Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Pengkhianatan di Balik Nama Shen
Malam itu, Celine Wang tidak bisa tidur.
Foto laporan kematian Shen Guowei masih terpampang di layar laptopnya. Nama ayahnya, William Wang, tercatat sebagai saksi terakhir sebelum kematian pria yang menjadi pendiri Shengyuan Financial Group itu.
Selama ini, Celine mengira kematian ayahnya merupakan awal dari kehancuran keluarganya. Kini, ia mulai menyadari bahwa mungkin justru kematian Shen Guowei lima belas tahun lalu adalah awal dari semua kebohongan.
Jika William benar-benar menjadi saksi terakhir, mengapa ia tidak pernah menceritakannya kepada Celine?
Apakah ayahnya terlibat dalam sesuatu yang berusaha ia sembunyikan dari keluarganya sendiri?
Pikiran itu menyakitkan.
Celine ingin percaya bahwa ayahnya adalah korban dari permainan orang-orang berkuasa. Namun, ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa William juga mengetahui lebih banyak daripada yang pernah ia katakan.
“Bagaimana jika selama ini aku hanya mengetahui bagian cerita yang ingin Ayah tunjukkan kepadaku?” gumamnya.
Ia menutup laptop, tetapi bayangan nama William tetap melekat dalam pikirannya.
Celine tahu dirinya harus mencari jawaban langsung dari Shen Yuxin.
Perempuan itu telah membantunya menemukan banyak petunjuk, tetapi sekarang ada sesuatu yang terasa janggal. Pesan anonim yang menyebut laporan kematian Shen Guowei datang terlalu cepat. Seolah-olah seseorang mengetahui setiap langkah yang diambil Celine.
Dan jika Shen Yuxin benar-benar menyembunyikan halaman terakhir laporan tersebut, berarti perempuan itu mungkin telah mengetahui rahasia yang lebih besar selama ini.
Celine mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat.
Aku perlu bertemu denganmu besok. Ada sesuatu tentang Shen Guowei yang harus kau jelaskan.
Balasan Yuxin datang beberapa menit kemudian.
Datanglah ke ruang arsip lama Shen Capital pukul sepuluh pagi. Ada sesuatu yang seharusnya sudah kukatakan kepadamu sejak awal.
Celine membaca pesan itu berulang kali.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya sedang mencari kebenaran.
Ia juga sedang mencari tahu siapa yang sejak awal mempermainkannya.
Keesokan paginya, Celine tiba di ruang arsip lama Shen Capital tepat pukul sepuluh.
Ruangan itu terletak di lantai bawah tanah gedung, jauh dari kantor-kantor utama. Rak besi memenuhi hampir seluruh dinding, menyimpan dokumen perusahaan yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh.
Shen Yuxin berdiri di dekat sebuah meja kayu. Wajahnya tampak pucat, sementara kedua tangannya menggenggam sebuah map hitam.
“Kau datang,” katanya.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu.”
Yuxin menarik napas panjang.
“Aku sudah tahu bahwa kau akan mencari Shen Yiran sejak pertama kali melihatmu memeriksa arsip Shengyuan.”
Celine mengerutkan kening.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Karena empat tahun lalu, aku menerima surat yang menyebut namamu.”
Yuxin mengeluarkan amplop tua dari tasnya. Amplop itu kosong, tetapi bekas lipatan dan noda pada permukaannya menunjukkan bahwa benda tersebut telah disimpan cukup lama.
“Surat itu mengatakan bahwa suatu hari seorang perempuan bernama Celine Wang akan datang mencari kebenaran tentang ayahnya. Aku diminta memberikan apa pun yang tersisa dari arsip keluarga Shen.”
“Siapa pengirimnya?”
“Aku tidak tahu. Tidak ada nama atau alamat pengirim.”
“Dan kau memutuskan untuk menunggu sampai aku datang?”
Yuxin menunduk.
“Aku takut.”
Celine tertawa kecil tanpa kegembiraan.
“Semua orang selalu mengatakan mereka takut. Liang Zhen takut. Evelyn takut. Alexander takut kehilangan keluarganya. Sementara aku harus menjalani hidup tanpa mengetahui mengapa ayahku meninggal.”
Yuxin menerima kata-kata itu tanpa membela diri.
“Aku tahu aku tidak berhak meminta pengertianmu,” katanya. “Tapi aku tidak pernah berniat mencelakaimu.”
“Kalau begitu, katakan yang sebenarnya. Apakah William Wang terlibat dalam kematian ayahmu?”
Yuxin terdiam cukup lama hingga Celine merasa perempuan itu mungkin tidak akan menjawab.
“Ayahku dan William Wang memang bertemu pada malam sebelum ayahku meninggal,” jawabnya akhirnya. “Namun, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku masih kecil saat itu.”
“Lalu mengapa nama ayahku tercatat sebagai saksi terakhir?”
“Karena William adalah orang terakhir yang melihat ayahku hidup.”
Celine merasakan dadanya mengencang.
