NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Selamat datang di rumah barumu, Boneka Kecilku," kata Drilon sambil masuk ke rumahnya. "Tak usah khawatir soal segerombolan pria besar bersenjata itu. Semua demi perlindunganmu."

"Apa-apaan ini, Drilon?" tanya Agim.

"Ini putriku," jawab Drilon sambil tersenyum.

"Putri bagaimana maksudmu?" tanya Hana.

"Biar aku yang jelaskan," kata Besnik sambil menuruni tangga setelah mengantar Intan ke kamarnya. "Mantan istri Drilon yang gila itu menjebak supaya bisa hamil darinya, tapi gagal, karena sampelnya tertukar. Yang akhirnya hamil adalah seorang perempuan, yang sekarang ada di atas sana dan ingin membunuh Drilon. Aku juga membawa satu. Mau kubawakan makanan untuknya. Jangan ada yang menggangguku, soalnya aku mau mengoleskan minyak pijat ke tubuhnya, dan itu bisa makan waktu," ucapnya sambil menuju dapur.

"Kamu menculik seorang perempuan," kata Hana.

"Aku tidak menculik. Aku cuma membawa ibu dari putriku ke rumah kita tanpa izinnya. Itu tidak bisa disebut penculikan."

"Coba kulihat anak itu." Agim mendekati putranya dan menatap lekat-lekat si bayi. "Kamu bikin heboh begini, siapa yang menjamin dia benar-benar anakmu?" Bayi itu melempar senyum ompong yang menaklukkan hati sang mafioso tua yang dingin. "Sini, sama Kakek," katanya, lalu menggendong Bintang.

"Tidak sebaiknya kita tes DNA?" tanya Hana.

"Tes DNA apa. Dia mirip sekali Drilon, dan kalaupun tidak, aku selalu ingin punya anak perempuan. Aku cuma dapat tiga bocah tak bertanggung jawab ini. Dia tinggal di sini." Bintang membelai wajah Agim yang penuh bekas luka.

"Ma, ma, ma," celoteh Bintang, lalu mulai mengisap jarinya.

Mengisap jari adalah refleks alami yang menenangkan bagi bayi, sudah ada sejak dalam kandungan. Perilaku itu membantu mereka tenang dan merasa aman saat tidur, stres, bosan, atau lapar.

"Lucunya. Dia mengisap jari sejak di pesawat," kata Drilon sambil mengusap rambut lurus si bayi.

"Dasar keledai, kapan terakhir kali kamu memberi anak itu makan?" tanya Hana.

"Memberi makan?" Drilon kebingungan.

"Dan dia masih mau jadi ayah," gerutu Agim.

"Anak ini butuh susu, dari payudara atau dari botol."

"Payudara?" Drilon langsung bersemangat. "Ibunya punya dua dan penuh. Ayo, Nak, satu untukmu dan satu untuk papa." Ia mengangkat putrinya dan menuju tangga.

"Seharusnya kita dulu pakai kondom," kata Hana sambil memandang Drilon.

Hana duduk di sofa dan keheningan menyelimuti ruang tamu. Tak seorang pun bicara, sampai terdengar sebuah jeritan.

"Suara sialan apa itu?" Altin keluar dari ruang kerja.

"Dari atas," kata Besnik, pistol sudah di tangan.

Tak lama Drilon turun tersandung-sandung, satu tangan memegangi bahunya yang berdarah, dengan sebilah pisau menancap dalam di sana.

"Siapa yang meninggalkan pisau sialan itu di kamar?"

"Itu kamarmu, bodoh," balas Besnik.

"Apa yang terjadi?" tanya Hana.

"Bu, luar biasa. Aku naik tangga menggendong putriku di lengan kanan, kubuka pintu, lalu Nadira menancapkan pisau di bahuku, merebut anak itu, dan mendorongku keluar."

"Sudah bisa kutebak, masa tinggal Nadira di sini bakal seru sekali. Aku kembali bekerja," kata Altin, lalu masuk lagi ke ruang kerja.

"Tunanganmu datang minggu depan," kata Agim.

"Oke. Malam ini aku mau keluar bersenang-senang, boleh kan, sebelum menikahi perempuan yang bahkan belum kukenal."

"Kamu kenal. Waktu kecil dia sering ke sini bersama kakak tertuanya," ujar Hana.

"Ya, adik perempuan Lirim yang jelek."

"Jangan perlakukan anak itu semena-mena," kata Agim.

"Aku sudah dewasa, Ayah. Aku akan jadi suami yang baik untuknya, setia, tapi jangan harap aku mencintainya."

"Asal kamu menghormatinya, itu yang terpenting," kata Hana.

"Bisa bantu cabut pisau ini dari bahuku? Sakit sekali, sialan," keluh Drilon.

"Serahkan padaku. Ibu, tolong pegangi dia," kata Besnik, lalu mencabut pisau itu dari bahu kakaknya. "Nih, Bodoh." Ia menyerahkan pisau itu pada Drilon.

"Aku jatuh cinta, Bu."

"Sekarang aku yakin. Seharusnya dulu aku pakai kondom, supaya keledai ini tidak lahir."

"Setidaknya dia memberiku seorang cucu. Sekarang dia sudah tak berguna. Biar perempuan di atas itu yang membunuhnya," kata Agim sambil menuju kamarnya sendiri.

"Kamu mau apa sekarang?" tanya Hana.

"Berencana menikahinya, kalau dia tidak membunuhku duluan."

"Terserah Tuhan saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!