Setelah ditinggalkan oleh istrinya dan kehilangan putri kecilnya Bai Xinxin yang berusia enam tahun, hidup Bai Ruchen berubah sepenuhnya. Di tengah kesepian dan rasa bersalah, sebuah cahaya muncul — Sistem Pria Merana, sistem misterius yang memberinya kekuatan luar biasa setiap kali ia melakukan login harian.Namun, alih-alih menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri, Bai Ruchen mengirimkan setiap hasil login kepada Xinxin, yang sedang berkelana di dunia untuk mencari ibunya. Tanpa disadari, setiap hadiah yang diterima sang putri membuatnya tumbuh menjadi sosok kuat yang dikenal seluruh benua.Sementara dunia mulai mengguncang oleh nama “Dewa Tersembunyi”, Bai Ruchen hanya tersenyum — karena bagi dirinya, semua kekuatan itu hanyalah cara untuk melindungi putrinya dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pil Gumpalan Lumpur, Racun Nomor Satu Lenyap Seketika
"Matahari bersinar tinggi, bunga-bunga tersenyum padaku..."
Bai Ruchen bernyanyi sambil mengayunkan cangkul di kebunnya. Tanpa putrinya di rumah, hidup terasa tenang. Tapi kubis organik tetap harus ditanam, karena nanti semuanya akan dikirim untuk Xinxin. Ia sudah seperti ayah tua di desa yang takut anaknya kurang makan.
Tiba-tiba suara peringatan Sistem terdengar. Cangkulnya jatuh.
"Astaga! Xinxin dalam bahaya? Dia ada di mana? Kenapa butuh pil penawar? Apa dia keracunan?"
Bai Ruchen panik. Baru kali ini putrinya terancam. Sistem pun mengingatkan, "Ding! Bukankah Tuan Rumah sudah mendaftar pil penawar universal sejak awal? Kalau terlalu lama, putri Anda pergi, dan Anda harus membuat akun kecil yang baru!"
Ia langsung tenang. "Kirim sekarang! Soal tanda terima urusan nanti. Kalau putriku tidak ada, aku tak punya siapa-siapa untuk membuka akun kecil. Sampai ibunya kembali, akun ini cuma boleh satu!"
Setelah pil terkirim lewat Sistem, ia menatap halaman atribut putrinya tanpa berkedip.
Di tempat lain, Xinxin mengobrak-abrik tas dimensinya sampai menemukan sebutir pil penawar sebesar kepalan tangan.
"Eh, kok lebih besar dari yang biasa Ayah kasih? Perasaan aku nggak bawa Pil sebesar ini."
Ia mengamati bola hitam kecokelatan itu, lalu tersenyum licik. "Ayah biasanya memberiku yang sebesar kelingking. Tapi Kakek sudah tiga ratus tahun lebih, jadi dosisnya harus lebih besar. Nah, Kek, makan gumpalan kotoran sapi ini... eh, maksudku pil penawar ini, pasti racunmu sembuh. Kita bisa menolong kakak cantik!"
Ia berjongkok di samping tandu Lei Zhentian. Si Dewa Pedang menatap pil itu dengan ngeri. Kata Qiu Xuanfeng, benda itu cuma jelaga dan lumpur. Siapa tahu masih ada sisa keringat ayahnya yang menguleninya semalam.
"Aku tidak mau makan! Lebih baik mati daripada makan jelaga! Kalau benda ini berguna, aku rela jungkir balik sambil mencret!"
Xinxin mengernyit jijik. Kakek ini rewel sekali. Ia menoleh ke arah Su Wanqing dan Mu Qingyu yang makin terdesak. Tak ada waktu lagi. Tanpa bicara, ia menjejalkan bola besar itu ke mulut Lei Zhentian yang tak bisa bergerak.
Di mata sang Dewa Pedang, gadis kecil itu kini tampak seperti iblis. Seumur hidup ia malang melintang, dan menjelang ajal ia malah disuapi jelaga oleh anak kecil. Dosa apa yang pernah ia perbuat?
"Hmmph! Wuwu!"
Karena berbaring, bola itu langsung menyumbat tenggorokannya. Wajahnya memerah dan tubuhnya gemetar hebat.
"Berhasil! Pil Ayah memang manjur! Kakak cantik, lihat! Kakek jadi bersemangat!" seru Xinxin gembira.
Teriakan itu memecah perhatian Su Wanqing. Leluhur Pedang Darah dan Mingze memanfaatkan celah itu dan menghantamkan telapak tangan hingga ia terlempar ke dekat tandu. Ia menyeka darah di sudut bibir dan menoleh. Lei Zhentian sedang panik mengorek tenggorokannya sendiri.
