Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - TARGET APOTEK SENTRAL
Embusan angin dingin menyapu celah-celah pagar seng tua yang berkarat di tepi Gang Sudirman. Luna merapatkan tubuhnya di balik lembaran seng, menyipitkan mata kelamnya untuk memindai setiap meter persegi Jalan Sudirman yang terbentang luas di hadapan mereka. Di tengah jalan raya empat lajur yang melintang itu, puluhan mobil sedan, minibus, dan satu unit bus kota berukuran besar saling bertabrakan secara sporadis. Bangkai bus kota yang terguling miring di tengah jalan menjadi satu-satunya titik perlindungan terbaik untuk menutupi jalur pelintasan mereka menuju seberang.
Di bawah naungan fajar yang tersapu pendaran kekuningan kabut spora, aspal hitam itu tampak berkilat licin bercampur cucuran oli mesin tua dan pecahan kaca yang berserakan. Keheningan yang melingkupi jalan raya utama ini terasa begitu tegang dan rapuh, seolah satu gesekan kecil saja sanggup memicu ledakan kekacauan baru.
"Aku bergerak duluan ke balik bus," instruksi Luna pelan.
"Dimengerti, Luna," balas Steve mantap.
Luna tidak menunda waktu. Tanpa menimbulkan suara berisik, wanita itu melompati batas pagar seng dengan kelenturan fisik yang mengagumkan. Setiap pijakan kakinya di atas aspal dilakukan dengan perhitungan taktis presisi, melintasi lima belas meter area terbuka dalam hitungan detik. Ia segera merapat ke lambung bus kota yang terbalik, mengangkat busur recurve-nya untuk memantau titik-titik buta di sekitar trotoar seberang jalan.
Setelah memastikannya aman, Luna mengangguk pelan memberi sinyal dari balik bayangan bus.
Steve menepuk pelan bahu Nancy, lalu membimbing wanita berkacamata itu keluar dari balik pagar seng. Pria kekar itu menyelaraskan langkah kakinya dengan kecepatan berlari Nancy, memosisikan tubuh tegapnya di sisi luar sebagai perisai hidup jika ada serangan mendadak. Rian mengekor rapat di belakang mereka, memeluk erat tali ranselnya seraya merayap cepat menuju posisi Luna.
Di balik perlindungan lambung bus kota, napas Steve terdengar memburu jauh lebih kencang daripada biasanya. Keringat dingin menetes deras dari pelipisnya, membasahi garis leher kemeja hitamnya yang robek. Suhu tubuhnya yang perlahan merambat naik membuat rona kemerahan menyebar di sekitar pipi dan leher kekarnya.
"Kamu makin demam, Steve," kata Nancy seraya menyentuh lengan tegap Steve.
"Aku tidak apa-apa, Nancy," balas Steve berusaha menyunggingkan senyum khasnya.
Nancy menarik napas panjang, matanya memancarkan rasa cemas yang amat jujur. Jemarinya yang dingin menyentuh tepi perban bahu Steve yang kian menghangat akibat peradangan jaringan kulit.
"Demam ini tanda kalau sistem imunmu bekerja keras melawan infeksi," kata Nancy dengan raut cemas.
"Terima kasih sudah memikirkan kondisiku," tutur Steve lembut.
Luna memutar badannya, menatap Steve dan Nancy sekilas dengan pandangan mata yang tenang namun tajam. Perhatian murni dan rasa saling menjaga yang tumbuh alami di antara kedua rekannya itu menjadi dorongan emosional yang amat berharga bagi keutuhan kelompok ini di tengah kiamat. Bagi Luna, menjaga keselamatan dan kesehatan setiap anggota tim adalah syarat mutlak untuk mempertahankan kepemimpinannya.
"Gedung apotek tinggal sepuluh meter dari posisi kita," peringat Luna tegas.
Mereka berempat menyelinap keluar dari balik lambung bus, bergerak rendah menyusuri deretan mobil sedan yang hancur di pinggir trotoar. Bangunan Apotek Sentral kini berdiri kokoh tepat di hadapan mereka. Papan nama berbahan akrilik berukuran raksasa bertuliskan "APOTEK SENTRAL 24 JAM" menggantung agak miring di dinding lantai dua, meski beberapa huruf neonnya telah pecah berantakan terkena benturan fisik.
