NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Matahari sore di kota New York mulai merosot perlahan di balik jajaran gedung pencakar langit, membiaskan pendar jingga kemerahan yang menghangatkan aspal jalanan yang mulai basah.

Pukul lima sore, halte bus di dekat kawasan universitas tampak dipadati oleh lautan manusia yang ingin segera kembali ke apartemen atau rumah mereka setelah seharian bergelut dengan kesibukan metropolitan.

Di tengah kerumunan mahasiswa dan pekerja kantoran yang berdesakan, berdiri sesosok pria berjas rapi dengan potongan rambut tersisir sempurna.

Kehadirannya di halte bus umum itu tampak begitu kontras—sebuah pemandangan ganjil yang mencuri perhatian beberapa pasang mata.

Dominic Qiel Ashford, sang pewaris dinasti bisnis bernilai miliaran dolar, berdiri kaku dengan kedua tangan merogoh saku celana bahan mewahnya. Di sampingnya, berdiri tenang sang guru privat berusia 22 tahun, Ester Alba.

Sreeet... Bruum!

Bus kota berukuran besar berwarna biru tua berhenti tepat di depan halte.

Pintu geser terbuka lebar, mengeluarkan desis angin pneumatik yang bercampur dengan bau bensin dan udara kota. Para penumpang langsung berdesakan naik, saling dorong secara teratur untuk mendapatkan tempat duduk.

"Ayo," bisik Ester, menarik pelan ujung jas Dominic.

Dominic menelan ludah kelat. Ia melangkah naik ke dalam bus kota yang sesak itu dengan perasaan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Aroma khas kendaraan umum, desakan fisik dari orang-orang asing yang menyenggol bahunya, dan lantai bus yang sedikit bergetar membuat Dominic merasa berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda dari dunia eksklusif penthouse atau mobil sport mewah miliknya.

Bus sudah terisi penuh.

Tidak ada satupun kursi kosong yang tersisa di bagian dalam.

Ester bergerak lincah menembus kerumunan, berjalan hingga ke bagian tengah bus, lalu meraih tiang pegangan besi vertikal di dekat jendela.

Dominic terpaksa mengikuti di belakangnya, merendahkan postur tubuhnya yang jangkung agar kepalanya tidak membentur atap bus yang rendah.

Karena desakan penumpang lain yang terus naik, tubuh Dominic terdorong ke depan.

Secara otomatis, kedua lengannya harus merentang menahan beban di sisi tubuh Ester untuk menghindari gadis itu terhimpit oleh penumpang lain.

Dalam sekejap, Dominic mendapati dirinya berdiri sangat dekat—begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma wangi vanila samar dari rambut Ester yang tergerai tertiup angin AC bus.

Bus melaju perlahan, meninggalkan halte dan membelah kemacetan sore hari. Senja mulai turun, menyiramkan cahaya keemasan melalui kaca jendela bus yang berembun tipis.

Dominic menunduk, memperhatikan profil wajah samping Ester yang tampak begitu tenang menatap ke luar jendela.

Di tengah bisingnya suara mesin bus dan obrolan orang-orang di sekitar mereka, hati pria 32 tahun itu justru berdegup kencang dengan ritme yang tidak wajar.

Ada rasa kagum yang membuncah di balik keteguhan sikap gadis muda ini—bagaimana Ester menjalani hidup tanpa keluhan berlebihan, berdiri di atas kakinya sendiri, dan menghadapi kerasnya dunia tanpa pernah kehilangan keanggunannya.

Keteguhan itu membuat dada Dominic bergetar hebat, diliputi perasaan protektif yang teramat dalam.

"Bisa kau ceritakan soal dirimu, Ester?" tanya Dominic pelan.

Suaranya sengaja ia rendahkan agar hanya bisa didengar oleh gadis di hadapannya di tengah bisingnya suasana bus.

Ester menoleh perlahan. Manik mata cokelatnya menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu gelap Dominic. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan ironi.

