Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Semua Ini Ujian?
Langkah-langkah itu lewat sepuluh meter dari mereka.
Nala mendengar setiap bunyinya. Sepatu bot yang menginjak daun basah. Ranting yang patah. Napas seseorang yang terlalu banyak merokok. Cahaya senter menyapu batang pohon tempat mereka bersembunyi, berhenti sebentar, lalu bergerak ke kanan.
"Ke sana, Bang. Ada bekas injakan."
"Cepat. Jangan sampai lolos lagi."
Suara kedua itu. Nala mengenalinya. Suara yang sama yang dulu, di ruang rias pada malam lelang itu, tertawa setelah menamparnya. Sebelum pisaunya masuk ke perut laki-laki itu.
Gilang.
Dia tidak bergerak. Damar juga tidak. Tangan laki-laki itu masih menggenggam tangannya, dan Nala bisa merasakan denyut jantungnya sendiri di telapak tangan itu. Atau denyut jantung Damar. Dia tidak bisa lagi membedakannya.
Langkah-langkah itu menjauh. Lalu hilang.
Mereka tetap di sana, di balik pohon karet tua itu, sampai bunyi serangga kembali. Sampai kabut semakin tebal. Sampai Nala tidak bisa merasakan kakinya lagi karena kedinginan. Damar menariknya ke dalam pelukannya, membungkusnya dengan jaket yang tadi dia sampirkan ke bahu laki-laki itu, dan mereka duduk di antara akar-akar yang basah sampai langit di sebelah timur berubah warna.
Pukul setengah enam pagi, Damar mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebatang logam kecil seperti pena.
"Apa itu?"
"Suar." Dia memutar ujungnya. "Sejak urusan rem tahun lalu, Tagih menyuruhku selalu membawanya."
Dia mengarahkannya ke langit di antara pucuk-pucuk pohon. Bunyi letupan kecil, lalu sebuah titik merah menyala melesat ke atas, tinggi, tinggi, dan menggantung di langit pagi yang kelabu seperti bintang yang salah tempat.
"Kalau mereka yang lihat duluan?" tanya Nala.
"Kalau Tagih masih hidup, dia sudah menyisir hutan ini sejak kemarin." Damar menyandarkan kepalanya ke batang pohon. "Dia yang lihat duluan."
***
Tagih yang melihat duluan.
Empat puluh menit kemudian, tiga laki-laki berjaket hitam muncul dari arah jalan tanah. Di belakang mereka, laki-laki keempat berjalan dengan langkah yang tidak rata. Kaki kirinya sedikit terseret.
Nala belum pernah melihat Tagih sedekat ini di siang hari. Di Pondok Indah dulu, dia hanya sempat melihatnya sekilas di ambang pintu, membawa lampu perunggu dan menunduk. Sekarang dia melihat bekas luka panjang di pipi kiri laki-laki itu, dari bawah mata sampai ke rahang. Bekas luka yang sudah lama, tapi masih kemerahan di pinggirnya.
"Bos!"
Tagih berlutut di depan Damar, memeriksa perban di rusuknya, wajahnya, tangannya. Lalu matanya bergeser ke Nala.
Dan berhenti.
Satu detik. Mungkin dua. Laki-laki itu menatapnya dengan cara yang aneh, seolah dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Lalu dia membuang muka begitu cepat sampai lehernya terlihat kaku.
"Reza?" tanya Damar.
"Di klinik Tanjung Uban, Bos. Pelurunya sudah dikeluarkan. Dia maki-maki dokter dari tadi malam." Tagih berdiri, masih tidak melihat ke arah Nala. "Barangnya juga ketemu. Mereka buang ke parit di belakang kebun waktu kabur. Tapi kena hujan dua hari." Dia menggeleng. "Rusak semua, Bos."
Damar tidak berkomentar. Dia hanya mengulurkan tangan, dan Tagih membantunya berdiri.
***
SUV hitam itu menunggu di jalan raya. Tagih menyetir mobil kedua di depan. Salah satu anak buahnya di balik kemudi SUV ini, dan Nala duduk di kursi belakang di sebelah Damar.
Pemanas mobil menyala. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, Nala merasakan jari kakinya lagi.
