NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Dua Bayangan Dibalik Pintu

Gerimis melanda kota di malam yang hampir tak memperlihatkan satu bintang pun. Mobil milik Daffa akhirnya berhenti di pelataran sebuah apartemen mewah miliknya bersama sang istri. Sofie sudah lebih dulu pulang dari mansion, ia enggan bertahan lebih lama di sana karena banyaknya tamu dan kondisi tubuhnya yang mulai lelah.

Daffa turun dari mobil sembari melepas jas hitamnya yang terasa sesak. Langkah tegapnya membawa dirinya menaiki lift. Di dalam ruangan sempit itu, Daffa merogoh ponselnya. Tak ada notifikasi apa pun. Ia membaca kembali pesan singkat yang ia kirimkan kepada Clara beberapa jam lalu. Cukup lama ia menatap layar itu hingga pintu lift berdenting terbuka.

Daffa menghela napas kasar sebelum memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Rahangnya mengetat keras menahan amarah yang sudah dipendamnya sejak di acara pesta. Langkahnya menghentak tegap menuju unit apartemennya.

Klik.

Pintu terbuka. Ruangan luas berkursi mewah itu tampak sepi dan agak gelap. Semua lampu utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan pendar redup lampu tidur dari arah kamar utama.

Daffa mendorong pintu kamar perlahan. Di atas ranjang, Sofie sudah berbaring di bawah balutan selimut tebal. Napas istrinya terdengar teratur dan tenang, menandakan ia telah lelap dalam tidur.

Daffa tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia kembali menutup pintu kamar tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Di ruang tengah, ia menyambar kunci mobil yang baru saja diletakkan di meja, melempar jasnya begitu saja di atas sofa, lalu melangkah keluar tanpa ragu.

Namun di dalam kamar yang redup itu, mata Sofie yang terpejam perlahan terbuka lebar.

Wanita itu menatap dingin ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat. Tak ada suara di luar—pertanda pasti bahwa suaminya baru saja pergi meninggalkannya lagi.

Tanpa air mata dan tanpa gurat kesedihan sedikit pun di wajah elegannya, Sofie meraba nakas. Jemarinya meraih ponsel, memanggil sebuah nomor tersembunyi yang tersimpan di daftarnya.

"Ikuti Daffa. Dia baru saja turun ke bawah," bisik Sofie dingin.

Panggilan dimatikan. Sofie kembali memejamkan mata sembari mendekap ponselnya di dada. Tidak ada isakan, tidak ada kemarahan murahan. Ia sudah terbiasa diabaikan seperti ini. Namun kali ini, ia menolak untuk terus diam dan menjadi pihak yang dibodohi.

....

Di tempat lain, di dalam unit apartemen Aura...

Deru bel pintu yang terus berbunyi nyaring memaksa Aura bergeming dari tempat tidur. Dengan jemari gemetar, ia meraih kacamata tipisnya di nakas. Efek tiga butir obat penenang membuat seluruh persendiannya lemas dan limbung, langkah gontainya bahkan hampir membuat tubuhnya ambruk di ambang pintu kamar.

Kepalanya berdenyut hebat dan terasa teramat berat. Mengumpulkan sisa kesadaran yang tercecer, Aura berjalan melangkahi tumpukan baju Clara di lantai menuju pintu utama. Tangannya yang dingin memutar kunci perlahan.

Klik.

Pintu terdorong terbuka.

"Clara..." Ucapan Daffa seketika terhenti di udara. Kening pria itu berkerut dalam saat menatap sosok di hadapannya.

Piyama tidur berkancing rapat yang terlalu sopan, rambut berantakan, serta kacamata tipis yang menempel agak miring di wajah pucat tanpa riasan. Ini sama sekali bukan tampilan Clara yang ia kenal.

Aura menyipitkan matanya yang kabur, mencoba mengenali pria tinggi berbau alkohol dan cerutu di depannya. Refleks ketakutan membuatnya mundur selangkah dan bertekad menutup kembali pintunya. Namun terlambat, cengkeraman tangan Daffa yang kuat sudah lebih dulu menahan daun pintu.

"Clara, apa-apaan kamu?! Kamu sengaja berakting seperti orang bodoh agar saya kasihan?!" suara Daffa naik satu oktaf, mencengkeram kasar lengan atas Aura hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Ber... berakting? Apa maksud Pak Daffa?" suara Aura bergetar hebat. Matanya membelalak panik. Ia teramat ketakutan melihat gurat amarah di wajah pria yang berdiri di ambang pintunya, sama sekali tidak mengerti mengapa pria ini berada di sini dan membentaknya.

Rasa pening di kepala Aura kian mendera parah, menghancurkan keseimbangan tubuhnya. Daffa melangkah maju, menangkup keras kedua pundak Aura untuk menahannya agar tidak jatuh, sekaligus memojokkannya.

"Aku benci aktingmu, Clara! Kamu selalu pura-pura polos begini kalau tahu aku sedang marah!" bentak Daffa tepat di depan wajahnya.

Namun, sebelum rasa takut Aura melahap habis kesadarannya, pandangannya yang makin buram menangkap siluet pria lain yang berlari cepat di koridor luar—melangkah lebar.

"Kak Daffa!" pekik suara tegas itu dari arah luar.

Daffa terkejut dan mendadak berbalik. Di saat yang bersamaan, pandangan Aura seketika menjadi gelap gulita. Tubuhnya meluruh pasrah, hilang kesadaran sepenuhnya di atas karpet lantai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!