"Tentang diriku?" ulang Ester pelan. "Selama dua tahun terakhir Anda mengenal saya di kediaman Ashford... ya, seperti itulah saya. Tidak ada yang spesial."

Dominic tertegun sejenak. Ia merapatkan posisinya sedikit ketika sebuah tikungan tajam membuat bus sedikit berguncang.

"Tapi... aku harus jujur, selama dua tahun terakhir aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu dengan saksama. Jadi, aku merasa tidak tahu apa-apa tentang siapa dirimu di luar jam pelajaran Angelo."

Ester mendengus kecil, menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

"Tentu saja Anda tidak tahu, Tuan. Karena di pikiran dan di mata Anda... bukankah hanya ada satu wanita yang memenuhi seluruh dunia Anda?" Ester menoleh, menatap tajam manik mata Dominic.

"Florence."

Mendengar nama itu disebut di tengah momen intim mereka di dalam bus umum, Dominic seketika terkesiap. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, lalu tertawa kecil—sebuah tawa hampa yang menyaratkan kepahitan.

"Ya... kau benar," aku Dominic jujur tanpa berniat mengelak.

"Aku terlalu mencintainya. Sampai-sampai, bahkan ketika dia menyakitiku untuk kesekian kalinya, cinta yang kupunya selalu terasa jauh lebih besar daripada rasa benciku." Dominic terdiam sejenak, mengingat kembali hari kemarin.

"Malam itu... dia juga yang menyuruhku... Maksudku, waktu kejadian itu pas sekali dengan malam di mana dia menolak lamaranku untuk kesekian kalinya."

Ester mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Dominic dengan saksama.

Di balik tatapan tenangnya, sebuah analisis psikologis yang tajam sedang berjalan di kepala gadis itu. Dominic adalah tipikal pria setia yang terperangkap dalam hubungan toksik karena rasa tanggung jawab emosional yang teramat besar.

"Cinta..." bisik Ester lirih, suaranya terdengar begitu dingin namun sarat akan pengalaman batin yang kelam.

"Anda menyebut apa yang Anda rasakan pada Nona Florence itu sebagai cinta, Tuan? Itu bukan cinta. Itu adalah bentuk ketergantungan semu."

Dominic mengangkat sebelah alisnya, terkejut mendengar nada bicara Ester yang tiba-tiba berubah filosofis namun tajam.

"Apa maksudmu?"

Ester mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan kota New York yang mulai menyala satu persatu di balik senja yang meredup.

"Cinta yang sesungguhnya tidak pernah meminta seseorang untuk terus menerus mengemis harga diri di atas lantai," ucap Ester tenang namun menusuk tepat di ulu hati Dominic.

"Cinta yang Anda berikan pada Nona Florence adalah bentuk pemujaan satu arah. Anda ingin dibutuhkan, Anda ingin merasa memiliki arti, tapi wanita itu justru memperlakukan Anda seperti pilihan cadangan di sela-sela kebebasannya."

Ester menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar—bukan karena takut, melainkan karena bayangan monster masa lalunya di Boston.

"Saya tahu betul apa arti sebuah obsesi dan rantai kekangan, Tuan," lanjut Ester, matanya menerawang jauh.

"Di luar sana... ada seseorang yang menganggap saya sebagai miliknya secara mutlak. Pria yang memaki, mengatur setiap helai napas saya, mengancam akan menghancurkan hidup keluarga saya jika saya berani melirik pria lain. Pria yang terobsesi secara gila, yang tidak pernah memberi saya ruang untuk bernapas, dan menyebut semua itu sebagai 'bentuk cinta dan perlindungan'."

Deg.

Dominic merasakan darahnya berdesir hebat mendengar pengakuan terselubung itu. Meskipun Ester tidak menyebutkan secara langsung tentang teror dari kekasihnya di Boston, nada suara dan sorot mata gadis itu menyuratkan beban psikologis yang sangat berat—beban dari seseorang yang terperangkap dalam cengkeraman pria pemarah dan kasar.