Dia menyandarkan kepala ke jendela dan memejamkan mata. Di luar, kebun karet berganti dengan semak, lalu dengan kebun karet lagi. Damar duduk diam di sebelahnya, kancing manset di saku kemejanya membentuk tonjolan kecil di atas dada.
"Jahitannya rapi," kata Damar tiba-tiba.
Nala membuka mata.
"Tiga jahitan. Simpul jahitan terputus, jaraknya sama semua. Dokter di klinik Reza saja belum tentu bisa serapi itu di bawah lampu kabin mobil." Dia menatap ke depan, ke jalan. Suaranya ringan. Seperti orang yang membicarakan cuaca. "Kamu dulu menang lomba jahit luka di FK UI waktu semester satu, kan?"
Nala tidak bergerak.
Lomba itu. Lomba antarfakultas yang diadakan BEM FK UI, delapan tahun lalu, yang dia ikuti hanya karena seorang teman menantangnya. Dia menang. Hadiahnya sertifikat dan satu set alat bedah dasar. Tidak ada yang tahu. Itu tidak tercantum di CV mana pun. Itu tidak tercantum di LinkedIn.
Itu hanya ada di arsip lama BEM FK UI. Di folder yang hanya akan ditemukan oleh seseorang yang menggali hidupnya sampai ke akar.
Dia tahu.
Dia tahu sejak awal bahwa dia bisa menjahit. Dia membiarkannya mengeluarkan peluru itu dengan pinset dari apotek bukan karena dia tidak punya pilihan. Dia membiarkannya karena dia ingin melihat.
Nala menatap profil laki-laki itu. Dan semuanya tersusun di kepalanya, satu per satu, seperti kartu yang dibalik.
Ponsel di saku kirinya yang tidak pernah dia sentuh. Empat puluh menit dia pergi ke kampung, dan ketika dia kembali, jaket yang dilempar ke bawah kursi. Bukan karena marah. Karena dia sudah bangun sejak awal, dan dia menghitung. Apakah dia akan kembali? Apakah dia akan menelepon seseorang dari warung itu? Apakah dia akan membuka ponselnya selagi dia demam?
Anala, kamu benar-benar bisa kupercaya?
Pertanyaan itu bukan pertanyaan. Itu nilai akhir.
"Pak," kata Nala kepada laki-laki di balik kemudi. Suaranya sangat tenang. "Berhenti."
Sopir itu melirik spion, ke arah Damar.
"Berhenti," ulang Nala. "Sekarang."
Mobil itu menepi di sebuah pertigaan, di bawah papan penunjuk jalan yang catnya mengelupas. Nala membuka pintu dan turun sebelum mobil benar-benar berhenti. Kakinya yang lecet menyentuh aspal, dan rasa sakitnya menjalar sampai ke lutut. Dia tidak peduli.
Dia mulai berjalan.
"Anala."
Dia tidak menoleh.
Pintu mobil di belakangnya terbuka. Langkah-langkah yang berat, tidak rata, karena rusuk yang dijahit. "Anala, dengar dulu..."
Dia berbalik.
"Semua ini ujian?"
Damar berhenti tiga langkah darinya.
"Hutan. Telepon itu. Demammu." Suaranya tidak naik. Justru semakin pelan, semakin datar, seperti air yang membeku dari pinggir. "Pertanyaanmu semalam. Semuanya ujian? Kamu mau lihat apakah aku akan pergi? Apakah aku akan lapor ke seseorang? Apakah aku akan membuka ponselmu waktu kamu pura-pura tidur?"
"Tidak semuanya."
"Berapa persen?"
Damar tidak menjawab.
Nala tertawa. Pendek, tanpa suara, hanya udara yang keluar dari hidungnya.
"Aku menyeberangi laut tengah malam," katanya. "Aku mengikuti titik merah di peta ke tengah hutan. Aku mengeluarkan peluru dari tubuhmu dengan pinset seharga sepuluh ribu. Dan kamu menilaiku."
Dia berbalik lagi.
Dan saat itulah dia mendengarnya.
Deru mesin. Dari jalan cabang di sebelah kiri pertigaan, dari balik tikungan yang tertutup semak. Terlalu cepat. Terlalu keras.
