Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Haikal mulai curiga.
Malam sudah larut ketika mereka akhirnya pulang.
Rumah kembali sunyi, hanya suara pintu yang tertutup pelan dan langkah kaki Haikal yang memastikan semua lampu mati. Lian berjalan lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya terasa ringan namun juga berat—ringan karena perasaan hangat dari makan malam tadi, berat karena satu hal yang tak pernah lepas dari pikirannya.
Penyakit itu.
Setelah berganti pakaian, Lian masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa. Haikal membiarkannya. Ia tahu, kadang istrinya butuh ruang.
Cermin besar memantulkan sosok Lian yang berdiri diam. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh dada kirinya.
Dum.
Dum.
Dum…
Detaknya terasa lebih keras dari biasanya.
Lian mengatur napas. Ia sudah mengenal irama ini sejak lama—sejak remaja, sejak dokter pertama kali menyebut kata kelainan jantung bawaan dengan suara terlalu hati-hati. Penyakit yang tidak selalu terlihat di luar, tapi bisa berubah menjadi sesuatu yang mematikan di saat tubuh terlalu lelah… atau terlalu bahagia.
Dan sekarang, di dalam rahimnya, ada kehidupan lain.
Tangannya turun, mengusap perutnya yang mulai membentuk. Gerakan itu refleks—seolah melindungi sesuatu yang rapuh, berharga, dan terlalu ingin ia jaga.
“Maafin aku…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Bukan pada dirinya.
Pada bayi itu.
Pikirannya melayang pada siang tadi—wajah dokter yang serius, nada suara yang diturunkan seolah takut kata-katanya bisa melukai.
Risikonya bukan hanya keguguran, Lian.
Tapi kematian.
Dan Haikal tidak tahu.
Ia menutup mata, dadanya naik turun perlahan. Lian bukan takut mati. Ia sudah terlalu sering berdamai dengan kemungkinan itu. Yang membuatnya gemetar adalah bayangan Haikal berdiri sendirian—menggendong bayi mereka, atau lebih buruk… kehilangan keduanya.
Kalau aku jujur, Mas akan menghentikan semuanya, pikirnya pahit.
Dia akan memilih aku… dan aku tidak siap mengambil itu darinya.
Lian menggeleng pelan, membuka mata. Air mulai menggenang, tapi ia menahannya.
“Aku bisa,” katanya pada bayangannya sendiri.
“Aku selalu bisa.”
Ia keluar dari kamar mandi, berjalan ke tempat tidur. Haikal sudah berbaring, membelakanginya. Saat Lian naik ke kasur, tubuh itu bergerak refleks—Haikal menggeser tubuhnya mendekat dan memeluknya dari belakang.
Hangat. Aman. Terlalu aman untuk sebuah kebohongan.
Lian menegang sesaat.
“Capek?” suara Haikal terdengar rendah, setengah mengantuk.
“Sedikit,” jawab Lian.
Tangannya menempel di perut Lian, telapak besar itu diam di sana, seolah menyadari keberadaan yang lain.
“Dia baik-baik aja kan?” tanya Haikal pelan.
“Anak kita.”
Pertanyaan itu menembus tepat ke dadanya.
Lian menelan ludah.
“Iya,” jawabnya lembut.
“Dia kuat.”
Kalimat itu seperti pisau bermata dua—doa dan kebohongan sekaligus.
Haikal menghela napas lega, mencium tengkuk Lian singkat.
“Syukurlah.”
Lian memejamkan mata. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Kalau suatu hari kamu tau… maafin aku, batinnya.
Aku cuma ingin kamu bahagia sedikit lebih lama.
Ia menggeser tangannya sendiri ke perut, menindih tangan Haikal di atasnya. Untuk sesaat, mereka seperti keluarga biasa—tanpa rahasia, tanpa ancaman.
Namun di balik kelopak mata Lian, ketakutan itu tetap ada.
Bagaimana jika suatu malam detaknya berhenti?
Bagaimana jika tubuhnya menyerah lebih dulu?
Dan pertanyaan yang paling menyakitkan—
Apakah aku egois karena memilih mempertahankan ini?
Air mata akhirnya jatuh, diam-diam, membasahi bantal. Lian menggigit bibirnya agar Haikal tidak mendengar isaknya.
Ia tidak menangis karena lemah.
Ia menangis karena mencintai terlalu banyak.
Dan malam itu, Lian memutuskan satu hal—
Selama ia masih bernapas,
selama jantungnya masih berdetak
ia akan bertahan.
Untuk anaknya.
Untuk Haikal.
Meski harus sendirian menanggung takutnya.
--
Haikal mulai menyadari ada yang tidak beres bukan dari satu kejadian besar,
melainkan dari hal-hal kecil.
Hal yang, bagi orang lain, mungkin tidak berarti apa-apa.
