Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6: Piket pagi dan skandal jubah sutra
Matahari pagi hari baru saja mengintip dari balik celah pohon hutan terlarang ketika sebuah tendangan pelan bersarang di betis Long Tianxu. Pria itu langsung membuka mata, tangannya bergerak refleks ingin menghunus pedang yang nyatanya sudah tidak ada di pinggangnya. Di depannya, Shen Ruozi sudah berdiri tegak dengan wajah segar dan sebuah sapu dari ikatan ranting pohon di tangan kanannya.
"Selamat pagi, Asisten Magang! Waktunya piket pagi," seru Ruozi tanpa dosa, langsung melemparkan sapu ranting itu ke pangkuan Tianxu. "Lantai gua ini sudah mulai berdebu karena tanah kering yang terbawa dari luar kemarin. Tolong disapu sampai bersih mengkilap ya, jangan sampai ada sebutir pasir pun yang tersisa kalau kamu masih mau jatah sarapan bubur umbi nanti siang!"
Tianxu menatap sapu kasar di tangannya dengan tatapan kosong, lalu beralih menatap Ruozi dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. "Kau menyuruhku... menyapu lantai tanah dengan ranting pohon?" tanya Tianxu dengan suara berat yang bergetar menahan dongkol. Selama hidupnya, lantai istananya terbuat dari batu giok putih yang dibersihkan oleh puluhan pelayan dengan kain sutra, dan sekarang ia disuruh menyapu tanah di dalam gua!
"Ya iyalah, Mas Tianxu! Masa mau aku suruh pasang Wi-Fi, kan enggak ada sinyal di sini," balas Ruozi asal-asalan, membuat Tianxu makin pening karena lagi-lagi tidak paham kosakata aneh gadis itu. "Sudah, jangan banyak protes! Buruan disapu, setelah itu kamu punya tugas negara yang lebih krusial di sungai."
Tugas negara yang dimaksud Ruozi ternyata adalah mencuci jubah sutra hitam milik Tianxu yang sudah penuh noda lumpur dan darah kering. Ruozi memandu Tianxu ke tepi sungai dangkal yang jernih, lalu mendudukkan pria itu di atas sebuah batu besar. Ia menyerahkan sebongkah zat pembersih tradisional dari busa tanaman liar yang sudah ia racik sebelumnya.
"Nih, jubah mahalmu ini digosok pakai ini di atas batu sampai nodanya hilang. Tapi pelan-pelan ya, jubahmu kan sudah robek-robek, kalau sampai makin hancur nanti nilainya turun dan enggak bisa digadai!" instruksi Ruozi sambil berkacak pinggang di tepi sungai, mengawasi gerak-gerik Tianxu bak seorang mandor proyek.
Tianxu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu bukan karena racun, melainkan karena tingkat stres menghadapi Ruozi. Dengan gerakan kaku, sang Jenderal Besar Kerajaan itu mulai mencelupkan kain sutra mahalnya ke dalam air, lalu menggosoknya dengan bongkahan busa nabati. Suara kecipak air sungai berpadu dengan gumaman kekesalan Tianxu yang berjanji dalam hati akan menghukum seluruh bawahannya karena terlambat menyelamatkannya dari siksaan gadis matre ini.
Melihat sang pangeran webtoon sedang sibuk mengucek baju dengan wajah cemberut yang tetap terlihat tampan, Ruozi diam-diam menahan tawa di balik telapak tangannya. Si Bocil yang duduk di samping Ruozi ikut-ikutan meniru pose berkacak pinggang kakaknya, membuat Tianxu yang sesekali melirik ke arah mereka hanya bisa mengembuskan napas pasrah meratapi nasibnya di hari kedua ini.
Namun, ketenangan atau lebih tepatnya penyiksaan itu mendadak buyar ketika Tianxu baru saja selesai memeras jubahnya. Tiba-tiba, dari arah belakang mereka, terdengar suara tarikan napas kaget yang sangat dramatis dari balik semak-semak.
