Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suara gumaman dan tawa merendahkan langsung terdengar riuh dari barisan pendukung SMA Pelita Bangsa dan Akademi Cakrawala di tribun.
Rico menelan ludah ketakutan melihat serangan mental yang sangat kasar dan kotor itu diarahkan langsung pada mereka berdua.
Bara mencengkeram tepi mimbar kayunya sangat erat sampai buku-buku jarinya memutih menahan luapan emosi.
"Sialan, omongan anak manja ini bener-bener minta disumpal pakai sepatu pantofelnya sendiri."
Batin Bara bergejolak hebat dan insting petarungnya sangat ingin melompat menerjang murid sombong di seberang sana.
Namun, efek dari skill Mental Baja tiba-tiba memberikan rasa sejuk yang menenangkan di dalam kepalanya dengan cepat.
Suara Husen saat latihan berdebat di bawah terik matahari kembali terngiang jelas di telinganya.
"Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam."
"Waktu tim Pro habis, sekarang giliran tim Kontra memberikan argumen bantahan."
Suara dewan juri memecah lamunan Bara dan memberikan aba-aba untuknya mengambil alih perdebatan panas itu.
Bara menarik napas panjang, melepaskan cengkeramannya dari mimbar, lalu mengambil mikrofon dengan gerakan tangan yang sangat santai.
"Terima kasih atas dongeng pengantar tidur yang tidak bermutu tadi dari tim pro."
Kalimat pembuka Bara yang terdengar sangat santai dan sarkastis itu langsung membuat suasana gedung mendadak hening seketika.
Ketua tim SMA Pelita Bangsa mengerutkan keningnya marah merasa direndahkan oleh preman buangan tersebut.
"Gue bingung, sejak kapan pembangunan kota modern bisa dibenarkan dengan cara merampas hak asasi manusia?"
Suara Bara menggema berat dan lantang memecah kesunyian ruangan, intonasinya terdengar sangat mendominasi.
"Lu bilang orang di kawasan kumuh itu parasit malas?"
"Lu sadar nggak sih kalau para pekerja bangunan yang membangun sekolah mewah kalian itu rata-rata tinggal di kawasan kumuh tersebut?"
Mata ketua tim Pelita Bangsa sedikit melebar karena tidak menduga serangan logika balik yang tidak menggunakan emosi sama sekali.
"Pembangunan yang mengorbankan kaum bawah bukanlah modernisasi, tapi itu namanya penjajahan bentuk baru oleh orang-orang berduit."
"Dan kalau lu merasa jijik dengan lingkungan kumuh, kenapa orang tua kalian yang pejabat itu selalu minta suara ke kawasan itu pas musim pemilu hah?"
Skakmat!
Sebuah serangan fakta telak yang sangat nyata dan tidak bisa dibantah dengan teori buku omong kosong dari sekolah elite mana pun.
Penonton yang tadi menertawakan Bara kini terdiam membisu, beberapa juri bahkan menganggukkan kepalanya perlahan tanda setuju.
"G-gue... argumen kami didasarkan pada data pertumbuhan ekonomi makro yang..."
Ketua tim Pelita Bangsa mulai berbicara terbata-bata mencoba membalas argumen Bara namun otaknya tidak menemukan korelasi yang tepat.
"Tingkat kriminalitas di sana sangat tinggi, makanya harus digusur!"
Anggota tim Pelita Bangsa lainnya berteriak panik menyela mencoba menyelamatkan wajah ketua mereka yang sudah terlihat pucat.
Bara hanya menyeringai miring melihat kepanikan dari lawan bicaranya yang mentalnya sudah mulai goyah itu.
Dia menoleh ke arah Rico dan menjentikkan jarinya pelan memberikan isyarat andalan mereka saat berlatih keras kemarin.
Rico langsung membuka layar ponselnya dan membacakan data yang sudah dia temukan dalam waktu kurang dari lima detik.
"Menurut data kepolisian daerah tahun lalu, persentase kejahatan kerah putih dari korupsi pejabat kota jauh lebih merugikan uang negara dibandingkan pencurian kecil di kawasan kumuh!"
Rico membacakan data itu dengan lantang di depan mikrofon, membungkam sepenuhnya sisa argumen sampah dari tim lawan.
"Lu denger sendiri fakta datanya kan?"
Bara kembali mengambil kendali perdebatan dengan tatapan mata buas yang sangat mengintimidasi langsung menembus jiwa lawannya.
"Kalau mau menggusur tempat sumber penyakit dan kejahatan, harusnya gedung koruptor itu yang kalian ratakan dengan tanah duluan, bukan rumah gubuk warga miskin."
Teng teng teng!
Bel panjang berbunyi menandakan waktu perdebatan penyisihan babak pertama telah habis.
Dewan juri langsung berdiri dan bertepuk tangan memberikan apresiasi luar biasa pada penampilan berani dan cerdas dari Bara tersebut.
"Argumen yang sangat kuat, berbasis realita sosial, dan disampaikan dengan penguasaan emosi yang sangat baik."
"Pemenang mutlak babak penyisihan pertama ini adalah SMA Garuda Kelam!"
Sorak sorai yang sangat riuh langsung meledak dari sudut kursi penonton tempat Pak Haris dan murid-murid XI-7 lainnya duduk tegang.
Bara dan Rico mengangkat tangan mereka ke udara merayakan kemenangan perdana mereka di atas panggung megah tersebut.
Di tribun seberang, Reno berdiri dari kursinya dan menendang botol air mineral di dekat kakinya dengan sangat kencang.
Brak!
"Anak-anak Pelita Bangsa bodoh tidak berguna!"
"Bagaimana bisa mereka kalah debat mental melawan preman terminal tidak berpendidikan itu?!"
Reno mengumpat kasar dengan wajah yang memerah padam menahan luapan emosi malu yang menampar wajahnya sendiri.
Husen menatap ke arah tribun Reno dari bawah dengan senyum tipis yang menyiratkan kemenangan awal.
"Permainan baru saja dimulai, Reno."
"Aku akan membuatmu melihat sendiri bagaimana sekolah buangan ini menghancurkan semua kebanggaan palsumu satu per satu."
Ting!
[Pemberitahuan Sistem]
[Babak penyisihan debat berhasil dimenangkan dengan skor sempurna]
[Hadiah ekstra: 300 Poin Pengalaman didapatkan]
[Mental bertanding Bara dan Rico telah mencapai level maksimum sementara]
Husen mengangguk puas membaca notifikasi sistem tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah Nisa.
Nisa sedang membereskan peralatan tulisnya dan bersiap menuju ruang laboratorium lomba untuk kategori Sains Terapan.
Mata siswi genius itu terlihat sangat tajam dan tidak sabar ingin segera membalaskan dendam masa lalunya.
"Bara sudah melakukan tugasnya dengan sangat brilian membuka jalan kita hari ini."
"Sekarang giliranmu, Nisa, untuk menghancurkan mereka di atas papan tulis eksperimen."