Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Telat Vs Ketos Dingin 01.
Pukul 07.15 WIB.
Gerbang SMA Pelita Bangsa sudah digembok rapat.
Bagi murid biasa, ini adalah akhir dunia. Tapi bagi Novia Maharani, ini hanyalah rutinitas hari Selasa.
Novia meludahi ujung sepatunya yang kotor, lalu menatap pagar besi setinggi dua meter di hadapannya. "Kecil," gumamnya.
Dengan gerakan lincah yang sudah terlatih berbulan-bulan, Novia menapakkan kakinya pada sela-sela besi pagar.
Tangannya mencengkeram ujung atas pagar, bersiap melakukan pendaratan sempurna ke area parkir belakang sekolah. Satu sentakan lagi, dan—
"Bagus. Lanjutkan sampai atas, biar sekalian gue dorong ke ruang BK."
Suara bariton yang dingin dan teratur itu memotong pergerakan Novia.
Jantung Novia sempat mencelos, namun dia langsung menguasai diri. Dia menoleh ke bawah, mendapati sesosok cowok dengan ban lengan bertuliskan 'KETUA OSIS' sedang berdiri tegak sambil bersedekap dada.
Reyhan Aldebaran. Singa OSIS yang paling dihindari satu sekolah.
Novia bukannya turun, malah duduk santai di atas pagar besi yang runcing, menatap Reyhan dengan seringai meremehkan. "Pagi, Pak Ketua. Rajin amat jam segini udah nangkring di bawah jemuran orang."
"Turun, Novia," perintah Reyhan tanpa ekspresi. Matanya menatap datar jam tangan digital di pergelangan kirinya. "Lo telat lima belas menit. Rekor bolos dan telat lo bulan ini udah overload. Mau gue seret sekarang atau lo turun sendiri?"
"Dih, galak amat. Sini dong, tangkap gue kalau berani!" tantang Novia. Dia sengaja melepaskan pegangan tangannya, lalu melompat bebas ke bawah.
Bugh!
Novia mendarat tepat di depan Reyhan. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Wangi parfum mahal milik Reyhan langsung menusuk indra penciuman Novia, kontras dengan bau keringatnya karena buru-buru naik angkot tadi.
Reyhan tidak mundur selangkah pun. Tatapan matanya yang tajam seperti hendak menguliti Novia hidup-hidup. "Ikut gue ke ruang BK."
"Enggak mau!" Novia menepis tangan Reyhan yang hendak menarik lengan seragamnya. "Gue ada ulangan harian bab pertama, Rey. Kalau gue ke BK sekarang, nilai gue nol!"
"Itu konsekuensi. Lagian, sejak kapan seorang Novia Maharani peduli sama nilai?" sindir Reyhan telak. Suaranya tenang, tapi kata-katanya menusuk.
Novia merasakan dadanya sedikit sesak. Kalimat Reyhan barusan mengingatkannya pada ucapan ayahnya semalam yang selalu menganggapnya sampah tak berguna. Rasa perih itu menyengat sesaat, sebelum akhirnya Novia tutupi dengan tawa sinis. "Oh, jadi di mata cowok pinter kayak lo, anak nakal kayak gue nggak berhak punya kesempatan buat bener? Gitu?"
Ada jeda satu detik di mana mata Reyhan sedikit bergetar mendengar nada bicara Novia yang mendadak getir. Namun, Reyhan dengan cepat kembali ke mode robotnya. "Gue cuma menegakkan aturan. Jangan bawa perasaan."
"Bodo amat! Intinya gue nggak mau!" Novia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju koridor kelas, meninggalkan Reyhan yang hanya menghela napas panjang melihat kekacauan yang selalu dibawa gadis itu.
**
Hari berlalu dengan melelahkan bagi Novia. Kamar tidurnya yang berantakan menjadi satu-satunya tempat aman dari dunia luar.
Pukul tujuh malam, Novia baru saja mengganti pakaiannya dengan kaus kedodoran bergambar band grunge dan celana pendek kain. Rambutnya dicepol asal dengan jepitan badai.
Dia sedang asyik rebahan sambil mengunyah keripik pedas saat ibunya berteriak dari lantai bawah dengan suara panik yang tertahan.
"Novia! Turun sekarang! Ganti baju kamu yang sopan, ada tamu penting Ayah!"
Novia mendengus. Paling mitra bisnis Ayah lagi, pikirnya malas.
Ayahnya selalu memaksa Novia tampil seperti 'anak perempuan anggun' di depan rekan kerjanya, sebuah topeng yang paling Novia benci.
Dengan malas, Novia melangkah turun tanpa berniat mengganti pakaiannya. Dia sengaja ingin membuat ayahnya kesal sebagai bentuk protes kecil.
Namun, langkah Novia mendadak lumpuh di anak tangga terakhir.
Di ruang tamu rumahnya yang bernuansa emas, suasana tampak begitu formal dan tegang.
Ayah duduk tegak dengan senyum yang dipaksakan manis.
Di hadapan mereka, duduk sepasang suami istri paruh baya dan satu lelaki lanjut usia yang penampilannya sangat berkelas dan elegan.
Dan tepat di samping pria paruh baya itu... duduk seorang cowok remaja.
Cowok itu mengenakan setelan jas hitam formal tanpa dasi, dengan kemeja putih yang terkancing rapi sampai leher.
Rambutnya yang tadi pagi agak berantakan karena angin sekolah, kini tertata sangat rapi menggunakan pomade.
Aura dingin, tegas, dan berwibawa langsung mendominasi ruangan.
Reyhan Aldebaran.
Cowok itu sedang mendengarkan pembicaraan orang tuanya dengan sopan sebelum pandangannya perlahan bergeser ke arah tangga. Begitu mata elang Reyhan bertemu dengan mata bulat Novia yang melotot sempurna, cowok itu hanya menaikkan satu alisnya tipis.
Sama sekali tidak terkejut, seolah sudah tahu hal ini akan terjadi.
"Ah, ini dia Novia," ujar Baroto, Ayah Novia dengan suara bergetar menahan malu melihat penampilan urakan putrinya. "Maaf jeng, mas, anak saya memang agak kurang disiplin..."
Novia masih membeku. Otaknya mendadak blank.
Keripik pedas di tangannya hampir saja jatuh ke lantai.
Ngapain Ketua OSIS kulkas dua pintu itu malam-malam ke rumah gue bareng keluarganya? Pakai jas rapi lagi! Mau ngelaporin kasus pagar tadi pagi ke bokap gue?!
Tepat saat itu, ayah dari Reyhan tersenyum ramah dan membuka suara yang membuat dunia Novia runtuh seketika. "Tidak apa-apa, Pak. Jadi, seperti yang sudah kita bicarakan di telepon... ini adalah putra tunggal saya, Reyhan. Dan kami datang ke sini untuk membicarakan rencana kelanjutan perjodohan keluarga kita."
DEG.
Novia merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dia menatap Reyhan dengan tatapan 'Lo pasti bercanda, kan?!', sementara Reyhan hanya menatapnya balik dengan tatapan sedingin es, lalu tersenyum tipis—senyuman misterius yang belum pernah Novia lihat di sekolah.
......................
...***************...
Tbc