NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(season 2) benci jadi cinta ( bab 7) jejak yang tersembunyi di antara baris!

Pagi itu udara terasa sedikit lebih sejuk, namun ketegangan yang menyelimuti hati Yuna tidak ikut mendingin, justru semakin terasa nyata di setiap detik yang berlalu. Dia bangun sebelum matahari sepenuhnya naik, duduk di meja kerja Marco dengan secangkir teh yang mulai mendingin di sisinya, kembali menelusuri setiap halaman buku catatan kulit tua itu dengan ketelitian yang lebih dalam dari sebelumnya. Dia menyadari bahwa Marco bukan sekadar menuliskan pikiran-pikirannya di sana — dia meninggalkan petunjuk-petunjuk halus yang hanya akan masuk akal bagi seseorang yang benar-benar memahami cara berpikirnya, kebiasaannya, dan cara pandangnya terhadap dunia.

Halaman-halaman awal berisi catatan harian yang sederhana namun penuh makna: tentang betapa sulitnya menahan diri agar tidak terlalu keras pada orang lain saat hatinya sedang penuh amarah, tentang mimpinya untuk membangun tempat di mana anak-anak yang tidak diinginkan oleh dunia bisa merasa diterima, tentang ketakutannya yang paling dalam — ketakutan bahwa suatu hari nanti dunianya yang gelap akan menyeret Yuna masuk ke dalamnya tanpa bisa ia cegah. Namun semakin ke belakang, tulisannya berubah: tidak lagi berupa paragraf yang mengalir lancar, melainkan daftar nama, tanggal, tempat, dan angka yang disusun berurutan namun terpisah-pisah, seakan sengaja tidak membentuk arti yang jelas bagi siapa pun yang membacanya tanpa mengetahui kuncinya.

Arga datang membawa sarapan sederhana, meletakkannya di sudut meja tanpa mengganggu konsentrasi Yuna, lalu berdiri diam di samping jendela sambil memandang ke luar dengan pandangan yang waspada. Dia mengakui bahwa sejak kemarin, perasaannya tidak tenang — seakan ada sesuatu yang besar sedang bergerak mendekat, sesuatu yang tidak terlihat namun dampaknya bisa dirasakan di udara yang berubah menjadi lebih berat.

"Marco selalu punya cara sendiri dalam menyimpan hal-hal penting," ucap Arga tiba-tiba, memecah keheningan ruangan, suaranya rendah namun jelas seakan dia sedang menarik sebuah ingatan yang lama tersimpan di kedalaman pikirannya, "Dia tidak pernah menaruh benda berharga di tempat yang terkunci rapat, karena dia tahu orang yang mencari sesuatu yang berharga akan langsung mencari tempat yang terkunci itu. Sebaliknya, dia menyembunyikannya di tempat yang begitu biasa, begitu terlihat, sehingga tidak ada yang akan menyangka untuk melihat ke sana."

Kata-kata itu seperti cahaya yang tiba-tiba menyinari ruangan yang gelap bagi Yuna. Dia membalik halaman demi halaman dengan pandangan yang baru, tidak lagi mencari tulisan yang tersembunyi di antara baris-baris, melainkan melihat pola yang terbentuk dari catatan-catatan yang tampaknya tidak berhubungan satu sama lain. Dia memperhatikan bahwa setiap kali Marco menuliskan nama sebuah tempat yang pernah mereka kunjungi bersama, selalu ada angka kecil yang ditulis di sudut bawah halaman yang berbeda, dan di samping angka itu tertulis inisial nama bunga yang tumbuh di tempat tersebut.

"Lihat ini, Arga!" seru Yuna dengan suara yang bergetar karena antusiasme bercampur rasa takut bahwa dia mungkin benar-benar menemukan sesuatu yang besar, "Di halaman sebelas tertulis nama taman kota tempat kita pergi berjalan-jalan di musim semi, dan di sudut bawahnya ada angka 19 dan inisial M — melati. Di halaman dua puluh tujuh tertulis nama rumah masa kecilnya yang dulu sering dia ceritakan, dan di sana tertulis angka 4 dan inisial R — rambutan. Angka itu bukan tanggal, dan bukan pula jumlah. Itu koordinat, bukan? Atau urutan petunjuk menuju tempat berikutnya?"

Arga mendekat, matanya menyapu deretan angka dan inisial yang ditunjuk oleh Yuna, dan perlahan senyum tak percaya mulai terbentuk di wajahnya — Marco memang jenius dalam hal ini, dia tidak menulis satu peta besar yang jika jatuh ke tangan yang salah akan berakibat fatal, melainkan memecah informasi itu menjadi potongan-potongan kecil yang tersebar di seluruh halaman bukunya, dan hanya seseorang yang mengenal kenangan-kenangan mereka berdua yang bisa menyatukan kepingan teka-teki itu menjadi satu peta yang utuh.

"Dia menyusunnya berdasarkan urutan kenangan yang paling berarti baginya," gumam Arga kagum sekaligus terharu, "Setiap tempat yang kalian kunjungi bersama menjadi penanda. Dia memastikan bahwa hanya kamu yang bisa menyelesaikan teka-teki ini, karena hanya kamu yang tahu cerita di balik setiap nama yang tertulis di sini. Dia tidak mempercayakan keamanan dokumen itu pada kunci besi atau brankas baja — dia mempercayakannya pada cinta dan ingatan kalian berdua."

