NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 : Kekacauan Dari Timur

CHAPTER 1

KEKACAUAN DARI TIMUR

Malam itu, langit di atas Pegunungan Cang Yue tidak memiliki satu pun bintang.

Kabut putih menggantung rendah di antara puncak-puncak gunung, menyelimuti hutan bambu dan atap-atap bangunan kuno milik Perguruan Tianlan. Angin berembus pelan membawa aroma tanah basah, sementara lonceng batu yang tergantung di bawah serambi berbunyi satu kali.

Ting.

Seharusnya itu hanya suara biasa.

Namun sesaat setelah bunyi tersebut menghilang, seluruh gunung bergetar.

Burung-burung malam beterbangan dari pepohonan. Para murid yang sedang beristirahat keluar dari kediaman masing-masing dengan wajah panik. Bahkan para tetua perguruan yang biasanya tenang segera membuka pintu ruang meditasi mereka.

Di atas langit timur, sebuah cahaya merah perlahan muncul.

Bukan matahari.

Bukan lentera.

Melainkan bulan.

Bulan merah yang seharusnya belum waktunya terbit.

Di bawah cahaya merah itu, dua pemuda justru sedang bertengkar mengenai hal yang sama sekali tidak penting.

“Jangan ganggu aku.”

“Aku cuma mau pinjam jubahmu.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena milikku.”

Pemuda yang lebih muda mendengus. Ia duduk di tangga paviliun sambil menopang dagu, rambut hitamnya berantakan karena baru bangun tidur. Jubah murid perguruan yang dikenakannya bahkan belum terikat dengan benar.

Namanya Shen Rui.

Atau setidaknya, itulah nama yang selama ini mereka gunakan di perguruan.

Di sebelahnya berdiri saudara kembarnya, Shen Yuan. Wajah pemuda itu hampir sama persis, tetapi tatapannya jauh berbeda. Tenang, dingin, dan sulit ditebak.

Shen Rui menatap langit.

“Yuan.”

“Apa?”

“Kenapa bulan warnanya merah?”

Shen Yuan tidak menjawab.

“Yuan.”

“Diam.”

“Kalau bulan merah berarti besok kita libur, kan?”

Shen Yuan akhirnya menoleh.

“Dari mana kau mendapatkan kesimpulan bodoh itu?”

“Perasaanku.”

“Perasaanmu tidak pernah bisa dipercaya.”

Shen Rui mengangguk serius.

“Itu benar.”

Kemudian ia kembali duduk.

Shen Yuan menghela napas panjang.

Sejak mereka masuk Perguruan Tianlan tiga tahun lalu, ia sudah terbiasa menghadapi sifat adiknya yang sulit dijelaskan. Shen Rui bisa tidur sepanjang pagi, lupa membawa pedang ketika latihan, tersesat di halaman perguruan sendiri, lalu lima menit kemudian dengan santainya bertanya mengapa semua orang mencarinya.

Namun malam ini berbeda.

Shen Yuan menatap bulan merah itu lebih lama.

Ada sesuatu yang terasa familiar.

Sesuatu yang seharusnya tidak ia ingat.

Sebuah hutan terbakar.

Suara jeritan dari kejauhan.

Seseorang berdiri di bawah bulan merah.

Kemudian...

Darah.

Shen Yuan memejamkan mata.

Ingatan itu menghilang begitu saja.

“Yuan?”

Ia membuka mata.

Shen Rui sedang berdiri tepat di depannya.

“Kenapa wajahmu seperti orang melihat hantu?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Oh.”

Shen Rui mengangguk.

Kemudian ia menguap.

“Aku tidur dulu.”

“...”

Shen Yuan menatapnya tanpa berkata-kata.

“Bulan merah muncul di langit, seluruh gunung bergetar, dan kau mau tidur?”

“Besok masih latihan.”

“Justru karena itu.”

“Aku butuh tenaga untuk malas.”

Shen Yuan hampir kehilangan kesabarannya.

Namun sebelum ia sempat menjawab, suara ledakan terdengar dari arah hutan.

BOOM!

Tanah berguncang keras.

Atap paviliun bergetar. Beberapa genting jatuh ke tanah.

Shen Rui yang tadi hampir kembali tidur langsung berdiri.

“Wah.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah serius.

Dari dalam hutan terdengar suara raungan panjang.

Bukan suara binatang biasa.

Raungan itu dalam dan berat, seolah berasal dari sesuatu yang berusia ribuan tahun.

Para murid berlarian menuju gerbang perguruan.

“Makhluk gaib!”

“Jangan keluar!”

“Panggil para tetua!”

Shen Rui menelan ludah.

“Yuan.”

“Aku tahu.”

“Apakah kita harus lari?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kita lari sekarang, kita akan terlihat mencurigakan.”

Shen Rui berpikir sejenak.

“Benar juga.”