“Apakah kau mengatakan ayahku meninggalkan tempat itu sebelum kematian Shen Guowei?”
“Aku tidak tahu. Catatan yang tersisa saling bertentangan. Ada laporan yang menyebut ayahmu pergi lebih awal. Ada pula laporan yang menunjukkan bahwa ia kembali ke gedung beberapa jam kemudian.”
“Dan halaman terakhirnya?”
Yuxin mengalihkan pandangan.
“Aku pernah melihatnya.”
Celine melangkah mendekat.
“Apa yang tertulis di sana?”
“Nama saksi kedua. Seseorang yang berada di tempat kejadian bersama ayahmu.”
“Siapa namanya?”
Yuxin menggenggam map hitamnya semakin erat.
“Aku belum bisa memberitahumu.”
Mata Celine menyipit.
“Belum bisa, atau tidak mau?”
“Aku perlu memastikan sesuatu terlebih dahulu.”
“Yuxin, aku sudah terlalu lama dipaksa menunggu jawaban.”
“Aku mengerti.” Suara Yuxin bergetar. “Tapi jika aku memberitahumu sekarang, kau mungkin akan langsung mempercayai bukti yang sebenarnya belum lengkap. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama seperti orang-orang sebelum kita.”
Celine terdiam.
Kata-kata itu menyentuh ketakutan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Ia ingin segera menemukan seseorang untuk disalahkan. Ia ingin kemarahannya memiliki tujuan yang jelas.
Namun, ia juga tahu betapa mudahnya seseorang memanipulasi orang yang sedang terluka.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kau punya waktu sampai besok. Setelah itu, aku akan mencari halaman tersebut sendiri.”
Yuxin mengangguk pelan.
Sebelum Celine meninggalkan ruangan, Yuxin memanggilnya kembali.
“Ada satu hal lagi. Jangan terlalu cepat mempercayai Alexander.”
Celine berhenti.
“Aku tidak pernah mempercayainya sepenuhnya.”
“Bukan karena pernikahan kalian.” Yuxin menatapnya serius. “Beberapa dokumen yang ditemukan Alexander berasal dari arsip pribadi Victor Wu. Tapi ada satu dokumen yang tanggal pembuatannya tidak cocok dengan arsip aslinya. Seseorang mungkin telah menyisipkan dokumen palsu di antara dokumen yang benar.”
Celine merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Dokumen yang mana?”
“Perjanjian pengalihan aset Shengyuan.”
Dokumen yang memuat tanda tangan William, Victor, dan Evelyn.
Dokumen yang selama ini menjadi salah satu petunjuk utama penyelidikan mereka.
Celine menatap Yuxin, berusaha mencari tanda bahwa perempuan itu sedang berbohong.
“Apakah kau punya bukti?”
“Belum. Tapi jika dokumen itu palsu, seseorang sengaja ingin membuat kita saling mencurigai.”
Di tempat lain, Alexander Wu berdiri di hadapan ayahnya dengan sebuah map di tangan.
“Aku ingin tahu mengapa nama William Wang muncul dalam laporan kematian Shen Guowei.”
Victor tidak menunjukkan keterkejutan.
“Dari mana kau mendapatkan dokumen itu?”
“Itu tidak penting.”
“Justru itu penting.” Victor meletakkan cangkir tehnya. “Ada banyak dokumen lama yang tidak mencerminkan kejadian sebenarnya.”
“Kalau begitu, tunjukkan dokumen yang benar.”
Victor menatap putranya dengan sorot mata tajam.
“Kau pikir kebenaran akan membuat semuanya lebih baik? Jika kau terus menggali masa lalu, kau akan menghancurkan orang-orang yang bahkan tidak bersalah.”
Alexander mengepalkan tangan.
“Kalau mereka tidak bersalah, mereka tidak perlu takut.”
“Kau masih terlalu naif.”
“Dan Ayah terlalu lama menggunakan ketakutan orang lain untuk menyembunyikan kesalahan.”
Wajah Victor berubah dingin.
“Jangan bicara seolah-olah kau lebih baik dariku. Kau sendiri pernah membuang Celine tanpa memberinya kesempatan menjelaskan apa pun.”
Kalimat itu menghantam Alexander lebih keras daripada yang ia duga.
Ia tidak bisa menyangkalnya.
Ia pernah mengambil keputusan berdasarkan prasangka, membiarkan Evelyn memengaruhi penilaiannya, lalu menganggap Celine akan selalu bertahan di sisinya.
Kini ia memahami bahwa tindakan itu bukan sekadar kesalahan dalam pernikahan. Ia telah membuktikan betapa mudahnya seseorang menghancurkan hidup orang lain ketika ia lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran.
“Aku memang pernah menyakitinya,” jawab Alexander. “Tapi aku tidak akan menggunakan kesalahanku sebagai alasan untuk terus melakukan kesalahan yang sama.”
Victor berdiri.
“Kalau kau terus membantu Celine, jangan berharap aku akan melindungimu.”
Alexander menatap ayahnya untuk terakhir kali.