"Y-Yang Mulia...?! Apa yang sedang Anda lakukan?!"
Sontak saja, Ruozi, Tianxu, dan si Bocil menoleh serentak ke arah sumber suara. Di balik semak-semak tanaman pakis, berdirilah seorang pria tegap berpakaian zirah hitam pekat yang tampak acak-acakan. Wajahnya yang penuh lumpur seketika berubah pucat pasi, dan matanya membelalak lebar melihat sang Jenderal Besar Kerajaan pria yang paling ditakuti di medan perang kini sedang berjongkok di tepi sungai sambil memegang jubah sutra basah dengan busa sabun menempel di tangannya.
"Lei Jin?" desis Tianxu dengan suara rendah yang mendadak dipenuhi aura dingin, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di depan bawahannya sendiri.
Pria berzirah bernama Lei Jin itu langsung melompat keluar dari semak-semak dan berlutut dengan lutut membentur tanah berbatu, air matanya bahkan hampir menetes karena syok yang teramat sangat.
"Yang Mulia! Hamba pantas mati karena terlambat menemukan Anda!" ratap Lei Jin dengan suara bergetar emosional, kepalanya menunduk sampai menyentuh tanah. "Tapi... tapi apa yang terjadi pada Anda, Yang Mulia? Mengapa Anda melakukan pekerjaan pelayan rendahan seperti ini? Apakah gadis desa ini telah menyihir Anda?!" Lei Jin langsung menunjuk Ruozi dengan jarinya yang gemetar karena amarah dan kebingungan.
Ruozi yang mendadak dituduh sebagai dukun santet langsung berkacak pinggang, menatap Lei Jin dengan pandangan ngegas andalannya. "Heh, Mas Zirah Hitam! Tolong mulutnya disekolahin dulu ya! Siapa yang menyihir bos kamu? Dia ini lagi kerja bakti buat bayar utang nyawanya tahu!" semprot Ruozi tidak terima, membuat Lei Jin langsung mendongak dengan tatapan melongo.
"Utang... utang nyawa?" beo Lei Jin, otaknya yang biasa dipakai untuk menyusun strategi perang mendadak mogok bekerja mendengar penjelasan absurd dari gadis compang-camping di depannya.
Tianxu menghela napas panjang, bangkit berdiri dengan perlahan dari batu sungainya sambil mengeringkan tangannya yang basah. Aura wibawa seorang penguasa yang sempat hilang karena tugas mencuci pakaian, mendadak kembali menyelimuti tubuh kekarnya. "Cukup, Lei Jin. Gadis ini memang telah menyelamatkanku dari racun Black Viper," ucap Tianxu dengan nada datar namun penuh penekanan, membuat bawahannya itu terkesiap kaget karena tahu betapa mematikannya racun tersebut.
Melihat situasi yang mulai menguntungkan baginya, Ruozi langsung tersenyum licik. Ia meraba balik jubahnya dan mengeluarkan bilah bambu panjang yang sudah ia siapkan sejak pagi nota tagihan jilid dua yang sudah ditambah biaya sewa tempat dan kompensasi stres. "Nah, berhubung staf humas atau ajudan pribadinya sudah datang, mari kita bicara bisnis," ujar Ruozi dengan nada riang yang dibuat-buat, menyodorkan bilah bambu itu tepat di depan hidung Lei Jin yang masih berlutut.
"Total utang bos kalian sekarang adalah seratus sepuluh tael emas. Sepuluh tael tambahan itu biaya jasa sewa sapu ranting dan detergen herbal untuk mencuci jubah sutranya barusan," jelas Ruozi tanpa beban sama sekali.
Lei Jin menatap tulisan arang di bambu itu dengan mata berkedut, lalu menatap tuannya yang hanya bisa memijat pelipisnya sendiri, menyadari bahwa kepulangan mereka dari hutan terlarang ini tampaknya akan menjadi transaksi paling mahal dalam sejarah kerajaan.