Keduanya berjalan menuju halaman utama bersama murid-murid lain.

Tidak seorang pun di antara mereka tahu bahwa dua pemuda yang selama ini dianggap sebagai murid biasa sebenarnya berasal dari keluarga bangsawan yang sengaja menyembunyikan identitas mereka.

Mereka datang ke Perguruan Tianlan bukan karena tidak memiliki tempat tinggal.

Mereka datang karena seseorang telah meminta mereka bersembunyi.

Dan sampai malam itu, semuanya berjalan dengan baik.

Sampai bulan merah muncul.

Di tengah halaman, seorang tetua mengangkat pedangnya.

“Semua murid mundur!”

Cahaya spiritual mulai berkumpul di udara.

Shen Rui memandang dengan mata berbinar.

“Bagaimana dia melakukan itu?”

Shen Yuan menatapnya.

“Energi spiritual.”

“Bisa dipelajari?”

“Tentu.”

“Kalau begitu aku mau.”

Shen Yuan terdiam.

Adiknya memang memiliki sifat yang aneh.

Lima menit lalu ia ingin tidur.

Sekarang ia ingin mempelajari kekuatan spiritual.

“Jangan berharap terlalu banyak.”

“Aku bisa.”

“Kau bahkan belum bisa mengikat sabuk jubahmu dengan benar.”

“Itu berbeda.”

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, tanah kembali bergetar.

Dari balik pepohonan muncul dua cahaya merah seperti mata.

Kemudian sosok raksasa menerobos hutan.

Para murid menjerit.

Shen Rui mundur satu langkah.

“Besarnya...”

Makhluk itu menyerupai serigala, tetapi tubuhnya diselimuti sisik hitam dan tanduk tumbuh dari kepalanya. Kabut hitam keluar dari mulutnya setiap kali bernapas.

Tetua perguruan langsung menyerang.

Pedangnya membentuk garis cahaya keemasan.

Makhluk itu menggeram dan menghantamkan cakarnya.

Ledakan terjadi.

Shen Rui terlempar dan jatuh tepat di samping Shen Yuan.

“Aduh.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Tidak.”

“Bagian mana?”

“Gengsiku.”

Shen Yuan memejamkan mata.

“Bukan itu maksudku.”

“Oh.”

Shen Rui bangkit sambil membersihkan pakaiannya.

Kemudian sesuatu terjadi.

Angin berhenti.

Api obor di halaman padam satu demi satu.

Bulan merah menjadi semakin terang.

Dan di telapak tangan Shen Rui muncul cahaya kecil berwarna biru.

Ia menatap tangannya.

Shen Yuan juga melihatnya.

Keduanya terdiam.

Cahaya itu bergerak seperti kepingan salju kecil.

Shen Rui berkedip.

“Yuan.”

“Aku melihatnya.”

“Ini apa?”

“Elemen.”

“Caranya mematikannya bagaimana?”

“Aku tidak tahu.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena berarti kita sama-sama tidak tahu.”

Shen Yuan menatap adiknya dengan tatapan datar.

Namun sesaat kemudian, cahaya biru di tangan Shen Rui tiba-tiba membesar.

Whoosh!

Es menyebar di tanah.

Beberapa murid menjerit ketika kaki mereka hampir terpeleset.

Shen Rui membelalakkan mata.

“EH?!”

Shen Yuan segera mengangkat tangan.

Cahaya putih muncul di telapak tangannya.

Angin berputar.

Keduanya saling menatap.

Shen Rui menunjuk tangannya sendiri.

“Punya aku es.”

Shen Yuan menatap telapak tangannya.

“Punyaku angin.”

Shen Rui tersenyum lebar.

“Seru.”

“Jangan senang dulu.”

“Kenapa?”

“Karena kita tidak tahu cara mengendalikannya.”

Cahaya di tangan Shen Rui kembali membesar.

“Eh.”

“Rui.”

“Eh.”

“Matikan.”

“Bagaimana?”

“KAU YANG MENGELUARKANNYA!”

“Aku juga tidak tahu caranya!”

Dalam hitungan detik, halaman Perguruan Tianlan berubah menjadi kekacauan.

Es menyebar ke satu sisi.

Angin berputar ke sisi lainnya.

Para murid berlarian.

Tetua berteriak.

Makhluk gaib mengaum.

Dan dua saudara kembar yang baru saja menyadari kekuatan mereka berdiri di tengah semuanya dengan ekspresi yang hampir sama-sama bingung.

Namun di atas langit, bulan merah terus bersinar.

Jauh di balik pegunungan, sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah membuka matanya.

Kelahiran kembali mereka akhirnya terdeteksi.

Dan malam itu hanyalah awal dari kekacauan yang akan mengguncang seluruh Timur.

***

Like Woy kalo SUKAAAAAAAAA jangan di pelototinnn aja😭

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!