Sebuah sedan hitam muncul dari tikungan itu. Tidak mengerem. Tidak membelok. Lurus. Ke arah tempat Damar berdiri.
Di balik kaca depannya, Nala melihat wajah pengemudinya.
Gilang.
Dia tidak berpikir. Tidak ada waktu untuk berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri, tiga langkah ke depan, dan kedua tangannya mendorong dada Damar sekuat tenaga.
Damar terjatuh ke pinggir jalan.
Bumper sedan itu menyambar pergelangan kaki kanan Nala.
Dunia berputar. Dia jatuh menyamping di atas aspal, bahunya membentur lebih dulu, lalu kepalanya. Ada bunyi seperti ranting patah. Dia baru sadar beberapa detik kemudian bahwa bunyi itu datang dari kakinya sendiri.
Sedan itu berhenti dua puluh meter di depan. Lampu mundurnya menyala.
Dia akan mundur. Dia akan mencoba lagi.
Nala mencoba bangkit. Kakinya tidak mau menopangnya.
Lalu deru mesin yang lain. Lebih berat. Lebih dekat.
SUV hitam itu. Damar sudah di balik kemudinya. Sopir tadi terlempar ke rumput di pinggir jalan, entah melompat atau didorong. SUV itu melaju dari pertigaan, lurus, kencang, tepat ketika sedan hitam itu mulai mundur.
Dua mobil itu bertemu dengan bunyi yang tidak akan pernah Nala lupakan.
Kap depan SUV menghantam moncong sedan itu, mendorongnya mundur, mundur, sampai roda belakangnya kehilangan aspal dan sedan itu terjungkal ke parit di pinggir jalan. Moncongnya terlipat ke dalam seperti kaleng diremas.
Lalu jeritan. Panjang, tinggi, tidak seperti suara manusia.
Dari mobil kedua di depan, Tagih dan dua anak buahnya berlari ke arah parit. Satu dari mereka memegang ponsel, merekam. Kamera di dasbor SUV, lampu merah kecilnya masih berkedip.
Nala menyeret tubuhnya ke pinggir jalan. Di dekat sedan yang terjungkal itu, di atas rumput, sebuah ponsel tergeletak. Pasti terlempar dari jendela pengemudi yang pecah. Layarnya menyala.
Dia mengulurkan tangan dan mengambilnya.
Di layar, sebuah notifikasi pesan suara yang baru saja diputar. Dia menekannya. Suara yang keluar sudah diubah, berat dan bergetar seperti suara robot, tapi kata-katanya jelas.
"Setiap orang punya kelemahan, Gilang. Kelemahan Damar ada di sampingnya."
Nala mematikan layarnya dan menyelipkan ponsel itu ke saku dalam jaketnya.
Tidak ada yang melihat.
***
"Anala!"
Damar berlutut di sebelahnya. Wajahnya putih. Kemejanya merah lagi di bagian rusuk, jahitan itu pasti sudah lepas. Tangannya, yang menyentuh kakinya lalu wajahnya lalu kakinya lagi, gemetar.
Dia belum pernah melihat tangan laki-laki itu gemetar.
"Kenapa kamu dorong aku? Kenapa..."
"Aku mati pun," kata Nala, "bukan urusanmu."
Damar mengangkat tubuhnya dari aspal. Lengannya melingkari punggung dan lututnya, dan dia menarik Nala ke dadanya, terlalu keras, seperti orang yang takut sesuatu akan terlepas.
Nala menggigit bahunya.
Bahu kirinya, tepat di atas tulang selangka. Keras. Sekeras dia bisa. Sampai dia merasakan kain kemeja itu basah di antara giginya, sampai dia merasakan tubuh laki-laki itu menegang. Tapi Damar tidak melepaskannya. Dia justru mendekapnya lebih erat.
Dunia mulai menyempit. Pinggir-pinggirnya menjadi gelap, seperti mata Damar setiap senja.
Dia melepaskan gigitannya. Kepalanya jatuh ke bahu itu.
Dari tempat yang sangat jauh, dia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Anala. Anala. Anala..."
Suara itu bergetar. Seperti suara anak kecil.
Lalu tidak ada apa-apa lagi.