Pagi itu, Lian berdiri di dapur terlalu lama. Tangannya memegang meja, napasnya tertahan, wajahnya pucat sesaat sebelum ia tersenyum dan berpura-pura menuang air minum seperti biasa.
“Lian?” panggil Haikal dari ruang makan.
“Iya,” jawabnya cepat—terlalu cepat.
Haikal menoleh. Tatapan matanya tajam, refleks, seperti saat ia membaca medan sebelum baku tembak. Lian sudah duduk sekarang, menyesap air perlahan, senyum kecil di bibirnya.
“Kamu kenapa?”
“Ngantuk aja,” jawab Lian ringan.
“Kata dokter kan wajar.”
Haikal mengangguk, tapi dadanya terasa tidak nyaman. Ia hafal wajah istrinya—hafal cara Lian berbohong. Bukan karena Lian buruk berbohong, tapi karena Haikal terlalu sering membaca ekspresi orang yang menyembunyikan sesuatu.
Ia tidak menekan.
Belum.
Hari-hari berikutnya, gejala itu muncul lagi.
Lian mudah lelah.
Terlalu mudah.
Lima anak tangga membuat napasnya tersendat. Ia duduk lebih sering. Kadang tangannya refleks menekan dada, lalu cepat-cepat berpindah ke perut seolah mengoreksi gerakannya sendiri.
Dan yang paling mengganggu Haikal—
Lian mulai sering terbangun malam hari.
Haikal terjaga lebih dulu. Ia mendengar napas istrinya berubah, lebih cepat, tidak teratur. Tubuh kecil itu menggeliat gelisah di pelukannya.
“Mas…” panggil Lian suatu malam, suaranya nyaris putus.
Haikal langsung bangun.
“Ada apa?”
“Pusing… dikit.”
Haikal duduk, menopang punggung Lian, satu tangannya menyentuh kening. Tidak panas. Tapi kulitnya dingin.
“Jantungmu?” tanya Haikal pelan.
Lian menegang sepersekian detik.
“Enggak,” jawabnya cepat.
“Cuma mimpi buruk.”
Haikal tidak langsung percaya.
Ia menunggu sampai Lian kembali tertidur, napasnya lebih stabil. Dalam gelap, Haikal menatap wajah istrinya lama. Ada lingkar samar di bawah mata itu. Ada ketegangan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Dan ada rasa takut.
Bukan takut pada kehamilan—
tapi takut ketahuan.
Keesokan harinya, Haikal menelpon dokter tanpa sepengetahuan Lian.
Tidak bertanya langsung.
Hanya menggali.
“Dok,” katanya dengan nada netral,
“istri saya hamil muda. Normal ya kalau sering sesak napas?”
Dokter terdiam sejenak.
“Tergantung kondisi sebelumnya,” jawab dokter hati-hati.
“Ada riwayat penyakit?”
Haikal menutup mata sesaat.
“Kalau… misalnya ada masalah jantung?”
Nada suara dokter berubah.
“Itu harus dipantau ketat. Sangat ketat.”
Telepon ditutup.
Haikal duduk lama di mobil, tangannya mencengkeram setir. Di medan perang, ia terbiasa menghadapi kematian. Tapi kali ini, musuhnya tidak terlihat, tidak bersuara—dan bersembunyi di tubuh perempuan yang ia cintai.
Malam itu, Haikal pulang lebih cepat.
Ia menemukan Lian duduk di sofa, memeluk bantal kecil, wajahnya pucat.
“Kamu kenapa lagi?” tanya Haikal, suaranya rendah tapi tegang.
Lian tersenyum. Senyum yang terlalu dipaksakan.
“Enggak apa-apa, Mas.”
Haikal jongkok di depannya. Tangannya naik, menggenggam tangan Lian. Dingin.
“Lian,” ucapnya pelan.
“Kamu bohong.”
Lian terdiam.
Haikal menatapnya lurus. Tidak marah. Tidak keras. Justru itu yang membuatnya menakutkan.
“Kamu boleh bohong ke siapa aja,” lanjut Haikal.
“Tapi jangan ke aku.”
Lian menelan ludah. Dadanya terasa sesak—bukan hanya karena jantungnya, tapi karena tatapan itu.
“Aku cuma… nggak mau kamu khawatir.”
Haikal menghela napas panjang. Ia menarik Lian ke pelukannya, erat, seolah takut tubuh itu akan runtuh jika dilepas.
“Aku tentara,” bisiknya di rambut Lian.
“Aku dilatih buat khawatir.”
Tangannya mengusap punggung Lian perlahan. Gerakan protektif. Tapi pikirannya berlari cepat.
'Ada sesuatu yang kamu sembunyikan.'
'.....Dan itu bukan hal kecil.'
Malam itu, Haikal tidak memaksa. Tidak menuntut. Tidak menginterogasi.
Tapi satu keputusan sudah ia buat—
Ia tidak akan lengah lagi.
Jika Lian memilih diam,
maka Haikal akan berjaga.
Dengan seluruh hidupnya.