NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:208.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Doa Raya

Adzan Shubuh berkumandang memecah sunyi pagi itu. Suaranya lirih, namun terasa begitu dalam menusuk relung hati.

Raya membuka mata dengan berat. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis oleh luka yang belum sempat ia pahami sepenuhnya. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa detik, ia berharap semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi buruk.

Namun kenyataan tetap sama.

Ia masih Raya… yang baru saja ditalak, sesaat setelah akad.

Raya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dalam dirinya. Perlahan, ia bangkit dari tempat tidur. Kakinya terasa berat saat melangkah menuju kamar mandi.

Air wudhu yang menyentuh wajahnya terasa begitu dingin, seakan menyadarkannya sepenuhnya dari keterpurukan. Setiap basuhan seperti membawa rasa sesak yang perlahan luruh, meski tidak sepenuhnya hilang.

Selesai berwudhu, Raya mengenakan mukenanya. Ia berdiri, menghadap kiblat.

"Allahu Akbar…”

Takbir itu terdengar pelan, nyaris seperti bisikan.

Dalam shalatnya, Raya berusaha khusyuk. Namun bayangan kemarin terus datang silih berganti. Wajah ayahnya… suara talak itu… tatapan orang-orang…

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia tetap melanjutkan shalatnya.

Hingga akhirnya salam terucap.

Raya tetap duduk di atas sajadah. Tangannya perlahan terangkat, namun jemarinya bergetar. Bibirnya kelu, seperti tak tahu harus memulai dari mana.

Beberapa saat ia hanya terdiam.

Lalu akhirnya, dengan suara terbata, ia mulai berdoa—

"Ya Allah…”

Suaranya pecah.

"Ya Allah… hamba lemah…”

Air matanya kembali jatuh, kali ini semakin deras.

"Engkau Maha Mengetahui apa yang terjadi… Engkau tahu seberapa sakit hati ini, ya Allah…”

Ia menarik napas, mencoba melanjutkan meski dadanya terasa sesak.

"Kalau ini ujian dari-Mu… tolong kuatkan aku, ya Allah!”

Tangannya semakin gemetar.

"Jangan biarkan aku hancur… jangan biarkan aku putus asa!”

Raya menundukkan kepalanya.

"Ya Allah… aku kehilangan banyak hal dalam satu waktu… aku kehilangan kebahagiaanku… aku kehilangan ayahku…”

Isaknya tak lagi bisa ditahan.

"Tapi jangan sampai aku kehilangan Engkau juga, ya Allah!”

Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, namun air mata itu terus mengalir.

"Berikan aku kekuatan… walaupun sedikit… agar aku bisa bangkit…”

"Berikan aku hati yang lapang untuk menerima takdir-Mu!”

"Dan jika memang ada keadilan yang harus Engkau tunjukkan… biarlah Engkau sendiri yang membalas semua yang telah menyakitiku!”

Doanya terhenti sejenak.

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia menutup—

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Engkau, ya Allah!”

Raya menurunkan tangannya perlahan.

Pagi itu terasa sunyi, namun untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ada sedikit kelegaan di dalam hatinya—meski hanya seujung kuku.

Ia masih rapuh.

Masih terluka.

Namun di atas sajadah itu, Raya mulai belajar satu hal—

bahwa … satu-satunya tempat ia bisa bersandar sekarang hanyalah kepada Tuhannya.

***

Senin pagi itu, rumah Pak Hasan terasa berbeda. Biasanya riuh dengan aktivitas pagi—suara langkah kaki, percakapan ringan, dan tawa kecil yang bersahutan. Namun hari itu, semuanya terasa hampa, seolah rumah besar itu kehilangan nyawanya.

Kamil keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi seperti biasa. Kemeja yang disetrika licin, sepatu mengilap, dan wajah yang tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan begitu banyak hal.

Langkahnya terhenti sejenak di lorong. Ia mengernyit.

Sepi.

Tak ada suara Fathya yang biasanya sudah siap dengan tas sekolah di bahu, menunggunya sambil mengeluh soal pelajaran atau sekadar minta diantar lebih cepat.

Kamil menghela napas pelan, lalu melanjutkan langkah ke ruang makan.

Di sana, Fathya duduk sendirian. Bukan dengan seragam sekolah, melainkan masih mengenakan baju tidur. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan matanya sembab—jelas ia tidak tidur nyenyak semalaman.

Kamil menarik kursi tanpa banyak pikir.

"Fat, lu gak sekolah?" tanyanya datar, seolah tak ada yang aneh.

Fathya menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh amarah yang selama ini ia tahan.

