"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejak Kapan?
Ezran refleks menyembunyikan tangannya ke belakang tubuh. Matanya membelalak kaget, sementara abu tembakau yang masih menyala membakar ujung jarinya. Dengan gerakan panik dan serba salah, ia segera mematikan puntung rokok itu pada pot tanaman terdekat. Pria itu berdiri kaku, menatap Danira dengan binar wajah yang diliputi rasa bersalah luar biasa.
"Mas ... kamu ngerokok?" tanya Danira lagi, suaranya bergetar antara tak percaya dan kekecewaan yang mendalam. Langkah kakinya mendekat ke arah pintu kaca, mengikis jarak di antara mereka.
Ezran berdehem keras, menyapu lehernya yang mendadak terasa dingin. "Ah ... itu ... iya, ini ...,"
"Sejak kapan kamu ngerokok, Mas?" potong Danira cepat. Matanya menatap tajam puntung rokok yang kini sudah tak bernyawa di dalam pot. "Seingatku, kamu paling benci bau rokok. Kamu bahkan pernah mengusir kawan bisnismu dari rumah ini hanya karena dia menyalakan rokok di teras! Kenapa sekarang kamu malah memegangnya sendiri?"
Ezran terpaku. Lidahnya mendadak terasa kelu, seperti dikunci oleh kenyataan yang tak ia ketahui sebelumnya.
"Aku ... aku cuma ...," Ezran terbata-bata, mengusap tengkuknya seraya mencari kalimat yang paling masuk akal. "Aku cuma pengin coba. Lagi agak pusing aja malam ini."
Danira menatap wajah pria di hadapannya. Kerutan di kening Ezran, gestur matanya yang bergerak gelisah, dan caranya menghindari tatapan langsung, semuanya mengindikasikan bahwa pria itu tengah terpojok. Namun, Danira dengan cepat menarik napas panjang. Ia menghembuskannya perlahan, menekan emosi yang mulai membuncah di dadanya.
Tidak. Ia tidak boleh memicu pertengkaran malam ini. Setelah satu hari penuh kedamaian yang jarang terjadi ini, Danira tak ingin merusaknya hanya karena ego atau kecurigaannya yang makin meliar.
Danira melunakkan raut wajahnya. Pandangannya berubah melenyapkan intimidasi, digantikan oleh tatapan cemas yang tulus.
"Apa ... pekerjaanmu sesibuk dan sesetres itu di luar kota kemarin, Mas? Sampai-sampai kamu melampiaskannya ke rokok?" tanya Danira dengan nada suara yang jauh lebih lembut.
Ezran menoleh kembali, sedikit terkejut dengan perubahan sikap wanita itu. Ia mengangguk pelan, menyambar alasan itu sebagai penyelamatnya. "Iya ... lumayan banyak pikiran. Beban pekerjaan belakangan ini agak menumpuk."
Danira melangkah satu tapak lebih dekat, menatap mata suaminya lekat-lekat. "Aku paham kamu capek, Mas. Aku menghargai kerja kerasmu untuk keluarga ini. Tapi tolong ... jangan rokok."
"Kenapa?" tanya Ezran pelan.
"Kamu lupa?" Danira menghela napas pendek. "Putri kita, Senara ... dia punya riwayat asma. Paru-parunya sensitif sekali dengan asap, apalagi bau tembakau yang menempel di baju atau napas. Jangan sampai asap rokokmu memperburuk keadaannya, Mas. Kalau kamu sakit atau Senara kambuh, aku yang bakal kebingungan sendiri di rumah ini."
Kalimat itu menghantam dada Ezran dengan telak. Rasa bersalah yang murni mendadak berdesakan di rongga dadanya.
"Maaf ...," ucap Ezran tulus, suaranya mengecil. "Aku benar-benar tak memikirkan hal itu. Aku janji, aku tak akan menyentuhnya lagi di rumah ini."
"Terima kasih kalau kamu mau mengerti," balas Danira pelan. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, menahan dinginnya angin malam yang berembus masuk. "Yaudah kalau gitu. Hari sudah malam, aku mau kembali tidur."
"Oh ... iya. Selamat tidur," gumam Ezran.
