Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
BAB 4: TIGA PEKERJAAN demi SATU NYAWA
Aroma cairan antiseptik yang tajam menyambut Maya begitu ia melangkah keluar dari ruang perawatan Bagas. Jam dinding di koridor rumah sakit menunjukkan pukul lima pagi. Hari masih gelap, namun mata Maya sudah terasa membakar akibat kurang tidur selama berminggu-minggu. Kulit wajahnya yang dulu berseri kini tampak pucat, dengan lingkaran hitam pekat mengintip di bawah matanya.
Sebelum benar-benar melangkah meninggalkan lorong rumah sakit, Maya sempat dihentikan oleh Suster Ratna di dekat meja perawat.
"Ibu Maya, sebentar," panggil Suster Ratna dengan raut wajah serbasalah.
Maya menghentikan langkahnya, memutar tubuh dengan jantung yang berdebar kencang. "Iya, Suster? Ada apa dengan Mas Bagas?"
"Bukan Pak Bagas, Bu. Tapi ini soal resep obat susulan untuk lima hari ke depan," ujar Suster Ratna seraya menyerahkan selembar kertas putih berstempel merah. "Dokter Frans mengganti dosis obat neuroprotektif untuk membantu pemulihan saraf otak Pak Bagas. Obat jenis ini belum ditanggung penuh oleh penjamin, jadi harus dibeli mandiri di apotek luar."
Maya menerima kertas itu. Matanya menyapu deretan tulisan Latin hingga berhenti pada nominal angka yang tertera di bagian bawah.
Dua juta lima ratus ribu rupiah.
Napas Maya seketika tertahan di dada. "Dua juta setengah... cuma untuk lima hari, Suster?"
Suster Ratna menatap Maya prihatin. "Iya, Bu. Ini obat impor yang cukup sensitif. Kalau penggunaannya terputus, efek terapi yang kemarin bisa menurun lagi. Kami harap Ibu bisa menebusnya paling lambat nanti malam."
"Baik, Suster... terima kasih. Nanti malam pasti saya bawa obatnya," jawab Maya pelan, berusaha mengukir senyum tipis meski jemarinya yang memegang resep itu gemetar hebat.
Pukul enam pagi lewat sedikit, Maya sudah berdiri di balik pintu belakang Restoran Sederhana Rasa. Asap dapur yang membumbung tinggi bercampur aroma bumbu rempah langsung menyengat indra penciumannya. Di tempat ini, Maya bekerja sebagai petugas kebersihan dapur dan pencuci piring shift pagi.
"Maya! Kenapa baru sampai? Itu tumpukan kuali sama piring kotor dari tadi malam belum disentuh!" bentak Pak Agus, kepala dapur berbadan gempal yang terkenal galak.
"Maaf, Pak Agus. Tadi saya harus mengurus resep obat suami saya dulu di rumah sakit," jawab Maya sembari bergegas memakai celemek plastik yang sudah agak robek di bagian pinggirnya.
"Saya tidak mau tahu urusan rumah tanggamu, Maya! Yang penting pekerjaan selesai sebelum jam sembilan! Kalau pelanggan mulai datang dan piring belum siap, gajimu saya potong!" ancam Pak Agus tegas, lalu berbalik mengurusi penggorengan besar.
"Baik, Pak. Segera saya selesaikan," balas Maya lembut tanpa membantah sedikit pun.
Maya meletakkan tubuhnya di atas bangku kayu kecil yang rendah. Di hadapannya, tiga bak plastik raksasa sudah menggunung dengan piring, gelas, serta wajan berlapis minyak dan lemak tebal. Maya menyalakan kran air, menyiramkan detergen pencuci piring cair, lalu mulai menggosok spons dengan gerakan cepat.
Air dingin bercampur lemak sisa makanan membasahi jemarinya yang mulai kasar dan mengelupas. Telapak tangannya terasa perih terkena gesekan sabun kimia saban hari, namun Maya mengabaikan rasa sakit itu. Di benaknya, setiap piring yang ia cuci adalah rupiah demi rupiah yang menyambung napas Bagas.
"Aduh!" ringis Maya tiba-turna ketika pecahan piring porselen yang tersembunyi di dasar bak menggores telunjuk kirinya. Darah segar langsung mengalir membasahi busa sabun.
"Kamu kenapa, May?" tanya Siti, sesama pekerja dapur yang lewat membawa keranjang sayur.
"Nggak apa-apa, Mbak Siti. Cuma tergores sedikit," jawab Maya cepat sambil membalut lukanya menggunakan kain lap bersih seadanya.
"May, kamu itu kelihatan lemas banget. Muka kamu pucat kaya mayat. Mending istirahat sebentar, minum teh hangat," puji Siti khawatir.
Maya menggeleng pelan. "Nggak usah, Mbak. Kalau saya istirahat, nanti cuciannya nggak selesai tepat waktu. Nanti Pak Agus marah dan potong gaji saya. Saya butuh uangnya hari ini."
Siti hanya bisa mendesah prihatin, menepuk bahu Maya pelan sebelum kembali bekerja.
Tepat pukul sembilan lewat lima belas menit, begitu pekerjaannya di dapur selesai dan ia menerima bayaran harian sebesar lima puluh ribu rupiah dari Pak Agus, Maya berlari menuju Toko Kelontong Pak Kusno yang berjarak sekitar satu kilometer.
"Selamat pagi, Pak Kusno," sapa Maya terengah-engah, mengusap keringat di dahinya begitu tiba di toko.
Pak Kusno yang sedang menata karung beras menoleh. "Eh, Maya. Waduh, kamu habis lari ya? Napasmu sampai ngos-ngosan begitu."