NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Dengung tiga unit komputer peladen rakitan di ruang belakang bilik nomor sembilan bergetar rendah, meniupkan hawa panas berbau sangit debu ke arah wajah Sora. Ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter itu dipenuhi gulungan kabel jaringan biru yang berantakan di lantai semen dan rak besi berkarat tempat tumpukan cakram keras bekas disimpan tanpa label.

Maya bersandar pada tepi meja kayu lapuk, melipat kedua tangannya di depan dada jaket hoodie hitamnya. Sorot matanya yang sayu kini berubah tajam, menatap Sora seolah pemuda itu adalah hama berbahaya yang menyusup ke sarangnya.

“Gua gak punya urusan sama anjing ruko,” kata Maya ketus. “Dua penagih tadi emang bajingan, tapi lu… lu gak ada bedanya. Lu yang ngocok kartu, lu yang mutar piringan rolet sampai orang-orang kayak bokap gua kalap dan gantung diri di bak truk.”

Sora tidak langsung mendebat. Ia melangkah mendekati dinding partisi tripleks di samping meja monitor.

Di dinding itu, tertempel selembar nota kuning kusam berukuran kecil dengan sebuah paku payung karat. Kertas itu koyak di bagian tepi dan bernoda bekas kopi tumpah, tetapi goresan tinta biru dan cap stempel merah bertuliskan Kasino Ruko Tiga Naga masih tampak nyata.

Sora memperhatikan deretan angka yang tertera di sana.

“Pinjaman pokok dua puluh juta,” gumam Sora pelan, membaca rincian biaya yang tertulis di kertas itu. “Bunga mingguan sepuluh persen majemuk. Biaya administrasi harian lima ratus ribu. Total tagihan dalam empat bulan, seratus delapan puluh enam juta rupiah.”

“Puas lu bacanya?” potong Maya. Suaranya bergetar, menahan amarah yang mendidih di dada. “Bokap gua cuma pinjam dua puluh juta buat benerin transmisi truk gandengnya yang jebol di dermaga barat. Dia gak pernah main judi seumur hidup sampai Jerry nawarin pinjaman dana cepat di pintu samping ruko. Pas bunganya bengkak gak masuk akal, Jerry sita truknya, cabut izin trayeknya, dan suruh Rusli bolak-balik neror kontrakan kami!”

Maya melangkah maju, telunjuknya menuding ke dada Sora. “Dan sekarang lu datang ke sini, bawa tangan buntung, terus mau minta gua bantu lu? Cuih. Keluar sebelum gua telepon anak buah Jerry yang lain buat beresin lu di sini!”

Sora menatap nota kuning itu lekat-lekat, lalu mengulurkan tangan kanannya. Ujung jarinya mengetuk baris ketiga pada kuitansi tersebut—sebuah kode kecil bertuliskan Kode Audit: 7-M-Nol.

“Jerry pakai rumus meja mati,” kata Sora.

Maya terdiam sejenak. Keningnya berkerut curiga. “Maksud lu?”

“Bokapmu gak pernah berutang seratus delapan puluh enam juta,” lanjut Sora. Nada suaranya datar, tanpa getaran emosi. “Di lantai dua ruko Tiga Naga, ada dua jenis buku catatan utang. Buku putih buat aparat pemeriksa distrik, dan buku hitam bersandi Tujuh-M buat buruh pelabuhan yang punya aset kendaraan besar.”

Sora menoleh, menatap lurus ke mata Maya.

“Rumus Tujuh-M itu bukan bunga perbankan, Maya. Itu skema perampasan aset terencana. Jerry memasukkan denda harian fiktif yang digandakan setiap kali tanggal jatuh tempo bertepatan dengan hari libur dermaga. Tujuannya dari awal bukan uang tunai dua puluh juta itu. Jerry butuh truk gandeng bokapmu buat angkut mesin slot selundupan dari dermaga barat ke gudang logistik Zona Tengah tanpa bayar sewa ekspedisi resmi.”

Ruang peladen sempit itu mendadak hening. Hanya derak kipas prosesor panas yang mengisi jeda di antara mereka.

Maya menarik napas pendek. Selama enam bulan terakhir, gadis itu mengira ayahnya bunuh diri murni karena kebodohan finansial dan ketidakmampuan melunasi lintah darat. Beban rasa bersalah itu menggerogoti pikirannya setiap malam di depan layar komputer.

“Lu… lu pasti bohong,” bisik Maya, suaranya tercekat. Matanya memerah menahan pedih.

“Aku yang tanda tangan paraf di lembar verifikasi kasino waktu truk bokapmu ditarik ke garasi ruko,” sahut Sora apa adanya. “Waktu itu aku gak peduli siapa pemiliknya. Yang kupikirkan cuma satu: memastikan pembukuan Jerry selalu surplus supaya aku dapat komisi buat beli obat ginjal Mila.”

Sora menarik tangan kirinya keluar dari saku jaket parka, memperlihatkan perban hitam yang membebat pangkal kelingkingnya yang hilang.

“Dua hari lalu, Jerry ambil tabungan operasi adikku. Dia potong kelingkingku, suruh Rusli buang aku ke comberan, dan Mila mati di ranjang dorong rumah sakit kelas tiga tanpa sempat masuk ruang operasi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!