"Mana berani gue ke sekolah? Yang ada gue bakal jadi bahan hujatan." Suaranya bergetar, tapi bukan karena lemah—melainkan karena emosi yang meluap. "Semua gegara kelakuan Abang."

Kamil hanya mengangkat bahu ringan, seolah itu hal sepele.

"Ah, temen-temen lu aja yang cemen. Gitu aja pada ngehujat. Fomo itu namanya," jawabnya santai.

Ucapan itu seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala.

"Terserah Abang mau ngomong apa," balas Fathya cepat, napasnya mulai tak beraturan. "Yang pasti aku mau menghilang dulu. Sampai semua ini reda."

Kamil sudah berdiri, mengambil roti di meja makan. Ia menggigitnya dengan santai, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Lu jangan cemen, Fat. Kalau ada yang menghujat juga santai aja. Kenapa mesti kepikiran?" ucapnya ringan, seolah masalah ini hanya badai kecil yang akan berlalu dengan sendirinya.

Fathya menatapnya tak percaya.

Di hadapannya berdiri seseorang yang ia panggil abang… tapi terasa begitu asing.

"Yang lain pada ke mana, nih?" lanjut Kamil sambil mengunyah. "Kok sepi? Bang Hakim sama Bang Kemal masih di sini kan?"

Fathya tertawa kecil—tawa yang pahit.

"Ada," jawabnya singkat. "Tapi kayaknya… mereka lagi menghindari Abang."

Kamil berhenti mengunyah. Keningnya berkerut.

"Lho, kok menghindari gue? Gue salah apa emang?"

Pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diri Fathya runtuh.

Ia berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras hingga menimbulkan suara nyaring yang memecah keheningan rumah.

"Masih nanya salah apa?" suaranya meninggi, matanya berkaca-kaca. "Dasar sinting!"

Tak menunggu jawaban, Fathya berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Tangannya mengepal, berusaha menahan tangis yang hampir pecah.

Sementara itu, Kamil tetap berdiri di tempatnya.

Dengan roti di tangan.

Dengan ekspresi bingung… atau mungkin—tidak peduli.

Dan di rumah yang kini dipenuhi luka itu, untuk pertama kalinya… Kamil benar-benar sendirian, tanpa menyadari bahwa dirinya adalah alasan dari semua keheningan itu.

Selesai sarapan Kamil melangkah mantap menyusuri lorong menuju ruang keluarga. Ia masih menggenggam tas kerjanya, wajahnya datar, seolah pagi itu tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Namun begitu sampai di ruang keluarga, suasana kembali terasa ganjil.

Hanya ada Pak Hasan.

Duduk di sofa, dengan koran yang terbuka di tangannya. Tapi sorot matanya tidak benar-benar membaca—lebih seperti menahan sesuatu yang berat di dada.

Kamil berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat.

"Mau ke mana kamu sudah rapi gitu?" tanya Pak Hasan, sambil melipat korannya perlahan dan meletakkannya di meja.

Nada suaranya tenang… tapi dingin.

"Ya kerja lah, Pa," jawab Kamil ringan. "Kok seperti yang aneh lihat aku mau kerja?"

Pak Hasan menatapnya lama. Tatapan seorang ayah yang sedang berusaha memahami… bagaimana anak yang ia besarkan bisa berdiri setenang itu setelah menghancurkan banyak hati.

"Masih punya muka kamu untuk berangkat kerja setelah apa yang kamu lakukan kemarin?"

Ucapan itu menghantam, tapi tidak cukup untuk menggoyahkan Kamil.

Ia justru terlihat bingung.

"Lho kok itu lagi bahasannya?" balasnya. "Gak ada hubungannya lah kerjaan dengan apa yang aku lakukan kemarin."

Pak Hasan menggeleng pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya—bukan karena lucu, tapi karena getir.

"Benar-benar ya kamu…" gumamnya. "Emang gak ada perasaan."

Ia menatap Kamil lebih dalam, mencoba mencari sisa-sisa penyesalan di wajah anaknya itu.

"Atau kamu jangan-jangan belum lihat media sosial?"

Kamil mengangkat bahu.

"Aku jarang bermedsos, Pa."

Jawaban sederhana. Tapi justru terasa seperti pisau yang menggores perlahan.

Tak ada rasa ingin tahu.

Tak ada usaha memahami dampak dari perbuatannya.

Hanya… ketidakpedulian.

"Ya udah," lanjut Kamil santai. "Aku pamit kerja, Pa. Mama di mana?"

Pak Hasan langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya berubah tegas.

"Mau apa nyari Mama?"

"Pamit lah."

Hening sejenak.

