Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Kecerdikan Lianhua
Memanfaatkan kesempatan berharga itu, Lianhua melompat keluar dari balik ceruk batu dan berlari sekencang-kencangnya menuju jalur hutan kembali ke desa. Kakinya menapak lincah menembus akar-akar pohon raksasa.
Namun, si Kepala Botak yang memiliki pendengaran tajam menoleh ke belakang dan melihat bayangan anak kecil bergaun abu-abu berlari menjauh.
"Sialan! Kita ditipu! Dia ada di sana! Kejar!" jerit si Kepala Botak murka.
Ketiga penyamun berbalik dan mengejar Lianhua dengan langkah-langkah lebar. Karena mereka adalah pria dewasa berbaju zirah tipis yang terbiasa berburu, jarak di antara mereka perlahan-lahan makin terkikis.
"Berhenti, Bocah!" teriak penyamun tinggi kurus sambil melempar pisau lemparnya.
Cras!
Pisau itu menancap di batang pohon tepat di samping kepala Lianhua, dan memotong beberapa helai rambut hitamnya. Lianhua terperanjat, tetapi ia tidak membiarkan rasa takut melumpuhkan otaknya.
'Aku tidak bisa menang bertarung dengan kekuatan fisik melawan tiga pria dewasa,' pikir Lianhua cepat sambil terus berlari terengah-engah. 'Aku harus menggunakan keunggulan medan dan kecerdikanku!'
Lianhua membelokkan arah larinya menuju area vegetasi jamur beracun yang pernah ia baca di kitab herbal Tuan Zhao, area Rawa Bunga Tengkorak. Di tempat itu, tanahnya dipenuhi lumpur hisap tersembunyi dan getah bunga yang bisa menyebabkan gatal membakar jika tersentuh kulit.
"Kemari kau, Tikus Kecil!" penyamun gemuk melompat hendak menangkap bahu Lianhua.
Lianhua merendahkan badannya dengan kelenturan yang luar biasa, dan membiarkan penyamun gemuk itu melompat melewatinya dan...
PLOK!
Penyamun gemuk itu jatuh terjerembab tepat ke dalam area lumpur hisap! Tubuh besarnya langsung terperosok hingga sepinggang, dan makin ia berontak, makin cepat lumpur itu menyedotnya ke bawah.
"Tolong! Kakiku tersedot lumpur!" jerit penyamun gemuk panik.
Si Kepala Botak dan penyamun tinggi kurus tertegun kaget, mereka terpaksa menghentikan langkah mereka di pinggir area rawa.
Sedangkan Lianhua kini berdiri di seberang rawa, dan menatap kedua penyamun yang tersisa dengan mata jernih yang memancarkan keberanian yang luar biasa.
Jemari tangannya yang mungil menggenggam beberapa buah getah Bunga Tengkorak yang sempat ia petik saat berlari tadi.
"Kalian tidak akan pernah bisa menyentuh desaku!" seru Lianhua nyaring. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan buah-buah getah itu tepat ke arah wajah kedua penyamun.
Prak! Prak!
Buah itu pecah di udara, hingga menyebarkan serbuk dan getah gatal yang membakar mata dan kulit kedua penyamun tersebut.
"ARGH! Mataku! Kulitku terbakar!" jerit si Kepala Botak dan penyamun tinggi kurus sambil memegangi wajah mereka yang merah dan membengkak seketika.
Memanfaatkan kekacauan itu, Lianhua membalikkan badan dan melanjutkan pelariannya tanpa menengok lagi ke belakang.
Sementara itu, di pintu masuk Lembah Bunga Lotus, suasana tegang menyelimuti gubuk Tuan Zhao.
Tuan Zhao dan Paman Han yang baru saja kembali dari kota langsung menyadari ketidakhadiran Lianhua. Tas herba dan pisau kecilnya pun hilang dari tempatnya.
"Lianhua! Lianhua!" panggil Tuan Zhao dengan suara cemas yang membuncah.
Feng yang ketakutan melihat wajah Tuan Zhao yang mengeras, akhirnya maju dengan gemetar. "Tuan... Tuan Zhao... Lianhua tadi bertanya tentang Gua Mutiara Air di balik Tebing Teratai Merah... Mungkin... mungkin dia pergi ke sana..."
Mendengar hal itu, jantung Tuan Zhao seakan berhenti berdetak. "Gua Mutiara Air? Area itu berdekatan dengan jalur perlintasan penyamun utara!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Tuan Zhao merenggut pedang peraknya dari bawah tempat tidur, lalu melompat berlari menuju tebing barat bersama Paman Han yang membawa palu bertarungnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Lianhua... aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!" bisik Tuan Zhao penuh penyesalan sambil menerobos belukar dengan kecepatan bagai angin badai.
