NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWEN BERDARAH

Sore menjelang malam, dua orang kurir mengetuk pintu apartemen tempat Afu dan Awen tinggal.

Awen yang sedang duduk di sofa segera bangkit, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Selamat malam, Nona. Kami kurir dari toko mebel. Kami mengantarkan pesanan kasur.”

Afu menyusul dari belakang.

“Iya, Pak. Saya yang pesan. Bisa tolong dibawa masuk?”

Kedua kurir itu mengangguk. Mereka membawa kasur tersebut ke dalam apartemen, lalu mengikuti arahan Afu untuk meletakkannya di kamar.

Setelah selesai dan menerima pembayaran, kedua kurir itu pun berpamitan.

Awen langsung berlari ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur baru tersebut.

“Wah, empuk banget!”

Afu menyusul, tetapi hanya berdiri di ambang pintu sambil memandangi tingkah konyol saudara kembarnya.

“Afu, makasih, ya. Lo udah beliin gue tempat tidur. Enak banget, empuk pula!”

Afu tersenyum dan melangkah mendekat. Dia sempat berniat duduk di samping Awen, tetapi mengurungkan niatnya saat melihat Awen masih asyik merebahkan tubuh di atas kasur. Akhirnya, dia beralih ke tempat tidurnya sendiri.

Kedua tempat tidur itu kini saling berhadapan dalam satu kamar.

“Awen, kalau begini, lo bisa tidur dengan bebas,” ujar Afu.

Awen membalikkan tubuhnya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas kasur.

“Kenapa sih lo nggak mau kalau gue taruh kasur di kamar lo sendiri?”

“Gue belum berani tidur sendirian "

Afu terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil.

Tanpa mereka sadari, sikap mereka mulai berubah. Dulu, hampir setiap percakapan berakhir dengan pertengkaran dan ejekan. Sekarang, mereka justru mulai memikirkan kenyamanan satu sama lain.

Malam itu, karena kelelahan, mereka akhirnya bersiap tidur.

Untuk pertama kalinya, mereka tidur di tempat terpisah.

Afu hanya membutuhkan beberapa menit untuk terlelap. Namun, Awen yang belum terbiasa tidur sendirian justru merasa gelisah. Beberapa kali dia menoleh ke arah Afu yang sudah tertidur pulas.

Awen membolak-balikkan tubuhnya, berharap bisa segera terlelap. Namun, matanya tetap sulit terpejam.

Akhirnya, dia duduk di tepi ranjang dan memandangi Afu.

Setelah beberapa saat, Awen kembali berbaring. Dia memeluk guling, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu perlahan-lahan tertidur.

Dalam tidurnya, Awen melihat Afu berdiri di tengah hujan salju sambil membawa payung hitam.

Afu mengenakan mantel cokelat tebal berlapis bulu, sementara Awen berdiri di bawah atap sebuah toko. Tubuhnya menggigil kedinginan. Butiran salju mulai menumpuk di rambutnya hingga sebagian tampak memutih.

Afu segera mengulurkan payung untuk melindunginya dari terpaan salju.

Mereka saling tersenyum dan bertatapan.

Awen tertegun cukup lama, memandangi wajah Afu. Mata pemuda itu tampak bening dan berkilau, sementara beberapa butir salju menempel di wajahnya yang putih.

Awen mendekat, lalu berbisik di telinganya.

“Salju....”

Afu tersenyum.

“Iya, salju yang turun.”

Dia membuka mantelnya dan menyampirkannya ke tubuh Awen. Gerakannya lembut, tetapi wajahnya tampak malu-malu.

Awen tersenyum. Dia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Afu.

“Afu, boleh nggak mulai sekarang gue manggil lo Salju?”

Afu mengangguk.

“Oke. Mulai sekarang, lo boleh panggil gue Salju.”

Afu kemudian melepas topi panjang ,sisinya menutupi telinganya. Dia membersihkan butiran salju yang menempel di rambut Awen, lalu memasangkan topi itu ke kepala gadis tersebut agar tubuhnya tetap hangat.

Tangan kiri Awen melingkar di pundak Afu, sementara tangan kanannya memegang payung.

Namun, tiba-tiba Afu terkejut.

Dia melihat darah menetes dari paha Awen.

“Darah!”

Awen ikut terbelalak. Anehnya, dia sama sekali tidak merasakan sakit.

Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi, Awen tersentak bangun.

Cahaya matahari menerpa wajahnya hingga dia menyipitkan mata. Dia menopang tubuh dengan kedua tangan di atas kasur, berusaha mengumpulkan kesadaran setelah mimpi yang terasa begitu nyata.