"Ester..." panggil Dominic lirih, sebelah tangannya secara spontan terulur, menggenggam erat jemari Ester yang mencengkeram tiang pegangan bus.

Kulit tangan mereka bersentuhan di tengah sesaknya bus kota. Hangat. Begitu kontras dengan dinginnya angin senja di luar sana.

"Apakah... Ada yang menyakitimu?" tanya Dominic tajam, rahangnya mengeras seketika saat bayangan seseorang menyakiti gadis di hadapannya melintas di kepalanya.

"Katakan padaku siapa? Aku bisa melindungimu. Kau tidak perlu menghadapi monster manapun sendirian."

Ester menatap tautan tangan mereka. Senyuman tipis kembali terbit di bibirnya—senyuman kemenangan yang tertutup rapi di balik keremangan senja bus kota.

Ya... lindungi aku, Dominic, batin Ester penuh ambisi. Tenggelamkan dirimu sepenuhnya dalam rasa tanggung jawab ini, hingga tidak ada jalan bagimu untuk berpaling.

Tanpa disadari oleh satupun dari mereka, di dalam bus yang penuh sesak dan bising itu, gelombang romansa yang aneh dan intens telah terjalin begitu kuat.

Mereka berdiri berhimpitan, berbagi napas di tengah kerumunan orang asing, seolah-olah dunia di luar sana berhenti berputar dan hanya menyisakan mereka berdua.

Bus akhirnya melambat.

Suara mesin mengaung pelan sebelum pengeras suara otomatis di dalam bus menyebutkan nama halte berikutnya.

"Ini halte kita," bisik Ester, menarik pelan tangannya dari genggaman Dominic.

Mereka berdua turun dari bus bersama-sama, melangkah keluar ke trotoar jalanan New York yang diterangi lampu-lampu kota malam hari. Udara dingin malam menyambut kulit mereka, namun kehangatan dari sentuhan tadi masih membekas jelas di telapak tangan Dominic.

1
Repi Repol
asejkoR
Rosdianah 🌷: happy reading 🌷
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nunggu gong nya nihh thor,thank thor hari ini update nya buanyakk 😍
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🌷 sehat selalu 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 💪🤗🤗
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak reader 🫶 sehat selalu 😍
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
ya ampun kasian Ester 🥺🥺
Yusry Ajay
masih pagi dom😁😁😁
Isma Nayla
semoga flo,dapat mengikhlaskan Dominic bersama Ester dan semoga flo dapat pengganti Dominic .
Rosdianah 🌷: Amiin🫶
total 1 replies
Isma Nayla
di episode sebelumnya di katakan Ester sudah meminumnya tanpa ketahuan Dominic kok sekarang bilang belum meminumnya Thor?
Isma Nayla
Ester juga egois tidak mikir perasaan Dominic.
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
Asriani Rini
Tenang ester yg penting dominic sudsh percaya sama kamu hidupmu akan trrus dilinfungi
Asriani Rini
Apa kunilang ester kalu ksu jujur pd dominic tentang mada lalu pasti dia akan melindungimu
Isma Nayla
apa mungkin nanti Ester pergi dari hidup Dominic ? dan mengandung bayi dom2 ?
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
Mei TResna Rahmatika
wahh klimaks nya nih,lanjut thor💪
Yusry Ajay
ester sangat trauma dgn masalalu nya🥺🥺🥺
Yusry Ajay
kasian Ester Thor 🥺🥺
Asriani Rini
Jgn kawatir ester yg penting kamu mencitai Dominic dgn tulus apapun masalalumu klan asford akan menrrimamu tapi satu saranku jujurlah sama dominic tentang masa lalumu
Rosdianah 🌷: kasih tau Ester kak🤣
total 1 replies
Isma Nayla
sungguh tragis kehidupan Ester 😭😭😭
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🤭
total 1 replies
Isma Nayla
di tunggu kelanjutannya lagi ya Thor 🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
kasihan sebenarnya Tristan tapi lebih kasihan Ester karena ayah keluarga Ester satu2 telah pergi😭
makasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!