Namun di tengah kegembiraan karena menemukan petunjuk pertama itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Yuna membuat darahnya terasa membeku seketika. Bukan nomor yang dikenalinya, namun isinya begitu jelas dan menakutkan:

"Berhenti mencari apa yang bukan hakmu. Kembalikan apa yang dimilikinya dan kau boleh hidup tenang. Teruslah menggali, dan tempat yang kau bangun dengan penuh kasih sayang ini akan menjadi reruntuhan sebelum musim hujan berakhir. Kami selalu melihatmu."

Tangan Yuna gemetar, ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya, namun dia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan dengan perlahan meletakkan ponsel itu di atas meja — bukan karena dia tidak takut, tapi karena dia tahu bahwa rasa takut itulah yang mereka inginkan darinya. Arga membaca pesan itu dari samping, rahangnya mengeras, matanya yang tadi penuh harapan kini kembali berkilat marah namun tetap terkendali.

"Mereka mengawasi kita lebih dekat dari yang kita kira," ucap Arga dengan nada yang tegas namun tenang, "Mereka tahu kau sedang mencari sesuatu. Itu artinya mereka belum menemukannya sendiri, dan itulah sebabnya mereka mencoba menakut-nakuti mu agar kau berhenti. Ancaman adalah tanda kelemahan mereka, bukan kekuatan. Mereka takut kau menemukan apa yang Marco sembunyikan sebelum mereka menemukannya."

Yuna mengangguk, menyeka sedikit keringat dingin di pelipisnya, lalu kembali menatap buku catatan di hadapannya dengan tekad yang semakin kuat, "Kau benar. Semakin mereka takut, semakin aku tahu bahwa apa yang dilindungi Marco ini sangat penting. Aku tidak akan berhenti. Aku tidak akan membiarkan ancaman orang yang pengecut menghancurkan apa yang Marco perjuangkan dengan nyawanya sendiri. Kita akan pergi ke tempat pertama yang ditunjukkan petunjuk ini — taman kota itu. Kita akan berhati-hati, dan kita akan menyelesaikannya."

Sore harinya, setelah memastikan anak-anak aman di dalam yayasan bersama pengasuh yang bisa dipercaya, Yuna dan Arga berangkat dengan pakaian sederhana yang menyamarkan keberadaan mereka, sepasang kakak beradik yang sekadar ingin menikmati udara sore di taman kota. Namun mata Yuna tidak menikmati pemandangan di sekitarnya — dia mencari sesuatu yang spesifik: pohon melati yang tumbuh di dekat bangku kayu tempat mereka dulu duduk bersama Marco, tepat di dekat pagar pembatas taman yang jarang dilewati orang.

Saat dia berdiri di depan pohon itu, jantungnya berdegup kencang sekali. Dia ingat betul hari itu — Marco terlihat sangat damai, dia berkata bahwa tempat ini terasa seperti tempat di mana waktu berhenti berjalan, dan dia berpesan agar Yuna selalu ingat untuk berhenti sejenak dan bernapas saat dunia terasa terlalu berat. Di akar pohon yang tertanam sedikit miring ke samping, ada sebuah batu pipih yang tidak seharusnya ada di sana, terlihat sengaja diletakkan untuk menutupi sesuatu di bawahnya.

Dengan tangan yang gemetar namun hati-hati, Yuna mengangkat batu itu. Di bawahnya, tersembunyi di dalam sebuah kotak logam kecil yang tahan air, terdapat sebuah amplop tertutup rapat dengan lilin penyegel bermotif mawar putih — lambang yang sering digambar Marco di sudut surat-suratnya. Di bagian luar amplop tertulis satu kalimat pendek:

"Langkah pertama selesai. Sekarang pilihlah dengan bijak — pulang dan hidup damai dalam ketidaktahuan, atau teruslah berjalan dan hadapi badai yang kutinggalkan untukmu. Apapun pilihanmu, cintaku bersamamu selamanya. — Marco"

Air mata jatuh membasahi pipi Yuna, namun kali ini dia tidak ragu sedetik pun. Dia membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas kecil yang berisi petunjuk menuju tempat kedua, bersama dengan sebuah kunci kecil yang terbuat dari perak tua yang dihiasi ukiran halus berbentuk daun mawar. Dia melipat kertas itu dengan hati-hati, menyimpannya di dekat dadanya tepat di atas tempat jantungnya berdetak, dan menatap ke langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan dengan senyum yang lemah namun penuh tekad yang tak tergoyahkan.

"Aku memilih untuk melanjutkan perjalananmu, Marco," bisiknya pelan di antara hembusan angin sore yang sejuk, "Karena aku tahu kau tidak akan pernah lari dari kebenaran. Dan aku pun tidak akan lari."

Namun di balik pepohonan rindang yang tidak jauh dari sana, sepasang mata mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari kejauhan, mencatat setiap detail yang terjadi, lalu berjalan pergi perlahan tanpa suara, membawa kabar bahwa pencarian itu telah dimulai dan mereka harus bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!