Su Wanqing paham seketika. Wanita yang biasanya dingin itu hampir tertawa. Dewa Ppedang Tingkat Surga nyaris mati tersedak pil jelaga? Kalau ini bocor, nama besarnya hancur di usia senja. Ia melirik Lei Zhentian dengan iba, tetapi tak tega memarahi Xinxin. Ia mengalirkan tenaga dalam dan bersiap menepuk punggung gurunya untuk mengeluarkan benda itu.
Tepat saat itu, bola di tenggorokan Lei Zhentian meleleh. Energinya berubah menjadi arus hangat yang mengalir ke seluruh tubuh. Racun Raja Yama Jahat lenyap seperti lintah kena garam, dan organ dalamnya yang menghitam kembali normal. Seolah di hadapan tenaga ini, semua racun hanya ilusi. Lei Zhentian terpaku, tak percaya.
Namun Mingze dan Leluhur Pedang Darah sudah menyerbu.
"Hehehe, Adikku, trik apa lagi yang kau punya? Keluarkan semuanya, karena setelah ini tak ada kesempatan lagi!"
Su Wanqing tak menjawab. Ia berdiri di depan Xinxin dan Lei Zhentian, tak mundur selangkah, matanya mengunci kedua musuh.
"Dewa Pedang yang mengguncang empat penjuru dan Permaisuri, wanita tercantik Kerajaan Zixia, akan terkubur di sini hari ini!" Mingze menatap adiknya tanpa belas kasihan sedikit pun, hanya jijik. Si Leluhur berambut merah di sampingnya menjilat bibir dengan tatapan kotor. "Sudah banyak wanita yang kukenal, tapi belum pernah seorang permaisuri. Hari ini aku beruntung! Pangeran, cepat serang, jangan tunggu sampai ada kejutan!"
Keduanya menerjang. Su Wanqing mengangkat Pedang Jiwa Es, siap bertarung sampai mati. Lalu terdengar suara angkuh dari belakangnya.
"Apakah aku sudah mengizinkannya?"
Su Wanqing terkejut. Langkah Mingze dan Leluhur terhenti. Mereka menoleh dan melihat Lei Zhentian, yang tadi sekarat, kini berdiri tegak setajam pedang terhunus. Hawa pedang memenuhi udara dan mengarah langsung pada mereka.
"Bagaimana mungkin? Tadi dia hampir mati!" Mingze panik. "Pedang Darah, kau coba dia! Menurutku dia cuma pura-pura!"
Leluhur Pedang Darah mengernyit, kakinya tak bergerak. "Eh, Pangeran, Anda tokoh utama hari ini. Membunuh Dewa Pedang yang terkenal itu pantasnya dilakukan Anda sendiri. Orang tua ini cuma figuran, mana boleh mencuri sorotan?"
Sebelum Mingze sempat membalas, hawa pedang menebas. Keduanya mengangkat senjata untuk menangkis, tetapi terlempar lebih dari sepuluh meter. Merasakan kekuatan itu, mereka saling pandang dan berteriak, "Situasi berubah! Mundur!"
Lei Zhentian pernah menekan seluruh dinasti seorang diri dan termasuk ahli puncak Tingkat Surga. Mereka tak tahu bagaimana ia pulih, tetapi mereka tahu keduanya tak akan menang melawannya, apalagi ada Permaisuri di sisinya. Mingze mundur, dan puluhan pengikutnya ikut kabur dari lembah.
Di langit, pertarungan Luo Yuanhe dan Qiu Xuanfeng juga berakhir seri. Keduanya berdarah di sudut bibir. "Hmph, si pincang! Gunung tak berpindah, tapi air mengalir. Kita pasti bertemu lagi!" Luo Yuanhe melayang pergi. Qiu Xuanfeng dan Lei Zhentian tidak mengejarnya.
Setelah pertempuran usai, Mu Qingyu dan pasukannya menyeret tubuh yang terluka lalu berlutut. "Yang Mulia, kami gagal melindungi Anda. Kami siap dihukum!"
"Bangunlah. Kalian tidak bersalah. Hadiah akan menunggu di istana." Su Wanqing mengangkat tangan, lalu menatap Lei Zhentian dengan heran. "Guru, kondisi tubuh Anda..."
Qiu Xuanfeng penasaran dan langsung memeriksa nadinya. Ia kehilangan seluruh wibawanya dan berteriak, matanya melotot.
"Astaga! Racun nomor satu di dunia, Raja Yama Jahat... hilang? Bagaimana mungkin?!"