Danira mengangguk tipis, berbalik membelakangi Ezran, lalu berjalan menuju area lorong tengah. Sementara itu, Ezran berdiri mematung beberapa detik. Pria itu menghela napas kasar, melampiaskan beban di dadanya, lalu menyisir rambut hitamnya ke belakang menggunakan jemari tangan.
Ia menyapu sisa abu di pot bunga, memastikan tak ada api yang tersisa, lalu melangkah masuk dan mengunci pintu kaca belakang rapat-rapat.
Namun, saat ia kembali ke lorong utama, pandangannya menangkap sosok Danira yang bukannya berjalan menuju kamar utama di lantai bawah, melainkan sedang menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Ezran menghentikan langkahnya di dasar tangga, mendongak menatap punggung wanita itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ezran memecah keheningan rumah.
Danira menghentikan langkahnya tepat di pijakan tangga kelima. Tanpa berbalik penuh, ia hanya menolehkan kepalanya sedikit.
"Tidur," balas Danira singkat.
Kening Ezran bertaut rapat. Kebingungan yang sejak tadi ditahannya kini menyembul kembali ke permukaan. "Tidur? Tapi ... kamar utama kan katamu di bawah. Di atas kan kamar anak-anak. Tapi kok kamu malah naik ke atas?"
Danira sepenuhnya menghentikan pergerakannya. Ia memutar tubuhnya, berdiri tegak di atas tangga sambil menatap Ezran yang berada di bawahnya. Tatapannya terlihat begitu dalam, menyimpan duka dan dingin yang bertolak belakang dengan senyumnya tadi sore.
"Mas ...," panggil Danira pelan, suaranya terdengar datar namun menembus jantung Ezran. "Kamu beneran lupa ... atau pura-pura gak sadar?"
Ezran membisu, menatap Danira tanpa kedipan.
"Mas gak sadar sudah selama apa kita pisah kamar?" sambung Danira.
Deg.
Kata-kata itu terucap begitu santai dari mulut Danira, namun efeknya seperti dentuman keras di kepala Ezran.
"Kamu sendiri yang memintaku menjauh dari kamu," lanjut Danira dengan sisa senyum getir di bibirnya. "Kamu bilang kamu butuh ketenangan tanpa gangguan tangisan Sena malam-malam, dan kamu gak mau terganggu kalau harus bangun pagi buat urusan kantor. Jadi, aku tidur di atas bersama Sena dan Arelio."
Ezran mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya menatap Danira dengan rasa syok yang tak terbendung. Tenggorokannya terasa tersumbat, tak tahu harus merespons apa atas kenyataan pahit yang baru saja disodorkan padanya.
"Selamat malam, Mas. Jangan lupa matikan lampu dapur," ucap Danira dingin. Wanita itu kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga satu per satu, hingga sosoknya menghilang di balik belokan lorong lantai dua.
Suasana lantai bawah seketika menjadi sangat sunyi dan mencekam. Ezran masih berdiri memaku di tempat yang sama, menatap tangga kosong di hadapannya.
"Pisah kamar?" bisiknya lirih pada kegelapan malam.
Pria itu menyandarkan punggungnya pada dinding lorong, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan. Kepalanya berdenyut nyeri membayangkan betapa rusaknya hubungan yang ditinggalkan oleh pemilik asli nama ini.
"Sudah berapa lama memangnya hidup seperti ini?" gumam Ezran pelan, suaranya bergetar menahan frustrasi. "Sebenarnya ... apa yang terjadi? Kenapa ... kenapa kehadiranku di rumah ini rasanya begitu asing?"
Ia menatap tangannya yang tadi sempat memegang rokok, lalu menatap tangga menuju kamar anak-anaknya. Rasa iba, bersalah, dan kebingungan bercampur menjadi satu.
____________________
aku bantuin dech 😂😂😂
trs kenapa abis koma kok km lembut sama danira Ezran..apa abis kepentok stir mobil kah atau gimana?
kasiannya ae si evran,gak dapat kasih sayang dr salah satunya..baik emak atapun bapaknya.
jujrlah pd danira mungkin dia bisa membantumu
Penilaian Papamu benar
Jika dulu Papamu yg hancur krn keegoisan Mamamu...sekarang Evran
Dan sebentar lagi...kau yg dpt giliran Ezran
Maka kau akan tau seegois apa Mamamu
Dan jika saatnya itu tiba...jgn pernah kau menyalahkan & menyakiti Evran