"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09. Mengobati Luka, (Revisi)
Bau obat antiseptik dan minyak kayu putih langsung menyengat indra penciuman begitu pintu UKS digeser.
Ruangan bernuansa putih itu sepi, hanya menyisakan deru kipas angin dinding yang berputar monoton.
Rian berbaring di atas brankar dengan wajah sepucat kertas.
Kakinya yang cedera sudah diganjal bantal tinggi setelah diperiksa sekilas oleh petugas medis sekolah yang menyatakan tidak ada fraktur terbuka, melainkan dislokasi engkel yang cukup parah.
Di samping brankar, Ziva duduk di kursi besi. Alih-alih terlihat seperti malaikat penolong yang penuh simpati, wajah cewek itu justru tertekuk datar.
Tangannya bergerak cekatan membuka sebungkus es batu yang dibalut kain handuk kecil, lalu menempelkannya ke pergelangan kaki Rian yang mulai membiru dan membengkak.
"Aw—! Ziv, pelan-pelan, sakit!" Rian mengaduh, refleks menarik tubuhnya ke atas. Ringisan cowok itu terdengar pilu, tapi Ziva sama sekali tidak melunakkan tekanannya.
"Diem," sahut Ziva dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun penuh penekanan yang membuat Rian otomatis mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Ziva menatap lurus ke arah pergelangan kaki yang bengkak itu, lalu beralih menatap wajah Rian yang dipenuhi keringat dingin. "Lo itu bodoh atau gimana, sih? Udah tahu Marvel ngincer lo dari kuarter pertama, kenapa lu masih maksa ambil lay-up tinggi di depan dia? Lo pikir lo superman yang punya badan antipeluru?"
Rian mendesah pelan, mencoba mengalihkan pandangannya ke langit-langit UKS. "Gue cuma mau menangin pertandingan ini, Ziv. Tim kita butuh poin itu. Gue gak mikir dia bakal senekat itu."
"Itu dia masalahnya. Lo gak pernah mikir," potong Ziva cepat, nadanya tajam menusuk. "Di dunia ini, niat baik tanpa otak itu cuma bakal bikin lo jadi keset kaki orang-orang kayak Marvel. Lo tahu status lo di sekolah ini sensitif. Begitu lo ngasih celah sedikit aja, orang kayak dia bakal langsung patahin kaki lo tanpa ragu. Dan tebak apa? Lo beneran dipatahin hari ini. Lemah."
Kata 'lemah' yang keluar dari bibir Ziva terasa seperti tamparan bagi Rian.
Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya—campuran antara rasa malu, kesal, sekaligus fakta telanjang yang tidak bisa dia bantah.
Ziva benar. Dia terlalu naif. Dia pikir kerja keras di lapangan bisa menutup status sosialnya yang sering diejek.
Nyatanya, di mata orang seperti Marvel, dia tetaplah target empuk yang bisa diinjak kapan saja.
"Gue gak se-lemah itu..." gumam Rian, suaranya parau. Ada harga diri cowok remaja yang terluka di sana. "Gue cuma... kurang hati-hati."
Ziva mendengus remeh. Dia menggeser kursinya lebih dekat ke brankar, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengganti posisi kompresan es di engkel Rian. "Kurang hati-hati itu kalau lo tersandung tali sepatu sendiri, Rian. Kalau dijegal di udara sampai ligamen lo robek, itu namanya lo tolol karena ngebiarin diri lo jadi korban."
Meskipun kata-katanya pedas, gerakan tangan Ziva saat membetulkan posisi kaki Rian justru sangat hati-hati.
Kontradiksi itu membuat Rian terpaku. Cewek di depannya ini terkenal sebagai siswi paling tertutup, dingin, dan tidak mau tahu urusan orang lain di kelas.
Namun hari ini, Ziva adalah orang pertama yang pasang badan untuknya di lapangan, bahkan berani mengancam Marvel—anak donatur terbesar sekolah—dengan pasal hukum pidana yang membuat cowok arogan itu pucat pasi.
"Kenapa lo lakuin itu tadi?" tanya Rian memecah keheningan. "Soal video itu... dan ngancem Marvel di depan Pak Bambang. Lo bisa kena masalah sama pihak yayasan, Ziv."
Ziva tidak langsung menjawab. Dia sibuk menekan pelan bagian pinggir pembengkakan untuk memastikan aliran darah Rian tidak tersumbat. "Gue cuma gak suka lihat orang berengsek ngerasa menang karena punya duit. Lagian, video itu emang bukti valid. Gue gak suka gertak sambal."
"Tapi tetep aja, lo—"
"Bisa diem gak? Napas lo berisik," potong Ziva lagi.
Ziva mendadak bangkit sedikit dari kursinya, mencondongkan seluruh tubuh bagian atasnya melewati pembatas brankar demi meraih botol obat merah dan plester yang terletak di meja seberang tubuh Rian.
Karena posisi Rian yang sedang bersandar pada tumpukan bantal, gerakan mendadak Ziva membuat jarak di antara mereka terpangkas secara drastis dalam hitungan detik.
Ziva berhenti bergerak tepat di atas wajah Rian. Tangannya yang memegang botol obat menggantung di udara.
Jarak mereka kini tersisa kurang dari sepuluh sentimeter.
Rian menahan napasnya seketika. Matanya membelalak kecil.
Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma samar wangi teh hijau dan sabun bayi dari tubuh Ziva—aroma yang sangat kontras dengan pembawaan cewek itu yang sedingin es.
Rian bahkan bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di manik mata hitam pekat milik Ziva yang bersih tanpa riasan.
Ziva juga tampaknya baru menyadari posisi mereka yang terlalu intim.
Gerakan cewek itu terkunci. Helaan napas Ziva yang teratur terasa hangat menerpa kulit pipi Rian yang masih menyisakan sisa keringat. Keheningan UKS mendadak terasa mencekam, jauh lebih menegangkan daripada atmosfer lapangan basket yang rusuh beberapa menit lalu.
Rian bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba berpacu gila-gilaan.
Dug, dug, dug.
Suaranya begitu keras di telinganya, hingga dia takut Ziva bisa mendengarnya juga.
Ini aneh. Sangat aneh.
Selama ini, jantung Rian hanya pernah berdegup tidak karuan jika berdekatan dengan Keysha—cewek populer, ramah, dan cantik yang selama ini dia kagumi diam-diam dari jauh.
Keysha adalah definisi gadis impiannya. Namun sekarang, di bawah tatapan dingin dan intimidatif dari seorang Ziva, dada Rian rasanya seperti mau meledak oleh sensasi asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Mengapa detak jantungnya harus berhamburan untuk cewek galak yang baru saja mengatainya lemah?
Ziva tetaplah Ziva. Hanya butuh dua detik bagi cewek itu untuk menguasai kembali ekspresi wajahnya. Dia dengan tenang menarik kembali tubuhnya, duduk tegak di kursi seolah tidak terjadi apa-apa, lalu meletakkan botol obat di meja samping tempat tidur dengan bunyi ketukan yang cukup keras.
"Muka lo makin merah," ucap Ziva, matanya menyipit menatap Rian dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Demam lo naik, atau efek cedera lo udah menjalar ke otak?"
Rian dengan gugup langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menjalar hingga ke telinganya. "N-nggak. Gerah aja. UKS-nya panas."
Ziva hanya menaikkan satu alisnya, tidak repot-repot mendebat alasan klise itu saat suara sirine ambulans dari luar gerbang sekolah akhirnya terdengar mendekat.
......................
...****************...
Tbc,