Namun, tiba-tiba telapak tangannya menyentuh sesuatu yang lembap.

Awen menoleh.

Matanya langsung membesar saat melihat noda darah merah tua di seprai putih. Darah itu berasal dari bagian bawah tubuhnya dan telah meninggalkan noda yang cukup lebar di kasur.

Jantung Awen berdegup kencang. Napasnya memburu.

Apa yang terjadi?

Kenapa ada darah sebanyak ini?

Dia tidak merasakan sakit sedikit pun, tetapi pemandangan di hadapannya membuat pikirannya kacau. Awen belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Dengan wajah pucat, dia menoleh ke arah Afu.

“Afu! Tolongin gue! Gue berdarah!”

Teriakan dan tangis Awen membangunkan Afu yang masih tertidur. Pemuda itu langsung bangkit dan menghampirinya.

“Ada apa? Kenapa lo nangis?”

“Gue berdarah!”

Awen menunjuk ke arah seprai dengan tangan gemetar.

Afu mengikuti arah telunjuknya. Begitu melihat darah tersebut, wajahnya langsung berubah panik.

Dia bahkan tidak sempat berpikir panjang. Afu segera meraih tubuh Awen dan menggendongnya, lalu bergegas keluar dari apartemen menuju klinik di seberang, dekat pos keamanan.

Seorang petugas keamanan yang melihat mereka langsung menghampiri.

“Ada apa, Fu? Kenapa lo kelihatan panik begitu?”

“Awen berdarah! Gue mau bawa dia ke klinik!”

Petugas keamanan itu langsung berlari mendahului mereka untuk membantu membuka jalan.

Sesampainya di klinik, Afu segera membawa Awen masuk. Meski pagi itu suasana masih relatif sepi, beberapa perawat langsung menghampiri mereka dan membantu membawa Awen ke ruang pemeriksaan.

Awen masih menangis dalam gendongan Afu sampai perawat meminta pemuda itu menunggu di luar.

Afu duduk dengan gelisah. Petugas keamanan yang tadi membantunya ikut menunggu di sampingnya.

Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan.

Afu langsung berdiri dan menghampirinya.

“Apa yang terjadi sama pacar saya, Bu?”

Perawat itu tersenyum menenangkan.

“Bapak nggak perlu panik. Pasien hanya sedang datang bulan.”

“Apa?”

Afu terdiam.

Petugas keamanan di sampingnya ikut tertegun. Mereka saling berpandangan cukup lama sebelum petugas itu akhirnya tertawa.

Sementara itu, Afu spontan memeluk Awen ketika gadis itu berjalan pelan-pelan keluar dari ruang pemeriksaan.

Awen terkejut, lalu berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia malu karena ternyata mereka panik hanya gara-gara dirinya mengalami menstruasi.

Perawat itu kembali menjelaskan dengan ramah.

“Lain kali, jangan langsung panik, ya, Pak. Menstruasi merupakan proses alami yang dialami perempuan. Kalau ada perdarahan yang terasa tidak biasa atau sangat banyak, tentu tetap perlu diperiksa. Tapi untuk kondisi pasien sekarang, Bapak nggak perlu terlalu khawatir.”

Afu mengangguk malu-malu.

Setelah perawat meninggalkan mereka, Afu terdiam sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Apa-apaan gue tadi? Kenapa gue bisa sepanik itu?

Dia melirik Awen yang berdiri di sampingnya.

Tapi mungkin wajar. Bagaimanapun juga, Awen adalah saudara kembar gue. Jadi, wajar kalau gue khawatir.

Petugas keamanan menepuk pundaknya.

“Fu, gue tinggal Dulu, ya. Gue takut kalau gue ikut datang bulan nanti, lo malah makin panik!”

Afu langsung memukul pelan pundaknya.

“Ngaco lo!”

Petugas keamanan itu tertawa semakin keras.

Afu menghela napas, lalu menoleh kepada perawat yang kebetulan masih berada di dekat meja resepsionis.

“Maaf, Bu. Saya juga baru tahu kalau ternyata itu cuma menstruasi.”

Setelah menyelesaikan pembayaran, Afu menggandeng tangan Awen dan mengajaknya kembali ke apartemen.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan tentang kepanikan yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Awen hanya berjalan di sampingnya dengan wajah tertunduk. Dia masih malu mengingat bagaimana Afu menggendongnya sambil berteriak meminta pertolongan.

Namun, ada satu hal yang terus terngiang di benaknya.

Afu tadi menyebutnya pacar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!