NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Grand Opening dan Tinggal di Apartemen

Aku tak sadar kapan tepatnya kami resmi berubah dari tim pitching film menjadi panitia restoran. Tahu-tahu semuanya sudah selesai.

Soft opening berjalan mulus, semua meja penuh, tamu undangan merasa sangat puas, acara berlangsung dengan sesuai ekspektasi.

Damar dan Sully tersenyum lebar seperti tuan rumah yang baru saja memenangkan lotre kehidupan.

"Keren banget ya, Gas. Ini baru pemanasan," kata Jefry sambil menepuk lenganku. Nada suaranya terlalu santai. Seperti tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku pun paham maksud Jefry mengucapkan itu kepadaku.

Aku ikut tersenyum meski kupaksakan. "Iya, semoga setelah ini kita mulai ngomongin film ya, Bang," sindirku.

Jefry hanya mengangguk ringan, matanya sudah sibuk mencari momen untuk mendekati Damar dan Sully.

Malamnya, kami duduk di teras restoran yang mulai lengang. Lampu-lampu gantung masih menyala, menimbulkan bayangan panjang di lantai kayu. Damar mengangkat cangkirnya.

"Terima kasih ya semuanya. Kalian luar biasa. Jujur, tanpa kalian, soft opening Waroeng Kayoe nggak akan sebagus tadi."

Sully mengiyakan. "Iya. Makanya kita mau lanjut sekalian grand opening. Biar sekalian momentumnya."

Aku menegakkan badan memberikan kode untuk Jefry agar segera memulai pembicaraan terkait film, inilah saatnya.

"Oke sih, tapi mungkin sekarang kita bisa mulai bahas sedikit soal film yang ingin kami ajukan ya," ucap Jefry, nada santai seperti biasa. "Kita udah siapkan berupa deck yang bisa kalian pelajari."

Damar mengangkat tangan pelan. "Kita omongin setelah grand opening aja ya? Biar semua fokus dulu."

Sully menambahkan, lembut tapi dari nada bicaranya menambah penegasan tak terbantah, "Iya, Jef. Kita nggak akan lupa kok, percaya kan?"

Percaya.

Kata itu menempel lama di kepalaku. Aku menyadari tidak bisa memaksakan lagi, meski ada keinginan kuat di pikiranku yang tak bisa ku hilangkan.

Beralih cepat di kamar hotel, aku menelpon Delia. Suaranya terdengar lelah.

"Apalagi sih? Udahlah, aku lagi males banget kalo bahas itu. Aku kan udah bilang, nggak bakal beres itu. Sampai sekarang aja masih belum bahas film sama sekali kan?" tanyanya pelan.

"Kamu cuma dimanfaatin aja itu."

Entah untuk kesekian kalinya aku menarik nafas sebelum bicara, "Iya, memang belum. Tapi mereka janji, habis grand opening langsung dibahas kok."

"Berarti kamu fix batalin shooting sama Bang Adit? Kalo ikut grand opening lagi?" nada suara Delia naik satu tingkat tanpa sadar.

"Pa, kamu itu punya komitmen sama Bang Adit, ingat? Shooting empat minggu. Aku di sini belum ngomongin iklan Kang Yunus yang sudah kamu batalin lho."

Aku terdiam. Melirik jendela kamar hotel yang memantulkan bayanganku sendiri. Mata yang mulai terlihat cemas.

Delia melanjutkan, lebih pelan tapi menohok perasaanku, "Udah gitu, uang yang kamu terima dari sini nyatanya cuma setengah UMR Jakarta, Pa. Sedangkan tawaran Kang Yunus empat kali lipat. Shooting sama Bang Adit? Sepuluh kali, sepuluh!"

Aku mencoba tersenyum sedikit, tidak tahu juga dengan tujuan apa, hanya ingin mencairkan suasana. "Aku tahu, tapi.."

"Tapi apa? Coba kasih aku alasan yang jelas, kenapa kamu masih ngotot di situ?"

Pertanyaan itu menampar. Tapi aku tak punya jawaban yang rapi.

"Aku cuma.." mencari-cari kata. "Aku mau film ini kejadian, Ma. Sekali aja ini berhasil. Biar orang lihat kita nggak cuma jadi tukang bantu orang buat sukses."

