerit histeris karena kedatangannya, banyak juga yang memakai make up dan membenarkan rambutnya agar terlihat cantik.
Iris langsung melihat kebelakang yang di tunjuk oleh Celine, dan benar saja apa yang di katakan Celine, Zhein datang dengan pesonanya dan ketampanannya, apalagi saat ini rambut Zhein sedang dalam keadaan basah dan memakai hoodie berwarna hitam dengan tulisan Xlovenos di dada kirinya.
"Kalung lo nyangkut." ucap Zhein dengan tatapan dinginnya. Iris hanya menatap kalung nya itu yang berada di genggaman Zhein.
"Ambil." ujar Zhein sambil memberikan kalung bertuliskan Iris ke tangannya.
"Ris." gumam Celine sambil menyenggol tangan Iris.
"Eh, iya." ucap Iris bingung sambil menatap ke arah Celine.
"Bilang makasih kek, gak usah kayak orang bego gini. Bukannya lo benci ya sama Zhein? Tapi gue liat kok lo kayak yang terpesona gitu ya" tanya Celine dengan suara berbisik.
Iris langsung tersadar dari lamunannya itu sambil menatap ke arah tangannya yang masih di genggam oleh Zhein, wangi parfum milik Zhein menyeruak masuk kedalam indra penciuman nya, parfum yang begitu menenangkan, seolah Iris ingin sekali memeluknya.
Ris, lo mikirin apaan sih? tanyanya dalam hati yang langsung tersadar dari lamunannya.
"Makasih." ucap Iris sambil menarik tangannya dari genggaman Zhein.
"Iya." ujar Zhein sambil berlalu pergi dan masih mempertahankan wajah dinginnya itu.
"Kenapa sih tu orang? Sakit?" tanya Iris bingung yang masih memandang punggung Zhein yang hampir menghilang dari pandangannya.
"Harusnya Zhein yang nanya itu ke lo." jawab Celine sambil tertawa.
"Hah?" tanya Iris bingung.
"Gak, Zhein emang gitu, cuman beberapa orang yang tau hangatnya Zhein, nyebelinnya, tengilnya. Cuman beberapa aja, dan kalau lo orang baru, berarti lo istimewa di hatinya." jawab Celine.
"Ya kali istimewa, nganter aja kayak yang gak niat banget." ucap Iris.
"Terserah lo deh." ujar Celine.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