follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9- Piano kenangan
"Memangnya Alice bicara apa saja?" tanya Jody penasaran.
Sebenarnya Jovanka merasa kesal jika mengingat perkataan Alice, namun jika ia tidak bicara pamannya itu tidak akan pernah tahu bagaimana sifat wanita yang mengejarnya itu. Akhirnya Jovanka menceritakan semua apa yang di katakan oleh Alice.
Jody terlihat serius mendengarkan cerita Jovanka, ia tidak menyangka jika wanita yang ia anggap anggun dan berwibawa itu memiliki hati yang buruk, bahkan bermaksud menciptakan jurang antara dirinya dan Jovanka.
"Mulai sekarang apapun yang dikatakan oleh orang lain abaikan saja, percayalah pada Paman karena Paman tidak akan pernah membohongimu," pesan Jody.
Jovanka mengangguk tanda mengiyakan. Akhirnya Jody merasa lega dapat membuat gadis itu memaafkannya.
Meski Jody di anggap terlalu memanjakan gadis itu, namun dia tidak perduli. Jody hanya merasa nyaman sejak pertama kali gadis kesayangannya itu menggenggam jarinya.
***
Hari berikutnya Jody mengajak Jovanka untuk datang ke perusahaan milik keluarga Michelle. Nathan yang masih menjabat sebagai general manager disana pun terkejut ketika keponakannya itu ada di London dan tidak memberitahukan kedatangannya.
"Jo! Kamu disini?" tanya Nathan begitu melihat Jovanka
"Paman, iya!" jawab Jovanka manja seraya memeluk pamannya itu.
"Datang kenapa tidak memberi kabar, dan juga kenapa tidak kerumah?" tanya Nathan.
Jovanka melepas pelukannya pada Nathan dan tersenyum pada pamannya itu.
"Baru kemarin sampai, nanti aku akan mampir ke rumah," jawab Jovanka.
"Jadi kamu tidur di rumah Jody?" tanya Nathan seraya melirik ke arah Jody.
"Iya," jawab Jovanka.
"Baiklah, nanti malam datanglah kerumah, Bibimu pasti senang kalau kamu berkunjung," pinta Nathan.
"Tentu saja," sahut Jovanka mengiyakan.
"Kak Nat, aku akan menjadikannya Jovanka sebagai asistenku, apa boleh? Selain belum memiliki pengalaman dia juga baru disini. Kak Michelle ingin dia agar bisa belajar," tanya Jody pada Nathan.
"Baiklah, atur saja semuanya," jawab Nathan.
"Aku ada rapat, Paman tinggal ya!" Pamit Nathan.
Jovanka melirik ke arah Jody yang menjadikannya sebagai asistennya, dia tahu Jody tidak mungkin begitu saja membiarkannya bekerja sendiri.
"Kau asiten Paman, jadi bekerjalah yang benar, oke!" kata Jody seraya mengusap kepala Jovanka.
"Siap, Bos!" sahut Jovanka.
Jody hanya tersenyum melihat tingkah laku Jovanka yang selalu manja.
Meski manja, ternyata Jovanka sangat pandai mengurus berkas-berkas perusahaan, sebagai seorang asisten meski dia baru bekerja sehari tetapi kinerjanya patut di acungi jempol.
"Sudah jam pulang, kamu sudah beres memeriksa berkas itu?" tanya Jody yang sudah berdiri di depan meja Jovanka.
"Sebentar, sedikit lagi," jawab Jovanka yang matanya masih tertuju di berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Oke," sahut Jody.
Jody duduk di sofa menunggu Jovanka selesai mengerjakan pekerjaannya. Jody mengeluarkan benda pipih miliknya, entah apa yang iaihat namun ia tampak tersenyum sendiri. Tanpa sepengetahuan Jovanka ternyata pria itu mencuri foto Jovanka yang tengah serius bekerja.
Setelah selesai bekerja mereka pun pergi langsung ke rumah Nathan, yaitu rumah lama Michelle. Ya atas permintaan Michelle Nathan masih menempati rumah itu.
"Jo! Astaga lihat betapa cantiknya kamu," puji Catherine ketika bertemu Jovanka.
Catherine yang biasa melihat Jovanka berpenampilan manja kini berpenampilan sebagai wanita karir membuat Catherine berdecak kagum.