Di seberang sana, Delia terdiam. Lama, lalu ia berkata lirih,

"Mau sampai kapan sih kamu kayak begini? Kamu tuh nurut banget sama Jefry. Apa sih bagusnya dia?"

Aku tak menjawab. Karena mungkin itu juga benar.

***

Besoknya, kami jalan berempat menuju mobil Fortuner hitam yang terparkir di basement gedung hotel. Kunci sudah siap di tangan Hendra, menekan remot untuk membuka kunci.

Aku merasakan ini memang sebuah privilege, tapi juga terasa seperti jebakan yang dibungkus kenyamanan.

"Gas!" Hendra melambai. "Hari ini kita ke toko interior lagi ya. Damar minta tambahin lampu gantung sama karpet pattern yang kemarin."

Aku menekan dahi, berbisik pelan, "Bang Hen, kita ini sebenarnya tim film atau tukang interior sih?"

Hendra hanya tertawa. "Sabar, sabar. Rezeki nggak ke mana."

Shinta melirik aku yang berbisik ke Hendra. Ia terlihat membawa map. "Ini list belanjaannya. Sama rundown grand opening yang udah gua buat semalam. Damar minta kita yang handle semuanya, tinggal penyesuaian aja sih nanti."

Aku menoleh ke Jefry. "Bang, tapi abang yakin ini filmnya bakal dibahas setelah grand opening? Masih lama banget lho itu, soalnya gua udah batalin tvc kemarin, masa iya gua batalin shooting juga bang."

Jefry mulai terbiasa menepuk bahuku. "Gas, denger ya. Mereka itu orang baik. Kita bikin mereka percaya dulu. Setelah itu, film kita pasti jalan, yakin deh."

"Oke deh, Bang"

Aku cuma bisa pasrah.

"Sabar," nada Jefry berubah sedikit tegas. "Ini proses!"

Sebuah kata yang indah, tapi juga tersirat kejam jika tidak terjadi.

Di perjalanan, pikiranku tak berhenti menghitung. Angka-angka berloncatan di kepalaku. Setengah UMR, empat kali lipat, sepuluh kali lipat. Lalu wajah Delia, Kang Yunus, Bang Adit dan Rafa, pangeran kecilku.

Aku menutup mata sesaat, kepala menunduk, tangan memegang dahi.

Kenapa aku masih di sini?

Sebuah jawaban muncul, jujur meski pahit, karena aku ingin dipercaya. Aku terlalu sulit melepaskan orang yang pernah bergantung padaku, tim ini.

Di kursi depan, Jefry bercanda dengan Hendra. Mereka terlihat ringan, seolah semua ini normal. Seakan hidup hanya tentang bagaimana terlihat meyakinkan.

Sementara aku, semakin dalam merasa terseret.

Entah kenapa, di sela semua kesibukan restoran ini, aku merasa ada sesuatu yang pelan-pelan ikut terbuka. Bukan pintu rezeki, tapi pintu lain. Yang lebih gelap, bahkan belum berani ku bayangkan namanya.

Ku coba mengalihkan pikiran, berusaha kembali ke dunia nyata, grand opening masih menunggu.

Sedangkan terkait film, masih sekadar janji yang mudah-mudahan bisa segera ditepati.

Aku masih mempercayai setelah grand opening, semua ini akan segera mendekat ke tujuan semula, membicarakan film. Tapi hidup, rupanya punya rencana lain yang lebih aneh dari yang ku bayangkan.

Karena harga sewa hotel dianggap terlalu mahal, Damar dan Sully memutuskan memindahkan kami ke sebuah apartemen. Sekretaris mereka yang mengurus semua. Menurutnya, unit yang dipilih sangat nyaman, ada tiga kamar, cukup buat kami berempat.

Sepulangnya dari restoran Waroeng Kayoe, kami berempat menuju ke apartemen yang disebut nyaman itu.

Kami berbelok ke sebuah jalan yang berada di belakang rumah sakit cukup besar. Hendra melipir ke sebuah gerbang kecil yang gelap, meski ada mesin parkir otomatis di sana, tapi tidak ada penerangan.

"Ini apartemennya?" tanya Jefry ke Shinta yang memegang handphone untuk menunjukkan map.

Shinta ikut mencondongkan tubuhnya ke jendela. "Iya, ini bener kok, jalannya memang ke sini."