Fasad lantai dasar apotek tersebut dibangun dari tembok semen tebal dan deretan kaca etalase berukuran besar. Sebagian besar kaca etalase depan itu telah retak seribu, membiaskan pendaran cahaya remang-remang dari dalam ruangan yang tertutup tirai kain tebal.
Luna melangkah pelan menaiki pelataran semen depan apotek, berjongkok di balik tiang beton utama yang kokoh. Mata kelamnya menyisir setiap sudut bangunan, mencium aroma alkohol medis bercampur bau tanah lembap yang keluar samar dari celah kisi-kisi ventilasi atas.
"Ada tanda-tanda pergerakan di dalam?" tanya Steve seraya memegang pipa besi tebalnya.
"Suasananya terlalu tenang," jawab Luna datar.
Nancy menggeser antarmuka layar tablet digitalnya, memeriksa peta skematik tata letak bangunan Apotek Sentral yang tersimpan dalam memori komputer perangkatnya.
"Sesuai denah digital, apotek ini punya dua zona utama. Zona depan untuk pelayanan kasir obat bebas, dan zona gudang racik di bagian belakang yang berisi pasokan medis khusus," penjelasan Nancy detail.
"Di mana biasanya obat antibakteri dosis tinggi disimpan?" tanya Rian memajukan kepalanya.
"Di gudang racik belakang," jelas Nancy detail.
"Di sana obat antibakteri spektrum luas, antiseptik medis, dan kantung cairan steril tersimpan dalam lemari khusus yang terlindung dari paparan udara luar," lanjut Nancy membeberkan informasi medisnya.
Luna mengangguk memahami target mereka. Ia bangkit dari berjongkoknya, memimpin barisan menelusuri lantai keramik pelataran depan untuk mendekati akses pintu utama.
Namun, saat mereka tiba tepat di depan pelataran masuk, langkah Luna mendadak terhenti kaku.
Pintu ganda kaca tebal di bagian depan apotek memang tampak tertutup rapat. Namun, hal yang membuat langkah mereka terhenti adalah keberadaan struktur pengamanan tambahan di balik pintu kaca tersebut. Sebuah jeruji besi tempa berwarna hitam pekat berukuran sangat tebal terpasang kokoh, menutupi seluruh celah masuk dari ujung lantai keramik hingga mencapai batas langit-langit pelataran.
Jeruji besi tebal itu dipasangi tiga selot baja raksasa dan gembok bermata tebal di bagian tengahnya. Kunci baja tersebut terkunci kencang dan rapi dari bagian dalam ruangan, menciptakan barikade fisik yang hampir tak tertembus dari luar.
"Jeruji besinya terkunci dari dalam," kata Luna seraya menyentuh batang besi yang dingin itu.
Steve melangkah maju, mendorong permukaannya menggunakan bahu dan ujung pipa besinya. Struktur besi tempa yang padat itu tidak bergetar sedikit pun di bawah tekanan fisiknya, membuktikan ketahanan konstruksinya yang luar biasa.
"Penguncian ini sengaja dipasang rapat dari bagian dalam," ujar Steve sambil menggelengkan kepala.
Nancy mendekatkan wajahnya ke celah jeruji besi, menatap remang-remangnya interior apotek di balik tirai yang tersingkap sedikit. Di atas meja kasir dan rak-rak etalase berdebu, ratusan botol obat, kardus kasa steril, dan wadah antiseptik terlihat masih tersusun rapi tanpa ada tanda-tanda penjarahan sama sekali.
"Obat-obatannya ada di dalam sana, semuanya masih utuh," bisik Nancy dengan mata berbinar harapan sekaligus cemas.
"Tapi bagaimana cara kita masuk kalau jerujinya sekokoh ini?" tanya Rian bingung.
Luna berdiri tegap di depan jeruji besi tempa yang mengunci akses apotek tersebut. Fakta bahwa jeruji ini terkunci rapat dari dalam menandakan ada kemungkinan besar bahwa seseorang pernah—atau masih—berada di dalam sana. Target pasokan medis vital untuk menyembuhkan luka Steve dan mengamankan stok kelompok kini terpampang jelas di depan mata mereka, terhalang oleh barikade besi tebal yang menuntut keberanian serta taktik baru untuk membukanya.