Saat Tuan Zhao dan Paman Han baru tiba di lereng bukit batas hutan, dari arah semak-semak depan, muncul sosok kecil yang berlari terengah-engah. Pakaiannya kotor oleh noda tanah, rambutnya berantakan, tetapi matanya tetap berbinar terang.
"Lianhua!" teriak Tuan Zhao histeris. Ia langsung melompat dan berlutut memeluk erat tubuh mungil anak angkatnya itu. Tangannya yang gemetar memeriksa seluruh tubuh Lianhua. "Kau tidak apa-apa? Ada yang luka? Bicara pada Ayah!"
Lianhua memeluk leher Tuan Zhao rapat-rapat, sambil bernapas naik turun. "Ayah... Ayah Zhao... Lianhua tidak apa-apa..."
Paman Han yang menyusul di belakang bernapas lega, seraya menyapu keringat di dahinya. "Syukurlah! Anak ini selamat!"
Namun, Tuan Zhao segera melepaskan pelukannya, dan menatap Lianhua dengan wajah yang sangat serius dan mata memerah menahan marah sekaligus rasa takut yang amat sangat.
"Mengapa kau melanggar janji, Lianhua?!" tegur Tuan Zhao dengan suara keras yang belum pernah didengar Lianhua sebelumnya. "Bukankah Ayah sudah berulang kali melarangmu pergi ke luar perbatasan sendirian?! Apakah kau tahu betapa bahayanya dunia di luar sana untuk anak seusiamu?!"
Lianhua menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata penyesalan pun perlahan menetes membasahi pipinya yang bernoda jelaga tanah.
"Maafkan Lianhua, Ayah..." bisik Lianhua dengan suara serak menahan tangis. "Lianhua hanya... Lianhua hanya penasaran karena Feng bilang tempat itu sangat indah..."
Lianhua kemudian mendongak, dan menatap Tuan Zhao dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius. "Tapi Ayah... di sana Lianhua bertemu tiga penyamun berzirah Ular Kelabu. Mereka tahu ada desa di balik lembah ini dan berencana menjarah tempat kita!"
Tuan Zhao dan Paman Han terbelalak kaget.
"Penyamun Ular Kelabu?!" seru Paman Han terkejut. "Bagaimana kau bisa lolos dari mereka, Lianhua?!"
Lianhua menyapu air matanya dengan punggung tangan. "Lianhua menjebak salah satu dari mereka ke lumpur hisap di Rawa Bunga Tengkorak, lalu membutakan mata dua orang lainnya dengan getah gatal."
Tuan Zhao membeku. Kata-kata yang keluar dari mulut anak tujuh tahun di hadapannya itu terdengar mustahil, namun fakta bahwa Lianhua berdiri di depannya tanpa luka sedikit pun adalah buktinya.
Rasa marah Tuan Zhao mendadak sirna, berganti menjadi rasa takjub dan haru yang memuncak. Ia kembali menarik Lianhua ke dalam pelukannya, dan mencium dahi anak itu berulang kali.
"Maafkan Ayah karena membentakmu, Lianhua..." bisik Tuan Zhao dengan suara bergetar. "Kau sangat berani... sangat cerdik. Tapi tolong... jangan pernah mempertaruhkan nyawamu seperti ini lagi. Kau adalah hidup Ayah..."
"Lianhua janji, Ayah Zhao," bisik Lianhua dalam dekapan hangat Tuan Zhao.
Paman Han menepuk bahu Tuan Zhao dengan wajah mengeras. "Zhao, jika penyamun itu tahu lokasi lembah ini, kita harus bertindak. Kita kumpulkan para veteran malam ini juga dan bersihkan Hutan Mutiara Air sebelum mereka membawa kelompok besar mereka!"
"Ya," jawab Tuan Zhao tegas, dengan sorot mata yang memancarkan pendar mantan panglima perang. "Kita tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kedamaian rumah kita."
Malam itu, atas informasi dan keberanian Lianhua, para veteran perang Desa Bunga Lotus bergerak cepat menyergap markas kecil Penyamun Ular Kelabu di dekat gua, dan melumpuhkan ancaman tersebut sebelum sempat menyentuh desa mereka.
Di dalam gubuknya yang hangat, Lianhua tertidur lelap di atas bale-bale, dipeluk oleh Tuan Zhao yang tak henti-hentinya menjaga di sampingnya.
Petualangan berbahaya itu telah menguji keberanian dan kecerdikan sang putri kecil, membuktikan sekali lagi bahwa di balik sosoknya yang cantik dan menggemaskan, jiwa seorang pemimpin tangguh sedang bertumbuh menuju takdir besarnya.
Bersambung...