Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Belas Menit
Ketika pandangannya jatuh ke sosok Aditya di ranjang, Annabella tidak berani lagi mengambil risiko kehilangan satu‑satunya keluarga yang masih ia miliki.
“Baik…”
Begitu mendengar jawaban itu, Lucian melepaskan cengkeramannya dari rahang Annabella.
Annabella segera menunduk, mengusap bagian rahangnya yang masih terasa nyeri, lalu berusaha menenangkan napasnya yang terengah‑engah.
“Anjing pintar,” ujar Lucian singkat tanpa rasa bersalah.
Hinaan itu menusuk hati Annabella, membuat perasaannya semakin hancur.
“Kau punya waktu lima belas menit. Setelah itu, kita berangkat,” ucap Lucian, lalu berbalik keluar ruangan.
Annabella tidak menjawab apa‑apa. Ia hanya berdiri diam menatap punggung pria itu sampai menghilang di balik pintu.
Ia kembali menghampiri ranjang Aditya, duduk di kursi, lalu menggenggam erat tangan pamannya.
“Paman, Bella harus pergi sebentar.”
“Bella akan menikah dengan Lucian. Bella tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi Bella janji akan berusaha menjaga diri.”
Air matanya kembali menetes.
“Paman harus bertahan, ya? Bella akan kembali. Bella akan datang setiap kali diizinkan. Jadi tolong jangan menyerah…”
Ia membungkuk, mencium tangan pamannya untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
“Bella sayang Paman.”
Setelah beberapa saat, Annabella memaksakan diri berdiri. Dengan langkah yang terasa berat, ia keluar dari ruangan.
Di depan area rumah sakit, Lucian sudah menunggu di samping mobil hitam miliknya.
Begitu Annabella mendekat, pria itu membukakan pintu bagian belakang.
“Masuk.”
Annabella menurut tanpa membantah.
Lucian masuk dari sisi lain, lalu duduk tepat di sampingnya. Ia memberi isyarat kepada sopir agar segera menjalankan mobil.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Annabella hanya menatap ke luar jendela, melihat gedung‑gedung tinggi yang berlalu bergantian dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu apa yang menantinya di kediaman keluarga Winston.
Sementara itu, Lucian melirik sekilas ke arah perempuan di sampingnya. Annabella tampak sangat rapuh; matanya sembap, wajahnya pucat, dan jari‑jarinya saling meremas di atas pangkuan. Namun, tidak ada sedikit pun rasa iba yang muncul di hati Lucian.
Baginya, ini baru permulaan. Selama bertahun‑tahun Annabella telah merampas ketenangannya. Kini giliran dia yang memastikan perempuan itu tidak akan pernah merasakan ketenangan yang sama.
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi.
Annabella menatap bangunan besar itu lewat kaca jendela. Dadanya terasa sesak, jari‑jarinya pun perlahan mengepal di atas pangkuan.
Rumah itu. Rumah keluarga Winston.
Sudah tiga tahun ia tidak menginjakkan kaki di sana, tapi setiap sudutnya masih terekam jelas di ingatannya.
Lima tahun yang lalu…
Selama lima tahun, ia pernah tinggal di rumah itu dengan menyamar sebagai Luviana, adik perempuan Lucian. Ia memakai identitas yang bukan miliknya, menikmati kasih sayang yang seharusnya bukan haknya, dan membiarkan keluarga Winston memperlakukannya seperti putri mereka sendiri.
Dulu Adara dan Arsen, orang tua Lucian, selalu menyambutnya dengan pelukan hangat. Mereka memberinya pakaian terbaik, menanyakan kabarnya setiap hari, bahkan merasa khawatir ketika ia terlambat pulang.
Dan Lucian… pria itu dulu selalu menjaganya.
Lucian yang akan mengusap kepalanya saat ia bersedih. Lucian yang tanpa diminta akan membelikan makanan kesukaannya. Lucian yang selalu berdiri di sisinya ketika ia merasa takut.
Semua itu berakhir ketika kebohongannya terbongkar. Ketika keluarga Winston mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Ketika kasih sayang itu berubah sepenuhnya menjadi kebencian.
“Turun.”
Suara dingin Lucian membuyarkan lamunan panjang Annabella.
Ia membuka pintu mobil lalu turun, kemudian berdiri beberapa langkah di belakang pria itu.
Lucian berjalan melewati halaman luas menuju pintu utama, sementara Annabella mengikuti dari belakang dengan kepala tertunduk dan langkah‑langkah kecil. Setiap langkah terasa semakin berat. Ia tidak yakin apakah dirinya sanggup menghadapi tatapan penuh kebencian dari kedua orang tua Lucian.
Tapi ia juga sadar tidak punya pilihan lain. Demi Paman Aditya, ia harus bertahan.
Kreek!
Pintu utama terbuka sebelum Lucian sempat mengetuk.
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun berdiri di sana. Rambutnya tertata rapi, gaun yang ia pakai terlihat mahal, dan wajahnya memancarkan wibawa wanita kelas atas.
Itu Adara Winston.
Di belakangnya berdiri Arsen Winston, pria berusia lima puluh tiga tahun dengan tatapan tajam yang selama ini selalu membuat orang‑orang di sekitarnya merasa segan.
Awalnya keduanya tampak hendak menyambut putra sulung mereka. Namun senyum yang baru saja muncul di wajah Adara langsung lenyap saat melihat sosok perempuan di belakang Lucian.
“Annabella?”
Nama itu keluar dari bibirnya dengan nada tidak percaya. Arsen yang berdiri di belakang istrinya pun tertegun. Tatapannya beralih dari Lucian ke arah perempuan yang menunduk di belakang putranya.
Tak lama kemudian, wajah Adara memerah karena amarah.
“APA YANG DILAKUKAN PEREMPUAN ITU DI SINI?”
Teriakannya menggema ke seluruh ruang tamu.
Annabella tersentak, bahunya menegang, sementara kepalanya semakin ia tundukkan dalam‑dalam.
“Lucian!” ucap Adara sambil menatap putranya dengan tajam. “Kenapa kau membawa narapidana ini ke rumah kita?”
“Bukankah perempuan ini seharusnya masih berada di penjara? Siapa yang membebaskannya?” tanya Arsen sambil maju mendekat, menatap nyalang ke arah Annabella.
“Aku,” jawab Lucian dengan nada singkat.
Adara terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kau?”
“Ya.”
“KAU SUDAH TIDAK WARAS?”
Adara menunjuk ke arah Annabella dengan tangan yang gemetar karena marah.
“Setelah semua yang telah dia lakukan kepada keluarga kita, setelah dia menipu kita selama bertahun‑tahun dan menculik adikmu, kau malah membawanya kembali ke rumah ini?”
“Benar,” jawab Lucian tanpa ekspresi sedikit pun.
“Lucian!” Arsen ikut bersuara dengan nada keras.
“Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, Lucian? Perempuan ini adalah mantan narapidana! Dia telah menghancurkan keluarga kita!”
Annabella hanya memejamkan mata, membiarkan diri menerima setiap hinaan dan kebencian yang ditujukan kepadanya.
___
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???