"Tiket parkirnya juga ada tulisannya, Spring Town."

Hendra tertawa kecil, berusaha santai sambil mengemudikan mobil. "Mungkin karena sudah tengah malam kali ya, jadi begini suasananya."

Jefry tetap tenang. "Yang penting ada tempat tidur dan AC. Udah, santai aja."

Aku tidak menjawab.

Gerbang itu sama sekali tidak terlihat seperti pintu masuk apartemen. Setelah kami masuk, jalannya semakin gelap. Di kejauhan tampak beberapa tower menjulang. Hanya satu yang bercahaya. Sisanya seperti raksasa yang tertidur, tak berpenghuni.

Begitu sampai di parkiran basement, pemandangannya membuatku diam beberapa detik. Banyak mobil, tapi kebanyakan kusam, berdebu, seperti sudah lama ditinggalkan. Beberapa bannya kempes.

Hatiku sempat bertanya-tanya, ini apartemen atau gudang penyimpanan mobil bekas?

"Mas Bagas, kok gua jadi ngerasa kayak di film horor sih?" bisik Shinta di sampingku.

Aku memaksakan senyum. "Udah, kita jangan mikir yang aneh-aneh dulu."

Padahal, pikiranku memang dipenuhi hal aneh.

Kami berjalan menuju lobi. Tapi ruangan itu kosong. Tak ada resepsionis. Sekuriti pun juga tak terlihat. Suasana hening dibuyarkan dengan suara langkah kaki dan gesekan ransel yang kita bawa.

"Hello?" Hendra berseru pelan. Suaranya menggema.

Tak ada jawaban.

"Udah tengah malam kali," ucap Jefry santai. "Cari aja sekuriti."

Kami memutuskan untuk berpencar.

Aku berjalan ke sisi belakang gedung.

Di sana, aku menemukan seorang pria paruh baya duduk santai di kursi plastik, menonton televisi kecil sambil menyeruput kopi. Lampu di ruangan kecil itu kuning pucat, membuat wajahnya terlihat cukup jelas.

"Kang, maaf," sapaku sopan. "Kami tamu yang menyewa apartemen, tapi di depan gak ada orang sama sekali."

Pria itu menoleh sekilas, tidak ramah. Tatapannya seperti melihatku dengan sinis.

"Naik aja langsung ke lantai delapan, kuncinya ada di dalam kamar."

Hanya itu. Datar tanpa ekspresi.

"Eee, kuncinya di kamar ya, Kang?" tanyaku lagi memastikan.

Ia hanya mengangguk pelan, melanjutkan aktivitasnya begitu saja.

Aku sempat diam sebentar menunggu penjelasan lebih. Tapi ternyata bodohnya aku karena berharap lebih. Ia hanya diam mengabaikanku fokus menatap layar televisi.

Merasa cukup, aku pun melangkah pergi. Tapi baru beberapa meter, aku baru ingat tentang layanan laundry.

Aku kembali ingin bertanya, namun betapa terkejutnya aku karena pria tadi sudah tidak ada. Televisi pun juga telah mati.

Kemana perginya pria tadi? Itulah yang sekarang aku pikirkan.

Ada rasa tidak enak yang menjalar di tubuhku. Tapi aku tetap berusaha tenang lalu kembali ke lobi untuk memberitahu teman-teman.

"Gimana, Gas?" tanya Jefry.

"Langsung ke lantai delapan. Kuncinya ada di dalam unit katanya."

Shinta mengerutkan dahi. "Serius? Kok aneh banget."

Hendra terkekeh. "Ya udah lah, yang penting bisa tidur."

Kami berjalan menuju lift, tak jauh dari lobi. Dindingnya putih kusam, untung saja lantainya berwarna gelap, meskipun aku yakin kotor, tapi tidak terlihat.

Lift itu akhirnya terbuka dengan bunyi khas.

"Ding"

Kami masuk. Cermin di dalam lift memantulkan wajah-wajah lelah kami, tapi entah kenapa, aku tidak berani terlalu lama menatap ke arahnya.

Jari Jefry menekan angka 8, pintu menutup perlahan.

Dan saat lift mulai bergerak naik, perasaanku tiba-tiba seperti ditarik. Rasanya seolah ada sesuatu yang menunggu di atas sana.

Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Mudah-mudahan cuma perasaanku aja," dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!