NovelToon NovelToon
Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Reinkarnasi / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: Gena Jim

Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.

Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.

Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.

Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.

Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Aduh."

Erangan tak percaya lolos dari bibirku begitu rasa dingin yang membakar menusuk dada kiriku.

Kutundukkan pandangan, dan yang kutemukan adalah sesuatu yang mustahil... Sebilah pedang baja menembus tubuhku, dan darah mulai merembes, kental dan hangat, meluncur seperti air terjun gelap membasahi pakaianku.

"Fandi..."

Aku berbisik dengan suara pecah, berputar perlahan mencari secercah ragu di wajahnya. Namun matanya hanya membalas dengan tatapan kosong, tanpa setitik pun rasa bersalah.

Dengan kebrutalan yang sama seperti saat kulihat ia menghabisi para bangsawan yang melawan ketika kami merampok, ia menarik gagang pedang. Logam itu keluar dari dagingku dengan bunyi basah, dan segumpal darah menyembur dari mulutku, tak mungkin kutahan.

Lututku menyerah pada hantaman rasa sakit, dan aku ambruk ke tanah sambil megap-megap, sementara dunia mulai berputar.

Fandi berjongkok memungut kantong koin yang jatuh dari tanganku.

"Maaf, Laras. Jangan anggap ini urusan pribadi."

Bajingan itu bicara dengan sikap acuh yang lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri, dan aku mengernyit, menggertakkan gigi agar tak jatuh pingsan.

"Kenapa? Kukira kau... Kukira kita..."

"Kukira aku mencintaimu?"

Ia tertawa terbahak, tawa kering dan kejam.

"Jangan naif, Laras. Kita cuma teman ranjang, pelampias kebutuhan... Kuakui kau berbakat dan aku sangat menyukaimu. Tapi selalu ada yang lebih baik."

Rasa sakit tubuh berbaur dengan amarah dingin yang membakar pembuluh darahku. Aku berusaha bangkit, meski setiap anggota tubuhku terasa seberat timah.

"Cuma gara-gara itu kau menikamku dari belakang? Pengecut!"

"Bukan, Sayang, jangan salah paham."

Ia menyeringai miring, menikmati penderitaanku.

"Sang Bos yang memberi perintah... Kalau kau kubiarkan hidup, kau bakal merebut posisinya. Kau sudah jadi terlalu hebat, Laras, dan dia tak memaafkan kau menerima pekerjaan sendiri... Seharusnya kau lebih setia."

"Terkutuk kalian semua..."

Aku menggeram saat pening kian menjadi.

"Sebut kami apa pun sesukamu... Kami cuma melakukan yang perlu demi bertahan hidup."

Fandi menyarungkan pedangnya dengan tenang lalu memunggungiku, menganggapku sudah mati.

Kesalahan besar... Tak ada yang mengkhianatiku lalu hidup untuk menceritakannya.

Kukerahkan setiap tetes terakhir tekad yang tersisa. Jari-jariku yang gemetar dan bernoda merah meraba belati yang selalu kusembunyikan di balik lapisan jubahku.

Kutarik satu napas yang terasa seperti seribu jarum menusuk paru-paruku, dan dengan bidikan yang membuatku tersohor di kawasan kumuh, kulempar senjata itu.

Baja itu melesat dan menghunjam dalam ke sisi kanan tubuhnya.

Fandi memekik tertahan... Mungkin ia mengira itu sekadar luka luar, tapi ia tak tahu mata belatinya berlumur racun kerja lambat.

Sisa hidupnya dua jam, dan itu akan menyiksa... Hahaha.

Dengan puas, aku ambruk ke tanah.

Pandanganku tenggelam pada bulan indah yang bersinar tinggi di angkasa... Setidaknya aku mati sambil menatap sesuatu yang murni.

"Kau tak harus mati kalau tak mau."

Di hadapanku, cahaya bulan seakan mewujud menjadi sosok pria muda yang berwibawa.

Ia menatapku dengan senyum yang memancarkan ketenangan yang justru meresahkan.

"Sepertinya harus... Aku sudah di ujung..."

Pikirku, terlalu lemah untuk bersuara.

"Tidak... Kau masih punya satu kesempatan."

Jawabnya, seolah pikiranku terdengar seperti teriakan.

"Kau bisa membaca pikiranku?"

Aku berhasil berbisik.

"Aku bisa membaca segalanya tentangmu... Putuskan sekarang, atau kekosongan akan merenggutmu."

"Satu kesempatan..."

Aku mengulangnya. Kalau takdir menawariku jalan keluar, aku tak sebodoh itu untuk menolaknya... Tidak akan pernah.

"Pilihan bagus."

Dunia meledak dalam cahaya, dan kurasakan tarikan kejam di pusarku, seolah jiwaku dicabut dari tulang-belulangku lalu dilontarkan menembus terowongan tak berujung.

Tiba-tiba rasa sakit itu lenyap.

"Apa... apa tempat ini?"

Tanyaku pening, menatap pemandangan bak mimpi yang seakan keluar dari sebuah lukisan.

"Ini cuma ilusi untuk masa transisimu."

Kata pria itu, kini duduk anggun di sebuah bangku yang muncul entah dari mana.

"Dengar baik-baik, karena aku takkan mengulanginya... Namamu yang baru adalah Kirana Tanaya."

"Kirana?"

Aku tergagap bingung.

"Dan nama suamimu Raka Prawira... Pemilik asli tubuh itu mati dalam kecelakaan akibat kecerobohannya sendiri. Tapi ada satu makhluk mungil, satu jiwa kecil yang tak bersalah atas segala kegilaannya. Misimu merawatnya dan membereskan kekacauan hubunganmu dengan suamimu. Akan kuberikan ingatan yang kau butuhkan... Sisanya bergantung pada instingmu. Semoga beruntung, Laras."

"Tunggu! Suami? Makhluk apa? Aku tak tahu apa-apa soal jadi istri!"

Aku mencoba mencengkeram jubahnya, tapi tubuhku mulai memudar.

Yang terakhir kulihat adalah senyum penuh tekanya sembari ia mengucapkan selamat menempuh perjalanan menuju kehidupanku yang baru nan rumit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!