Lalu suara Pak Hasan terdengar lebih keras dari sebelumnya, meski tetap ditahan.

"Gak usah. Mamamu malah akan tambah sakit kalau lihat kamu."

Kalimat itu menggantung di udara.

Berat. Menyakitkan.

Untuk pertama kalinya, Kamil sedikit terdiam. Tapi bukan karena tersentuh—lebih karena tak menyangka akan ditolak seperti itu.

"Kamu langsung pergi aja!" lanjut Pak Hasan, kali ini tanpa menatapnya.

Tak ada lagi ruang untuk perdebatan.

Kamil menghela napas pendek. Ia mengangguk kecil, meski jelas tidak sepenuhnya mengerti.

"Ya sudah… saya pamit, Pa."

Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Tangan kanannya sudah meraih gagang pintu saat ia mengucap,

"Assalamualaikum."

Pak Hasan tidak langsung menjawab.

Ia menatap punggung anaknya yang semakin menjauh. Ada rasa hancur yang perlahan merayap di hatinya—bukan hanya karena perbuatan Kamil, tapi karena sikapnya yang seolah tak memiliki nurani.

Beberapa detik kemudian, barulah ia menjawab pelan,

"Wa’alaikum salam."

Pintu tertutup.

Dan di ruang keluarga itu, Pak Hasan kembali duduk, menatap kosong ke depan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia merasa gagal sebagai seorang ayah.

1
falea sezi
entah suka deh amanda itu bangke bgt cocok mati😒 dia php dr awal kn emang 😒 kapok
Kale
kamil itu akan sadar jika tangan Tuhan sdh menghukumnya
Kale
ceritanya bagus Thor,,
Fi Fin
harusnya Raya bkn janda kalo mau ajukan pembatalan nikah , kan nikah nya br berapa jam
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Heart//Kiss/
Ma Em
Selamat untuk Raya dan Andra karena sekarang Raya sdh sah menjadi istrinya Andra , akhirnya Raya bisa merasakan kebahagiaan nya bersama Andra , semoga pernikahan Raya dgn Andra langgeng selalu bahagia dan segera diberi momongan , terima kasih Thor akhirnya cerita Raya berakhir dgn bahagia , semoga author selalu sehat panjang umur sukses dgn karya2 nya 🤲👍🥰.
Arieee
bagus, 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Isabela Devi
ini cerita untuk mengingatkan kita bahwa jgn pernah dendam pada orang sampai merengut nyawa yang lain, semangat thor
Isabela Devi
kecelakaan itu pasti ulah Kamil itu
Arieee
tuh kan masuk penjara 🤧🤧🤧🤧🤧
eec
firasat orang tua Aldo benar banget. Aldo ngeyel sih, mentang2 orang tua dah meninggal trus lupa larangannya. Kamil juga lemah banget jd laki, Raya bersyukur deh gk jadi ma Kamil, sumbu pendek banget. semua2 diukur pake emosi.
irma hidayat
cerita yg bagus
Ma Em
Kamil pasti akan dihantui Amanda apalagi Amanda sdg hamil pasti Amanda akan jadi arwah penasaran .
sunaryati jarum
Apa kecelakaan itu dirancang Kamil, Authoor sungguh pinter. bikin teka - taki dan penasaran emak.Jika iya Kamil telah menghidupkan empat nyawa secara tak langsung
sunaryati jarum: maksudnya menghilangkan bukan menghidupkan 🤭
total 1 replies
Anonim
yah tidak menyenangkan kirain Kamil bakalan tertawa terbahak-bahak lalu berkata sumpah dan kata kata tidak baik seperti scene di Death Note saat Light mendatangi Pemakaman L ..
Elina thea
yg aku gak habis pikir...meskipun tuh si Amanda dah buka aib kalo dah Hamidun trus jebak pria lain saat pacarnya hilang, orangtuanya cuman bilang "asal anaknya bahagia "trus semua di lanjutin gitu...trus itu penghulu,pemuka agama,kan tau hukumnya kalo perempuan hamidun gak boleh di nikahi...terkecuali nanti kalo dah selesai nifas,tapi di sini para tamu juga malah diam dan nikmatin acara,ih...amit2.
Ma Em
Mungkin kecelakaan yg dialami Amanda dan Aldo ada kaitannya dgn Kamil , karena Kamil sakit hati pada Amanda sehingga Kamil nekad mencelakai Amanda .
Arieee
semoga si Kamil kalo gak masuk RSJ ya penjara🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
aku
jd psyco nih 🤔🙏
eec
orang suruhan Kamil kah yg nabrak, sengaja ngajak Amel supaya jd alibi Kamil jd gk dicurigai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!