“Aku tidak meminta perlindungan.”
Ia meninggalkan ruangan, tetapi baru beberapa langkah keluar, sekretarisnya mengirimkan pesan.
Pak, seseorang baru saja mengakses arsip digital lama Shengyuan menggunakan kredensial milik Shen Yuxin.
Alexander berhenti berjalan.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Dokumen yang diakses adalah halaman terakhir laporan kematian Shen Guowei. Berkas tersebut telah dihapus.
Alexander segera menelepon Celine.
Namun, panggilannya tidak dijawab.
Sore itu, Celine kembali ke apartemennya dan menemukan sebuah amplop terselip di bawah pintu.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat salinan halaman terakhir laporan kematian Shen Guowei.
Tangannya bergetar saat membaca tulisan yang tercetak di bagian bawah.
Saksi kedua: Victor Wu.
Di samping nama itu, terdapat catatan tambahan yang ditulis tangan.
William Wang tidak datang untuk menyelamatkan Shen Guowei. Ia datang untuk mengambil dokumen yang dapat menghancurkan tiga keluarga.
Celine membaca kalimat itu berulang kali.
Jadi, apakah ayahnya selama ini berusaha menyelamatkan seseorang, atau justru mengambil dokumen yang bisa mengungkap keterlibatannya sendiri?
Sebelum ia sempat memeriksa salinan tersebut lebih jauh, ponselnya berdering.
Alexander.
Kali ini, Celine mengangkatnya.
“Jangan pergi ke mana pun sendirian malam ini,” kata Alexander tanpa salam.
Celine mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Arsip laporan kematian Shen Guowei baru saja diakses seseorang. Halaman terakhirnya dihapus, dan aku menerima informasi bahwa seseorang mungkin sedang mencoba menghilangkan semua salinan yang tersisa.”
Celine menatap dokumen di tangannya.
“Bagaimana jika aku sudah memiliki salinannya?”
Alexander terdiam.
“Celine, dengarkan aku. Siapa pun yang mengirimkan dokumen itu kepadamu mungkin sedang mengarahkanmu pada seseorang.”
“Victor?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, jangan memintaku berhenti mencari.”
“Aku tidak memintamu berhenti.” Suara Alexander terdengar lebih rendah. “Aku hanya tidak ingin kau menjadi korban berikutnya.”
Celine memejamkan mata.
Dulu, kalimat itu mungkin akan membuatnya luluh. Sekarang, ia hanya mengingatkannya pada betapa seringnya seseorang menggunakan kata melindungi untuk membenarkan tindakan mengendalikan orang lain.
“Aku akan berhati-hati,” jawabnya. “Tapi aku akan menentukan sendiri langkahku.”
Ia mengakhiri panggilan, lalu membalik halaman terakhir tersebut.
Di sudut bawah, hampir tertutup noda hitam, terdapat tulisan tangan kecil yang sebelumnya tidak ia sadari.
Jika Victor Wu adalah saksi kedua, tanyakan siapa yang berdiri di belakangnya.
Celine menatap kalimat itu dengan napas tertahan.
Pada saat yang sama, sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.
Sebuah foto memperlihatkan Shen Yuxin berdiri di depan gedung arsip lama, sedang menyerahkan sebuah map kepada Evelyn Zhao.
Pesan di bawahnya hanya berbunyi:
Yuxin sudah memilih pihaknya. Sekarang giliranmu, Celine. Apakah kau akan mempercayai perempuan yang membantumu—atau mengakui bahwa sejak awal dia hanya menggunakanmu untuk menyelesaikan urusan keluarganya sendiri?
Celine memandang foto itu lama sekali.
Ia ingin marah. Ingin langsung menelepon Yuxin dan menuntut penjelasan.
Namun, ia teringat bahwa foto bisa dipotong, tanggal bisa diubah, dan dokumen bisa dipalsukan.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan orang-orang yang menghancurkan hidup ayahnya.
Celine menyimpan foto itu dan membuka kembali salinan laporan kematian Shen Guowei.
Kali ini, ia tidak mencari nama yang bisa dibencinya.
Ia mencari bukti yang tidak bisa berbohong.
Sebab jika Shen Yuxin benar-benar mengkhianatinya, Celine akan menghadapinya dengan fakta.
Dan jika foto itu hanyalah jebakan, ia tidak akan membiarkan seseorang yang tak dikenal menghancurkan satu-satunya peluangnya untuk menemukan Shen Yiran.
Di luar jendela, malam mulai turun.
Celine belum mengetahui siapa yang membunuh Shen Guowei, siapa yang berada di mobil kedua malam ayahnya meninggal, atau mengapa tiga keluarga terikat dalam rahasia yang sama.
Namun, kini ia memiliki satu keyakinan baru.
Orang yang paling berbahaya bukan selalu orang yang berbohong kepadanya.
Terkadang, orang yang paling berbahaya adalah orang yang memberinya cukup banyak kebenaran untuk membuatnya percaya—lalu menyembunyikan satu fakta terakhir yang dapat mengubah segalanya.