"Bibi bisa saja," sahut Jovanka tersipu.
"Bagaimana kabarmu, Jody?" tanya Catherine.
"Aku baik," jawab Jody.
"Ayo masuk," Catherine mempersilahkan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Catherine sudah menyiapkan banyak makanan untuk makan malam hari itu begitu Nathan memberi kabar jika Jovanka dan Jody akan datang.
Nathan dan Catherine memiliki seorang putra bernama Samuel, Samuel berumur 15 tahun.
Sembari makan mereka bercerita dan mengobrol bersama, tampak sesekali Jody memperhatikan makanan yang dimakan Jovanka, bahkan ia mengambilkan makanan apa yang diinginkan gadis itu. Bagi Nathan dan Catherine sikap kedua orang itu sudahlah biasa, tapi bagi Sam yang baru saja beranjak dewasa bukanlah hal biasa.
"Paman Jody dan Jova pacaran ya?" tanya Sam tiba-tiba.
Hal itu membuat Jovanka hampir tersedak, ia langsung meraih gelas berisi air didepannya serta langsung menghabiskan air di dalamnya.
"Sam! Apa-apaan sih? Kamu ini masih kecil jangan bicara aneh-aneh," kata Catherine.
"Bukan aneh-aneh Mama, lihat saja Paman Jody sangat perhatian pada Jova," celoteh Sam.
Nathan dan Catherine hanya terdiam karena memang perhatian Jody terlihat berlebih. Jody hanya tersenyum menanggapi perkataan Sam dan ia kemudian menjelaskannya pada Sam.
"Sam, seseorang perhatian pada seseorang lainnya bukan berarti mereka pacaran. Seseorang perhatian itu karena mereka sayang," jelas Jody.
"Paman sayang karena Paman pacaran kan?" tanya Sam lagi.
Mendengar pertanyaan Sam semua yang ada di meja makan tampak tertawa terkekeh-kekeh.
"Sudah, Sam jangan bertanya lagi, kamu ini masih belum cukup umur untuk tahu," potong Catherine.
Semua yang disana tertawa mendengar pertanyaan bocah yang baru saja beranjak dewasa itu, tapi tidak ada yang menanggapinya serius.
*
*
*
*
*
*
*
Malam itu atas permintaan Nathan mereka pun akhirnya menginap, Jody menempati kamar lamanya saat dia di ungsikan kesana.
Jody tersenyum ketika melihat piano milik Michelle masih disana dan terawat dengan baik. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di sana, sudah sejak lama Jody tidak memainkan piano, ia rindu dan teringat ketika ia bertemu pertama kali dengan Michelle. Jody menyentuh tuts piano itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Jovanka yang hendak memberikan pakaian tidur untuk Jody pun terhenti ketika melihat pamannya itu tengah tersenyum sendiri seraya menatap piano di depannya, gadis itu tanpa sadar mengagumi ketampanan pria yang menjadi pamannya itu, terlebih saat melihat senyum Jody yang menurutnya bisa membuat siapapun jatuh cinta pada pria itu.
"Kenapa kau berdiri di sana?" sebuah pertanyaan dari Jody yang membuyarkan lamunan Jovanka.
"Oh, ini Paman Nathan menyuruhku membawakan ini untukmu," jawab Jovanka seraya menyerahkan piyama yang ia bawa.
"Terima kasih," Jody mengambil piyama itu, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Begitu selesai berganti dengan piyama, Jody mendapati Jovanka yang duduk di kursi sedang melihat piano milik Michelle jari telunjuknya tampak ia ketuk-ketukan pelan di dagunya. Jody pun duduk di sebelah Jovanka, melihat gadis di sebelahnya itu yang tampak berpikir.
"Mau bermain?" tanya Jody.
Jovanka menengok ke arah Jody dengan perasaan bingung, meski orang tuanya pandai bermain piano dia malah tidak tertarik dan tidak bisa bermain piano sama sekali.
"Aku tidak tahu cara bermain piano, Paman saja yang main aku yang menikmati, bagaimana?" tanya Jovanka penuh semangat.
Jody pun tersenyum kemudian ia terlihat meregangkan kedua tangannya, Jody mulai menyentuhkan jari jemarinya di atas Tuts.
-